KESAH.ID – Menonton Ibu Negara karya Teater Lanjong bukan sekadar duduk menghadap panggung, melainkan bersiap diseret ke dalam sebuah perayaan dekonstruksi kekuasaan yang sarat ironi. Di bawah arahan sutradara AB Asmarandana, pementasan kontemporer ini dengan cerdas memanfaatkan strategi metateater untuk meruntuhkan dinding pembatas antara fiksi dan realitas, mengubah amfiteater Ladaya malam itu menjadi ruang karnival yang riuh sekaligus ruang liminal yang sunyi—tempat di mana citra para elite ditelanjangi dan penonton dipaksa berkaca pada absurditas negeri yang mereka huni sendiri.
Siapakah sesungguhnya yang berhak menduduki kursi tertinggi kekuasaan negara? Secara ideal, ia adalah sang Raja—sebuah personifikasi kebijaksanaan, sosok patriotik yang lantang berdiri di garda depan demi mempertahankan kedaulatan negeri dan rakyat semesta. Namun, sejarah dan panggung teater kerap berbisik bahwa penguasa tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Di sampingnya, selalu ada tiga pengikut setia, para ajudan yang siap melayani, mengayomi, sekaligus memuji apa saja yang disabdakan sang junjungan. Mereka bertindak sebagai kurator realitas, membingkai setiap narasi dari luar untuk disajikan ke hadapan baginda, dan sebaliknya, mengemas citra sang Raja untuk dilempar ke publik. Di dalam sangkar informasi yang dibangun para pembisiknya, Raja menjelma menjadi benda simbolis yang agung. Ia mahir berpidato dengan retorika berapi-api di dalam bingkai, namun sarat ironi karena raganya tak pernah benar-benar hadir di tengah carut-marut kehidupan rakyatnya.
Benturan kuasa inilah yang menjadi fondasi pementasan Ibu Negara, sebuah lakon kontemporer yang diproduksi oleh Teater Lanjong di bawah arahan sutradara AB Asmarandana. Lakon ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah sandiwara di dalam sandiwara. Panggung diposisikan sebagai cermin retak yang membongkar mekanisme representasi kekuasaan politik melalui strategi metateater. Lanjong tidak membiarkan penontonnya duduk manis sebagai konsumen estetik yang pasif; mereka diseret masuk, diinterpelasikan sebagai warga dari sebuah negara imajiner.
Bagi publik seni yang kerap merapat ke skena pertunjukan Lanjong, panggung amfiteater di Ladang Budaya Tenggarong—atau yang akrab disapa “Ladaya”—bukan lagi ruang yang asing. Arsitekturnya yang berbentuk setengah lingkaran dengan tribun penonton yang menanjak lebih tinggi dari arena panggung menawarkan sudut pandang panorama yang luas. Namun, alih-alih mengeksploitasi seluruh fleksibilitas spasial tersebut, tata panggung Ibu Negara justru secara sengaja menciptakan batas penontonan yang ketat.
Di tengah panggung, berdiri instalasi tiga bingkai raksasa yang masif: dua bingkai potret secara vertikal dan satu bingkai lanskap secara horizontal. Keberadaan instalasi ini melahirkan pilihan dilematis bagi penonton. Mereka yang memilih duduk di bagian tengah tribun akan dihadiahi pengalaman visual yang imersif dan simetris. Sementara itu, penonton yang memilih sudut kanan atau kiri harus rela mereduksi pengalaman visual tersebut demi sudut pandang yang agak terdistorsi. Batasan spasial ini seolah menjadi metafora awal: bahwa dalam melihat negara, posisi menentukan persepsi.
Pertunjukan merekah dengan dinamika yang menghentak. Adegan dibuka oleh kemunculan agresif tiga ajudan yang berlari memasuki arena panggung sembari mendendangkan yel-yel populer, “Terpesona, aku terpesona…” Di bawah siraman lampu panggung yang dramatis dan kepulan asap sintetik, kehadiran mereka terasa fenomenal, menyedot perhatian penuh seisi amfiteater.
