KESAH.ID – Perjalanan Komunitas Jurnalisme Warga dari Gerilya hingga Muara Pampang membuka mata tentang wajah transisi energi yang nyata di tengah masyarakat. Di balik panel surya dan lahan pertanian, ada harapan, keteguhan, dan juga kepedihan—kisah Akbar, Sunil, hingga Supandi menggambarkan bahwa transisi energi bukan sekadar urusan teknologi, melainkan soal keberpihakan pada manusia dan alam yang terus terluka.
Perjalanan pada 26 April 2025 bersama Komunitas Jurnalisme Warga (KJW) bukan sekadar jalan-jalan biasa. Di balik label “Jurnalis Trip: Petani, Energi dan Tambang”, tersimpan kisah yang lebih dalam. Ini adalah perjalanan mencari makna—tentang harapan, keberanian, dan masa depan di tengah krisis energi dan lingkungan. Tentang kepentingan dan kerentanan yang berkelindan dibalik isu, rencana dan program transisi energi.
Pemberhantian pertama, sebuah bengkel kecil di kawasan Gerilya, Samarinda. Tempatnya sederhana, terletak tepat di depan pemakaman Tionghoa. Tanpa maksud simbolik, tapi refleksi muncul begitu saja: bukan cuma manusia yang bisa mati, bumi pun bisa. Dan mungkin sedang sekarat pelan-pelan.
Di tempat ini, seorang pria bernama Akbar menyambut kami. Sudah dua tahun ia dan keluarganya hidup sepenuhnya dari tenaga surya. Tak ada jargon atau slogan bombastis soal “transisi energi”. Dia hanya bilang, “Panel surya ini bukan cuma bikin rumah terang, tapi juga bikin hidup hemat.”
Bagaimana tidak, listrik rumah dan workshop Akbar dapat tercukupi dengan energi surya. Terang matahari dirubah menjadi energi listrik yang tidak memberikan dampak buruk pada lingkungan.
Di atap rumahnya, enam panel surya berjajar rapi. Cukup untuk menyalakan lampu, alat bengkel, dan kebutuhan rumah selama berhari-hari, bahkan saat cuaca tak bersahabat. Energi dari langit disimpan dalam baterai lithium—senyap, bersih, dan tidak meninggalkan jejak kerusakan.
“Tiga hari mendung, cadangan listrik di baterei masih mencukupi,” ujar Akbar singkat.
Setelah bertukar cerita kurang lebih 2 jam-an, termasuk berbincang dengan warga pemakai energi matahari untuk rumah di empangnya, perjalanan dilanjutkan menuju Lempake.

