KESAH.IDPertengahan bulan November ini Satpol PP giat melakukan grebek lokasi-lokasi yang ditenggarai melakukan praktek illegal. Dari lokasinya jelas bahwa yang digrebek bukanlah aktivitas yang tumbuh baru-baru ini, aktivitas di tempat yang ditertibkan sudah berlangsung lama. Aktivitas abu-abu memang kerap dibiarkan dan kadang malah jadi sumber pemasukan bagi mereka yang mestinya melakukan pelarangan. Jadi kalau mau adil mestinya diselidiki juga siapa aparatur pemerintah atau aparatur keamanan yang mengambil untung dari praktek yang disebut sebagai penyakit sosial itu.

Minggu {16 November 2025}, saya melewati jalan poros Samarinda – Tenggarong yang merupakan mahakarya Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara saat dipimpin oleh Syaukani HR. Jalan penghubung antara Samarinda – Kukar itu dirancang mirip jalan tol. Kabarnya kontraktor jalan itu berasal dari Australia.

Kabupaten Kutai Kartanegara di jaman Bupati Syaukani HR memang bisa membangun apa saja dengan kekuatan anggaran mereka sendiri. Syaukani bahkan berniat membangun bandar udara sendiri, kalau tak salah direncanakan di Loa Kulu.

Kebetulan perjalanan saya memang akan ke Loa Kulu, tepatnya melewati Loa Kulu, masuk ke dalam menuju Lung Anai. Loa Kulu sendiri merupakan wilayah penting untuk sejarah Kutai Kartanegara. Dulu Loa Kulu lebih kota dari Samarinda dan Tenggarong karena disana ada perusahaan tambang batubara milik Belanda.

Masih ada sisa-sisanya, namun tak terawat. Loa Kulu kini lebih dikenal karena tempe kedelai yang dibungkus daun.

Ketika melewati perbatasan Samarinda – Kukar, teman seperjalanan melihat pemandangan yang menurutnya tak biasa. Dia melihat beberapa warung di tepi jalan suasananya agak lain.

“Warung apa itu?” tanyanya heran.

Saya menjawab singkat “Warung kopi pangku,”

Yang suka bolak-balik Samarinda – Kukar, melewati daerah Tenggarong Seberang jika jeli pasti tahu. Ada banyak warung di perbatasan Samarinda – Kukar yang memang agak lain dari warung biasanya, warung yang dipakai untuk singgah.

Di warung-warung itu sering ada beberapa perempuan berdandan menor duduk-duduk di bangku depan warung atau di dalam, dari jalan kelihatan mencolok.

Warung seperti ini secara umum disebut warung remang-remang. Di Jawa biasanya muncul sebagai rest area di jalan yang menjadi nadi jalur distribusi barang. Yang sering singgah adalah sopir-sopir truk angkutan barang.

Warung seperti ini lama kelamaan disebut sebagai warung kopi pangku, karena ada layanan lebih. Yang singgah jika berkenan akan ditemani oleh perempuan, semacam ladies companion di tempat hiburan malam.

Orang-orang di daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat menyebutnya sebagai kopi lendot. Istilah yang menunjukkan kalau perempuan yang menemani akan ngelendot, atau bermanja-manja pada yang ditemani.

Di beberapa warung akan ada layanan lebih lagi. Warungnya menyediakan kamar, sehingga yang singgah bisa mendapat layanan plus-plus.

Umumnya disebut warung kopi, namun di warung-warung ini sebenarnya juga tersedia minuman keras.

Warung yang mulanya dimaksudkan untuk tempat singgah kemudian berkembang menjadi destinasi bagi para lelaki yang ingin mencari hiburan.

Di jalan poros Samarinda – Kukar, warung-warung ini berkembang sejak puluhan tahun lalu. Kalau tak salah paska pemerintah baik nasional maupun daerah getol melakukan penutupan lokalisasi.

