KESAH.IDIndonesia belakangan ini seperti negeri yang punya hobi bangun tidur lalu langsung dapat piagam baru. Hari ini tetiba swasembada beras, besok tetiba jadi negeri paling bahagia, lusa tetiba jadi rujukan dunia untuk Makan Bergizi Gratis. Semua diumumkan lewat pi dato Presiden Prabowo, lengkap dengan tepuk tangan meriah dari hadirin yang seolah sedang menonton konser, bukan sidang kenegaraan. Bedanya, kalau konser bikin penonton joget, pidato ini sering bikin netizen migrain—apalagi kalau sang presiden lupa minum kopi sebelum naik podium.

Entah apa prestasi Presiden Prabowo yang patut dicatat hingga saat ini. Survei menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat atas pemerintahan Prabowo–Gibran merosot tajam. Meski yang puas masih cukup besar, kecenderungan grafiknya mirip harga cabai: makin hari makin terbuka peluang untuk turun.

Di tengah miskinnya prestasi pemerintah, setiap kali berpidato Presiden Prabowo semakin berani mengklaim deret prestasi yang makin bombastis. Negeri ini seperti putri tidur yang bangun lalu mendapati medali penghargaan bertumpuk di atas bantal, lengkap dengan sertifikat “Best Nation of The Year.”

Salah satu klaim besar adalah swasembada beras. Prestasi yang dulu hanya bisa dicapai Presiden Suharto, tiba-tiba saja bisa dicapai lagi. Padahal di masa SBY dan Jokowi, swasembada itu seperti mantan yang susah diajak balikan. Kini kita kelewatan surplus beras, katanya, sampai bisa diekspor.

Mungkin sulit dibantah soal surplus ini. Yang perlu divalidasi adalah apakah surplus itu karena sawah kita mendadak produktif, atau karena orang Indonesia sudah kenyang makan tepung. Sekarang banyak yang tak lagi semego—alias gila nasi. Kalau dulu “belum makan nasi belum kenyang,” sekarang “belum makan mi instan belum puas.”

Klaim paling spektakuler adalah menyebut Indonesia sebagai negeri paling bahagia. Prestasi luar biasa, karena selama ini gelar itu langganan negara-negara Nordik. Finlandia yang biasanya juara, tiba-tiba dikudeta oleh Indonesia hanya karena rakyatnya suka tersenyum. Entah senyum bahagia, entah senyum pasrah.

Masih ada lagi klaim berani: banyak negara datang ke Indonesia untuk studi banding MBG, Makan Bergizi Gratis. Luar biasa, sebab kita semua tahu MBG dari awal isinya masalah. Makanannya saja bermasalah, sampai ada anak-anak keracunan. Gurauan paling kejam: “Bersyukurlah mereka yang keracunan sampai meninggal, karena meninggal dalam keadaan bergizi.”

Yang lebih celaka, klaim-klaim itu selalu ditanggapi dengan tepuk tangan meriah dari hadirin. Seolah mereka sedang menonton konser dangdut, bukan pidato kenegaraan.

Pidato-pidato itu seperti pertunjukan sulap: satu kalimat bisa mengubah status bangsa. Hari ini kita negara biasa, besok kita jadi panutan dunia. Penonton di ruangan selalu bertepuk tangan, sementara penonton di media sosial justru sibuk menertawakan. Ada akun yang bahkan menulis di bio-nya: “Mewakafkan diri untuk mendengarkan dan mentranskrip pidato Prabowo.” Sebuah pengabdian yang lebih besar daripada program MBG itu sendiri.

Soal klaim, bukan baru-baru ini Prabowo suka mengklaim. Kita pernah mendengar negeri ini disebut pusat peradaban dunia, macan Asia yang bangkit, bahkan negara paling toleran. Semua datang dari podium, semua diakhiri dengan tepuk tangan.

BACA JUGA :  URI Iri

Karl Marx pernah bilang agama adalah candu bagi rakyat. Maksudnya bukan menghina, tapi kiasan: agama sering jadi obat bius untuk rasa sakit. Dengan agama, masyarakat miskin diberi ilusi bahagia di akhirat, sehingga tidak melawan ketertindasan di dunia nyata.

Pidato Prabowo saat ini juga bisa disebut candu. Fenomena “tetiba berprestasi” sengaja dipilih sebagai strategi komunikasi. Klaim besar disampaikan terus-menerus, memberi kesan negeri ini sedang baik-baik saja, bahkan kelewat baik sampai kita tak sempat memeriksa data.

Swasembada beras memang oke di atas kertas, tapi di pasar harga tetap bikin ibu-ibu menghela napas panjang. Swasembada di pidato, tapi di dapur masih swasembada mi instan. Negeri paling bahagia: indeks kebahagiaan memang bisa diukur, tapi apakah rakyat tersenyum karena bahagia, atau karena sudah terlalu lelah untuk marah? Rujukan MBG: monumental di pidato, tapi di lapangan dapurnya macet, distribusinya tersendat, menunya lebih sering jadi bahan meme ketimbang bahan gizi. Tetiba jadi pusat inovasi dunia: padahal riset masih kalah pamor dari konten TikTok. Tetiba siap menghadapi krisis pangan: sementara pedagang pasar masih bingung kenapa harga cabai naik turun seperti grafik saham.

Klaim-klaim ini bekerja seperti iklan: diulang terus sampai terdengar nyata. Tepuk tangan di ruangan adalah validasi instan, sementara olok-olok di media sosial adalah audit publik. Dan olok-olok itu lebih kreatif. Ada meme “Negeri Tetiba” dengan Doraemon mengeluarkan klaim dari kantong ajaib. Ada parodi pidato: “Hari ini kita tetiba jadi negara paling romantis di dunia, karena semua rakyat jatuh cinta pada janji-janji.”

-000-

Memang bukan hal baru negeri ini digambar lewat pidato. Dari dulu Indonesia disebut gemah ripah loh jinawi. Faktanya, kekayaan sumber daya hanya terkonsentrasi pada segelintir orang. Kesejahteraan lebih sering didefinisikan oleh pidato ketimbang ditemui di kenyataan.

Kita hidup di dua dunia: panggung resmi penuh tepuk tangan, dan linimasa penuh tawa getir. Prabowo mungkin ingin dikenang sebagai presiden penuh kejutan. Tapi di era media sosial, setiap klaim langsung diuji netizen yang tak pernah tidur. Tepuk tangan di istana bertahan beberapa menit; olok-olok di Twitter bisa bertahan seumur jabatan.

Dan di situlah ironi terbesar: negeri ini bisa tiba-tiba jadi apa saja—swasembada, bahagia, rujukan dunia—kecuali tiba-tiba jadi jujur pada kenyataan.

Mungkin Presiden Prabowo mesti lebih sering minum kopi, yang katanya rahasia kepintarannya. Jangan-jangan setiap kali mau pidato beliau lupa minum kopi, sehingga pidatonya bikin bangsa ini sakit kepala.

Contohnya soal ayam. Presiden meminta ayam dipotong 4 atau 8 untuk menu MBG. Padahal kalau ayam rica-rica Minahasa dipotong segede itu, bumbunya cuma jadi dekorasi. Sama seperti telur: tak ada beda antara telur mata sapi atau telur dadar. Lihat saja telur dadar di rumah makan Padang, satu potongnya bisa lebih dari satu telur—itu baru bergizi.

Akhirnya, kita hanya bisa menghimbau para pembantu Presiden: tolong ingatkan beliau minum kopi sebelum pidato. Biar pidatonya tidak bikin bangsa ini sering migrain.