BACA JUGA : Lemang Menjaga Nyala Subsistensi Energi

Melewati jalan yang diapit sawah yang sering tergenang di saat banjir, Betapus beberapa tahun terakhir ini berkembang menjadi destinasi untuk menikmati persawahan. Namun pertumbuhan warung tak terkendali hingga hamparan sawah di kanan kiri jalan tak lagi leluasa untuk dilihat. Warung tumbuh secara liar, menutup ruang yang dulu hanya dimiliki oleh padi dan angin.
Di ujung deretan warung itu berdiri P4S Puri Leisa. Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya. Tempat ini sering dikunjungi oleh mereka yang ingin belajar pertanian dan peternakan juga pengolahan limbah atau sampah untuk menjadi pupuk dan eco enzim.
Sayang tak bisa berlama-lama disini karena yang mengampu ternyata tengah menerima kelompok guru dari Tenggarong Kutai Kartanegara yang ingin belajar membuat kompos. Diskusi perihal energi yang dibutuhkan untuk petani urung. Dan perjalanan kembali dilanjutkan menuju Muara Pampang, melewati Kelurahan Budaya Pampang, salah satu destinasi wisata kultural di Kota Samarinda.
Perjalanan dari Betapus ke Muara Pampang kurang lebih 30 menit, melewati Muang Dalam, wilayah Kota Samarinda yang mempunyai cukup banyak petani dan peternak muda. Di Muara Pampang, yang akan dikunjungi juga pasangan petani muda yang memberi nama Syifa Garden untuk rumah dan kebunnya.
Di Syifa Garden ini, Sunil Asfianoer Hirpristomo mengembangkan pertanian berkelanjutan, memadukan antara pertanian dan peternakan untuk menghasilkan pangan yang sehat. Dia dan istrinya tak hanya menanam namun juga merawat harapan.
“Tanggungjawab petani adalah menyediakan pangan yang sehat, yang rendah residu,” ujar Sunil di beranda belakang rumahnya yang lega.
Sambil memandang hamparan hijau kebun sayuran, kisah tentang pertanian berkelanjutan meluncur dari mulutnya. Tapi juga ada resah, karena pertambangan yang mengganggu hampir semua lahan petani di Kota Samarinda.
Tentang energi terbarukan, di teras belakang rumahnya ada panel surya, baterei lithium dan inverter. Cahaya mentari adalah sahabat untuknya.
“Nanti akan saya pasang di kebun saya, untuk menggerakkan pompa air,” ujarnya.
Dari Syifa Garden perjalanan dilanjutkan menuju arah Bandara APT Pranoto Sungai Siring, Samarinda. Belok ke arah kanan meninggalkan jalan raya menuju Kampung Bintek yang dilewati oleh aliran Sungai Lantung.
Di sana ada Supandi, 59 tahun yang sejak tahun 80-an berkebun, menanami lahannya dengan aneka pohon buah-buahan. Puluhan tahun pahit manis sebagai petani dilakoninya, hingga kemudian menjadi getir beberapa tahun terakhir ini. Supandi bukan hanya mengolah tanah tapi juga menanam harapan, agar lahannya menghasilkan penghidupan.
Anak-anak sungai yang melewati lingkungan tempat tinggalnya kini hampir rata dengan dataran kanan kirinya karena dipenuhi oleh sedimen. Lumpur campuran antara tanah liat dan pasir tererosi dari lahan bukaan tambang dan kemudian mengalir ke sungai. Lama kelamaan sungai meluap dan luapannya mengenangi kebun.
Karena digenangi lumpur, pohon buah Supandi ada yang mati, yang bertahan hidup kemudian terganggu produktifitasnya. Buahnya menurun bahkan tak berbuah sama sekali.
“Kami ingin bertani dengan damai,” kata Supandi lirih.
Sebuah keinginan yang sederhana namun sulit dipenuhi. Ada nada putus asa dibaliknya karena Supandi telah berkali-kali melaporkan dampak tambang pada ruang hidup masyarakat namun tak mendapat tanggapan dari para pihak yang berwenang. Ketukan Supandi pada berbagai pintu, hanya berbuah sunyi.
“Siapa yang bisa kami harap untuk menolong kami?” tanyanya.
Benar memang sungai-sungai mendangkal. Jelas terlihat dalam perjalanan pulang, anak sungai yang mengalir di daerah Bintek penuh dengan pasir. Terlihat mesin penyedot pasir teronggok di tepiannya, mungkin tak mampu untuk menyedot pasirnya yang menurut cerita Supandi akan dibuat menjadi batako. Mesin penyedot pasir itu sumbangan dari CSR perusahaan tambang.

BACA JUGA : Lung Anai

Kini menjadi jelas dari perjalanan ini bahwa transisi energi bukan semata isu pendanaan dan teknologi, tapi ini soal manusia, soal hidup dan masa depan.
Dari Gerilya hingga Pampang, kami tak hanya melihat panel surya atau mesin penyedot pasir. Kami melihat wajah-wajah manusia yang berjuang. Mereka bukan sekadar penerima dampak, tapi bagian penting dari narasi transisi energi yang seringkali hanya dibicarakan di ruang-ruang seminar dan rapat.
Kalau transisi energi hanya berhenti pada data dan kebijakan, maka kisah-kisah seperti milik Pak Supandi, Akbar, atau Sunil mungkin tak akan pernah masuk perhitungan.
Padahal, sejarah sudah berulang kali mengingatkan: ketika manusia serakah dan menjauh dari alam, kerusakan bukan hanya tak terelakkan, tapi diwariskan.
Transisi energi sejatinya adalah soal keberanian menjaga bumi, dan lebih dari itu—soal keberpihakan pada manusia, terutama mereka yang paling terdampak. Karena jika tidak, semua yang kita abaikan hari ini, bisa jadi kutukan untuk masa depan.
Penulis : M. Rifqi
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Sumber Gambar : KJW Kaltim









