KESAH.ID – Berkali-kali ada orang yang mengklaim telah melakukan terobosan yang cocok untuk mengatasi ketergantungan dan kecanduan bangsa ini pada bahan bakar berbasis fosil. Sayangnya temuan yang selalu menghebohkan itu tak disertai dengan penjelasan teknis yang memadai. Akibatnya justru memunculkan diskursus yang tidak sehat. Temuan yang berbasis sains diperlakukan layaknya sesuatu yang diimani. Soal sains kebenaran bukan karena dipercaya dan tidak dipercaya, sains tidak butuh kepercayaan, yang dibutuhkan sains adalah bukti empirik. Maka temuan harus diuji berulang-ulang dalam berbagai kondisi untuk melakukan validasi.
Pak Jo, begitu Profesor Herman Yohannes kerap dipanggil. Mungkin tak banyak yang mengenal atau mengenangnya, walau pada tahun 2009 dirinya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sebuah hal yang langka seorang ilmuwan ditetapkan menjadi pahlawan perjuangan.
Profesor Herman Yohannes dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda I dan II memang mempunyai peran. Dengan keahliannya di bidang fisika dan kimia, Pak Jo merakit bom dan bahan peledak yang dipakai untuk menghancurkan jembatan serta fsilitas lainnya untuk membatasi gerak militer Belanda.
Namun karir dalam dunia militer bukan merupakan pilihannya, Herman Yohannes memilih untuk mengabdi pada dunia pendidikan tinggi. Jalannya tidak mulus, karena keinginannya ditahan oleh pemerintah waktu itu. Herman Yohannes diminta menjadi Menteri Pekerjaan Umum.
Jabatan itu hanya bertahan satu tahun dan Herman Yohannes kemudian berkarya di UGM, menjadi guru besar dan kemudian rektor UGM pada tahun 1961 -1966.
Ada banyak temuan dan karya tulis yang ditelurkan oleh Pak Jo, namun yang membuatnya dikenang adalah temuan tungku hemat energi. Tungku ini merupakan penyempurnaan dari tungku tradisional yang biasa dipakai masyarakat Rote dan Ende di NTT. Dengan memakai bioarang, tungku hemat energi berkurang asapnya saat dipakai dan panasnya seefisien minyak tanah.
Satu hal yang saya ingat, sewaktu masih duduk di bangku sekolah entah SMP atau SMA, saya membaca sebuah artikel yang memuat wawancara dengan Pak Jo. Topiknya tentang energi berkelanjutan dan tantangannya.
Seingat saya Profesor Herman Yohannes mengatakan ada banyak sumber energi berkelanjutan di Indonesia, salah satunya berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Pak Jo mengatakan bahkan rumputpun bisa menjadi bahan untuk membuat bensin. Hanya saja biaya atau ongkos untuk mengolahnya sangat mahal.
Bacaan waktu kecil itu membuat saya tak mudah gumunan jika kemudian ada postingan entah berita atau apapun tentang temuan bahan bakar yang diklaim oleh penemunya sebagai inovasi.
Apa yang disampaikan oleh Pak Jo membuat saya tahu ada banyak hal atau material organik yang bisa dirubah menjadi bahan bakar, namun tidak semuanya efektif dan efisien. Apa yang secara teori dimungkinkan tidak selalu bisa dieksekusi karena pertimbangan nilai keekonomian.
Jadi kalau ada yang menemukan bahwa kedondong bisa menghasilkan listrik ya silahkan saja, toh nanas, jeruk, buah naga mungkin juga bisa menghasilkan listrik. Tapi biarlah buah-buahan itu tetap menjadi buah, dikonsumsi untuk menambah vitamin, atau dinikmati sebagai es jus yang segar dikala bumi diterpa oleh panas mentari yang kian menyengat.
Rasanya berkali-kali, terutama setelah Indonesia minus minyak bumi, ada berita tentang temuan-temuan energi yang spektakuler.
