KESAH.ID – Stand Up Padlleboard lahir di Hawai dengan nama Hoe he’e nalu. Dan kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat. Aktvitas di air yang mengabungkan antara kano dan surfing ini menarik banyak pemula untuk mencobanya. Di Indonesia, SUP turut dipopulerkan oleh Susi Pujiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan yang memang suka dengan aktivitas di air. Di Samarinda, Krisdiyanto tengah berupaya untuk memulainya lewat Padlleboard Samarinda.
Apa yang dilakukan oleh Susi Pujiastuti jika penat?. Merokok?.
Ternyata bukan. Perempuan yang dikenal sebagai pengusaha perikanan dan merambah ke usaha penerbangan ini akan beraktivitas tak jauh dari laut, memainkan hobinya mengayuh Stand Up Padlleboard.
Di internet banyak beredar fotonya yang viral karena terlihat nyentrik saat melakukan padlling di laut. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini memang sering membagikan foto bermain padlle board di akun X-nya.
Bukan karena mau seperti Susi Pujiastuti lalu saya ikut-ikutan bermain Padlleboard. Kebetulan saja, saat saya melihat postingan Krisdiyanto di facebook yang menunjukkan tengah bermain Paddleboard. Iseng-iseng saya mengomentari “Bisa kah dipakai susur sungai dari Muang ke Kehewanan?”.
Kris menjadi “Ayuk saja,”
Saya sebenarnya tak serius benar untuk memakai Padlleboard, menyusuri Sungai Karang Mumus dari tengah ke hilir yang jaraknya kurang lebih 10 -12 km itu. Jelas butuh persiapan dan latihan. Tapi hanya ingin ikut main.
Beberapa waktu kemudian saya ketemu Pak Iyau di pangkalan pungut GMSS SKM. Pak Iyau menceritakan kalau Kris pernah mencoba Padlleboard yang baru dibelinya itu di Sungai Karangmumus. Dia juga menambahkan kalau Krisdiyanto sedang telah memesan dua unit lagi namun sedang dalam perjalanan pengiriman.
Sayapun segera mengusulkan ke Pak Iyau untuk susur sungai ke Sekolah Sungai Karang Mumus, Sesukamu lalu main Padlleboard di sana. Pak Iyau mengiyakan.
Sudah lama saya ingin mengajak beberapa rekan susur, sebutan untuk para pegiat Susur Gang Samarinda, menyusuri Sungai Karangmumus dari segmen air. Selama ini rekan susur, menyusuri beberapa titik gang tepian Sungai Karangmumus dari sisi darat.
Selain itu sudah lama saya tidak berkunjung ke Sesukamu untuk melihat perkembangan hutan ripariannya.
Ketika saya sampaikan rencana itu dan meminta Krisdiyanto membawa Padlleboard-nya, Kris mengiyakan.
Kamipun menetapkan jam dan hari, setelah Kris mengabarkan kedatangan Padlleboard yang dipesannya lagi.
Sabtu, 21 Juni 2025 pagi, rekan susur sudah berkumpul di pangkalan pungut GMSS SKM. Pak Iyau menyiapkan perahu ketinting dan pelampung. Krisdiyanto langsung menuju Sesukamu di Muang Ilir membawa Padlleboard-nya.
Empat rekan susur berperahu menuju Sesukamu, saya menyusuri jalan memakai motor dan nanti akan ada teman lain yang menyusul dengan motor juga.
Sepanjang perjalanan saya mengenang kembali kebiasaan saya bertahun-tahun lalu menyusuri ruas jalan Kota Samarinda dari pangkalan pungut GMSS SKM di Jalan Abdul Muthalib menuju Muang Ilir. Jalanan terasa lebih ramai, segmen kanan kiri jalan dari Gunung Lingai, Belimau hingga Muang juga semakin ramai dan padat dengan rumah serta ruang usaha.
Perkembangan Kota Samarinda memang mengarah ke utara, ke wilayah yang semestinya menjadi area pertanian atau ketahanan pangan.

BACA JUGA : Siapa Menang
Bulan Juni, Samarinda masih sering hujan. Jalan Tani, gang masuk ke Sesukamu dari poros Muang – Betapus yang beberapa tahun lalu sudah diperkeras ternyata cukup becek. Butuh konsentrasi untuk melewati agar tak ban motor tak terperosok dan kepleset.
Saya hampir bersamaan dengan Krisdiyanto sampai di Sesukamu.
Dan terlihat Kris yang disertai Raziq, putra sulungnya tengah menurunkan barang dari mobilnya.
Ternyata Paddleboard bukan papan solid seperti papan selancar. Melainkan seperti balon yang harus ditiup.
Padlleboard yang berbentuk lipatan kemudian dibentangkan di Bale Sesukamu yang lantainya kini telah disemen.
Saya, Kris dan putranya mulai memompa, masing-masing satu.
“Antara 11 sampai 12 psi tekanannya, biar kalau diinjak tidak melengkung,” ujar Kris.
Kamipun mulai mengenjot pompa tangan.
Lumayan butuh perjuangan. Memompa Padlleboard dengan pompa tangan bisa menjadi pemanasan, karena badan mulai mencucurkan keringat.
Setelah Padlleboard keras seperti papan kayu, strip seperti sirip hiu dipasang dibawahnya untuk membantu navigasi di air. Kemudian di bagian atas dipasang footstrap, agar jika terjatuh Padlleboard masih terhubung dengan badan.
Tak lama setelah ketiga Padlleboard siap dipakai, Pak Iyau bersama kawan susur tiba juga di Sesukamu.
Setelah foto-foto sejenak dengan Padlleboard yang disandarkan di tiang-tiang Bale Sesukamu, saya, Pak Iyau dan Kris kemudian mengangkat satu satu berjalan menuju Jembatan Muang Ilir. Kami akan memulai padlling dengan berhanyut.
Rasanya ringan saja ketika mengangkat, tapi karena jarak antara Sesukamu dan Jembatan Muang kurang lebih 500 meteran, lama-lama terasa beratnya juga. Kaki juga terasa seperti digelitik dan kadang juga terasa tertusuk karena berjalan di jalan tanah dan semen tanpa alas kaki.
Tanpa lebih dahulu punya referensi tutorial, kami pun mulai naik ke Padlleboard yang mengapung tenang di air Karangmumus yang waktu itu berwarna coklat keruh.
“Bisa duduk, tapi bisa juga bertumpu pada dua lutut,” ujar Kris.
Saya memilih mengapung dengan Padlleboard dengan bertumpu pada dua lutut sejajar. Pertimbangannya nanti akan lebih mudah untuk mencoba posisi berdiri.
Dan setelah mencoba beradaptasi dan yakin bisa menavigasi, saya mulai meluncur ke arah sesukamu. Ketika mulai merasa seimbang, sayapun mencoba berdiri. Perlu perjuangan yang disertai sedikit ras khawatir kalau terjatuh ke air. Bukan khawatir karena airnya dalam atau apa, melainkan Razig yang naik Padlleboard dengan bapaknya, memegang HP di tangan. Kalau pas terjatuh dan direkam, sungguh memalukan.
Jika dinaiki seperti halnya perahu, Padlleboard cukup kuat untuk menahan beban dua orang.
Rasanya pingin bersorak ketika saya berhasil berdiri dan tidak terjatuh. Dengan dayung saya mengarahkan Padlleboard agar tetap lurus ke depan, menuju Sesukamu.
Mendekati dermaga Sesukamu, sayapun mulai berteriak agar teman-teman susur yang ada disana memotret atau merekam saya. Karena ini momen bersejarah, untuk kali pertama Padlleboard melewati dan mengapung di Sungai Karangmumus segmen Sekolah Sungai.
Ternyata menaiki padlling tak sesulit menavigasi papan surfing.

BACA JUGA : Fadli Sejarah
Padlling atau mengayuh dengan dayung diatas bilah sambil berdiri perangkatnya disebut Stand Up Padlleboard, atau SUP.
Aktivitas ini dikenal sejak tahun 1976 di Hawai. Kegiatan olahraga, petualangan atau aktivitas diatas air ini disebut Hoe he’e nalu, tujuannya menavigasi gelombang laut. Namun kemudian berkembang menjadi olahraga dan rekreasi, yang bisa dilakukan di laut, sungai, danau atau badan air buatan seperti embung, polder bahkan kolam renang.
Aktivitas yang mengabungkan antara kano dan surfing ini kemudian berkembang sangat pesat di Amerika Serikat. Di sana SUP menjamur di pantai-pantai semenjak tahun 2004. Pada tahun 2013, dilaporkan SUP menjadi aktivitas outdoor yang paing banyak diikuti oleh para pemula di Amerika Serikat.
Konon SUP digemari karena melatih kekuatan, kardio, keseimbangan dan fleksibilitas di seluruh bagian tubuh dengan cara yang menyenangkan.
Di Indonesia, SUP juga mulai populer. Layanan jasa paddling mulai tumbuh di pantai-pantai terkenal yang ada di Bali, Lombok dan Jawa.
Di Kaltim sendiri, SUP juga ada di Danau Semayang, di Desa Pela. Di Waduk Manggar Balikpapan, akhir tahun lalu juga pernah digelar lomba Padlleboard perdana untuk promosi pariwisata.
Krisdiyanto yang memang punya naluri usahawa wisata, jeli menangkap peluang atau potensi ini.
Dan dia berani memulai dengan investasi 3 padlleboard.
“Buatan China, karena yang buatan Jerman mahal sekali,” ujarnya.
Entah akan dioperasikan dimana. Namun yang jelas padlling akan lebih aman di air yang tenang. Dan Samarinda mempunyai beberapa polder yang ramai dikunjungi sebagai destinasi wisata. Padlling cocok dilakukan disana.
Pun juga di Sungai Karangmumus ketika airnya cukup dalam. Aliran airnya tak terlalu kencang sehingga aman dan nyaman untuk bermain Padlleboard. Sungai Mahakam juga bisa tetapi untuk mereka-mereka yang sudah advance, karena banyak perahu dan kapal yang lalu lalang menimbulkan gelombang.
Kris menamai startup-nya Padlleboard Samarinda. Tapi kini masih terus mendalami agar menjadi master padlling. Sayapun suka aja kalau terus diajak nimbrung, siapa tahu nanti diajak jadi instruktur kalau layanan jasa Padlleboard-nya diluncurkan.
Dan dari jauh-jauh hari saya sudah mengajukan proposal untuknya, bermohon agar di hari perayaan HUT Kemerdekaan bulan Agustus nanti bisa turut meramaikan Hari Kemerdekaan dengan padlling dari Sekolah Sungai Karang Mumus di Muang Ilir hingga Pangkalan Punggut GMSS SKM, Abdul Muthalib.
Krisdiyanto dan Pak Iyau setuju, jadi nantikan saja tanggal mainnya.
note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA








