KESAH.ID – Jangan sepelekan lemang dalam isu transisi energi. Sebab lemang bukan sekadar makanan tradisional, tapi juga simbol warisan energi lokal yang berkelanjutan. Dibuat dengan cara memanggang beras ketan dalam bambu yang dilapisi daun pisang, proses ini memanfaatkan sumber daya alam tanpa menggunakan peralatan modern yang boros energi. Teknik memasaknya yang turun-temurun menjaga tradisi sekaligus memperkuat hubungan masyarakat dengan alam. Lemang bukan hanya cita rasa khas, tapi juga bukti bahwa kearifan lokal mampu menciptakan pangan yang lezat, efisien, dan ramah lingkungan.
Narasi transisi energi tak mungkin dibendung lagi. Namun transisi energi sejatinya bukan sekadar soal kendaraan listrik yang padat teknologi, investasi hijau dengan infratruktur megah layaknya Ibu Kota Nusantara yang dibangun sebagai Kota Rimba.
Di balik narasi besar transisi energi yang berwatak global, ada nyala kecil yang terus bertahan, pemanfaatan energi terbarukan yang lahir dari tradisi lokal, dari dapur warga biasa.
Di Kota Samarinda, subsistensi energi ini terus menyala dj tangan para perempuan penjaja lemang. Di dapur mereka, kayu bakar bukan sekadar bahan bakar, melainkan bagian dari pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Lemang bukan sekadar makanan, tetapi juga refleksi dari kemandirian energi berbasis lokal.
Lemang memang bukan hanya ditemukan di Samarinda, karena merupakan panganan tradisional yang tersebar luas hampir di seluruh penjuru Indonesia, utamanya di Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Sebutannya beragam, selain dikenal dengan sebutan lemang, ada pula yang menyebutnya sebagai nasi buluh, nasi jaha dan lain-lain. Sebutan boleh beda namun prinsip dasar memasaknya sama, yakni beras ketan dimasak dalam ruas bambu dengan bara api. Teknik memasak ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari identitas kuliner lokal.
Di Kota Samarinda, penjual lemang bisa dijumpai di beberapa tempat. Tapi deret penjual lemang di Jalan Pulau Sebatik terbilang legendaris. Setiap hari sekitar lima hingga enam orang berjualan dari sore hingga menjelang tengah malam. Mereka adalah perempuan yang telah menjalankan usahanya selama berpuluh tahun.
Erna, 54 tahun adalah salah satunya. Setiap sore ia datang dibonceng sepeda motor yang dikendarai oleh suaminya. Bersamanya dibawa serta karung dengan ruas bambu utuh berisi lemang serta bungkusan lain berisi telur asin.
“Kami yang berderet berjualan disini ini adalah keluarga. Mereka sepupu saya. Dan kami tinggal di daerah Gerilya,” ujar Erna.
“Sejak jaman nenek kami sudah berjualan disini,” tambahnya.
Ritual harian Erna sudah tetap. Pagi-pagi sekitar jam sepuluh sudah mulai memasak lemang di dapur rumahnya. Bahan telah dipersiapkan sehari sebelumnya. Bahan berupa beras dan santan kelapa dibeli dari pasar, sementara kayu bakar dikumpulkan dari lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
Erna menyebut kebun belakang rumahnya sebagai hutan.
“Kadang kami beli dari penjual kayu, atau sisa kayu dari bangunan yang dibongkar, itu kami beli juga. Kami nggak kekurangan bahan bakar sejauh ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa batok dan sabut kelapa pun bisa digunakan. “Yang penting bisa menghasilkan bara api.” tambahnya.
Tak ada resep yang disembunyikan oleh Erna. Dia sama sekali tak keberatan berbagi cara memasak lemang yang menurutnya bukan sekadar memasukkan bahan ke dalam bambu lalu membakarnya.
Dari resep turun temurun ada teknik khusus yang diwariskan, yakni eras ketan direndam minimal dua jam sebelum dimasukkan perlahan ke dalam ruas bambu yang telah dilapisi daun pisang. Kadang bambu perlu dihentakkan sedikit agar ketan di dalamnya lebih padat.
Setelah itu, santan dituang hingga hampir memenuhi bambu, lalu ditambahkan garam secukupnya. Bambu berisi adonan lemang kemudian disusun di atas batang besi dan dibakar perlahan di dekat bara api, sambil sesekali dibalik agar matang merata. Seluruh proses ini membutuhkan waktu sekitar dua jam.

BACA JUGA : Mengayun Langkah Menyusuri Gang, Menyelami Geliat Transisi Energi Di Samarinda
Metode memasak ini, meski terbilang sederhana, memiliki kompleksitas tersendiri. Bara api dari kayu menghasilkan cita rasa smoky yang tak bisa ditiru oleh kompor gas atau listrik. Daun pisang yang digunakan pun memiliki lapisan lilin alami yang melepaskan aroma wangi khas saat terkena panas, sekaligus mengandung senyawa polifenol yang bersifat antibakteri dan memperkaya rasa.