Kontras dengan keagresifan tersebut, sang Raja muncul dengan pembawaan yang sangat sensasional sekaligus tidak terburu-buru. Mengenakan kacamata hitam dan jubah yang menjuntai, gestur tubuhnya yang lambat memberikan ruang bagi penonton untuk menghayati intensitas aura sang penguasa secara lebih khusyuk.
Namun, bukan Lanjong namanya jika membiarkan kewibawaan itu bertahan lama. Puncak konflik justru dilempar ke kubangan absurditas yang pekat ketika sang Raja dikisahkan tewas seketika hanya karena terpeleset sabun di kamar mandi. Sebuah akhir yang sangat sepele dan konyol bagi seorang tokoh besar negara. Kematian sang patron seketika memicu kepanikan dan intrik politik baru. Para ajudan yang mendadak kehilangan arah mulai berspekulasi dan menyusun siasat licik agar takhta kekuasaan tidak menguap dari genggaman mereka.
Kekacauan kian meruncing dengan hadirnya sosok Wakil Raja yang muncul tanpa latar belakang yang jelas dalam struktur eksposisi, namun dengan penuh percaya diri merasa paling berhak atas mahkota karena gelar kedinasan yang disandangnya. Struktur narasi bergerak secara linear, mengalir dari perkenalan situasi menuju pengembangan konflik yang bertahap—meski terasa agak terburu-buru, ritme ini sangat ideal untuk mengonstruksi sebuah atmosfer tragedi yang absurd.
Sepanjang pementasan, adegan demi adegan bergulir sangat dinamis. Penggunaan strategi metateater membuat para aktor senantiasa dituntut merespons gestur tubuh mereka sendiri dan rangkaian teks narasi yang berkelindan dengan properti bingkai di panggung. Di tengah tempo yang cepat itu, penonton tetap diberi ruang kontemplasi untuk mencerna bobot persoalan yang diangkat. AB Asmarandana menyelipkan interaksi slapstik ala kemayu yang mengocok perut, yang berkelindan erat dengan lontaran kritik tajam yang dialamatkan langsung kepada penonton.
Salah satu peralihan adegan yang paling puitis dan membekas terjadi ketika Raja dan para ajudannya tiba-tiba melangkah keluar dari lingkaran panggung utama, lalu memilih duduk berbaur di antara deretan kursi penonton. Dalam kegelapan yang merayap perlahan, muncul sesosok perempuan di tengah panggung. Kehadirannya yang sunyi seketika menghentikan seluruh hiruk-pikuk slapstik sebelumnya, memaksa setiap kepala yang hadir di Ladaya malam itu untuk meresapi keheningan yang sarat akan renungan.
BACA JUGA : Tali China
Secara artistik, keberadaan bingkai raksasa di tengah panggung Ladaya bertindak sebagai jantung semiotik pertunjukan. Bingkai tersebut tidak hanya menawarkan kontras visual yang memikat, tetapi juga berfungsi sebagai penanda ontologis yang menegaskan transisi karakter para aktor. Saat melangkah masuk atau keluar dari bingkai, watak sang tokoh berubah secara drastis, sebuah keganjilan teatrikal yang justru dapat diterima secara natural oleh nalar penonton.
Pengalaman inderawi ini diperkuat oleh tata suara yang jenius dan provokatif. Sutradara memanfaatkan potongan-potongan rekaman suara Prabowo Subianto sebagai narator gaib, yang sesekali menyela untuk mempertegas efek pidato sang Raja. Pilihan audio ini seketika memicu tawa riuh; sebuah respons psikologis yang lahir akibat familiaritas simbolis penonton terhadap lanskap politik riil di dunia nyata.
Pola metateater ini kian solid melalui tatapan mata yang menghunjam, pertanyaan retoris, hingga interaksi fisik langsung di area tribun. Setiap improvisasi komikal direspons spontan dengan tawa dan tepuk tangan riuh, sebuah indikator empiris bahwa kerja artistik pementasan ini berhasil menembus batas penyerapan penonton.
