KESAH.ID – Semenjak tahun 2013 kedai kopi berkembang pesat di Kota Samarinda hingga saat ini. Mulai dari kehadiran kedai kopi manual brewing dan kemudian disusul dengan kedai kopi kekinian yang umumnya instagramable. Dulu kedai kopi adalah tempat berkumpul pecinta kopi, aktivis atau kaum gerakan dalam berbagai bidang. Kini kedai kopi menjadi tempat bercengkrama para pengikut gaya hidup aneka skena. Kedai kopi bahkan menjadi ruang kerja, baik untuk memproduksi konten maupun menyiarkan live session para pemengaruh dan seleb-seleb di berbagai platform media sosial.
Wedang Jahe, Bajigur, Bir Pletok, Jamu, Bandrek, Saraba dan sederet minuman dingin seperti Dawet atau Cendol, Es Doger, Es Pisang Ijo, Es Teler, Es Selendang Mayang dan seterusnya merupakan minuman ikonik di Indonesia.
Kopi yang dianggap sebagai minuman orang tua, kemudian menyusul. Kopi menjadi minuman pergaulan di luar rumah melalui Kopi Cete dan kemudian disusul oleh Kopi Jos di Warung Angkringan.
Istilah ngopi menjadi terkenal, lebih terkenal dari ngeteh dan lainnya.
Transformasi kopi menjadi minuman kelompok umur tertentu menjadi minuman publik dimulai saat diperkenalkan kopi instan. Muncul pabrik-pabrik besar produsen kopi siap saji yang mudah diseduh dan tersedia dimana-mana.
Kopi instan yang paling terkenal adalah kopi mix, coffee yang sudah dicampur dengan creamer dan pemanis.
Dunia mengenal Indonesia sebagai penghasil kopi, dimulai sejak jaman kolonial. Masyarakat dunia mengenal Kopi Sumatera, Kopi Jawa, Kopi Sulawesi, Kopi Papua, Kopi Flores dan Kopi Bali.
Namun sebagai penghasil kopi, kebiasaan mengulik kopi tidak tumbuh di Indonesia. Konvensi kopi di Indonesia sederhana saja, Nasgitel, panas, legi dan kentel dengan cara seduh ditubruk.
Budaya kopi memang muncul di Eropa dan kemudian menyebrang ke Amerika Serikat. Dari Amerika Serikat budaya ngopi modern kemudian menyebar ke seluruh dunia lewat Starbuck. Globalisasi kopi dikenal dengan istilah Globuckisasi. Starbuck menjadi standar gaya hidup, budaya kopi.
Revolusi kopi atau budaya kopi yang dikenal dengan istilah Kopi Gelombang Ketiga, memang tumbuh di Amerika Serikat sejak tahun 1990-an. Pada masa ini para profesional dan pengemar kopi di Amerika Serikat berupaya mengangkat kopi menjadi sekelas dengan minuman ikonik seperti anggur berkualitas, bir atau wisky rumahan, yang diolah dengan citarasa seni.
George Howell, Counter Culture Coffee, Intellingentsia Coffee dan Strumpton Coffee Roaster dianggap sebagai tokoh dan perusahaan yang mempeloporinya dengan memperkenalkan kopi spesialiti, perdagangan langsung dan sangrai berkualitas tinggi.
Budaya kopi di Skandinavia khususnya Norwegia dan Swedia juga memerankan peran penting lewat light roast atau sangrai dengan hasil seduhan mirip teh, rasa yang jernih dan metode seduh yang presisi.
Istilah gelombang kopi kemudian mengacu pada revolusi atau budaya kopi yang menempatkan kopi sebagai sebuah karya seni. Siklus kopi mulai dari penanaman, pemanenan, pengolahan paska panen, roasting hingga penyajian ditangani dengan cermat untuk memberi pengalaman menikmati kopi yang unik pada penikmatnya.
Yang menjadi target dari gerakan gelombang kopi ketiga adalah konsumen yang ingin menghargai kopi kualitas tinggi, pencinta kopi yang ingin pengalaman kopi yang unik dan mereka yang bukan hanya ingin menikmati secangkir kopi melainkan juga mengetahui asal usulnya.
Fitur utama Gerakan Gelombang Kopi Ketiga adalah single origin dan ketelusuran. Kopi diberi penekanan pada kopi dari wilayah tertentu, kawasan pertanian atau bahkan perkebunan tertentu. Kopi ini akan memberi pengalaman unik pada para pencinta kopi lewat rasa yang dipengaruhi oleh tanah, iklim, ketinggian dan lingkungan lain tempat kopi tumbuh.