Warung di pinggir jalan poros ini dulu pernah ditertibkan, tapi muncul lagi. Bahkan penertiban memunculkan area baru, kalau tak salah sebagian pindah ke Kota Bangun, di tepi jalan menuju jembatan Martadipura.

BACA JUGA : Tani Ternak Ramah Iklim

Di Semenar, tepian Sungai Gitan tak ada signal. Untung Tian dan Yurni punya bukit yang disebutnya sebagai Bukit Signal.

Dari atas bukit itu, tempat yang bisa memandang operasi perusahaan tambang besar sedang mengaruk lahan, tak jauh dari ladang atau lahan yang dikelola warga Lung Anai.

Jaraknya tak sampai satu kiloan, hanya di seberang sungai yang kelokannya berada di samping pondok kebun Tian dan Yurni.

Sambil memasang pancing di kolam memanjang yang membelah kebun kakao, yang disekitarannya banyak ditumbuhi pohon kademba, kami menaiki bukit. Diatas bukit itu Tian membangun pondok yang cukup besar.

Dan benar, HP yang tadinya hanya muncul logo E, tiba-tiba saja menampakkan tanda 4/5 G. Artinya kami bisa mengakses internet walau tak stabil. Lumayan, selain berkirim pesan, kami bisa scroll-scroll dan browsing-browsing.

Di tengah keasyikan menatap layar hp yang tidak boleh terlalu bergoyang karena signal bisa hilang, seorang teman berseru “Warung-warung kemarin digerebek Satpol PP,”

Kabar yang tak terlalu menarik. Toh penertiban seperti itu terjadi berulang-ulang dan warung remang-remang tetap terang benderang.

Kami tak membincang, ada hal lain yang lebih penting dan menarik. Terutama tambang yang aktivitasnya menimbulkan bunyi-bunyian yang menganggu orkestrasi suara alam.

Menikmati dua malam di pondok kebun yang membuat was-was kalau dini hari diguyur hujan deras, akhirnya healing tipis-tipis itu mesti disudahi.

Sesampai di Samarinda, saat saya punya banyak waktu untuk menelusuri sosial media, ternyata ramai diberitakan tentang penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP di beberapa tempat yang ditenggarai melakukan praktek-praktek illegal.

Netizen berlomba-lomba memposting ulang, memberi narasi-narasi berbeda.

Yang digerebek bukan hanya warung remang-remang, namun kompleks lokalisasi yang dulu ditutup namun ternyata tetap beroperasi dengan modus sebagai tempat hiburan malam.

Jujur saja kalau aktivitas di Solong dan Loa Hui sebenarnya merupakan rahasia umum. Lokalisasi itu tak pernah benar-benar pensiun seperti Dolly di Surabaya. Pemerintah daerah waktu itu hanya menutup lalu membiarkan begitu saja.

Jadi gerebekan yang dilakukan Satpol PP terbilang lambat. Aktivitas seperti lokalisasi berlangsung kembali tak lama setelah ditutup. Beberapa waktu lalu bahkan ada lelaki yang meninggal di kamar, jantungnya tak kuat menahan pompaan darah karena dipacu oleh obat kuat.

Tak usah diselidiki, kejadian ini membuktikan di lokasi tersebut ada layanan dan fasilitas untuk kegiatan seksual.

Tampilan rumah-rumah atau biasa disebut wisma disana sungguh mencolok. Dihiasi lampu warna-warni dan bunyi musik jedag-jedug dari dalam. Di depan rumah juga ada pemandangan mencolok khas lokalisasi. Ada sejumlah perempuan dengan dandanan sexy cangkruk di kursi. Mereka asyik dengan hp masing-masing sambil sesekali menyapa yang lewat lalu berseru “Mampir kah?”

BACA JUGA : Meniup Sumpit

Jadi praktek menyimpang ini jelas telanjang, tak mungkin tak diketahui.

