KESAH.ID – Lekaq Kidau menyimpan jejak yang kabur dalam ingatan saya—kampung di seberang Sungai Mahakam yang pernah terendam banjir besar, lalu berubah wajah ketika saya kembali. Dari cerita banjir yang dianggap berkah, perjalanan menyeberangi sungai, hingga ironi kebakaran lahan yang kini menghantui, kisah ini merekam pertemuan antara tradisi lama dan tantangan baru. Sebuah potret tentang bagaimana masyarakat berusaha menjaga pengetahuan leluhur sambil menghadapi stigma dan perubahan iklim yang kian nyata.
Sekali—lebih dari sepuluh tahun lalu—saya pernah ke Lekaq Kidau. Ingatan tentangnya tak banyak, kabur, bercampur dengan kenangan lain. Yang masih tersisa hanyalah gambaran kampung di seberang Sungai Mahakam, waktu itu tengah terendam banjir. Jalanan tergenang, rumah-rumah dikepung air, hanya tanah pekuburan di sisi belakang kampung yang tampak bebas dari genangan.
Dalam percakapan dengan mantan kepala desa, Marthinus Ajan, saya diberi tahu bahwa banjir itu adalah yang terbesar, dan setelahnya tak pernah terjadi lagi. “Air naiknya pelan, tapi surutnya juga pelan,” ujarnya. Banjir itu membuat beberapa warga meninggikan rumah. Namun bagi sebagian lain, banjir justru membawa berkah: hasil panen padi dari perbukitan bisa diangkut ke lumbung dengan perahu. Konon, banjir itu bertahan hampir tiga bulan.
Soal banjir di Kalimantan Timur memang punya cerita khas. Secara sosioantropologis, banjir tak selalu dipandang sebagai bencana. Bagi masyarakat tertentu, banjir adalah berkah. Seperti warga di Mahakam Tengah, begitu banjir datang artinya rezeki berlimpah karena ikan meruah. Banjir menyambungkan rawa, danau, dan sungai. Ikan-ikan yang tersembunyi di rawa akan masuk ke sungai dan danau, tangkapan pun melimpah. Dengan genangan banjir, mobilitas terbatas, dan keterbatasan itu justru meningkatkan mutu silaturahmi: keluarga berkumpul di rumah.
Kembali ke Lekaq Kidau, karena sudah lama tak ke sana, saya tak punya kontak. Saat berada di Lung Anai untuk menghadiri sebuah perhelatan, di rumah tempat saya menginap datang tamu dari Lekaq Kidau. Kesempatan itu saya gunakan untuk mengonfirmasi apakah ada saudara di Lekaq Kidau yang rumahnya bisa saya inapi. Dari percakapan itu, rencana perjalanan ke Lekaq Kidau bisa saya amankan. Pertanyaan berikutnya adalah soal rute, karena saya sama sekali sudah lupa jalan menuju ke sana. Beberapa rute ditawarkan, namun akhirnya kami memilih jalur lewat Tenggarong. Alasannya, sopir yang membawa mobil lebih familier dengan rute itu, karena ada saudaranya yang tinggal di desa yang akan dilewati.

