KESAH.IDMakin sering muncul klaim inovasi “Karya Anak Bangsa” yang bombastis namun minim validasi. Nasionalisme buta kerap membuat informasi semacam ini menjadi kegaduhan karena memunculkan pro dan kontra. Nasionalisme membuat kita mudah terpesona. Padahal ini bukan soal dukung mendukung melainkan pentingnya menguji klaim-klaim itu apakah benar deretan temuan itu murni kemajuan teknologi atau sekadar eksploitasi nasionalisme demi popularitas sesaat atau bahkan manipulasi demi keuntungan ekonomi jahat.

Setiap kali mendengar klaim penemuan atau inovasi baru yang dilabeli sebagai “karya anak bangsa”, saya selalu menahan diri untuk tidak larut dalam euforia. Seiring dengan derasnya pemberitaan media mengenai temuan-temuan tersebut, saya memilih untuk tetap skeptis—sebuah prinsip dasar dalam mengelola informasi agar tidak menelannya mentah-mentah. Prinsip ini saya pegang teguh sebagaimana yang pernah saya baca dalam buku Vademekum Wartawan karya Parakitri T. Simbolon.

Ada beberapa alasan mengapa saya kerap meragukan berita penemuan, terutama yang berkaitan dengan energi baru.

Pertama, eksploitasi aura nasionalisme. Kita terlalu mudah menyematkan label “Karya Anak Bangsa” pada inovasi yang bahkan belum teruji secara saintifik. Masalahnya, label ini sering kali digunakan sebagai tameng; siapa pun yang meragukan temuan tersebut akan dituduh tidak patriotik atau dianggap menghambat kemajuan bangsa sendiri. Akhirnya, diskusi sains yang objektif berubah menjadi perdebatan emosional.

Kedua, klaim sepihak atas prototipe yang belum tervalidasi. Umumnya, temuan yang digembar-gemborkan media masih berupa prototipe awal. Produk tersebut belum diuji oleh institusi berwenang, sehingga klaim kehebatannya bersifat sepihak. Sering kali, untuk menutupi kelemahan validitas produk, para penemu menggunakan modus “endorsement” dari tokoh publik atau pejabat tinggi guna meraih legitimasi instan.

Kita tentu ingat sejarah Mobil Esemka yang mencuat saat Joko Widodo menjabat Walikota Solo. Ada pula kasus energi air dan benih padi yang sempat mendapat dukungan dari lingkaran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lalu muncul Nikuba, alat pengubah air menjadi bahan bakar yang didukung petinggi militer, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Hampa yang sempat dipesan oleh Dahlan Iskan—meski pesanan tersebut mungkin hanyalah bentuk skeptisisme seorang jurnalis untuk menguji kebenaran klaimnya.

Hasilnya? Semua temuan energi tersebut tidak pernah terbukti secara masif. Namun, polanya terus berulang. Teranyar adalah Bobibos, inovasi energi dari jerami yang diklaim lebih efektif dari Pertamax dengan harga lebih murah. Tokoh seperti Dedi Mulyadi (KDM) sempat tertarik dan menawarkan dukungan lahan produksi, namun hingga kini realisasinya tak kunjung datang. Padahal, inovasi yang jujur tidak butuh endorsement politik; ia hanya butuh pembuktian terbuka di hadapan para ahli yang kompeten.

Ketiga, latar belakang keilmuan yang tidak selaras. Hal yang menambah keraguan saya adalah latar belakang para penemunya. Meskipun mengklaim telah melakukan riset bertahun-tahun, banyak dari mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan atau rekam jejak praktisi yang sesuai dengan bidang temuannya.

Perlu kita sadari bahwa energi adalah sumber daya esensial. Ribuan institusi pemerintah, swasta, hingga perguruan tinggi di seluruh dunia melakukan penelitian energi baru dengan dukungan dana dan sumber daya manusia yang raksasa. Apa yang sering diklaim secara bombastis sebagai “penemuan revolusioner” oleh individu tertentu, sebenarnya sering kali sudah menjadi objek penelitian standar di laboratorium-laboratorium besar, bahkan beberapa sudah masuk dalam skala fabrikasi.