Seorang presiden bahkan bisa terlena, seperti Susilo Bambang Yudhoyono yang mengendorse Banyu Geni. Temuan ini hampir dipamerkan di pertemuan para pemimpin dunia di Bali.
Seingat saya di masa-masa awal setelah reformasi juga ramai dibincangkan bahkan ditanam pohon energi. Yang ditanam waktu itu adalah pohon jarak, buahnya bisa diolah menjadi bahan bakar minyak. Banyak warga sudah memanam dan ketika pohonnya mulai berbuah ternyata tak ada yang membeli.
BACA JUGA : Meniup Sumpit
Kisah temuan-temuan spektakuler yang ramai diperbincangkan dan kemudian menghilang tak terbilang banyaknya. Pun juga dalam soal energi.
Beberapa waktu lalu seorang bernama Aryanto Misel menyatakan telah menemukan alat yang bisa merubah air menjadi bahan bakar hidrogen, alat itu dinamakan Nikuba, Niku Banyu.
Penemuan ini kemudian diendorse oleh militer dan diujicobakan di kendaraan miik tentara.
Sontak saja temuan Aryanto Misel ini mengemparkan terutama di kalangan peneliti yang kemudian meragukannya.
Padahal menurut klaim dari pihak Aryanto, pihak otomotif asing sudah tertarik. Menurut kabar, Aryanto diundang ke Italia untuk bertemu dengan para pembesar Ducati, Ferari dan Lamborgini.
Sepulang dari sana Aryanto mengatakan sudah mengantongi rencana kerja sama dengan para produsen otomotif Italia itu. Alatnya juga sudah mendapat hak paten.
Tapi kabar kehebohan nikuba yang bisa menghemat bahan bakar itu kemudian menghilang.
Namun berita-berita dengan judul yang heboh masih bisa ditelusuri di internetm seperti berita berjudul Kisah Penemu Bahan Bakar Air, Dihina Negara Dipuji Asing dan Akan Dikontrak Ferrari.
Padahal Aryanto tidak dihina hanya diragukan. Dan dalam penemuan ilmiah, sikap pertama yang ditunjukkan oleh orang lain adalah meragukan. Sehingga penemu harus membuktikan, bukan mengklaim. Sebuah penemuan terbukti benar bukan karena didukung bupati, presiden, gubernur, tentara dan lain-lain. Paten juga tidak membuktikan temuan itu benar.
Ditentah isu transisi energi, perpindahan dari energi kotor ke energi bersih, muncul bahan bakar yang diklaim sebagai produk original negeri sendiri bernama Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Indonesia Bos.
Konon bahan bakar yang setara dengan pertalite atau pertamax ini dihasilkan dari jerami sehingga harganya lebih murah.
Temuan ini kemudian diiendorse oleh Kang Dedi Mulyadi, KDM Gubernur Jawa Barat yang doyang bikin konten. KDM mengajak Bobibos bekerjasama dengannya karena banyak mempunyai stok jerami di Lembur Pakuan.
Di hadapan KDM penemu bahan bakar Bobibos menguji temuannya, traktor bisa hidup.
Tapi benarkah bahan bakar dari jerami itu bisa lebih murah dari bahan bakar berbahan fosil?.
Mungkin saja. Dan apakah jerami bisa menjadi bahan bakar?. Tentu saja mungkin.
Namun apakah bobibos kemudian prospektif untuk mengantikan bahan bakar berbasis fosil, hal itu mesti ditunggu dan dibuktikan lebih lanjut.
Sebuah temuan terbukti benar bukan karena klaim penemunya, misalnya mengatakan bahwa dia telah puluhan tahun meneliti, sehingga penelitian sahih. Padahal benar tidaknya sebuah hasil penelitian pertama-tama tidak tergantung berapa lama diteliti, atau seberapa pengalamannya peneliti. Yang paling penting metode atau caranya benar atau tidak.
