KESAH.IDMikrokosmos membuktikan bahwa di balik setiap jubah kesucian dan slogan kemuliaan, selalu ada manusia dengan segala kerumitannya. Ini bukan sekadar tentang skandal atau aib yang bocor ke ruang publik, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana kita sering kali lebih sibuk memoles “wajah luar” daripada berdamai dengan paradoks kehidupan.

Tetiba WAG alumni yang saya ikuti ramai. Seorang anggota memposting foto dan video yang umumnya hanya ditemukan dalam grup bercorak dewasa. Berhari-hari peristiwa itu menjadi perbincangan, dibahas dari berbagai sisi, namun tetap berakhir pada pro-kontra yang alot.

Kisahnya tentang seorang pemuka agama yang ditengarai “melanggar” aturan suci yang ia janjikan sendiri. Seorang imam Katolik yang melanggar janji selibat—janji yang bukan sekadar tidak menikah, melainkan juga abstinensi seksual.

Bagi sebagian anggota WAG, memposting persoalan ini sama saja dengan membongkar aib, mengobral borok, atau mempermalukan institusi sendiri. Namun bagi sebagian lainnya, ini adalah cara agar yang gelap menjadi terang benderang.

Konon postingan itu bocor ke luar hingga diunggah ke media sosial oleh seorang alumni di luar negeri. Perdebatan pun memanas karena unggahan tersebut mulai dibumbui takarir (caption) yang bernada provokatif.

Percakapan di grup kian riuh, bahkan muncul kecenderungan saling tuding. Aroma teori konspirasi mulai ditiupkan: bahwa di dalam grup ada sekelompok “detektif” dengan tujuan tidak murni yang sengaja mencari-cari kesalahan untuk menjatuhkan pihak tertentu.

Seperti biasa, saya tak mengeluarkan satu kata—bahkan satu huruf pun—untuk berkomentar. Kalaupun saya memaksa ikut, yang saya sampaikan murni opini, dan itu hanya akan membuat benang kusut percakapan makin ruwet serta menjauh dari fakta yang hendak dibuktikan.

Apalagi, kubu pendukung dan penentang mulai mengorganisir diri. Yang pro memberi dukungan resmi, sementara yang kontra melakukan advokasi di ruang publik. Masalah kian melebar. Dalam banyak kasus, strategi “melebarkan masalah” memang kerap ditempuh agar persoalan intinya tertutupi.

Apakah ini sebuah sisi gelap? Sebenarnya bukan. Ini hanyalah paradoks biasa dalam kehidupan. Nilai, komitmen, atau janji selalu melahirkan paradoks—realitas yang sering kali bertolak belakang.

Janji selibat sama halnya dengan janji pernikahan; keduanya berpotensi melahirkan “perselingkuhan” atau pengingkaran. Baik selibat maupun menikah berpijak pada nilai yang sama: kesetiaan. Yang selibat setia melalui abstinensi, sementara yang menikah setia hanya pada pasangan sahnya.

Kasus selibater yang terlibat skandal seksual—baik yang ketahuan maupun yang tertutupi—sejatinya memiliki persentase yang tak jauh berbeda dengan mereka yang gagal setia dalam pernikahan.

Yang membedakan hanyalah cara penanganannya. Dalam banyak kasus selibater, penyelesaian sering kali ditempuh melalui jalur “kebijaksanaan” atau tradisi internal. Hal inilah yang kemudian justru menciptakan kesan adanya sisi gelap.

Di media sosial, ada beberapa sosok yang memiliki data layaknya intelijen soal skandal seksual para selibater. Beberapa berani speak up dengan bukti foto, video, hingga tangkapan layar percakapan.

Namun, pengungkapan kasus sering kali berakhir antiklimaks. Kasus dianggap usai ketika sang selibater dicopot dari jabatannya, dipindahkan, atau dihukum berat melalui ekskomunikasi. Ekskomunikasi dalam birokrasi gereja mirip pejabat yang dicopot jabatannya, lalu tak lagi diberi meja dan kursi kerja.

BACA JUGA : Gigih Berani

Kita memang kerap menggunakan istilah “sisi gelap” saat menemukan kekurangan menjijikkan pada negara atau institusi yang kita anggap suci, maju, atau mulia.

Negara-negara Nordik, misalnya. Dulu dikenal lewat film Viking yang brutal, kini mereka digambarkan sebagai puncak evolusi Homo sapiens. Mereka adalah negeri impian: orang-orang bersepeda, pendidikan gratis, layanan kesehatan prima, dan indeks kebahagiaan tertinggi.

