KESAH.IDIni adalah cerita dari sudut Samarinda tentang sepetak lahan bekas tambang batu bara yang dipaksa hidup lagi oleh Kelompok Tani Tegalrejo untuk menanam melon. Namun, begitu musim petik tiba, mereka justru dihantam badai “banjir melon” yang membuat pasar macet dan harga terancam hancur di tangan tengkulak. Alih-alih pasrah meratapi nasib, para petani ini memutar otak dengan menyulap ladang mereka menjadi destinasi agrowisata dadakan—sebuah plot twist cerdas yang berhasil mengubah ancaman kerugian menjadi panen cuan yang renyah dan gurih langsung dari tangkainya.

Jangan membayangkan yang enggak-enggak, ini tentang memetik melon betulan dari kebun.

Ceritanya beberapa hari lalu saya mendapat kiriman video pendek berisi pemberitahuan tentang wisata petik melon. Dalam video itu, ada rentang tanggal pelaksanaan kegiatan, kalau tak salah antara tanggal 27 hingga 30. Melihat agenda akhir bulan yang agak padat, saya memberi kabar kalau baru bisa datang ke kebun pada tanggal 30 untuk ikut meramaikan keseruan wisata petik melon tersebut.

Tanggal 30 sore, saya berencana meluncur dan mengajak seorang kawan yang punya pengaruh cukup kuat dalam urusan perniagaan. Saya sengaja menyeretnya karena sebelumnya ada pesan dari salah satu pengurus kelompok tani di sana bahwa penjualan melon kali ini agak seret. Usut punya usut, buah melon rupanya sedang melimpah ruah di pasaran.

Namun, karena cuaca Samarinda yang tiba-tiba berubah secara random, rencana itu buyar akibat guyuran hujan deras. Maklum, perjalanan dari rumah saya menuju Lubuk Sawah harus melewati beberapa titik yang langganan banjir kalau diguyur hujan lebat. Saya pun berkirim kabar ke sana dan mendapat balasan pendek: “Besok saja.”

Dan besoknya, sejak pagi-pagi sekali saya sudah bersiap untuk berangkat. Langit nampak cerah merona, membuang jauh rasa khawatir akan turunnya hujan. Setelah membelah jalanan yang dipayungi terik mentari, akhirnya saya sampai juga di kebun. Menariknya, kebun ini berdiri di atas lahan eks tambang batu bara yang kemudian disulap menjadi tanah kavelingan. Karena si pemilik kavelingan belum berniat membangun rumah, lahan tersebut dipinjam pakai oleh Kelompok Tani Tegalrejo untuk membudidayakan aneka tanaman pangan.

Sudah hampir tiga tahun ini Kelompok Tani Tegalrejo berjibaku dengan lahan eks tambang—kawasan yang bagi kebanyakan orang divonis sebagai lahan mati, berantakan, dan dipenuhi kubangan air asam.

Jagung, cabai, pepaya, hingga aneka sayuran seperti terung, kangkung, bahkan bunga kol sudah berhasil dipaksa tumbuh subur di sana. Kini, giliran melon yang mengambil alih panggung. Mulanya, saya menganggap keputusan menanam melon di lahan eks tambang ini sebagai sebuah perjudian gila, mengingat modal yang digelontorkan bernilai puluhan juta rupiah.

Keberanian menanam melon di tanah yang sering dicap “mati” itu, pada awalnya memang lebih terasa seperti spekulasi tingkat tinggi. Namun ternyata perkiraan saya meleset. Dua varietas yang ditanam, yakni Rock Melon dan Golden Melon, tumbuh dengan sangat molek. Rock Melon-nya dipenuhi jaring (net) dengan garis yang tegas dan timbul, sementara Golden Melon-nya tampil dengan kulit kuning mengkilap yang sedap dipandang.

Keberhasilan ini menjadi penanda bahwa proses pemulihan lahan mulai berjalan. Kelompok Tani Tegalrejo, dengan segala ketekunan dan deritanya, membuktikan bahwa mereka adalah penjaga tanah dan air yang sejati. Tanah dan air bekas kerukan tambang ternyata bisa kembali produktif, walau memang harus ditebus dengan upaya yang ekstra keras.

Rock Melon, tumbuh subur di lahan eks tambang

BACA JUGA : Mati Listrik

Net yang merata di seluruh permukaan kulit buah dengan garis menonjol dan tegas bukti melon ini berkualitas

Berbekal rasa percaya diri dari musim tanam sebelumnya—di mana melon mereka laris manis diperebutkan dalam wisata petik—kloter kedua pun dimulai, walau areanya tidak seluas kesempatan pertama.

Nahas, urusan bertani di republik ini jalannya jarang ada yang mulus. Saat buah-buah melon musim kedua sudah menggelantung ranum dan siap petik, para petani Tegalrejo justru dihantam kenyataan pasar yang super pahit. Samarinda sedang mengalami “banjir melon”.

Hukum ekonomi pun berlaku dengan kejam. Karena barang di mana-mana melimpah, jalur penjualan mendadak macet. Permintaan besar dari agen grosir yang biasanya datang, mendadak hilang bak ditelan bumi. Jika dipaksakan menjual lewat skema konvensional ke pasar atau bergantung pada belas kasihan tengkulak, harga melon mereka dipastikan bakal diperas habis-habisan sampai hancur. Modal puluhan juta yang telanjur ditanam di tanah eks tambang itu terancam menguap begitu saja, menyisakan buah yang membusuk di pohon.