Ibu Negara bukanlah kali pertama Lanjong mengangkat satir politik dan drama dramatik. Namun, dalam produksi kali ini, mereka memperlihatkan kesadaran penuh untuk mengambil sikap tegas terhadap karut-marut isu jabatan politis yang belakangan berseliweran di media massa, baik daring maupun luring. Sikap politis tersebut tidak berhenti sebagai dekorasi estetis belaka, melainkan dirajut secara terstruktur untuk melibatkan tubuh dan kesadaran penonton.
Momen paling reflektif bagi saya adalah menyaksikan bagaimana para aktor begitu tenggelam dalam watak tokohnya saat berada di dalam bingkai raksasa tersebut. Namun, begitu kaki mereka melangkah keluar dari batas kayu itu, karakter mereka runtuh, berganti menjadi sosok manipulatif yang mengumbar siasat dan kepentingan pribadi. Aktor tidak lagi menyembunyikan ilusi teater. Sebaliknya, bingkai itu justru mengeksplorasi bagaimana citra politik diproduksi, dipentaskan, dan dinegosiasikan di hadapan publik.
Strategi metateater ini bekerja secara gamblang saat aktor secara sadar mempertanyakan kesungguhan perannya sendiri di dalam bingkai, atau ketika mereka mendadak keluar dari bingkai hanya untuk memberikan klarifikasi personal atas narasi yang baru saja mereka mainkan. Aksi-aksi spontan ini menghadirkan efek Verfremdungseffekt atau “keterasingan” ala Bertolt Brecht (1898-1959). Sebuah kesengajaan dramaturgis untuk merusak ilusi dramatik, mencegah penonton hanyut dalam empati murahan, dan memaksa mereka mempertahankan jarak kritis demi membaca kausalitas setiap adegan secara lebih luas.
Situasi ambigu ini mengantarkan penonton ke dalam apa yang disebut oleh antropolog Victor Turner (1920-1983) sebagai situasi liminoid—sebuah fase ambang dalam ruang budaya modern tempat manusia berada di antara dunia nyata dan dunia simbolik. Ibu Negara menciptakan ruang sementara yang membebaskan penonton dari struktur norma keseharian, memicu mereka untuk meninjau ulang konsep negara, watak kekuasaan, dan hakikat partisipasi publik.
BACA JUGA : Melawan Gandum
Keberhasilan ini didukung oleh kualitas keaktoran yang memukau. Nala Arung, yang memerankan sang Raja, bertindak sebagai poros pementasan yang luar biasa. Ia sukses mentransformasikan atmosfer panggung yang statis menjadi ruang imajiner yang multi-dimensi; dari kemegahan istana, lapangan terbuka, hingga momen ketika ia meruntuhkan dinding keempat untuk berdialog kritis dengan penonton. Karakternya menjadi sangat kontras: tampil parlor dan necis di dalam bingkai, namun berubah menjadi sufistik ketika berada di luar. Ketiga ajudan yang dimainkan oleh Surawan, Yamfay, dan Bayu pun tampil impresif. Laku liar mereka yang awalnya menyerupai tentara tegas bertransisi menjadi satir jenaka saat tubuh mereka mendadak melambai mengikuti instruksi sang Raja.
Di sisi lain, tokoh perempuan yang diperankan oleh Mimi hadir sebagai representasi masyarakat sekaligus kekuatan oposisi. Ia tidak sekadar mengacaukan fungsi bingkai tempat para elite bersandiwara, tetapi melontarkan gugatan filosofis yang menohok langsung ke arah tribun: mempertanyakan mengapa rakyat—atau dalam konteks ini, penonton—justru ikut membiarkan “bingkai” tersebut menjadi arena abadi bagi politik kepentingan.
Tentu saja, pementasan yang dikerjakan dalam waktu yang sangat singkat—hanya 10 hari persiapan—tidak sepenuhnya luput dari celah dramaturgi. Kemunculan Wakil Raja yang diperankan oleh Are di bagian resolusi terasa agak janggal dan sulit diterima secara kausalitas makro karena karakternya sama sekali tidak diperkenalkan pada babak eksposisi. Kendati Are membawakan tokoh ini dengan gaya yang sangat ikonik, durasi tampil yang sangat terbatas di ujung cerita berpotensi membuat penonton kehilangan urgensi kehadirannya.