Negeri Nordik tidak berlomba membangun gedung pencakar langit atau bandara yang berdenyut 24 jam. Para pekerjanya segera pulang saat jam kantor usai. Home sweet home. Tak ada budaya workaholic karena jam kerja dibatasi ketat agar kehidupan pribadi tak terganggu aroma pekerjaan.

Ini adalah gambaran utopia yang sulit didapat di Indonesia, di mana pekerja sering kali harus standby 24 jam menerima perintah atasan. Namun, kita tak perlu merasa lebih sengsara. Di balik indeks kebahagiaan itu, banyak laporan menyebut warga di sana didera kesepian akut dan rasisme terselubung.

Bahkan, negeri “damai” ini ternyata termasuk royalis dalam belanja senjata. Narasi bahagianya retak. Jelas bahwa tak ada negara yang benar-benar “suci”. Yang ada hanyalah negara dengan komunikasi publik yang jago.

Maka kita terkejut saat negara yang kita anggap agung—seperti negeri tempat lahirnya para nabi—ternyata memiliki wajah yang mirip influencer. Di media sosial mereka memajang foto liburan dengan latte art dan wajah sumringah, namun di apartemennya terdapat tumpukan piring kotor dan notifikasi tagihan pinjol yang menumpuk.

Jadi, tak perlu heran jika di tanah suci sekalipun terdapat ketidaksucian yang bertentangan dengan firman. Kejahatan dan penyimpangan tidak memilih tempat; mereka ada di mana-mana.

Yang membedakan hanyalah cara menutupinya. Di negeri-negeri penuh sejarah ajaran kasih, keburukan tidak hanya ditutupi oleh warga lokal, tapi juga oleh orang-orang dari belahan dunia lain yang terlanjur percaya pada kesucian tempat itu. Banyak penyangkal kebenaran yang rela membela demi menjaga narasi “tak mungkin hal buruk terjadi di tanah suci”. Sekali lagi, itu bukan sisi gelap, melainkan upaya menutupi kegelapan.

BACA JUGA : Untung Perang

Ungkapan “sisi gelap” muncul dari rasa patah hati saat melihat institusi yang dibranding mulia ternyata dihuni perilaku “jahanam”. Ekspektasi kita terlalu tinggi: kita mengira institusi itu dihuni malaikat yang lupa cara berbuat dosa.

Begitu skandal korupsi atau pelecehan muncul di lembaga amal atau pendidikan, publik berteriak, “Ini sisi gelap mereka!”

Idealnya, institusi tersebut digerakkan oleh “algoritma kebaikan”. Namun, itu hanyalah visi. Faktanya, institusi dijalankan manusia yang punya algoritma perilaku sendiri. Norma dan moralitas sering kali hanya menjadi penuntun di ruang publik, tapi luruh di ruang privat.

Sesaleh apa pun manusianya, selalu ada celah terhadap godaan, terutama jika kelemahan itu bisa ditutupi oleh kuasa yang dimiliki.

Kita kerap terjebak dalam “Pedestal Complex”—menaruh mereka di panggung yang terlalu tinggi. Akibatnya, saat mereka jatuh, bunyi berdebamnya terdengar sangat memilukan. Institusi dengan nilai tinggi justru sering menjadi tempat tumbuh jamur keburukan yang subur di sudut-sudut lembab yang tersembunyi.

Soliditas di institusi ini pun kerap berubah menjadi toxic. Slogan kekeluargaan sering menjadi latar drama untuk membungkam kritik atau eksploitasi. Dari luar tampak tenang, namun di dalam, komunikasinya lebih banyak berisi ghibah tanpa tindakan nyata.

Mereka yang bersuara beda akan diserang dan dianggap tidak loyal. Foto bersama dengan baju kebesaran dan senyum mengembang hanyalah kamuflase. Sering kali, foto itu adalah tanda sekumpulan orang yang sebenarnya tengah bingung bagaimana cara menjaga marwah institusi yang mulai keropos.

Mengharapkan sebuah pengabdian atau hubungan tanpa sisi gelap itu seperti mengharapkan koin yang cuma punya satu sisi. Itu mustahil, dan jujur saja, itu palsu. Kini, alih-alih mencari kesempurnaan, saya lebih memilih untuk menerima bahwa dalam setiap cahaya yang benderang, selalu ada bayangan yang setia mengikuti. Dan itu tidak apa-apa.

Dunia akan jauh lebih tenang kalau kita berhenti memuja narasi dan mulai menerima bahwa di balik setiap hal yang “agung”, selalu ada manusia yang butuh kopi, bisa salah, dan sesekali ingin berbuat curang.

note : sumber gambar – WAHANANEWS