Berhasil menghidupkan mesin bukan berarti bahan bakar itu prospektif, sebab masih perlu diuji apa dampaknya pada mesin, korusif atau tidak, tingkat emisinya seperti apa dan lain-lain. Berasal dari bahan organik tidak tentu rendah emisi atau tidak mengandung bahan berbahaya.
BACA JUGA : Grebek Satpol
Dan seperti biasa, selau ada penunggang gelombang.
Mereka para konten kreator yang dengan semangat mengebu-ngebu menyerang mereka yang ragu akan Bobibos itu.
Para konten kreator ini mencela mereka yang ragu sebagai tidak mendukung produk, karya atau inovasi anak negeri sendiri.
Seolah daya kritis dianggap sebagai nyinyir.
Padahal bahan bakar adalah produk sains, bukan produk iman atau nasionalisme. Jadi harus diuji kebenarannya secara empirik.
Soal Bobibos bukan soal mendukung atau tidak mendukung. Toh kalau benar memang bisa menghasilkan energi atau bahan bakar yang sesuai dengan klaimnya, sang penemu bakal kaya raya.
Masalahnya memang agak sumir, dari namanya saja sudah agak-agak laen. Penyebutan atau penamaan untuk temuannya agak lawak-lawak.
Ada banyak hal yang mesti diterangkan, misalnya seberapa banyak jerami yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu liter bahan bakar.
Jerami mungkin saja gratis, tetapai mengangkut dari sawah ke pabrik jelas butuh biaya, pabrik juga butuh gudang penyimpanan yang sangat besar untuk menumpuk jerami, mengingat jerami tak tersedia setiap saat, petani tidak menanam dan memanen setiap hari, ada musimnya.
Bahan yang tergantung musim ini rentan, karena pada satu musim bisa tersedia sangat berlimpah, namun di musim lainnya kosong.
Secara teori tidak ada yang meragukan bahwa jerami bisa dirubah menjadi bahan bakar entah sejenis bensin atau diesel. Namun teknologi untuk merubahnya belum stabil, belum matang sehingga masih diperlukan waktu untuk membuktikan kehandalan bensin atau diesel yang dihasilkan dari jerami.
Sebuah temuan yang berbasis sains mesti dibuktikan secara gamblang. Harus dinilai oleh para pihak lewat berbagai macam ujian. Klaim tidak boleh datang sepihak dari penemu. Justru dalam sains sebuah penemuan mesti diuji, diuji oleh para ahli yang jumlahnya tidak sedikit.
Keterangan tentang Bobibos sangat sedikit termasuk penjelasan teknisnya. Penemunya mengklaim mempunyai formula khusus, tentu saja bisa dirahasiakan formulanya olehnya. Namun tetap saja unsur-unsurnya mesti diterangkan.
Jadi berdasarkan apa yang berkembang dalam berita dan aneka postingan, nampaknya yang disebut Bobibos sama seperti beberapa klaim sebelumnya yang mengedepankan inovasi anak bangsa namun terbukti hanya omon-omon saja, ndobos.
Klaim penemu atau founder bahwa sudah melakukan penelitian dalam waktu yang lama, sudah mengeluarkan uang sendiri dalam jumlah yang cukup besar, tidak berhubungan secara langsung dengan mutu dan kebenaran temuannya. Ada banyak hal yang diteliti lama, menghabiskan banyak uang namun kemudian diputuskan tidak menghasilkan temuan yang layak untuk dikembangkan secara komersial.
Tapi bangsa ini terutama lewat ekpresinya di media sosial memang gampang gumunan. Gampang merasa terpukau dan terpana, oleh apa yang disebut sebagai temuan anak negeri. Temuan yang jika kemudian dikritisi dianggap sebagai langkah untuk menghambat temuan bangsa sendiri.
note : sumber gambar – DETIK