BACA JUGA : Padi Gogo

Skeptisisme ini mendapatkan momentumnya kembali pada November 2025, ketika metrotvnews.com merilis berita dengan pembukaan yang sangat persuasif: “Sebuah inovasi energi terbarukan yang ramah lingkungan kembali hadir dari kreativitas anak bangsa. Bahan bakar minyak (BBM) alternatif bernama Bobibos, yang diklaim memiliki kadar oktan (RON) tinggi dan emisi rendah, resmi diperkenalkan sebagai solusi potensial untuk menekan ketergantungan Indonesia pada energi impor.”

Narasi serupa juga diberitakan oleh banyak media berita lainnya. Beberapa bahkan lebih mengedepankan sensasionalitasnya. Hampir tak ada media yang skeptis dengan membandingkan klaim-klaim serupa di masa lalu.

Narasi tersebut seolah menggiring pembaca untuk langsung menerima Bobibos sebagai terobosan besar. Keunggulan oktan tinggi, emisi rendah, hingga jargon kedaulatan energi nasional digunakan sebagai “umpan” agar publik merasa bangga. Namun, muncul satu pertanyaan fundamental: benarkah bahan bakar berbasis jerami adalah sebuah inovasi baru?

Sesungguhnya, tidak. Bahan bakar dari jerami termasuk dalam kategori Bioetanol Selulosa. Secara saintifik, hampir semua materi organik yang mengandung gula atau selulosa dapat dikonversi menjadi etanol. Dunia sudah lama mempraktikkannya. Brasil, misalnya, adalah pemimpin global yang telah menerapkan kebijakan E100 (etanol murni) berbasis tebu. Amerika Serikat memasarkan varian E10 hingga E85, sementara India, Tiongkok, dan Thailand juga telah mengimplementasikan program pencampuran etanol secara masif.

Pemerintah Indonesia sendiri sebenarnya telah memiliki peta jalan untuk mengimplementasikan campuran etanol 10 persen (E10) paling lambat pada tahun 2028. Maka, Bobibos—singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!—mungkin hanya inovatif dari segi penamaannya yang bombastis, namun tidak dari sisi substansi teknologinya. Klaim sebagai “penemuan” menjadi menyesatkan karena proses pembuatan etanol dari tanaman seperti tebu, singkong, jagung, hingga jerami adalah pengetahuan dasar yang sudah lama dipraktikkan secara fabrikasi di luar negeri.

Lebih jauh lagi, klaim mengenai efisiensi dan harga murah perlu dibedah melalui kacamata fisika dan kimia dasar. Klaim bahwa satu kilogram jerami dapat menghasilkan satu liter bahan bakar (efektivitas 100%) adalah hal yang mustahil secara termodinamika. Secara teoritis, hasil terbaik mungkin hanya mencapai setengahnya, itu pun dengan proses yang sangat kompleks. Selain itu, ketersediaan jerami yang melimpah di sawah memiliki tantangan logistik yang besar untuk diubah menjadi pasokan industri yang stabil, kecuali jika padi memang sengaja ditanam sebagai tanaman energi.

Tantangan lainnya adalah konfigurasi mesin. Alasan mengapa pencampuran etanol dilakukan secara bertahap (E5, E10, dst.) adalah karena karakteristik alkohol yang berbeda dengan bensin fosil. Alkohol cenderung menyerap air yang berisiko mempercepat korosi pada komponen mesin konvensional. Penyesuaian campuran harus berjalan seiring dengan kesiapan teknologi mesin dari pabrikan.

