KESAH.ID – Di tengah riuhnya pembicaraan nasional mengenai transisi energi dan teknologi hijau yang mahal, masyarakat di Desa Muara Pantuan, Delta Mahakam, telah berabad-abad mempraktikkan “energi bersih” dalam bentuk yang paling purba: sinar matahari. Bagi nelayan dan perajin pangan seperti Subandrio, Astia, hingga Hatifah, matahari bukan sekadar benda langit, melainkan “mesin” utama yang mengeringkan udang papai, ikan asin, hingga kerupuk yang menghidupi dapur mereka.
Di Delta Mahakam, di mana air tawar dari Sungai Mahakam bertemu asinnya Selat Makassar, matahari bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga “mesin” utama yang menggerakkan ekonomi desa.
Warga Desa Muara Pantuan telah lama menggantungkan hidupnya pada hasil pesisir dan laut. Hasil tangkapan berupa ikan, kerang, udang, dan lainnya ada yang dijual sebagai bahan makanan segar, namun sebagian lainnya diolah. Mereka menghasilkan kerupuk udang, kerupuk ikan, ikan asin, ebi, dan udang papai kering atau ambaring.
Hasil olahan ini sepenuhnya mengandalkan panas matahari untuk proses produksinya. Energi dari sinar matahari ini merupakan energi esensial bagi warga Muara Pantuan dan desa-desa lain di wilayah Delta Mahakam. Ketergantungan yang demikian besar pada panas mentari ini membuat masyarakat di wilayah Delta Mahakam kini sering berada dalam kondisi yang rentan. Perubahan cuaca membuat musim tak menentu; panas dan hujan sering kali sulit diprediksi lagi. Walau mungkin masyarakat tak akrab dengan istilah pemanasan global atau perubahan iklim, mereka merasakan realitas yang berubah dalam kehidupan di wilayah Delta Mahakam.
Panas dan hujan yang sering berganti dengan cepat membuat proses produksi menjadi lebih panjang. Ketika tiba-tiba panas berubah menjadi hujan, jemuran akan terpapar air sehingga berisiko rusak atau hasilnya tak sempurna.
Subandrio (51) baru saja kembali dari melaut ketika ditemui. Ia pulang dengan tangan kosong; tak seekor pun udang papai dibawanya, padahal ia sudah melaut hingga ke perairan Simpang Pasir. “Padahal saya sudah melaut sampai daerah Simpang Pasir. Bisa jadi karena semalam hujan deras, air jadi payau dan udang papai sulit diperoleh,” ujarnya.
Dengan pengalamannya sebagai nelayan udang selama kurang lebih 25 tahun, Subandrio terbiasa membaca tanda-tanda alam. Ia menjelaskan bagaimana arah angin dan kondisi air sangat menentukan pilihan lokasi tangkapan. “Kalau dilihat dari pergerakan awan, sekarang sedang angin utara. Biasanya kalau angin utara, udang banyak di Muara Iloh, Sungai Banjar, dan Sepatin,” katanya. Di sekitar Muara Pantuan sendiri, udang papai lebih banyak saat musim angin selatan. Namun menurut Subandrio, kondisi saat ini semakin sulit karena angin utara bertepatan dengan air surut. “Kalau air pasang atau nyorong, mungkin masih ada di sekitar sini walaupun angin utara,” tambahnya.
Cuaca tidak hanya memengaruhi tangkapan di laut, melainkan juga ketika udang papai sudah dibawa ke darat. Jika kondisi bersahabat, Subandrio bisa membawa pulang hingga 40 kilogram udang papai basah. Hasil tangkapan itu harus segera dijemur. Waktu yang paling ideal adalah pukul 8 atau 9 pagi. “Tiga jam cukup kalau panasnya pas,” jelas Subandrio.
Selewat waktu itu, panas matahari sudah kurang optimal dan udang sulit kering sempurna. Udang papai yang dijemur ketika masih segar dengan intensitas panas yang tepat akan menghasilkan udang papai kering atau ambaring yang mulus, cerah, dan mengilap. Jika tidak, hasilnya akan terlihat pucat. “Memang harus langsung dijemur. Kami tidak bisa mengawetkan pakai es karena listrik hanya 12 jam di sini,” lanjut Subandrio. Ia pernah mencoba menginapkan udang sebelum dijemur, tetapi hasilnya tidak sebaik ketika langsung dijemur begitu sampai di darat.

BACA JUGA : Firaun Firaun
Bergantung sepenuhnya pada sinar matahari memang menguntungkan karena tidak membutuhkan biaya tambahan, namun akan bermasalah ketika hasil tangkapan melimpah tetapi cuaca tidak mendukung untuk penjemuran. Untuk mengatasi persoalan itu, Subandrio pernah mengembangkan alat pengering sederhana. Ia memakai lembaran seng yang dipanaskan dengan kompor atau kayu bakar. Dengan alat itu, Subandrio berharap bisa mengatasi kendala cuaca.
