KESAH.IDJangan percaya pada apa yang Anda lihat di linimasa, bahkan jika itu terasa sangat logis. Hari ini, perang bukan lagi sekadar urusan tank dan jet tempur, melainkan soal siapa yang paling jago memilih kata. Dari ‘agresi’ hingga ‘pertahanan diri’, satu pilihan kata saja sudah cukup untuk mengubah penjahat menjadi pahlawan di mata publik. Tulisan ini bukan tentang siapa yang menang di Timur Tengah, tapi tentang bagaimana kita semua—tanpa sadar—sedang digiring menjadi bidak dalam perang propaganda global.

Sampai hari ini, saya terpapar informasi saling serang antara Israel–Amerika Serikat melawan Iran bukan dari media arus utama. Saya membacanya melalui berbagai unggahan, entah berupa status, opini, keluh kesah, atau bahkan omelan yang beredar di media sosial. Di grup WhatsApp, saya juga menerima asupan komentar, pemikiran, hingga analisis yang ndakik-ndakik. Tak lupa pula saya menyaksikan beberapa kanal siniar (podcast) yang menunggangi gelombang isu ini.

Tentu saja ada banyak fakta yang bisa didapatkan untuk memberi gambaran tentang apa yang tengah terjadi dan eksesnya—baik yang benar-benar terjadi saat ini maupun yang diproyeksikan bakal terjadi jika saling serang terus berlangsung. Spektrum informasi yang beredar di media sosial sudah jelas: pilihannya hanya A atau B. Algoritma media sosial memang begitu, enggan menyajikan hal yang rumit. Penjelasan yang netral atau seindependen mungkin tak akan mendapat tempat karena membuat orang berpikir dan letih mengikutinya. Maka, yang disukai adalah yang mengutuk atau memuji, menangis atau tertawa. Akibatnya, perang justru menjadi lebih “seru” di media sosial.

Semua orang tahu, perang bukan melulu soal rudal, tank, kapal selam, pesawat tempur, dan tentara. Perang juga soal narasi, kata-kata, dan propaganda. Kata-kata bisa menjadi senjata yang sangat kuat—halus tetapi membunuh—karena peperangan bisa dimenangkan melalui persepsi publik. Kini setiap orang bisa bersuara, maka propaganda pun dapat dilakukan oleh siapa saja. Perang kata-kata menjadi lebih menarik sekaligus jauh lebih rumit daripada zaman ketika komunikasi publik hanya dikuasai oleh pemerintah.

Arus besar ini membuat media massa mainstream, yang sering disebut sebagai pilar demokrasi, berada di simpang jalan. Media massa dalam komunikasi publik ditempatkan sebagai entitas penyampai fakta yang sangat menghindari opini dan fiksi. Hanya saja, kecepatan saat ini telah menjadi mantra. Media diburu untuk secepat mungkin menyampaikan informasi, sehingga prinsip cover both sides sulit dilakukan karena memakan waktu. Karena itu, kecenderungan pemberitaan saat ini bukan semata menyampaikan fakta, melainkan juga memilih cara menyusun fakta tersebut.

Persepsi publik dibentuk oleh media melalui pemilihan diksi tertentu, mengedepankan aktor tertentu, serta memperhalus atau memperkeras bagian tertentu. Pada dasarnya, media melakukan framing untuk membentuk persepsi publik. Framing bukan berarti tidak menyampaikan fakta; faktanya tetap benar, misalnya Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela. Namun, fakta Maduro ditangkap akan dipahami secara berbeda jika kata yang digunakan adalah “ditangkap paksa”, “diculik”, atau “disandera”. Perbedaan kata pada aksi tersebut membawa bobot moral yang berbeda; satu kata cukup untuk mengubah emosi pembaca.

Dalam konflik antara Israel–Palestina yang meluas ke Iran, pemberitaan memiliki nuansa serupa. Serangan dari masing-masing pihak diberitakan dengan pilihan kata yang berbeda. Aksi dari satu pihak disebut “serangan” atau “agresi”, sementara dari pihak lain disebut “balasan” atau “bertahan”. Yang satu aksi, yang satu reaksi. Pilihan kata ini membuat pihak yang bertikai memiliki nilai berbeda di mata publik. Salah satu pihak akan selalu disebut agresor, sementara pihak lain dianggap patriot yang mempertahankan kedaulatan negeri.

BACA JUGA : Red Flag

Awak media memang selalu diwanti-wanti untuk mengedepankan prinsip kehati-hatian agar berita berimbang. Sebuah berita dijaga agar tidak menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Namun, dalam banyak hal, sebuah kejadian sering kali sulit diverifikasi dengan cepat, padahal informasi yang dipublikasikan harus tervalidasi. Maka, media kerap mengutip sumber-sumber resmi, entah benar atau tidak informasi yang disampaikan. Dalam banyak hal, informasi dari pihak tertentu sebenarnya bernilai kehumasan.

