Catatan Perjalanan dari Festival Jurnalis Warga Surosowan

KESAH.IDJamiah merekam perjalanan singkat di Kota Serang yang berujung pada Festival Jurnalis Warga Surosowan. Dari langkah kecil menyusuri jalan Ki Masjong, bertemu warga dan menyaksikan budaya lokal, hingga mendengar kisah Fesbuk Banten News dan menyaksikan panggung literasi di Rumah Dunia, pengalaman ini memperlihatkan bagaimana jurnalisme warga tumbuh dari keresahan sederhana menjadi gerakan sosial. Festival Surosowan menjadi ruang pertemuan gagasan, tempat kebebasan pers dan transisi energi berkeadilan dibicarakan bersama, sekaligus menegaskan bahwa suara warga adalah bagian penting dari demokrasi.
Ada cara sederhana untuk mengenali sebuah kota: berjalan kaki, menyapa orang-orangnya, lalu bertanya tentang tempat yang mereka anggap penting. Cara itu saya lakukan pada pagi akhir pekan di Kota Serang, beberapa jam sebelum menghadiri Festival Jurnalis Warga Surosowan.

Pada 7–9 Agustus 2026, saya datang ke Serang sebagai jurnalis warga dari Kalimantan Timur untuk menghadiri festival yang didukung oleh Perkumpulan Pengembangan Media Nusantara (PPMN). Sejak awal 2025, saya bersama beberapa kawan memang aktif menyuarakan pengalaman kelompok rentan dalam isu transisi energi berkeadilan. Gerakan serupa juga berkembang di Serang dan Palembang, sehingga pertemuan ini menjadi kesempatan untuk berbagi cerita lintas daerah.

Kunjungan saya singkat, namun rasa penasaran membawa saya berjalan kaki menyusuri kawasan sekitar hotel di Jalan Ki Masjong. Saya menyapa tukang becak, sopir angkot, hingga penjaja makanan ringan. Dari percakapan singkat itu, kesan pertama tentang Serang muncul: warganya ramah dan terbuka.

Seorang sopir angkot memberi petunjuk, “Jalan lurus saja, neng. Nanti ada Gedung Joeang 45.” Saya pun mengikuti arah itu. Di halaman gedung, anak-anak sekolah dasar sedang berlatih pencak silat khas Banten, Tunggal Baku. Pelatihnya bercerita bahwa pencak silat bukan sekadar ekstrakurikuler, melainkan bagian dari kurikulum muatan lokal. Suasana sederhana itu memperlihatkan bagaimana budaya tetap hidup dan dilestarikan.

Menjelang pukul 10.00 WIB, saya kembali ke hotel untuk bergabung dengan kawan-kawan menuju rangkaian Festival Jurnalis Warga Surosowan.

Pembacaan puisi oleh aktivis perempuan

BACA JUGA : Maha Kama

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah markas Fesbuk Banten News, sebuah perkumpulan sosial yang berawal dari aktivitas di Facebook. Penggagasnya adalah Lulu Jamaluddin, mantan pewarta di sejumlah media, bersama tiga kawannya. Saya memanggilnya Mang Lulu.

Ia bercerita bahwa pada 2010, Fesbuk Banten News lahir dari keresahan sederhana: alun-alun Kota Serang yang gelap dan jalan berlubang. Berita-berita itu mendapat respons masyarakat dan bahkan mendorong perhatian pemerintah. Namun bagi Mang Lulu, jurnalisme warga bukan sekadar cepat mengunggah informasi. “Berita harus valid dan terverifikasi. Jangan dicampur dengan opini,” tegasnya.

Pernyataan itu penting, mengingat risiko jurnalisme warga yang tidak memiliki perlindungan formal seperti wartawan perusahaan pers. Menurut Mang Lulu, perlindungan pertama justru dimulai dari cara berita dibuat. Fakta yang valid menjadi benteng utama.

Menariknya, perjalanan Fesbuk Banten News tidak berhenti pada pemberitaan. Dari tahun ke tahun, ia berkembang menjadi ruang pertemuan aktivis sosial. Mereka memiliki rumah singgah, ambulans, perlengkapan tanggap darurat, hingga relawan yang bertahan bertahun-tahun tanpa bayaran. Tidak ada skema besar untuk donasi atau perekrutan relawan. Banyak warga datang atas kemauan sendiri. “Modal kami cuma kemauan bergerak dan keyakinan kalau niat baik akan menemukan jalannya,” ujar Mang Lulu.

Sebelum kami berpamitan, ia menyampaikan pesan sederhana: “Harus rajin baca banyak buku. Belajar menulis yang benar, sesuai fakta.” Pesan itu menjadi pengingat bahwa keberanian bersuara harus berjalan bersama tanggung jawab.

Penampilan pembacaan puisi oleh aktivis mahasiswa

BACA JUGA : Jurnalis Warga 3

Perjalanan berlanjut ke Rumah Dunia, ruang literasi yang didirikan sastrawan Gol A Gong. Di sinilah Festival Jurnalis Warga Surosowan digelar. Kompleks Rumah Dunia bukan sekadar perpustakaan, melainkan ruang hidup: ada coffee shop sederhana, taman bermain anak, dan panggung terbuka yang terasa seperti tempat gagasan bertemu.

Hari itu, panggung diisi oleh jurnalis warga, organisasi masyarakat sipil, kelompok perempuan, akademisi, hingga perwakilan pemerintah. Mereka menyampaikan pandangan melalui orasi, puisi, pameran foto, dan musik. Meski berbeda latar, semua berbicara tentang satu hal: memastikan transisi energi menuju energi bersih tidak meninggalkan kelompok rentan.

Ada yang menyoroti dari perspektif feminisme, ada yang menekankan prinsip keadilan, ada pula yang mengingatkan hak masyarakat adat. Berbagai cerita, kajian, kritik, dan harapan bertemu di satu panggung. Dari sana saya melihat bahwa transisi energi bukan sekadar mengganti energi kotor dengan energi bersih. Di balik perubahan itu ada manusia, ruang hidup, dan risiko yang nyata.

Koordinator JW Surosowan, Bahtiar Rifai, menegaskan bahwa jurnalisme warga memiliki ruang penting untuk mengangkat cerita yang tidak tersampaikan media arus utama. Saya pun teringat perjalanan Fesbuk Banten News yang tumbuh dari berita sederhana menjadi gerakan sosial.

Festival ditutup dengan penampilan musik mahasiswa. Suasana berubah santai, orang-orang bernyanyi dan berbincang. Saya pulang dengan pemahaman baru: jurnalisme warga tidak selalu lahir dari redaksi besar atau kamera mahal. Ia bisa tumbuh dari keresahan warga melihat jalan berlubang, dari seseorang yang ingin menceritakan kampungnya, atau dari sekelompok orang yang percaya bahwa cerita mereka layak didengar.

Ketika warga mulai menceritakan dirinya sendiri, mereka tidak lagi sekadar objek berita. Mereka mengambil kembali hak untuk menentukan cerita tentang siapa diri mereka, apa yang terjadi di tempat tinggal mereka, dan perubahan seperti apa yang mereka inginkan.

Penulis : Jamiah

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

Gambar : Yustinus Sapto Hardjanto