Jika klaim Bobibos memang benar mampu menghasilkan daya tempuh yang lebih jauh dengan harga yang lebih murah daripada BBM subsidi, maka barulah hal itu layak disebut inovasi—terutama di sisi efisiensi biaya dan energi. Namun, tanpa pembuktian laboratorium yang independen dan terbuka, klaim “setinggi langit” ini berisiko berakhir sebagai sekadar bumbu nasionalisme yang, meminjam istilah hukum, tidak memiliki mens rea atau niat jujur untuk kemajuan sains, melainkan hanya mencari panggung euforia sesaat.

BACA JUGA : Mens Rea

Sebenarnya, hal yang paling mengusik pikiran saya setiap kali muncul klaim energi baru—mulai dari Blue Energy, Pembangkit Listrik Tenaga Hampa, Nikuba, hingga Bobibos—bukanlah semata soal teknologinya, melainkan apa motif di balik publikasi tersebut. Apakah mereka sedang mencari peluang bisnis yang sah, berniat menipu, atau sekadar haus akan popularitas?

Sejarah mencatat beberapa kasus yang terbukti merupakan penipuan. Modusnya klasik: mengajukan proposal pengembangan, meminta dukungan pendanaan besar, namun hasilnya nihil. Ada pula yang menjual produk bombastis yang ternyata hanyalah tipuan teknis. Generator Pembangkit Listrik Tenaga Hampa, misalnya, terbukti bisa menghasilkan listrik hanya karena di dalamnya tertanam baterai penyimpan daya; sebuah alat yang lebih mirip UPS daripada sebuah “penemuan” revolusioner.

Bahkan, muncul kecurigaan bahwa sebagian dari para penemu ini sesungguhnya mengalami gangguan kesehatan mental. Apa yang mereka klaim sebagai penemuan hebat barangkali hanyalah hasil halusinasi yang mereka yakini sebagai kebenaran. Ada pepatah yang menyebutkan bahwa “orang bodoh lebih berbahaya daripada orang jahat.” Kebodohan memang kerap menjadi lahan subur bagi kejahatan, di mana para oportunis dan penipu justru dielu-elukan sebagai “penemu” oleh publik yang kurang terliterasi.

Lihat saja kasus Nikuba. Para ahli tidak menyangkal bahwa air bisa diubah menjadi hidrogen, namun proses fisika di baliknya jauh lebih kompleks daripada yang ditampilkan lewat prototipenya. Ketika klaimnya disanggah, sang penemu berkelit dengan narasi “tidak dihargai di negeri sendiri” dan mengklaim diminati produsen otomotif Italia. Ironisnya, setelah klaim tersebut tampak kosong, ia justru berniat menjual hak patennya seharga 15 miliar rupiah—angka yang terlampau murah untuk alat yang, jika benar terbukti, seharusnya mampu merevolusi industri energi dunia. Bennix, seorang YouTuber yang fokus pada investasi, sempat menantang untuk membelinya, namun tantangan itu menguap tanpa tanggapan.

Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi kita semua: jangan terburu-buru percaya pada konferensi pers atau narasi sentimental “Karya Anak Bangsa”. Media pun seharusnya memberitakan klaim-klaim semacam ini dengan nada skeptis. Meragukan sebuah temuan tidak selalu harus menunggu komentar ahli; kita bisa mencari padanannya secara mandiri melalui internet, karena klaim energi bombastis seperti ini adalah fenomena global yang sering kali hanya berakhir sebagai omong kosong.

Pada masa kini, banyak klaim inovasi yang diproduksi hanya demi sensasi atau konten belaka. Mengingat kembali petuah para tetua, rasanya ada satu nasihat yang kini semakin relevan untuk kita pegang teguh dalam menghadapi badai informasi dan janji-janji ajaib penemuan energi: “Ojo Gumunan”—jangan mudah heran, jangan mudah terpesona. Karena di balik kekaguman yang terlalu dini, sering kali tersimpan niat atau tujuan yang tidak benar-benar untuk kemajuan ilmu pengetahuan, melainkan untuk keuntungan sepihak yang manipulatif.

note : sumber gambar – MENALAR