Fitur lain adalah tingkat penyangraian. Biji kopi pada gelombang ketiga disangrai dengan tingkat light roast, masih kecoklatan. Hal ini berbeda dengan budaya kopi gelombang kedua dimana yang populer adalah dark roast.
Fitur berikutnya berkaitan dengan tehnik seduh. Kopi pada gelombang ketiga disajikan dengan seduhan yang presisi dengan metode manual brewing seperti Aeropress, V60, Chemex dan lain-lain. Kopi disajikan dengan ukuran yang dikulik berdasarkan grinding size, gramasi dan tingkat kepanasan air tertentu.
Pada kopi gelombang ketiga masyarakat penikmat kopi juga punya kesadaran tentang keadilan, maka fitur keberlanjutan dan etika juga menjadi salah satu penandanya. Peminum kopi memprioritaskan kopi-kopi yang dihasilkan dengan penghormatan pada petani dan budidaya kopi yang ramah lingkungan. Budaya kopi gelombang ketiga lebih menyukai kopi yang berasal dari perdagangan langsung, perdagangan yang adil yang melawan model perdagangan tradisional yang lebih menempatkan keuntungan dan penentu harga di tangan pedagang atau pengepul.
BACA JUGA : Nama Menteri
Di Samarinda gerakan kopi gelombang ketiga kalau tidak salah berkembang mulai sekitar tahun 2013. Ditandai dengan kemunculan kedai-kedai kopi manual brewing setelah arus kedai kopi modern baik waralaba internasional maupun nasional yang mulai memperkenalkan single origin kopi.
Kopi gelombang ketiga terasa lebih terorganisir perkembangannya karena didukung oleh komunitas kopi. Yang menjadi pioner adalah BKS atau Bubuhan Kopi Samarinda, kumpulan pengusaha kedai kopi, barista dan pecinta kopi.
Di masa awal, selain memperkuat pengetahuan para pelaku kopi, Bubuhan Kopi Samarinda juga getol melakukan edukasi kopi kepada masyarakat lewat berbagai kegiatan.
Tahun 2015-an, gerakan gelombang kopi ketiga makin menguat di Samarinda. Kedai manual brewing makin banyak, kedai-kedai kopi modern yang awalnya mengandalkan mesin espresso juga mulai melengkapi playlistnya dengan menu manual brewing. Waktu jamak terlihat di meja bar berjejer toples-toples yang berisi coffee bean dari berbagai tempat.
Yang dimaksud dengan biji kopi oleh gerakan kopi gelombang ketiga adalah kopi arabika. Membincang segelas kopi berarti kopi yang diekstrak dari biji kopi arabika.
Whynot, Blackirds, Anima, Republic Coffee, Kopi Nusantara, Second Floor, Kopikumana dan beberapa lainnya patut dicatat sebagai pioner pembawa gelombang kopi ketiga ke Kota Samarinda.
Karena kehadiran mereka, masyarakat Samarinda kemudian mengenal bahwa kopi tak selalu hitam.
“Ini kopi kah, kok seperti teh,” begitu yang kerap diungkapkan oleh mereka yang menyukai kopi dan kemudian diberi sajian kopi manual brewing untuk pertama kalinya.
Dalam dua atau tiga tahun setelah 2015, kopi gelombang ketiga berkembang sangat pesat di Kota Samarinda, jumlah kedai baru yang muncul tak cukup lagi dihitung dengan seluruh jari tangan dan kaki.
Gairah ini membawa keuntungan tersendiri bagi kedai-kedai kopi tradisional yang menyajikan kopi asli, seperti Kedai Kopi Pelabuhan Ko Abun, Kedai Kopi Ko Liem dan lain-lain. Kedai-kedai ini kemudian ramai kedatangan para pecinta kopi baru yang ingin mengulik pengalaman kopi lebih dalam.
Budaya kopi lokal kemudian turut terangkat. Pecinta kopi kemudian lebih meyadari budaya kopi lokal yang dibangun terutama oleh para pendatang dari daratan Tiongkok yang membawa model bisnis kopi yang dikenal dengan istilah Kopitiam.
Kopi gelombang ketiga kemudian memperkenalkan ekosistem menikmati kopi dengan cara pikir dan bertindak yang berbeda. Kopi dinikmati dengan cara dibincang, mulai dari rasa, aroma, sensasi, asal usul, roastery dan baristanya.
Salah satu rantai kopi yang muncul dari budaya kopi gelombang ketiga adalah barista. Selain merupakan sebuah ketrampilan, barista menjadi sebuah pilihan profesi baru yang menjanjikan. Barista menjadi penentu, berkembang atau tidaknya sebuah kedai kopi.
BACA JUGA : Marc Sachenking
Kopi makin jadi perbincangan, walau asyik ngopi dan ngomongin kopi manual brewing terasa rumit. Hingga kemudian lahir inovasi-inovasi yang berbasis kopi. Idealisme soal kopi diturunkan demi menyesuaikan diri dengan pasar dan konsumen, minum kopi memasuki fase industri massal.
Bersamaan dengan getolnya pemerintah mendorong ekonomi kreatif, tahun 2017 muncul tren baru dalam perkopian. Muncul kedai-kedai kopi kekinian yang menyajikan kopi dengan cepat atau fast coffee dengan list menu yang panjang.
Salah satu yang berkembang dengan cepat adalah Kopi Kulo. Lalu disusul oleh Kopi Janji Jiwa, Lain Hati dan sebagainya. Dan kemudian salah satu gongnya adalah Kopi Kenangan, yang populer dengan sebutan Kopken.
Pengusaha lokal pun tak mau kalah. Dari Samarinda muncul Kopi Ria dan juga Kopi Papa Muda,
Jumlah kedai kopi meledak, konsumen atau penikmat kopi makin meluas.
Bersamaan dengan pandemi Covid 19, kedai-kedai kopi kekinian makin populer karena model grab and go. Model bisnis ini cocok dengan kecenderungan pesan antar yang ramai dimasa pandemi.
Ketika pembatasan sosial dilonggarkan, Samarinda mencatatkan sumbangsih bersejarah dalam dunia kopi. Citra Niaga yang redup dan distigma sebagai area rawan karena copet di siang hari dan prostitusi di malam hari, kemudian diselimuti aroma kopi. Citra Niaga sebagai ruang publik, tempat warga berkumpul kembali hidup setelah lama berusaha direvitalisasi. Kopi menghidupkan kembali Citra Niaga.
Dengan pelonggaran pembatasan sosial skala besar, kebutuhan untuk berkumpul semakin tinggi. Dan lagi-lagi Kedai Kopi menjadi yang terdepan lewat munculnya tempat ngopi yang terbuka, luas dan lapang. Selain Klinik Kopi di Siradj Salman muncul Salman Avenue.
Kedai-kedai sejenis muncul di berbagai tempat dengan model arsitektur yang hampir serupa. Model bangunan minimalis, industrial bahkan unfinished design. Semen ekpose menjadi salah satu penandanya.
Banyak juga rumah hunian yang kemudian disulap menjadi Kedai Kopi sehingga menghadirkan suasana yang lebih homy baik dalam nuansa modern maupun vintage atau heritage.
Kopi merevolusi dunia tongkrongan di Samarinda, hadir dimana-mana, mulai dari tepi jalan premium hingga di puncak bukit yang tersembunyi.
Buat sebagian orang perkembangan ini mengelisahkan, ada sesuatu yang hilang setelah kopi berubah menjadi industri.
Kedai-kedai kopi memang ramai tapi seperti tak punya watak lagi. Ruang kedai kopi tidak lagi menjadikan kopi sebagai sebuah pengalaman sosial yang personal. Dulu segelas kopi bisa menjadi ruang untuk membuka percakapan yang mempertemukan dua orang tak dikenal, kini semakin langka.
Bagaimana tidak antara kedai yang satu dan yang lainnya tak terlalu berbeda banyak sajiannya. Kopi kemudian tidak dibincang lagi.
Gelombang ketiga memperkenalkan kopi sebagai ekspresi, tapi kemudian berkembang menjadi komoditas, yang laku ditiru.
Ngopi bukan lagi soal pengalaman, tapi keramaian, viralitas, estetika yang diduplikasi hasil dari sebuah branding yang memberi kenyamanaan visual nan dangkal.
Kopi kehilangan aroma dan wacana. Ingat sejarah kopi dekat dengan literasi. Di warung-warung kopi pada masa itu warga datang bukan hanya untuk menikmati segelas kopi, namun bertukar cerita dan wacana, warung kopi menjadi warungnya para pembelajar.








