KESAH.IDMembangun kedaulatan, baik di level negara maupun di atas lahan bekas tambang, ternyata membutuhkan mantra yang sama: kegigihan dan keberanian—atau yang secara jenaka disebut “Gibran”. Dari rakyat Iran yang menolak didikte kekuatan asing hingga Kelompok Tani Tegalrejo di Mugirejo yang nekat menyulap lubang tambang menjadi kebun melon yang ranum, ini membuktikan bahwa kemandirian sejati tidak datang dari belas kasihan, melainkan dari keberanian untuk dianggap “gila” demi memulihkan alam dan harga diri.

Iran memang “Gibran”, begitu menurut Iqbal Aji Daryono, seorang penulis produktif dan laris manis dari Yogyakarta. Gibran, maksudnya gigih dan berani; tak ada hubungannya dengan nama Wakil Presiden kita. Ya, sebagian warga Iran mungkin tak nyaman dengan rezim, tapi mereka tak bisa begitu saja diambil hatinya oleh Amerika Serikat dan Israel yang nekat mengirim rudal untuk membunuh pemimpin tertinggi negara itu.

Rakyat Iran tak butuh tangan Amerika Serikat dan Israel untuk melakukan perubahan di negerinya sendiri. Bagaimana mungkin mereka akan berterima kasih dan bersimpati dengan Amerika Serikat kalau selama puluhan tahun negeri itu telah membuat rakyat Iran sengsara lahir batin. Diembargo oleh Amerika Serikat selama puluhan tahun dan terus dikucilkan membuat rakyat Iran percaya pada kekuatan sendiri. Amerika Serikat bisa jadi kecele, karena pembunuhan terhadap Ali Khamenei tidak dianggap sebagai jasa oleh masyarakat Iran yang tidak pro pada pemerintahannya.

Mereka bisa saja tidak suka pada sistem pemerintahan atau kepemimpinan di negaranya, tapi jelas tak butuh tangan Amerika Serikat untuk menumbangkannya. Rakyat Iran telah membuktikan kemandiriannya tanpa campur tangan Amerika Serikat. Mungkin ini tak ada hubungannya dengan Amerika Serikat dan Israel versus Iran. Tapi sama-sama punya nilai “Gibran”: gigih berani.

Gibran yang ini terpancar dari Lubuk Sawah, di sebuah lokasi eks lahan tambang yang letaknya tak jauh dari Taman Salma Shofa, tempat rekreasi ternama di wilayah utara Samarinda yang sering kebanjiran. Kisah ini bermula dari kelompok tani yang prihatin dengan lahan yang terbiar, yang biasanya telah dikaplingkan namun kemudian tak dibangun. Kebanyakan yang membeli tanah kaplingan tidak sungguh-sungguh butuh rumah; mereka membeli lahan untuk simpanan.

Tanah kaplingan di wilayah agak dalam memang relatif murah. Namun harga tanah akan terus naik, tak pernah turun. Menyimpan uang dengan mengonversinya menjadi tanah menjadi salah satu cara “menernakkan” uang yang terbaik, selain membeli emas Antam. Di lahan tanah kaplingan yang terbiar, bersemak, “robot” atau “sapat” ujar orang Samarinda, Kelompok Tani Tegalrejo menggapai mimpinya untuk mempraktikkan pertanian integratif.

Gagasan ini dimulai dengan membangun UPPO (Unit Pengolahan Pupuk Organik) hasil bantuan salah satu tokoh politik yang dua kali berturut-turut menjadi Wakil Rakyat Kalimantan Timur di DPR RI. Pupuk adalah modal dasar bagi petani, dan dengan sapi mereka bisa membuat pabrik pupuk sendiri. Sapi dirawat dan dipelihara bukan hanya agar gemuk dan berkembang, melainkan diperlakukan sebagai mesin; mesin penghasil kotoran yang merupakan bahan utama untuk pembuatan pupuk pembenah tanah. Berkah dari sapi bukan daging atau anak sapi, tapi kotoran. Konon kabarnya, kotoran adalah bahan pupuk terbaik.

Dengan bekal kotoran sapi yang kemudian diolah menjadi pupuk, Kelompok Tani Tegalrejo mulai memulihkan lahan eks tambang yang telah dikaplingkan menjadi lahan produktif untuk bertanam aneka komoditas pertanian; mulai dari sayur, bumbu dapur, pangan, hingga hortikultura. Kegigihan dan keberanian mereka selama hampir tiga tahun bisa disaksikan di hamparan kebun yang berada di RT 17, Gang 9, Kelurahan Mugirejo. Di sana terhampar kebun yang menghijau dengan aneka komoditas yang siap untuk dipasarkan, atau dikembangkan lebih lanjut.

Golden Melon di lahan eks tambang Lubuk Sawah yang kuningnya menggoda

BACA JUGA : Moyang Ayam

Perjalanan hampir tiga tahun bukan jalan yang landai; ada banyak tanjakan yang datang dari berbagai sisi. Menanami lahan eks tambang bagi kebanyakan orang adalah kemustahilan, perjudian yang kelewat tinggi. Mereka yang gigih dan berani menanami eks lahan tambang tanpa dana jaminan reklamasi, rehabilitasi lingkungan, atau dukungan CSR bakal dianggap orang tidak punya akal—singkatnya: gila.

Sarminto, ketua Kelompok Tani Tegalrejo, memang sering dianggap gila dengan semua teori dan praktik pertaniannya. Tapi jelas yang direncanakannya bukan langkah bunuh diri. Di lahan yang berbeda, Sarminto telah membuktikan kalau lahan eks tambang bisa kembali produktif. Berdasarkan pengalaman itu, Sarminto berani mengajak anggota kelompok tani lainnya untuk menggarap lahan yang lebih luas.

Tanaman pertama yang ditanam di lahan eks tambang adalah jagung. “Kalau jagung tumbuh, tanaman lainnya pasti bisa tumbuh,” ujar Sarminto menerangkan alasan memilih jagung sebagai langkah awal. Tanaman pertama yang tanam perdananya dihadiri oleh Wakil Wali Kota Samarinda saat itu hasilnya memang belum menggembirakan; pertumbuhan jagungnya tidak seragam. Tapi setelah bertanam jagung tiga kali, hasilnya mulai bisa dinikmati.

Karena jagung sudah tumbuh, Sarminto dan teman-temannya mulai menanam komoditas lain seperti kangkung, terong, tomat, cabai, dan pepaya. Bahkan Sarminto bereksperimen dengan menanam padi gogo. Padi gogo atau padi ladang tumbuh dengan baik, tapi serangan hama—terutama burung—sungguh dahsyat. Malai padinya diisap oleh burung hingga kemudian banyak yang kopong. Tapi Sarminto tak gundah, yang penting padi yang ditanamnya tumbuh baik dan sudah sampai dipanen walau hasilnya belum maksimal.

Perlahan-lahan karena sudah menunjukkan hasil, rekan kelompok taninya yang tadinya skeptis mulai kembali aktif. Saat memulai, tidak semua anggota antusias; sebagian agak ogah-ogahan karena membayangkan kerja yang berat sementara hasilnya belum tentu. Kini lahan eks tambang di Gang 9, RT 17 Mugirejo terlihat cukup ramai. Selalu ada kesibukan seperti menyiapkan lahan, merawat tanaman, dan membuka lahan baru untuk dipulihkan agar kembali ramah terhadap tumbuhan.

Sesekali kebunnya dikunjungi mahasiswa atau komunitas yang tertarik belajar atau ingin membuktikan bagaimana lahan eks tambang bisa dipulihkan kembali menjadi lahan pertanian. Gigih dan berani memang selalu jadi inspirasi. Para pelakunya akan menjadi sumber energi bagi mereka yang haus untuk belajar, memahami alam, dan pemanfaatan sumber daya yang berbasis masyarakat.

Rock melon menunggu kedatangan warga untuk wisata petik buah di hari lebaran kedua

BACA JUGA : Padi IKN

Kelompok Tani Tegalrejo makin berani ketika salah seorang anggotanya nekat menanam melon. Alasannya, pH tanahnya sudah cukup untuk ditanami. Di lahan eks tambang itu kemudian tumbuh subur kurang lebih 4.000 hingga 5.000 batang melon. Dalam perhitungan Sarminto, setiap batang mulai dari tanam sampai panen butuh biaya Rp12.500. Artinya, uang yang diinvestasikan berkisar 50 jutaan rupiah. Sebuah perjudian besar andai tanaman melonnya gagal.

Nyatanya, melon jenis Rock dan Golden tumbuh subur dan mulai berbunga. Dari bunganya terlihat hasil yang tidak akan membuat uang yang ditanam melayang. Adalah Marsudi yang gigih dan berani mempertaruhkan uangnya. Saat ditanya bagaimana kalau gagal, dia hanya mengatakan, “Ongkos belajar itu mahal.” Pertaruhan Marsudi dan teman-temannya berbuah manis hingga mereka berani membuat video dan flyer promosi.

Melon jenis Rock dan Golden siap dipanen pada hari Lebaran plus dua. Rencananya kebun itu akan dijadikan lokasi piknik petik buah. “Silakan petik sepuasnya, silakan swafoto dan puas-puaskan bikin konten. Tapi setelah itu melonnya ditimbang dan bayar,” ujar Marsudi berpromosi. Sore itu Marsudi dan temannya menghidupkan mesin pompa untuk menyedot air dari lubang tambang yang berjarak kurang lebih 100 meter dari kebunnya. Air ditampung dalam kolam dan wadah plastik besar layaknya tandon untuk mengairi parit di antara deret tanaman melon. Kelembapan harus dijaga agar batang dan daun tetap segar sehingga indah dipandang.

Marsudi dan teman-temannya benar-benar menyiapkan diri agar nanti warga yang datang untuk piknik panen melon tidak kecewa karena tanaman meranggas. Memanen melon pasti asyik, tetapi foto atau videonya juga harus lebih asyik. Dan kebun yang indah adalah kebun yang menghijau. Buah dari kegigihan dan keberanian Marsudi akan terlihat dalam beberapa hari ke depan. Lebaran yang merupakan saat berbahagia—karena tunai sudah latihan menahan nafsu selama sebulan—akan lebih membahagiakan lagi ketika lahan eks tambang atau “lebaran pertambangan” ternyata bisa menghasilkan buah yang bisa “ditambang” terus-menerus. Gigih dan berani memang merupakan mantra abadi bagi siapa pun yang terpanggil untuk memulihkan alam.

note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM