KESAH.ID – Dua menteri baru kita rupa-rupanya sedang gemar melempar wacana ‘rusuh’. Alih-alih bicara soal inovasi atau pemberdayaan, yang keluar justru ancaman untuk menghapus ritel waralaba demi memberi jalan bagi koperasi karbitan. Sebuah logika yang bukan hanya ajaib, tapi juga menunjukkan betapa jauhnya jarak antara kursi empuk kementerian dengan realitas pasar yang sesungguhnya.
Dua menteri kabinet Prabowo–Gibran yang belum menunjukkan taji prestasinya justru kompak melontarkan wacana ganjil. Yandri Susanto (Menteri Desa) dan Ferry Yuliantoro (Menteri Koperasi) dengan enteng menyatakan akan “menghapus” bisnis ritel waralaba jika Koperasi Merah Putih sudah berjalan. Entah dari mana datangnya logika rusuh tersebut; dilihat dari sisi mana pun, pernyataan ini bukan hanya keliru, melainkan problematik secara ekonomi, politik, dan etik.
Ide tentang Koperasi Merah Putih jelas mulia. Bung Hatta, sang Proklamator, sejak awal berharap koperasi menjadi soko guru ekonomi nasional. Masalahnya, hukum ekonomi tidak sesederhana pidato heroik di atas mimbar.
Ekonomi bekerja dengan aturannya sendiri; ia adalah tentang realitas pasar. Raksasa seperti Indomaret dan Alfamart menang bukan sekadar karena modal besar atau konglomerasi di belakangnya. Mereka unggul karena efisiensi rantai pasok, pengenalan preferensi konsumen, teknologi informasi, dan konsistensi dalam membangun kepercayaan.
Indomaret dan Alfamart tumbuh besar bukan hasil kongkalikong dengan penguasa. Keduanya mampu menggeser supermarket karena jeli melihat pasar, masuk hingga ke pelosok dengan sistem distribusi prima, harga stabil, dan jam operasional yang pasti.
Terlepas dari segala persoalan, mereka telah membuka ribuan lapangan kerja dan menjadi simpul bagi UMKM lokal yang menitipkan produknya di sana. Mereka membuktikan diri mampu bertahan dalam kompetisi yang dulu juga diisi pemain seperti Circle K atau Seven Eleven.
Lalu tiba-tiba muncul gagasan Koperasi Desa Merah Putih yang langsung menuding ritel waralaba sebagai saingan. Memangnya semua koperasi ini hanya akan jualan? Kalaupun menjadi kompetitor, persaingan tak bisa diselesaikan dengan regulasi yang bertujuan mematikan lawan. Alih-alih reaktif menyerang pihak luar, pemerintah mestinya lebih reflektif melihat ke dalam.
Bukankah para menteri sudah diajak retreat? Harusnya mereka paham sejarah; Koperasi Desa Merah Putih punya padanan pengalaman masa lalu bernama KUD yang dinamikanya perlu dipelajari.
BACA JUGA : Trump Pusing
Sejak Indonesia merdeka, koperasi dicita-citakan menjadi pilar ekonomi yang ideal karena berlandaskan gotong royong. Namun sejarah mencatat, semangat dan fasilitas saja tidak cukup. Ribuan koperasi berdiri, bahkan kementeriannya pun ada, tapi kebanyakan berakhir mati suri atau sekadar menyisakan papan nama. Kini, Presiden Prabowo ingin menegakkan kembali ekonomi sosial lewat ribuan Koperasi Desa Merah Putih di seluruh penjuru negeri.
Ribuan unit usaha ini berdiri serentak, namun belum jelas apa yang mau dikelola. Dukungan politik dan anggaran besar bukanlah jaminan keberhasilan tanpa manajemen profesional. Ada kekhawatiran Koperasi Desa Merah Putih ini lebih bercorak “proyek” seremonial tanpa kapasitas keberlanjutan. Padahal, mereka akan masuk ke pasar terbuka yang pemainnya sudah lebih dahulu mapan dan menguasai pasar secara luas.
Memenangkan pasar dengan menekan sektor swasta yang tumbuh mandiri akan menjadi preseden berbahaya. Jika koperasi menang karena “tangan besi” pemerintah, itu mencerminkan ketidakadilan, bukan kompetensi. Demokrasi ekonomi bukanlah menindas yang kuat untuk memberi ruang bagi yang (dianggap) merakyat. Demokrasi ekonomi adalah soal persaingan sehat di mana pemenangnya bukanlah institusi karbitan. Koperasi akan kuat jika mampu bersaing secara mandiri, bukan dengan meminjam tangan negara untuk membunuh saingannya.
Kebijakan ekonomi yang membangun reputasi dengan retorika anti-korporasi adalah kesalahan besar. Faktanya, korporasi adalah mesin pencipta lapangan kerja. Jika mereka dianggap saingan, ajaklah berkompetisi melalui layanan yang lebih andal. Melihat sepak terjang kedua menteri terkait, sepertinya harapan itu masih jauh. Tanpa terobosan nyata dalam memajukan ekonomi desa, sulit berharap Koperasi Desa Merah Putih akan berkibar gagah di jagat Nusantara.
BACA JUGA : Propaganda Propaganda
Jika Menteri Desa dan Menteri Koperasi mau belajar cara bersaing dengan ritel modern, mereka tidak perlu jauh-jauh. Cukup studi banding atau retreat ke Samarinda untuk menemui entitas yang lebih konsisten daripada janji kampanye: Warung Daeng. Di saat lampu neon putih Indomaret mulai padam dan pintu kacanya digembok, Warung Daeng tetap berdiri tegak dengan lampu kuning remangnya yang setianya melebihi ajudan gubernur.
Bagi warga Samarinda, Warung Daeng adalah “mercusuar kearifan lokal”. Mereka mengisi celah pasar yang tak tersentuh raksasa ritel. Saat warga terbangun tengah malam dan butuh sebutir telur untuk teman mi instan, Warung Daeng melayani tanpa keberatan. Samarinda membuktikan bahwa Warung Daeng tak gentar bersaing karena mereka yakin pasarnya berbeda. Mereka percaya diri tanpa perlu AC, shift pekerja, atau SOP yang kaku.
Meski penataan barangnya menyerupai karya seni instalasi abstrak yang semrawut, Warung Daeng tetap relevan. Mereka adalah solusi saat dompet mulai “lengket” karena melayani pembelian rokok batangan—hal yang haram di ritel modern. Namun, senjata paling mematikan dari Warung Daeng adalah relasi kemanusiaan. Di ritel modern, Anda disambut pertanyaan “Ada kartu member?”. Di Warung Daeng, penjaganya hafal merek rokok, camilan, hingga kebiasaan belanja Anda.
Bahkan untuk pelanggan tertentu, Warung Daeng menerapkan trust-based economy: mengizinkan pelanggan untuk nge-bon. Mereka tak mati digempur jaringan modern; justru semakin berkembang hingga berani menyewa ruko di jalan protokol. Mereka mengais untung setipis tisu dengan tekun, yang lama-kelamaan bisa memberangkatkan pemiliknya naik haji. Koperasi Desa Merah Putih harus belajar dari Warung Daeng; tak perlu jadi preman untuk menang. Cukup bermodal model bisnis yang berakar pada komunitas, mereka terbukti tegar berdiri tegak, bahkan tepat di samping tembok raksasa ritel modern.
note : sumber gambar – KOMPAS