Paling tidak otoritas daerah terendah yakni RT pasti tahu persis.

Tapi kita semua tahu, ekonomi abu-abu semacam ini, yang diharamkan di publik sering kali dibiarkan begitu saja karena mendatangkan keuntungan untuk mereka yang seharusnya mencegahnya.

Bisa dipastikan di pintu depan menuju kompleks akan ada penjaga, menarik bayaran atau restribusi. Tak mungkin mereka ada disini kalau tak ada ‘restu’ dari penguasa setempat. Mungkin bukan hanya restu tapi juga setoran.

Pada jam-jam tertentu, di lokasi seperti ini akan ada rombongan keliling. Rombongan yang cukup besar antara 5 – 10 orang. Mereka berkeliling mengutip ‘retribusi’ dari pemilik wisma, dan juga tetamu yang bercengkerama, uang keamanan kilah mereka. Beserta mereka sering ikut serta oknum berseragam.

Maka bisa dipastikan praktek illegal ini ‘dilegalkan’ oleh otoritas tempatan.

Gerebekan semacam ini hanya akan jadi laporan, biar menunjukkan kalau yang diberi mandat menjaga ketertiban di masyarakat bekerja, walau selalu saja terlambat.

Ya terlambat dan tak mampu mencegah yang baru.

Dan di Samarinda telah muncul trend-trend baru, warung yang ramainya menjelang tengah malam hingga subuh. Ada yang menyebutnya café, warung kopi bahkan banyak yang menjulukinya sebagai angkringan.

Mulanya berkembang di sekitar jalan menuju Jembatan Mahkota II, hingga kemudian dikenal sebagai angkringan mahkota. Disana dijual aneka minuman sachetan, panas dingin, gorengan, mie instan dan lain sebagainya. Tapi jelas pengunjung tidak datang untuk menikmati itu. Yang utama adalah minuman keras, bir dan anggur. Kalau pingin minuman branded juga bisa, yang empunya akan mencarikan di luar.

Warung, café, angkringan atau apapun sebutannya tidak hanya berkembang di sekitar jalan menuju Jembatan Mahkota dan seberang jembatan ke Palaran, namun ke berbagai penjuru Kota Samarinda lainnya.  Berkembang di wilayah jalan yang kalau malam tak terlalu ramai, tanda-tandanya jelas, tempatnya ramai kalau menjelang tengah malam, dihiasi lampu warna-warni dan ada bunyi musik jedag-jedug atau karaoke yang keras.

Pertanyaannya seriuskah para penjaga ketertiban umum ini ingin memberantas apa yang sering mereka sebut sebagai ‘penyakit masyarakat’. Serius artinya tak ada satupun diantara mereka yang mengambil untung sebelumnya dengan mengutip ini dan itu, atau menjadi informan kala akan ada gerebekan sehingga ketika digerebek kosong melompong atau berubah menjadi warung yang menjual makanan dan minuman ala-ala warung kebanyakan.

Di luar itu, segala upaya yang disebut sebagai  memerangi penyakit masyarakat ini memang kerap kali hanya menepuk air yang kemudian terciprat di muka sendiri. Dari waktu ke waktu model warung, kios atau tempat jualan semacam ini selalu ada dan berubah-ubah model.

Dulu ketika tepian Sungai Mahakam sebelum Islamic Centre diresmikan, setiap sore atau malam banyak kios-kios yang dihiasi lampu warna-warni dan riuh suara musik. Yang tak tahu dan kemudian duduk, banyak yang ngamuk karena harga minuman kalengannya ternyata selangit. Mereka tak tahu kalau wanita yang menemani duduk itu mesti diberi imbalan, layaknya charge LC ditempat hiburan malam.

Penertiban tempat-tempat seperti ini tak pernah benar-benar menghilangkannya. Bahkan sering kali justru dari satu tempat yang ditertibkan mereka malah menyebar kemana-mana.

note : sumber gambar – BERITA SATU