Bersumber dari informasi seperti itu, corak pemberitaan media kemudian akan mengikuti atmosfer politik elite di sebuah negara. Gerak media mengikuti perdebatan kaum elite politiknya. Jika politik terkonsolidasi dengan baik, media juga akan memberitakan dalam kerangka yang sama. Program MBG, misalnya; karena didukung hampir semua elite politik, media kemudian melakukan self-censorship. Berita MBG umumnya positif karena sumber utamanya adalah Badan Gizi Nasional.

Pada dasarnya, framing yang dilakukan media tidak sepenuhnya independen dari kekuasaan politik. Ada yang ikut arus mendukung, ada pula yang melawan. Media menjadi seperti partai politik; ada yang ikut koalisi, ada pula yang memilih menjadi oposisi. Dalam konteks tertentu, media menjadi alat propaganda dan medan pemberitaan menjadi ajang perang narasi. Di Indonesia, spektrum propagandanya lebih berwarna. Yang melakukan propaganda bukan hanya media, tetapi juga perorangan atau kelompok. Di belantara informasi, kita bisa membaca bagaimana sebuah propaganda mendelegitimasi propaganda lainnya.

Di berbagai platform media sosial, para pemengaruh (influencer) ramai-ramai bicara geopolitik. Narasi bergerak lebih cepat dari fakta. Perang bukan lagi soal radar, drone, rudal, atau pesawat pengintai, melainkan soal linimasa. Perang di linimasa lebih seru karena senjata yang dibawa tidak dimoderasi; mana yang palsu, rekayasa, atau fakta yang diperkuat sulit dibedakan, terutama jika konsumennya tidak kritis. Linimasa dipenuhi informasi dari buzzer sukarela yang merasa “dipanggil semesta” untuk menanggapi aksi tersebut. Namun yang diserang bukan hanya pihak luar; tak sedikit pula yang “mensyukuri” kematian pemimpin Iran.

Konflik ini tidak hanya ditanggapi secara kontrapolitik, tetapi juga kontra-religius. Secara religius, banyak netizen Indonesia yang memang tidak menyukai Iran. Perang linimasa menjadi sangat emosional karena algoritma media sosial memang “ramah emosi”. Pengguna diarahkan untuk menggunakan otak emosional agar mendapat kepuasan sekaligus memicu agresi terhadap pihak lawan. Mestinya ada pembatasan untuk memoderasi, namun biasanya propaganda sudah lebih dulu lolos melalui tangkapan layar (capture) atau trik tertentu untuk menghindari sensor internal platform. Di media sosial, informasi juga bisa diatur agar meledak memakai akun anonim yang digerakkan oleh bot. Sekali klik, informasi langsung tereplikasi secara masif.

BACA JUGA : Trump Bingung

Kata adalah senjata yang semakin perkasa dengan daya ledak tinggi karena algoritma media sosial tidak ditujukan untuk literasi, melainkan untuk keterlibatan (engagement). Distribusi digital tidak dimaksudkan untuk memperluas pengetahuan, melainkan untuk memengaruhi emosi agar pemberi reaksi cepat terpapar. Ekosistem ini cocok untuk menggandakan propaganda; media sosial menjadi jejaring narasi yang muncul dari banyak titik. Hasilnya adalah banjir informasi yang membuat publik sulit membedakan mana fakta, opini, atau sekadar keisengan.

Di lautan media sosial, banyak kreator menunggangi gelombang viral untuk meningkatkan keterlibatan akun mereka. Apa yang disampaikan bisa saja sangat ideologis, tapi penciptanya sendiri sebenarnya tidak peduli. Demi konten, kreator bisa menjadi apa saja. Bahkan ketika seorang kreator iseng menyambung-nyambungkan hal agar lucu, konten rekayasa itu bisa dicomot dan diteruskan dengan narasi baru oleh orang lain. Fiksi pun lama-lama diterima sebagai fakta.

Sebagai konsumen informasi, kita harus bagaimana? Terserah saja. Jika merasa bahagia menerima apa adanya yang kita suka, teruskan saja. Toh, kita sudah biasa puas dengan hal-hal yang tidak sebenarnya. Namun jika ingin menjadi konsumen yang terampil, kita mesti mempelajari keterampilan baru. Keterampilan ini bukan hanya soal cara mengonsumsi, tetapi juga melihat bagaimana informasi itu diproduksi. Perhatikan bagaimana narasi dibangun dan apakah bersumber dari pihak kredibel. Nilailah kata-kata yang dipilih untuk melihat siapa yang dibela atau diserang.

Atas sebuah peristiwa, informasi mesti diterima dengan skeptis. Tidak boleh dipercaya begitu saja, tapi bukan berarti menganggap semuanya bohong. Kita pantas skeptis karena sejarah mencatat bahwa dalam konflik, korban pertama adalah kebenaran. Narasi propaganda memang meyakinkan karena dibangun dengan logika, namun apa yang tampak logis belum tentu benar. Jangan percaya begitu saja bahwa apa yang terasa masuk akal adalah fakta. Sebenarnya, perang hampir selalu sulit disaksikan secara terang benderang. Terlalu banyak lapisan keterlibatan di balik perintah peluncuran rudal. Perang yang sesungguhnya adalah bagaimana masing-masing pihak berusaha menguasai cara kita melihat perang tersebut.

note : sumber gambar – NEWS.KU