KESAH.ID – Mungkinkah “luka” di permukaan bumi ini kita ubah menjadi lumbung energi masa depan? Mari kita menengok ke Timur, belajar dari garam, dan merenungkan kembali nasib lubang-lubang tambang yang selama ini kita biarkan terbiar. Kini kita masih terus mewarisi puluhan ribu lubang menganga yang kerap kali menjadi nisan bisu bagi masa lalu. Padahal lubang tambang ini seharusnya bisa menjadi lumbung energi abadi.
Buku Himpunan Pengetahuan Umum mencatat Tiongkok sebagai negara dengan segudang predikat “terbesar”. Dari sisi wilayah, ia menempati posisi ketiga setelah Rusia dan Kanada. Luasnya wilayah berbanding lurus dengan populasi; meski kini posisinya telah disalip India, banyak yang masih menganggap Tiongkok sebagai pemilik penduduk terbanyak di dunia.
Berdasarkan volume air dan luas aliran sungai, Tiongkok menempatkan Sungai Yangtze sebagai salah satu yang terbesar setelah Amazon dan Nil. Kelimpahan sumber daya air ini memicu pembangunan bendungan raksasa: Three Gorges Dam. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sana berkapasitas 22.500 MW dengan 34 generator, menjadikannya yang terbesar di dunia.
Di sektor transportasi, Tiongkok menyusul Rusia dan Kanada dalam panjang jalur kereta api. Jalur rel dari Shanghai ke Lhasa menjadi rute terpanjang setelah Toronto-Vancouver dan Moskow-Vladivostok. Secara historis, Tiongkok memiliki Tembok Besar (Great Wall)—serangkaian benteng pertahanan kolosal di perbatasan utara untuk menghalau kelompok nomaden stepa Eurasia.
Fakta Tiongkok yang serba besar ini diamini oleh Dahlan Iskan. Jurnalis yang sukses membesarkan kerajaan media Jawa Pos sebelum menyeberang menjadi menteri ini tergolong rajin menyambangi Negeri Tirai Bambu.
Mulanya, Dahlan rutin ke sana untuk kontrol kesehatan pasca-transplantasi hati pada 2007. Dahlan yang sebelumnya berkiblat ke Amerika Serikat, perlahan terpikat oleh Tiongkok. Kegemarannya blusukan hingga ke pelosok desa membuatnya mengenal persis bagaimana Tiongkok membesar dalam segala hal.
Saat memimpin PLN, Dahlan kerap mencari ide pembaharuan sekaligus melepas penat di sana. Bahkan setelah melepas jabatan dan “terpental” dari Jawa Pos Group, ia tetap rajin ke Tiongkok untuk mencari peluang bisnis. Ia pun sering mengorganisir tur bagi usahawan Indonesia agar bisa belajar langsung tentang etos kerja dan manufaktur di pabrik-pabrik besar Tiongkok.
Melalui catatan di Disway, tak salah jika Dahlan dikategorikan sebagai “ahli Tiongkok”—bukan dalam urusan ideologi, melainkan ekonomi dan inovasi. Ia mencatat bagaimana Tiongkok kini menjadi lawan terberat Amerika Serikat, bahkan melampauinya dalam teknologi kendaraan listrik. Dahlan berani menyebut Eropa sekalipun telah tertinggal 10 tahun dibanding Tiongkok.
BACA JUGA : Untung Perang
Tiongkok tidak hanya terbesar dalam hal-hal “wah” seperti kebiasaan di Indonesia yang gemar memamerkan stadion atau mal terbesar. Hal sepele seperti garam pun digarap secara masif. Tiongkok adalah produsen garam terbesar dunia yang dihasilkan melalui tambak dan tambang bawah tanah.
Menariknya, lokasi garam ini juga menjadi lumbung energi. Tambak garam yang mahaluas dipadukan dengan instalasi Panel Surya (PLTS), menjadikan Tiongkok pemimpin energi surya dunia dengan kapasitas 400 GW di akhir 2023.
Indonesia, yang secara geografis terpapar surya sepanjang tahun, justru tampak tertinggal jauh. Dari potensi raksasa 112.000 GW, target yang terpasang hingga akhir 2025 baru menyentuh 0,87 GW. Di sini, sinar mentari yang gratis lebih sering dihindari dengan belanja skincare ketimbang dikonversi menjadi energi.
Dahlan Iskan benar, Indonesia mungkin lebih baik belajar ke Tiongkok. Selain karena nasihat kuno “Belajarlah hingga ke negeri China,” secara kultural kita merasa lebih dekat dibanding gaya cowboy Amerika.
Tak perlu muluk-muluk bicara AI; belajarlah dari garam. Inovasi Tiongkok pada bekas tambang garam sungguh tak terduga. Pertambangan bawah tanah menyisakan rongga atau gua raksasa sedalam 500 hingga 1.500 meter. Rongga ini dimanfaatkan melalui konsep impact to be property.
Inovasi ini disebut Salt Cavern Power Plant. Udara dipompa dengan kompresor ke dalam rongga kedap tersebut menggunakan kelebihan listrik PLTS di siang hari. Saat beban puncak di malam hari, penutup rongga dibuka; semburan udara bertekanan tinggi pun keluar menggerakkan turbin pembangkit listrik. Bekas tambang yang terbengkalai berubah menjadi durian runtuh.
BACA JUGA : Sisi Gelap
Kalimantan Timur dan Indonesia adalah raksasa batubara dengan cadangan melimpah. Namun, eksploitasi besar ini meninggalkan lubang bekas tambang (void) yang tak kalah kolosal. Ada puluhan ribu lubang di Kaltim yang mustahil ditutup semua karena defisit tanah uruk. Memaksakan reklamasi total hanya akan menghabiskan bukit-bukit di sekitarnya.
Tanah Kaltim telah dilubangi demi energi murah. Kini tantangannya adalah menemukan inovasi untuk mengubah lubang maut tersebut menjadi sumber energi abadi. Selama ini, banyak void terbiar hingga menenggelamkan puluhan nyawa anak-anak.
Beberapa memang telah dimanfaatkan untuk air baku PDAM di Bontang, pengairan sawah di Makroman, atau destinasi wisata di Kutai Kartanegara. Namun, belum ada destinasi wisata eks-lubang tambang yang terbukti berumur panjang.
Pemanfaatan lubang bekas tambang untuk kepentingan yang lebih luas, terutama energi, tetap menjadi tantangan utama. Gagasan membangun PLTS Terapung di atas void adalah alternatif paling meyakinkan. Dengan menjadikannya sarana energi, kawasan tersebut akan terus dijaga, sekaligus mengurangi risiko bahaya bagi warga sekitar.
Pendapatan dari energi ini nantinya bisa digunakan untuk membayar “utang ekologi”—memulihkan lingkungan sekitar agar kembali produktif atau menjadi area lindung yang hijau.
Kita mungkin tidak bisa menutup puluhan ribu lubang yang telah terlanjur menganga di tanah Kalimantan. Namun, kita punya pilihan: membiarkannya menjadi nisan bagi masa lalu, atau mengubahnya menjadi mercusuar bagi masa depan.
Belajar dari Tiongkok, luka di bumi bukan untuk diratapi, melainkan untuk diinovasi. Jika lubang garam bisa menjadi baterai raksasa, maka lubang batubara kita seharusnya tidak lagi menjadi lubang kematian, melainkan lumbung energi baru yang menghidupkan. Sudah saatnya kita berhenti sekadar menggali, dan mulai berani bermimpi di atas lubang yang kita gali sendiri.
note : sumber gambar – PLN