BACA JUGA : Negeri Gerontokrasi

Dengan rute melewati Pasar Mangkurawang, menyeberangi jalan tambang (hauling) yang sepertinya tak aktif lagi menuju Rapak Lambur, perjalanan berlanjut hingga sampai ke penyeberangan ferry di Sanggulan, Sebulu. Ada beberapa penyeberangan yang melayani motor dan mobil. Istimewanya, ferry ini tak perlu menunggu lama: begitu mobil naik, ferry langsung jalan. Sekali menyeberang ongkosnya Rp35 ribu.
Menyeberangi Sungai Mahakam di sini mesti hati-hati, karena alur sungai tidak terlalu lebar dan ramai dengan ponton pengangkut batubara. Dari Sanggulan, ferry menyeberangkan ke Selerong. Perjalanan diteruskan menuju Bukit Jambe, tempat bermukim masyarakat Tunjung Benuaq, lalu ke arah Teratak, dan belok kiri menuju Lekaq Kidau.
Jalan semen menuju kampung itu tidak lebar, diapit belukar dan kebun. Masih ada kebun karet, meski di sana-sini mulai terlihat tanaman sawit. Dari jauh tampak beberapa gapura: ucapan selamat datang, sambutan perayaan 17 Agustus. Pemandangan menarik pertama yang menonjol adalah nuansa hitam di sisi kanan jalan, sementara di sisi kiri berdiri megah lamin adat.
Nuansa hitam itu adalah puing bangunan yang terbakar habis, hanya menyisakan tiang-tiang besar berukir yang masih tegak. Bangunan itu adalah rumah kepala adat, terbakar saat penghuninya tak ada. Menurut cerita, api berasal dari rumah kosong di sebelahnya yang sedang dibersihkan. Bara yang tersisa di bawah lantai perlahan membesar tanpa disadari, melalap rumah itu, lalu menyambar rumah kepala adat. Kebakaran itu membuat banyak warisan adat nenek moyang tak terselamatkan.
Entah kebetulan atau tidak, begitu saya sampai di rumah tempat menginap, tiba-tiba ada pengumuman dalam bahasa daerah. Saya tak tahu maksudnya, namun kemudian paham: ajakan warga untuk gotong royong memadamkan api, karena ada kebakaran lahan. Asap putih membumbung, bau terbawa angin. Warga berbondong-bondong membawa ember, jerigen, apa saja berisi air. Mereka khawatir api merembet ke kebun. Tak lama kemudian datang bala bantuan dari desa lain: Teratak, Sanggulan, Selerong. Dari Teratak, sekretaris desa membawa mobil tandon dan pompa air. Setelah berjibaku berjam-jam, api akhirnya padam.

BACA JUGA : Omnesh Spanish

Dulu, membakar lahan adalah bagian penting dari kehidupan orang Kenyah yang berfokus pada berkebun atau nutung uma. Membakar bukan sekadar ritual, melainkan teknik bertani: tanah tidak diolah, melainkan ditanami begitu saja di atas lahan yang dibakar, dengan cara dilubangi tombak kayu atau menugal untuk menyemai bibit.
Namun lama-kelamaan, kegiatan membakar lahan distigma sebagai perusak hutan, penyebab kebakaran hutan dan lahan. Dengan suhu permukaan bukit yang makin panas, membakar memang bisa berbahaya. Meski begitu, masyarakat punya cara sendiri untuk mengendalikan api, walau tak selalu berhasil.
Ironi itu nyata di Lekaq Kidau: api yang dulu sahabat pertanian kini jadi musuh yang harus dipadamkan bersama. Antara tradisi dan stigma, antara teknik bertani dan ancaman ekologi, masyarakat terus mencari cara agar tanah tetap bisa ditanami tanpa kehilangan akar pengetahuan mereka.
Perubahan iklim dan fenomena cuaca tertentu memang perlu dimitigasi. Masyarakat peladang tradisional seharusnya diajari, bukan dilarang membakar lahan. Harus ditemukan cara membakar lahan yang aman, dengan meminimalisir potensi api tak terkendali. Sebenarnya masyarakat peladang sudah punya SOP: menyediakan air sebanyak mungkin sebelum mulai membakar dan terus mengawasi api, karena sering kali api dianggap padam padahal masih menyimpan bara di bawahnya. Ketika peladang beristirahat, api bisa membesar dan tak terkendali.
Itulah yang terjadi di Lekaq Kidau, ketika sepasang peladang tua membakar lahannya sedikit demi sedikit. Namun di hari naas itu, api yang dikira sudah padam ternyata membesar, sementara mereka tak menyiapkan air dalam jumlah cukup untuk memadamkannya.
note : sumber gambar – NONPROFITJOURNALISM








