KESAH.IDTeori konspirasi adalah realitas global, namun setiap wilayah, daerah atau negara harus menghadapi dengan cara masing-masing berdasarkan konteksnya. Tidak ada cara penyelesaian universal untuk menangkis narasi teori konspirasi. Sebab kisah yang sama bisa ditanggapi berbeda di tempat lainnya. Jurnalistik mempunyai peran besar untuk menangkal tumbuh kembang teori konspirasi ini, namun trend jurnalistik yang serba cepat saat ini malah bakal membuat teori konspirasi semakin mendapat tempat dalam pertukaran informasi publik. Oleh karena itu diperlukan jurnalisme lambat, jurnalis yang mengabdi kepada pemahaman publik ketimbang mengejar ekposure atau viralitas.

Evolusi yang panjang membawa jejak kebiasaan pada diri turunan homo sapiens untuk menceritakan hal yang tak sebenarnya. Kebiasaan itu sulit dihilangkan bahkan mungkin telah menjadi ‘kutukan’.

Kutukan anak cucu homo sapiens adalah gemar atau biasa berbohong.

Dulu bisa dimaklumi karena ada banyak fenomena atau kejadian-kejadian yang sulit diterangkan. Ada banyak pertanyaan dalam diri maupun kelompok yang mesti segera dijawab. Watak manusia memang selalu pingin tahu, ingin segera mendapat jawaban.

Di masa ketika ilmu pengetahuan belum maju, saat teknologi untuk membongkar realita belum ditemukan, jawaban kemudian ditemukan dalam mitos, legenda dan lain-lain. Untuk pertanyaan yang sulit, jawaban diberikan oleh orang pintar. Orang pintar pada jaman itu adalah orang-orang yang otoritatif seperti pemimpin suku, raja, dukun, tokoh spiritual dan lain-lain.

Yang disebut pengetahuan adalah ucapan atau penjelasan dari sosok-sosok otoritatif yang kemudian dipercaya sebagai kebenaran.

Pada suatu masa seseorang yang mengungkapkan kebenaran bahkan bisa dihukum mati karena apa yang disampaikan bertentangan dengan keyakinan publik yang dibangun dengan otoritas tertentu.

Galileo Galilei dihukum oleh otoritas Gereja Katolik yang berkuasa di Eropa karena teori heliosentris. Dia mengungkapkan bahwa bumi mengitari matahari. Teorinya bertentangan dengan keyakinan Gereja Katolik pada masa itu yang meyakini teori geosentris.

Karena teorinya, Galileo Galilei dihukum seumur hidup, tinggal dalam tahanan rumah dan dilarang menerbitkan karyanya. Dia hidup dalam pengawasan yang ketat dari otoritas Gereja Katolik, menghabiskan hidupnya di villa miliknya yang terletak di Arcetri dekat Florence.

Jejak teori terkait bumi yang masih tersisa sampai sekarang ialah teori bumi datar. Perdebatan apakah bumi mengitari matahari atau sebaliknya sudah selesai. Ilmu pengetahuan sudah membuktikan kalau bumilah yang mengitari matahari.

Gereja Katolik sudah mengakui kesalahan dan merehabilitasi nama Galileo Galilei di tahun 1992, hampir empat abad kemudian.

Namun teori bumi datar masih bertahan sampai sekarang. Kelompok flat earth masih bergentayangan di dunia maya. Manusia masih gemar terjebak dalam pengamatan, apa yang terlihat dan dirasa dan meyakini itu sebagai sebuah kebenaran.

Upaya untuk mencari kebenaran, membongkar fenomena di masa lalu memang diupayakan secara rasional oleh para filsuf. Pada suatu masa yang disebut filsuf biasanya juga merupakan ahli matematika, fisika, biologi, ekonomi dan lain-lain. Mereka adalah ilmuwan, hanya saja sebagian masih mengkonsumsi teologi atau kepercayaan religius.

Dunia kemudian perlahan-lahan menjadi semakin rasional karena matematika, astronomi, fisika, kimia dan biologi tidak lagi mengkonsumsi teologi, ilmu pengetahuan murni merupakan hasil penelitian, penelitian yang didukung oleh teknologi untuk membongkar realitas yang tidak terlihat lewat indrawi.

Apa yang diungkap oleh para filsuf walau didasari oleh metodologi yang ketat, cara berpikir yang tertib atau logis tetap saja masih punya kelemahan, karena filsuf tidak melakukan penelitian pada obyek yang dipertanyakan secara laboratoris.