Namun, ada dugaan kuat bahwa minimnya eksposisi ini merupakan bentuk negosiasi dramaturgi yang disengaja (intensional), sebuah taktik agar penonton membaca tokoh Wakil Raja pada level penanda (signifier) yang lebih kontekstual dengan realitas politik hari ini. Meski demikian, kemunculan sekilas di awal babak sebenarnya akan jauh lebih membantu membangun logika dramatik yang meyakinkan tanpa harus memaksa penonton mengonstruksi latar belakang tokoh secara mandiri.
Pada akhirnya, Ibu Negara bergerak lebih jauh dari sekadar menaruh tema negara di atas papan panggung. Lakon ini merombak cara kita memandang relasi antara rakyat, kekuasaan, dan simbol-simbol sakral kenegaraan. Muatan politik dalam pementasan ini tidak melulu lahir dari teks dialog, melainkan dari cara sutradara mendistribusikan pengalaman estetika kepada publik. Seni di sini bertindak sebagai ruang negosiasi; ketika permasalahan dunia nyata sudah terlalu pekat dan buntu, teater menawarkan katarsis kritis melalui perpaduan slapstik dan metateater.
Ruang liminoid yang hadir di Ladaya malam itu mengonfirmasi teori Mikhail Bakhtin (1895-1975) mengenai suasana carnivalesque (karnival). Di bawah langit Tenggarong, struktur formal negara yang kaku didekonstruksi total. Raja kehilangan absolutismenya, menjelma menjadi objek permainan, parodi, dan sasaran ejekan yang sah untuk ditertawakan bersama tanpa bayang-bayang sanksi hukum formal. Konsep karnival interaktif inilah yang menjaga ketajaman nalar kritis penonton agar tidak tertidur oleh ilusi politik panggung, sekaligus mengirim sinyal kuat bahwa apa pun yang terjadi di atas pentas—maupun di luar gedung teater—patut dipertanyakan kebenarannya.
Melalui ramuan ruang ambang, komedi satir, dan tragedi metateater, AB Asmarandana dan Teater Lanjong berhasil menyuguhkan teater politik kontemporer yang impresif. Kendati demikian, sebagai sebuah catatan kritis, beberapa simbol politik yang dihadirkan di panggung terasa terlalu telanjang dan eksplisit. Akibatnya, ruang bagi pembacaan yang berlapis dan multitafsir menjadi agak menyempit. Pementasan ini menjadi terlalu mudah dikaitkan secara instan sebagai komentar langsung atas situasi politik mutakhir. Kompleksitas teater yang sedemikian kaya berisiko kehilangan sebagian ambiguitas estetiknya—padahal ambiguitas itulah yang biasanya memperpanjang usia penafsiran sebuah karya di belantika teater kontemporer.
Namun, di luar catatan tersebut, Ibu Negara tetap berdiri sebagai tawaran bernilai tinggi tentang bagaimana seni merespons keresahan kolektif masyarakat hari ini. Mengingat proses produksinya yang sangat ekspres, pencapaian ini adalah sebuah lompatan besar. Panggung Ladaya malam itu menjelma menjadi ruang alternatif yang padat narasi kritis, di mana para aktor tidak hanya mempertanyakan karakter yang mereka mainkan, tetapi juga menggugat eksistensi mereka sendiri di atas papan teater. Ibu Negara secara terang-benderang memilih jalan menjadi karya yang bersikap, menolak tunduk sebagai tontonan pengisi waktu luang yang pasif. Seusai lampu panggung padam, penonton dipaksa pulang dengan sekeranjang pertanyaan yang mengusik kepala: masihkah kita percaya bahwa seni sebatas ekspresi keindahan visual belaka, ataukah ia adalah senjata paling purba untuk menelanjangi kenyataan?
Penulis : Deni Kristanto
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Foto : Deni Kristanto