Tak ada cara lain yang lebih masuk akal selain menyulap lokasi kebun menjadi destinasi agrowisata dadakan. Pengunjung yang datang dipersilakan memetik melon sendiri, menikmati sensasinya, sekaligus diberi kebebasan penuh untuk membuat konten video di lokasi kebun.

Hingga saat ini, mungkin sudah puluhan orang datang berkunjung. Di sini, varietas Rock Melon dihargai sekitar 18 ribu rupiah per kilogram, sedangkan Golden Melon dibanderol 25 ribu rupiah. Jika dirata-rata, harga satu butir buah melon berkisar antara 25 hingga 35 ribu rupiah saja.

Spanduk bertuliskan “Wisata Petik Buah Melon” pun dipasang di beberapa titik strategis. Salah satunya dipajang tepat di seberang pintu masuk Taman Shalma Shofa, dengan harapan para pengunjung taman wisata itu bisa meliriknya saat perjalanan pulang.

Entah sudah berapa banyak orang yang berhasil dirayu oleh spanduk itu. Namun, saat saya berkunjung ke sana, sekurangnya ada empat orang yang sedang asyik memilih dan membeli melon dengan memetiknya langsung dari batang yang merambat. Kalau dihitung-hitung, sore itu ada sekitar dua puluh kilo lebih melon yang berhasil terjual.

Dua puluh kilo tentu belum seberapa. Masih ada beberapa ton melon yang menggantung pasrah di lanjaran dengan bantuan ikatan tali rafia. Buah melon memang harus digantung dengan cermat agar tidak menyentuh tanah, yang bisa mengubah bentuknya atau memicu luka pada kulit hingga membusuk. Petani memang dituntut rajin menjaga dan menata sulur-sulurnya agar merambat dengan sempurna. Melon, bagaimanapun, sering disebut-sebut sebagai tanaman manja yang butuh perawatan ekstra.

Jadi, tolong jangan mengeluh jika harga per kilonya terasa agak mahal. Harga itu jelas sepadan dengan pertaruhan modal, keringat, dan keyakinan para petani ketika nekat menanam melon di atas lahan eks tambang.

Golden melon, keemasannya memang menarik hati

BACA JUGA : Eropa Mendidih

Cara terbaik menikmati Golden Melon adalah membiarkannya satu dua hari setelah dipetik agar dagingnya renyah empuk.

Soal keterampilan dan pengetahuan agronomi, kapasitas para petani kita jelas tidak perlu diragukan lagi. Namun, urusan pemasaran memang kerap menjadi batu sandungan utama. Produk pertanian tertentu memang butuh upaya pemasaran yang ekstra, dan sialnya, sering kali sangat bergantung pada tengkulak atau pengepul besar yang mau memborong dalam jumlah masif.

Kini, berton-ton melon di kebun Kelompok Tani Tegalrejo yang sudah siap panen itu sedang menunggu pembeli—khususnya pembeli dalam partai besar. Sembari memutar otak dan mencari relasi jejaring pasar berskala besar, kebun melon ini pun dialihfungsikan menjadi pasar alternatif. Pembeli yang sekaligus penikmat melon diajak datang langsung untuk bertransaksi dengan cara memetik sendiri.

Ladang melon di lahan bekas tambang ini sama sekali tidak perlu bersolek rapi ketika didapuk menjadi destinasi agrowisata dadakan. Karena konsepnya mengusung kesederhanaan, tampilan apa adanya itulah yang justru menjadi tawaran menarik bagi warga Kota Samarinda yang sedang haus hiburan. Dan aktivitas memetik melon dengan tangan sendiri langsung dari tangkainya jelas merupakan atraksi yang terlalu seru untuk dilewatkan.

Petani, selain dituntut tekun, ternyata juga harus cerdas. Terutama cerdas dalam membaca peluang untuk memberi kesempatan bagi warga Samarinda—yang mungkin sudah bosan dengan rutinitas kafe dan mal—untuk mendapatkan pengalaman baru yang menyegarkan.

Berwisata memetik melon di kebun eks tambang ini juga bisa menjadi ruang belajar yang riil bagi warga kota. Sebuah pesan sunyi bahwa kita tidak boleh menyerah pada lingkungan yang rusak. Sebab dengan ketekunan dan perlakuan yang tepat, alam yang telanjur cacat pun bisa dipulihkan agar kembali produktif.

Lesunya pasar konvensional akibat banjir pasokan melon dari berbagai daerah terbukti bukan kartu mati bagi ladang melon di Lubuk Sawah. Lahan eks tambang ini tetap bisa sukses memanen cuan yang renyah dan gurih, asalkan kita sebagai warga Samarinda mau bergerak mendukung Kelompok Tani Tegalrejo. Mereka tengah membuktikan sebuah kerja keras yang nyata: bahwa tanah bekas kerukan tambang pun bisa dipaksa menghasilkan rupiah dengan cara yang sangat terhormat.

Masih ada waktu kurang lebih sepuluh hari lagi untuk mencicipi pengalaman memetik melon langsung dari kebun dan pokok pohonnya. Sila luangkan waktu untuk datang ke lahan eks tambang yang digarap oleh Kelompok Tani Tegalrejo di Lubuk Sawah ini, lokasinya tak jauh dari taman wisata Shalma Shofa.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM