KESAH.ID – Banjir yang datang sebelum Juni seakan menyalahi pola iklim yang dulu lebih jelas, memperlihatkan bagaimana perubahan cuaca semakin sulit ditebak. Pun Jokowi sebagai presiden paling sukses justru menghadapi serangan bertubi-tubi setelah lengser dengan serangan ijazah palsu. Dibanding para presiden sebelumnya yang mendapat perlakuan lebih tenang pasca-kepemimpinan, Jokowi justru mengalami tekanan yang lebih besar. Seperti air yang tetap meluap meski drainase diperbaiki, politik Indonesia pun bergerak tanpa pola yang pasti, meninggalkan pertanyaan tentang apakah perubahan iklim lebih bisa diprediksi dibandingkan perubahan politik negeri ini.
Minggu pagi, 30 Mei 2025, saya akhirnya mencatat sebuah peristiwa penting setelah lebih dari 20 tahun tinggal di Samarinda: jalan pagi beramai-ramai. Jangan bayangkan ini momen yang istimewa, apalagi menyangkut pengakuan atau sertifikasi kompetensi. Ini cuma jalan pagi, tidak lebih.
Buat warga Samarinda yang sudah terbiasa jalan gembira massal—terutama menjelang pemilu atau peringatan hari kemerdekaan—mungkin ini perkara biasa. Warga membanjiri event jalan sehat karena dorongan sosial sekaligus harapan dapat doorprize. Dari tiket umroh sampai sepeda motor, siapa tahu nasib sedang berpihak.
Tapi bagi saya, yang bukan morning person—alias manusia yang lebih akrab dengan kasur hingga siang—aktivitas ini luar biasa. Saya bukan tipe bapak-bapak yang wajib bangun pagi untuk sekadar nongkrong atau behelam cari sarapan.
Meski mata masih lengket dan sepet, hampir batal karena gerimis turun, dan jadwal molor hampir setengah jam, jalan pagi ini ternyata menyenangkan. Setidaknya lebih menyenangkan dibandingkan catatan lain yang menghiasi akhir Mei di Samarinda: banjir dan longsor.
Banyak warga bersaksi: ini kali pertama rumah mereka tenggelam selama mereka bermukim di Samarinda. Ada juga yang mengklaim ini adalah banjir terbesar yang pernah mereka alami. Air memang begitu setia, seperti burung merpati yang katanya tak pernah ingkar janji—tapi dalam konteks ini, janji yang paling dihindari.
Yang bikin miris, ini belum bulan Juni tapi sudah kebanjiran. Rasanya agak absurd. Biasanya hujan deras bertamu di Januari, bulan yang katanya kependekan dari “hujan sehari-hari.” Maret mulai mengendur, April hanya sisa gerimis kecil. Eh, Mei malah membuat Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono jadi kurang relevan.
Mungkin Sapardi harus merevisi puisinya, karena iklim sudah berubah. Musim kemarau dan penghujan di Samarinda sekarang lebih mirip hubungan toxic: sulit ditebak, datang tiba-tiba, dan kadang bikin sakit kepala. Hujan bisa turun deras saat matahari masih garang menyengat, seperti langit sedang galau memilih cuaca.

BACA JUGA : Lung Anai
Ngomong-ngomong soal cuaca yang tidak menentu, politik kita juga begitu. Dulu, cerita sejarah selalu dimulai dari masa penjajahan Belanda dan Jepang, lalu merambat ke Proklamasi, Sukarno-Hatta, hingga peristiwa PKI yang membuat Suharto naik panggung sebagai pahlawan.
Reformasi ’98 lalu menggulingkan ‘Bapak Pembangunan’ dan generasi ’90-an mulai menikmati politik yang lebih bebas. Pemilu bukan lagi hal menegangkan seperti dulu, tapi berubah jadi pesta demokrasi dengan hiburan melimpah.
Setelah era Susilo Bambang Yudhoyono, Jokowi membuktikan bahwa popularitas adalah mata uang utama dalam politik Indonesia. Meski biasanya pemimpin di periode kedua mengalami penurunan popularitas, Jokowi justru tetap digandrungi. Bahkan efek Jokowi begitu besar sehingga Prabowo-Gibran bisa menang dalam satu putaran pemilu 2024.
Namun setelah pesta usai, awan kelam bergelanyut. Mirip Samarinda yang kebanjiran ketika wilayah lain justru mengalami kekeringan. Jokowi yang tercatat sebagai ‘Presiden Tersukses’ versi berbagai lembaga survei, ternyata tidak bisa tidur nyenyak setelah lengser.
Tak cukup anaknya diterpa isu Fufufafa, Jokowi sendiri dihantam tuduhan ijazah palsu. Serangan ini tentu membuatnya tidak bisa tidur lelap. Sebagai respons, ia akhirnya melaporkan para penyerang ke penegak hukum.

BACA JUGA : Dari Gerilya Ke Pampang, Mencari Harapan Di Tengah Transisi Energi
Nasib Jokowi pasca-kepemimpinan jelas lebih apes dibandingkan presiden sebelumnya. Sukarno memang dipermalukan saat transisi ke Orde Baru, tapi gelarnya sebagai proklamator tetap utuh. Suharto turun tanpa diadili, Gus Dur tetap dihormati sebagai guru bangsa, Megawati masih tegak di kursi Ketua Umum PDIP, dan SBY walaupun partainya diusik tetap kokoh memegang Demokrat.
Tapi Jokowi? Alih-alih dihormati, malah dikuyo-kuyo dengan berbagai isu tak mengenakkan. Padahal dibanding presiden lain yang sudah lengser, Jokowi adalah yang paling berkuasa—setidaknya masih berpengaruh dalam pemerintahan baru.
Episode ijazah palsu yang menerpa Jokowi ini buat saya sama menyedihkannya dengan Samarinda yang tetap kebanjiran meski pemerintah kota sudah lima tahun berusaha mengelola air.
Masalahnya, kalau tuduhan itu benar, membantahnya seharusnya gampang. Tapi kalau dijawab dengan respons emosional, hasilnya malah seperti ubi jalar atau kangkung air: makin meluas ke mana-mana.
Mirip seperti hujan di Samarinda yang tetap mengenangi kota, meski got dan sungai sudah diperlebar.
note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA








