KESAH.ID – Sepanjang karirnya Rossi bersaing dengan banyak pembalap, namun perseteruan paling epik terjadi antara dirinya dengan Marc Marquez. Rossi selalu menganggap Marc menjadi biang dirinya gagal mengenapi rekor juara dunia Rossi menjadi genap, 10 kali. Dalam kesempatan terakhir untuk mengenapi rekornya Rossi dikalahkan oleh Jorge Lorenzo. Sampai ketika Rossi pensiun bukan hanya Rossi yang menyimpan dendam pada Marc Marquez melainkan juga para pengemarnya. Marc selalu disoraki di sirkuit dimana ada banyak pengemar Rossi.
Jika harus disebut pembalap yang paling diingini oleh Rossi untuk menjadi anak didiknya, orang itu adalah Pedro Acosta. Pembalap KTM ini memang tengil, tipikal kesukaan Rossi.
Acosta yang bersinar di Moto 3 da Moto 2 memang mengingatkan pada pembalap-pembalap bertalenta, bakatnya besar dan punya aura bintang.
Pedro menonjol, karena kecuekannya dan suka bicara ceplas-ceplos. Sesuatu yang disukai oleh para pemburu berita.
Dan yang terpenting, walau berasal dari Spanyol, Pedro Acosta tak ingin ditempatkan dibawah bayang-bayang Marc Marquez, dan ini disukai oleh Rossi. Terlebih Pedro memang menunjukkan kesukaannya pada ranch balap VR46. Pedro langganan diundang kesana dan datang menunjukkan kegembiraan.
Valentino Rossi sepanjang karir balapnya memang selalu bersaing sangat ketat dan panas.
Kisah persaingan Rossi di lintasan balap membuat Rossi terkenal, membawa Moto GP menjadi tontonan yang populer. Rossi bersaing ketat dengan Max Biaggi, Nicky Hayden, Casey Stoner, Jorge Lorenzo, Maverick Vinalles dan Marc Marquez.
Beberapa persaingan dan perseteruannya menjadi sangat epik. Seperti permintaan Rossi untuk menyekat batas antara dirinya dengan Vinalles. Rossi tak ingin rekan satu timnya itu mencontek setingan motornya, atau mendengar percakapannya dengan crew chief.
Tapi yang kemudian paling membekas adalah persaingannya dengan Marc Marquez. Marc yang datang ketika Rossi mulai menua, membuat Rossi kelabakan. Pasalnya Marc Marquez jago memprovokasi dan Rossi terpancing.
Rossi mulanya menganggap Marc bukan ancaman. Namun dominasi Marc di Moto GP membuat Rossi khawatir. Targetnya untuk mengunci angka 10 kali menjadi juara dunia terancam.
Dan kegagalan Rossi merebut gelar yang ke 10 itu kemudian ditimpakan pada Marc Marquez, Rossi menganggap Marc licik menjegal peluangnya menjadi juara dunia ke 10 dengan lebih berpihak pada Jorge Lorenzo untuk mengalahkan Rossi.
Di mata Rossi, Marc dianggap sebagai pembalap kotor, pembalap yang suka main drama untuk mencapai keinginannya.
Marc Marquez sendiri adalah pengagum Rossi, tapi di lintasan balap Marc memang tak punya tedeng aling-aling, siapapun dilawan. Dan salah satu ciri balap Marc Marquez yang membuat kerap digambarkan sebagai pembalap yang brutal adalah agresifitasnya.
Demi mengejar kemenangan, Marc kerap melakukan manuber berbahaya. Selain bisa membuat lawan terjatuh, Marc sendiri tercatat sebagai pembalap yang sering kecelakaan. Marc kerap menguji kendaraannya diluar batas.
Marc memang bukan pembalap yang jago dalam mengembangkan motor, namun Marc efektif dalam memakai motor. Motor yang membuat pembalap lain kesulitan, ditangan Marc Marquez bisa menghantarkan pada tahta juara.
Sepanjang karirnya belum ada rekan setim Marc Marquez yang berhasil menjadi juara dunia. Mereka selalu mengeluhkan motornya, namun sebaliknya Marc merasa baik-baik saja dan tetap menang.
Dendam Rossi pada Marc tak hilang sampai Rossi mengakhiri kariernya di Moto GP. Dendam itu dirawat oleh para pengemar Rossi, pengemar yang berharap dendam itu terus dipelihara lewat murid-murid Rossi di tim VR46 dan Ducati.
BACA JUGA : Jurnalisme Lambat
Diam-diam Marc Marquez memang konyol. Setelah cidera panjang dan merasa kariernya bakal tamat jika terus di Honda, Marc Marquez mengambil langkah tak terduga.
Bisa jadi ketika Marc cidera dan kemudian comeback-nya bersama Honda tak sempurna, Rossi dan pengemarnya lega. Mereka yakin Marc tak akan berhasil menyamai atau bahkan menyalip sang junjungan sebagai legenda Moto GP.
Marc tak perlu disoraki saat balapan, tak perlu diintimidasi dari bangku penonton, toh Marc sulit untuk menang.
Alih-alih menghindar untuk menurunkan tensi, Marc justru ngluruk, pindah ke Gresini Racing yang adalah tim dari Itali. Marc pergi ke kandang macan.
Pilihan Marc Marquez tidak salah, menaiki Ducati seri lama Marc kembali kompetitif.
Bahkan Fracesco Bagnaia, murid kebanggan Rossi kemudian kehilangan gelarnya karena direbut oleh Jorge Martin, pembalap Spanyol. Pasti muncul dugaan Marquez lebih membela Martinator yang sama-sama dari Spanyol. Tapi dugaan itu sulit dibuktikan.
Hanya saja kehadiran Marc dengan Ducati memang membuat persaingan papan atas berubah. Bisa jadi kehadiran Marc memang menguntungkan Jorge Martin karena berhasil memecah konsentrasi Pecco Bagnaia.
Beruntung walau dipanas-panasi, Pecco bukan tipikal orang emosional. Pecco mampu membedakan urusan dendam sang guru dengan urusannya sendiri untuk memenangkan balapan.
Bersamaan dengan kehadiran Pedro Acosta sebagai rookie, Rossi berharap Pedro akan mengganggu Marc Marquez. Mulanya harapan itu akan menjadi kenyataan, pada seri awal Pedro menunjukkan perlawanan pada Marc Marquez. Memang lebih masuk akal bagi Pedro untuk menjadi Marc sebagai target untuk dikalahkan, ketimbang bersaing untuk memperebutkan gelar juara dunia.
Bisa mempermalukan Marc Marquez sudah cukup untuk kredit bagus Acosta.
Paling tidak untuk menjaga orbit, Pedro harus memecahkan rekor Marc Marquez sebagai pemenang balapan yang paling muda.
Gaya Pedro berhasil memikat media. Di seri-seri awal Moto GP 2024, nama Marc dan Pedro berada dalam orbit pemberitaan.
Sayangnya, walau pasti akan merebut gelar Rookie of The Year, prestasi Pedro Acosta tidak segemilang Marc Marquez pada tahun pertamanya di Moto GP.
Dan di tahun kedua membalap pada kelas utama, Pedro Acosta yang kemudian berseragam tim pabrikan justru ditimpa bencana di luar lintasan. KTM, kembang kempis karena kesalahan membaca tren bisnis di masa pandemi. KTM terancam bangkrut.
Pedro mengawali balapan tahun 2025 tanpa rasa optimis.
Hal sebaliknya terjadi pada Marc Marquez. Penampilannya yang impresif bersama Gresini membuat Ducati berani menyingkirkan pembalap dan tim yang sudah lama bersama dengannya. Lagi-lagi Marc berhasil melakukan provokasi dengan menolak pinangan Pramac Ducati.
Jorge Martin yang sudah berharap lama ingin menjadi tandem Bagnaia, patah arang ketika melihat gelagat Ducati lebih akan memilih Marc Marquez. Langkah cepat Jorge mengikat kontrak dengan Aprilia, membuat jalan Marc bergabung dengan Ducati makin besar.
Rossi bertambah risau. Marc berpeluang mengejar rekornya karena mendapat motor dan tim terbaik di Moto GP. Meski begitu Rossi masih bisa menghibur diri dengan keyakinan Pecco Bagnaia sang murid kesayangan lebih menguasai Ducati ketimbang Marc Marquez.
BACA JUGA : Harimau Lapar
Dari sebelas seri Moto GP, Marc Marquez memenangkan 7 balapan utama dan 10 balapan sprint race. Empat balapan terakhir dimenangkan oleh Marc berturut-turut, Marc menyapu bersih.
Marc terlihat semakin luar biasa dengan Ducati 2025 dan nampaknya Rossi tidak senang sehingga meng-unfollow IG Moto GP/Dorna. Mungkin Rossi tak nyaman melihat sepak terjang Marc Marquez yang terus diupload oleh Moto GP.
Dengan dominasinya di tahun 2025, bisa dipastikan Marc sudah akan menyamai prestasi Rossi sebagai juara dunia 9 kali. Bahkan jika dominasinya berlanjut, maka Marc justru berpotensi mengenapi 10 kali sebagai juara dunia. Dan nanti ketika Moto GP akan berubah pada tahun 2027, Marc masih tetap kompetitif, masa aktif Marc Marquez di dunia balap masih panjang.
Dengan kemenangan terus menerus, Marc Marquez bahkan sudah mampu menyamai prestasi Giancommo Agustini dalam jumlah kemenangan dan mulai mengejar Rossi. Memang masih ada selisih duapuluhan, jumlah yang mungkin sulit untuk dikejar oleh pembalap lain namun tidak untuk Marc Marquez.
Murid terbaik Rossi yakni Francesco Bagnaia yang diharapkan bisa menghambat langkah marc Marquez mengejar Rossi ternyata gagal. Bagnaia sepertinya kalah mental menghadapi Marc marquez. Sampai dengan seri ke 11, Pecco merasa belum nyetel dengan motornya. Para pengamat lebih meyakini masalah Pecco bukan pada masalah teknis melainkan masalah mental.
Ya mental, karena Fabio Digianntonio bisa membawa GP 2025 cukup baik. Jadi sebenarnya tak ada masalah dengan motor hingga membuat pembalap sekelas Francesco Bagnaia bermasalah.
Marc sepertinya tak bisa lagi dibendung, di lintasan Marc bukan lagi lawan bagi pembalap lain. Mereka hanya berebut untuk bisa finish di belakangnya.
Entah apa lagi upaya yang bisa dipakai oleh Rossi untuk menghambat Marc Marquez, sebab intimidasi lewat penonton di Itali sekalipun tidak membuat gentar. Marc tetap menang di sirkuit kebanggaan pembalap Itali, Sirkuit Mugello.
Nampaknya hanya ada satu peluang tersisa yang bisa dilakukan oleh Rossi menghambat Marc Marquez melampaui rekornya. Ada desas-desus Acosta akan ditandemkan dengan Bagnaia di VR46.
Langkah ini bukan tidak mungkin, sebab tak sulit untuk menukar Fabio Digianntonio dengan Francesco Bagnaia karena keduanya dikontrak langsung oleh Ducati.
Bisa jadi perpaduan antara Acosta dan Bagnaia akan menjadi tandem yang luar biasa. Bisa saling bahu membahu untuk menguasai balapan.
Masalahnya yang akan dilawan adalah Marc marquez, pembalap yang bukan hanya cerdas dan jenius, tetapi juga modal nekat dengan perhitungan.
Rasanya daripada sibuk menghambat-hambat Marc Marquez, akan lebih berguna bagi Rossi untuk menerima dengan rela bahwa ada pembalap yang lebih bertalenta darinya.
Rossi harus rela mengakui kalau Marc Marquez adalah pembalap terhebat saat ini.
note : sumber gambar – OKEZONE