Para filsuf mengungkapkan cara kerja otak manusia, namun tidak membedah otak, tidak mempunyai alat untuk menscan otak. Yang diungkapkan adalah asumsi-asumsi yang terus diuji, hingga kemudian diyakini tidak ada lagi jawaban yang tersisa, tak ada lagi pertanyaan yang harus dipertanyakan.

BACA JUGA : Marc Sachenking

Meski banyak fenomena yang telah diungkap oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, namun manusia kebanyakan belum berhasil lepas dari kebenaran yang berdasarkan pada informasi yang disukai olehnya. Walau terobsesi untuk membuktikan kebenaran, manusia pada dasarnya lebih menyukai kebenaran versinya sendiri atau kelompoknya. Yang disebut kebenaran umumnya merupakan kebenaran individual dan komunal.

Informasi yang tidak sebenarnya tetap disukai dan terus diproduksi dengan basis teori konspirasi. Karya-karya yang diterbitkan dengan basis teori konspirasi banyak yang disukai, beberapa buku bahkan menjadi best seller.

Teori ini sering muncul dalam begitu ada kejadian besar yang penyebabnya masih buram atau terlalu komplek untuk diterangkan. Maka teori konspirasi kemudian menjadi pilihan dengan cara menerangkan dugaan atau keyakinan yang bahwa peristiwa besar atau kejadian penting itu terjadi karena rencana jahat atau aksi rahasia dari kelompok tertentu.

Disaat sumber-sumber resmi dirasa lambat oleh masyarakat untuk menerangkan fenomena tertentu, teori konspirasi akan muncul. Entah oleh individu, kelompok atau organ tertentu dengan segala kepentingannya.

Para penyebar kerap kali mengklaim kebenaran yang mereka sampaikan sebagai satu-satunya yang valid. Masyarakat yang dalam kondisi ketidakpastian dan lain-lain kemudian kerap mudah percaya terlebih informasi dari sumber-sumber penting seperti pemerintah sering kurang dipercaya. Masyarakat terlanjur kurang percaya pada pemerintah karena dalam banyak hal memang kurang transparan.

Sampai sekarang masyarakat masih mempercayai bahwa dunia ini diatur oleh ‘elit global’. Yang disebut elit global ini macam-macam, namun sering dikaitkan dengan kelompok yang dikenal sebagai ilumminati.

Teori konspirasi terbaru dan menglobal yang paling muktahir adalah tentang virus Covid 19. Pandemi Covid 19 dianggap sebagai pandemi buatan, virus diciptakan dan disebarkan secara sengaja oleh kepentingan tertentu.

Dengan menggabung-gabungkan berbagai informasi dan kejadian, Bill Gates kemudian dituduh sebagai aktor pengembangnya. Ada juga yang menuduh Amerika Serikat yang menyebarkan virus itu di China.

Ketika ditemukan vaksinnya, muncul lagi teori konspirasi yang mengajak masyarakat untuk menolak di-vaksin. Ajakan menolak untuk divaksin didasari dengan berbagai landasan, ada yang bersifat religius, anti kolonial atau barat dan lain-lain.

Disinformasi memang bersifat global. Narasi konspirasi ini bisa dimulai dari Amerika, Eropa, Arab dan lainnya. Kemudian menyebar sangat cepat kemana-mana, lewat group-group perpesanan dan media sosial. Dibahas tertutup dan terbuka, yang tertutup bocor, yang terbuka diklaim oleh pencomotnya sebagai eklusif untuk meyakinkan pembacanya.

Polanya berlaku sama hampir di seluruh negara dan kebudayaan. Lahirlah apa yang disebut sebagai hoaks. Dan setiap hari ada banyak hoaks yang diciptakan dan disebarluaskan.

Algoritma teknologi informasi dan komunikasi yang tersambung lewat internet memungkinkan segala sesuatu tersebar dengan sangat luas. Kabar baiknya bukan hanya informasi negatif, melainkan juga hal-hal lain seperti aksi bocah di ‘Aura Farming Pacu Jalur’ yang kemudian ditiru oleh Marc Marquez saat melakukan selebrasi kemenangan selepas melewati garis finis GP Jerman di Sachenring.