Maka saat ditanya apakah lemang bisa dimasak dengan kompor, Erna dengan tegas menjawab “Nggak bisa.”
Jawaban itu bukan sekadar teknis, tetapi juga filosofis. Baginya, memasak lemang dengan kayu bakar adalah bagian dari pengetahuan kolektif yang telah mengakar sejak lama. Sejak neneknya yang bernama Niah. Konon neneknya sudah berjualan emang sebelum Indonesia merdeka.
“Kalau nggak pakai kayu, nggak bisa. Masaknya nggak bisa di kompor. Nggak mungkin bambu dibakar di atas kompor. Pakai dandang pun nggak bisa. Bagaimana naruh bambunya?” tanyanya.
Penggunaan energi biomasa yang dipraktekkan oleh Nenek Niah turun temurun ini lepas dari riuh diskusi tentang transisi energi. Apa yang dilakukan Erna dan saudara-saudaranya lewat keyakinan bahwa kayu adalah energi terbaik untuk membakar lemang luput dari perhatian. Yang sering dipuji justru perusahaan tambang yang kemudian melakukan greenwashing dengan berinvestasi di Hutan Tanaman Energi. Padahal dalam transisi energi sejatinya ada praktek kearifan lokal yang berlangusng terus menerus dalam sunyi. Contoh nyata yang tak pernah diapresiasi.
Erna memilih kayu bakar bukan karena keterbatasan pada energi modern seperti minyak, gas atau listrik, melainkan karena menjaga tradisi, keyakinan bahwa makanan terbaik bisa dihasilkan dengan pilihan energi subsisten, energi yang diperoleh dari lingkungan atau dihasilkan sendiri.
“Kalau memakai gas LPG apalagi yang 3 kilo sering langka dan harganya melonjak-lonjak. Kayu bisa diperoleh gratis, kalaupun harus beli harganya murah. Apalagi kayu bekas juga bisa dipakai,” terangnya.
Erna memang bukan aktivis sehingga tak bisa menarasikan pilihan penggunaan kayu bakar sebagai ketahanan dan kedaulatan energi. Tapi tanpa berorasi, Erna telah mempraktekkan dan menyakini bahwa cara terbaik untuk menghasilkan lemang yang nikmat hanyalah dengan kayu bakar. Lemang bukanlah lemang jika tak dimasak dengan kayu bakar.
Maka ada pelajaran penting dari balik dapur warga Kota Samarinda perihal transisi energi. Transisi energi tidak selalu berarti mengganti seluruh bentuk energi lama dengan yang baru. Keberlanjutan justru terletak pada upaya mempertahankan praktik-praktik yang telah terbukti efektif secara sosial, budaya, dan lingkungan.
Di dapur Erna, energi bukan hanya soal bahan bakar. Ia adalah ruang hidup, tempat bertemunya tradisi, ketahanan pangan, dan kemandirian energi. Bara api yang menyala bukan hanya menghasilkan lemang, tetapi juga menjaga warisan pengetahuan tetap hidup, agar tak padam di tengah arus perubahan jaman.

BACA JUGA : Patah Rekor
Cuaca Kota Samarinda sering kali moody, cepat berubah-ubah. Tatkala langit nampak menggelap karena mendung menggantung, Erna tetap menggelar dagangannya. Dia menyiapkan payung peneduh untuk menaungi etalase kaca sederhana tempat menaruh potongan lemangnya.
“Sedia paung sebelum hujan,” ujarnya sambil tertawa. Telah berjualan selama lebih dari 15 tahun, Erna hafal betul dengan watak cuaca Kota Samarinda. Apapun warna langit tak membuatnya risau.
Dia akan selalu hangat menyambut pembelinya dan tak keberatan untuk melayani perbincangan. Sambil melayani pembeli, Erna terampil memotong-motong lemang, irisannya presisi. Setiap potong lemang dijualnya dengan harga 2.500 rupiah. Lemang akan lebih nikmat disantap dengan telur asin. Erna tidak membuat telur asin sendiri, dia membeli dari agen.
Pola bisnis lemang Erna ini berwatak kolaboratif. Hampir semua bahannya dibeli dari orang lain, termasuk daun pisang untuk alas lemang di dalam bambu. Demikian juga dengan bambunya dan terkadang juga kayunya.
Lewat kuliner, Erna telah mempraktekkan ekonomi sirkular. Mengolah dan meracik bahan alam menjadi panganan yang turut menjaga bumi dengan memakai energi yang bisa diperoleh di lingkungan sendiri, dihasilkan sendiri atau dihasilkan oleh lingkungan tempat tinggalnya.
Tak ada transisi energi untuk Erna, yang ada hanyalah menjaga warisan neneknya agar nyala dan bara penghidupannya tetap berlanjut.
Penulis : Jamiah
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Sumber Gambar : Jamiah