Berkaitan dengan teori konspirasi, walau bersifat menglobal namun menurut para ahli komunikasi dan informasi, penyelesaiannya harus bersifat lokal. Para ahli sepakat tidak ada model penyelesaian yang universal atau dipakai di semua tempat untuk mengatasi dampak teori konspirasi ini. Karena resonansi setiap narasi teori konspirasi disebuah tempat akan berbeda. Teori konspirasi akan dipercayai dalam konteks setempat.

Bisa jadi teori konspirasi dipercaya di satu wilayah karena trauma pada kolonialisme/post kolonial. Atau teori konspirasi kemudian diyakini karena masyarakat tidak percaya pada pemerintah. Dan bisa jadi pula teori konspirasi tumbuh subur karena kurangnya pendidikan kritis.

BACA JUGA : Revolusi Kopi

Mudahnya menyebarluaskan informasi membuat teori konspirasi, kabar bohong, berita palsu dan kabar-kabar buruk lainnya dengan cepat meluas, sulit untuk ditangkal.

Walau semua platform mengembangkan berbagai cara untuk menyaring informasi atau berita, pemerintah melakukan pengawasan dengan cara memblok sebuah situs, menonaktifkan akun dan lain-lain namun semua hal diatas tetap saja subur berbiak.

Ketika pemerintah mulai melakukan kampanye anti hoax, media massa digandeng sebagai salah satu mitra strategis. Kaum jurnalis banyak dilibatkan, bahkan berbagai inisiatif untuk menangkal hoax lahir dari mereka-mereka yang berbasis jurnalis profesional.

Masalah jurnalisme terkini sebenarnya merupakan bagian dari siklus hoax atau teori konspirasi itu sendiri.

Jurnalisme masa sekarang adalah jurnalisme yang serba cepat untuk merebut perhatian. Walau organisasi jurnalis gemar mengedepankan etika jurnalistik, kerja-kerja jurnalistik yang dipublikasikan di berbagai platform online tidak mencerminkan hal itu. Jurnalis bahkan kerap ‘menunggang gelombang’ untuk memperoleh perhatian dari khalayak.

Padahal informasi hasil gothak-gathuk, yang tidak tepat, menyesatkan atau sengaja dibuat salah dan menyesatkan itu butuh pemahaman yang cukup dan dalam dari para pengkonsumsinya untuk mencerna.

Sebuah informasi perlu dibongkar atau dicek fakta-faktanya untuk menemukan kesalahan atau ketidaktepatannya, dan ini butuh ketrampilan tersendiri, juga pengetahuan yang luas. Hal ini tentu bertentangan dengan algoritma informasi dalam masyarakat yang butuh jawaban cepat.

Belum lagi tantangan untuk berpikir kritis. Jurnalistik pada umumnya tidak mengajarkan cara berpikir ini karena ingin mengejar kecepatan. Dalam jurnalistik saat ini, lambat artinya kiamat, kehilangan eklusifitasnya.

Apakah kemudian kita harus pesimis? Tidak juga.

Ada arus lain yang bisa dipilih, model ini disebut sebagai jurnalisme lambat, jurnalisme yang menekankan pada pemahaman.

Tempo salah satu yang memilih model ini lewat jurnalisme investigatif, mendalami sebuah fenomena dengan melakukan reportase mendalam, mengkaji dari berbagai sudut.

Dan terbukti model ini tidak kehilangan eklusifitasnya, seperti pepatah Jawa alon-alon waton kelakon.

Memang persebaran jurnalisme lambat bakal kalah masif dengan jurnalisme cepat atau jurnalisme viral. Namun pada akhirnya masyarakat yang kepo, setelah face mencari sensasi bakal bertanya lebih dalam perihal sebuah peristiwa. Ada fase setelah fase emosional, manusia akan masuk ke fase rasional ketika menghadapi atau menanggapi sebuah informasi.

Disinilah jurnalisme lambat punya relevansi, memberi informasi yang lebih dalam dan luas, informasi yang menuntun pada sebuah pemahaman.

Masalah terbesar dari jurnalisme lambat adalah siapa yang mendukung atau memobilisasi sumberdaya terutama dana untuk menopang investigasi yang lebih mendalam atas sebuah fenomena atau kabar.

Jurnalisme lambat butuh sumberdaya yang besar dan kurang disukai oleh para pengiklan. Karena jangan-jangan para juragan besar yang citranya baik di masyarakat terbongkar kelakuan buruknya gara-gara jurnalisme investigatif atau jurnalisme lambat ini.