Namun ternyata pengering buatan itu tidak efektif. “Udangnya jadi matang,” ujarnya singkat. Menurutnya, panas buatan sulit menggantikan karakter panas matahari. “Kami orang laut, tapi matahari masih nomor satu.”
Menurut Subandrio, dalam dua tahun terakhir pola angin dan musim semakin sulit diprediksi. “Dulu musim angin bisa ditebak karena polanya tetap. Sekarang terasa acak,” katanya. Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi lokasi tangkapan, tetapi juga seluruh rangkaian proses produksi yang bergantung pada kondisi alam. Jika cuaca tak menentu, para-para penjemuran di sepanjang jalan kayu ke arah hutan mangrove Desa Muara Pantuan tak akan dihiasi udang papai yang dijemur. Tangkapan udang itu mungkin akan berakhir di pematang empang; dibuang dan menjadi pupuk untuk tanaman yang tumbuh di sana.
Selain membuat rakkang atau alat tangkap kepiting, Astia (46) sehari-harinya juga mengolah sebagian ikan hasil tangkapan suaminya menjadi ikan asin. Jenis ikan yang biasanya dibuat ikan asin antara lain otek, gulama, dan bungo’. Proses pengolahan dimulai dengan membersihkan ikan lalu dicuci menggunakan air laut yang sudah ia tampung sebelumnya di dalam baskom. “Airnya didiamkan dulu supaya bersih buat mencuci ikan,” ujarnya.
Setelah dicuci, ikan dibelah dan diberi garam. Garam menjadi bahan pertama untuk mengawetkan ikan. “Kalau belum ada panas matahari, ikannya bisa awet asal sudah diberi garam. Nanti dijemur kalau sudah ada panas,” katanya. Proses penjemuran sendiri memakan waktu sekitar tiga hari untuk memastikan ikan benar-benar kering dan tahan disimpan lama. Seperti halnya Subandrio, proses produksi ikan asin di rumah Astia sepenuhnya bergantung pada cuaca dan panas matahari. Tanpa panas yang cukup, ikan tidak akan kering sempurna.
Astia tak mengenal istilah energi bersih atau energi kotor, tapi sehari-hari ia mempraktikkan penggunaan energi terbarukan secara langsung. “Panas matahari tidak pakai biaya. Kalau cuaca bagus, ikan asin bisa dibuat banyak,” ujarnya. Sinar matahari menjadikan masyarakat nelayan dan masyarakat pesisir mempunyai daulat energinya sendiri. Tanpa mesin, tanpa bahan bakar, dan tanpa listrik, mereka tetap bisa berproduksi serta melakukan pengeringan ikan dan udang. Selama sinar mentari masih menebar panas, produksi akan terus berlangsung dan dapur tetap bisa mengebul.
Ketika ditanya apakah ikan bisa dikeringkan dengan cara lain, Astia menggelengkan kepala dengan tegas. “Yang ada ikannya jadi matang,” katanya sambil tertawa. Baginya, panas buatan tidak bisa menggantikan karakter panas matahari. “Kalau pakai asap, ikannya akan bau asap,” lanjutnya.

BACA JUGA : Sepatu Lokal
Hatifah (75) turut mewakili suara kaum rentan yang mandiri secara subsisten, namun tetap rapuh menghadapi perubahan iklim karena membuat cuaca tak lagi bisa ditebak melalui pengetahuan tradisional mereka. Ia ingat betul ketika kerupuk yang ia buat terpaksa dibiarkan berlendir. Sehari sebelumnya ia sudah menyiapkan adonan, berharap esok matahari bersinar. Namun, pagi datang dengan guyuran hujan deras. Tak ada panas untuk mengeringkan kerupuk. Ia tetap mencoba menyelamatkannya dengan menjemur di teras rumah, meski warna adonan perlahan menghitam. “Sayang kalau dibuang. Walau akhirnya mungkin cuma dimakan sendiri,” ujarnya. Kerupuk yang seharusnya menjadi sumber penghasilan berubah menjadi beban kerugian.
Hal serupa juga dialami Suri (38) dan Ros (47), pengrajin kerupuk udang dan ikan khas Muara Pantuan yang produknya bahkan sudah dipasarkan hingga Balikpapan dan Samarinda. Dalam kondisi cuaca baik, hampir setiap hari mereka memproduksi kerupuk. Udang dibeli langsung dari nelayan dan petambak agar harga lebih terjangkau. Tetapi ketika mendung datang berhari-hari, produksi terpaksa dihentikan. “Kalau tidak ada panas, kerupuk jadi berlendir. Tidak bisa disimpan lama kalau belum kering,” kata Suri.
Mendung yang berlangsung berminggu-minggu berarti tidak ada pemasukan. Bahan baku yang sudah dibeli berisiko rusak, sementara tenaga yang sudah dikeluarkan terbuang sia-sia. Dalam kondisi seperti itu, mereka harus memutar otak agar dapur tetap berasap. Ketergantungan pada matahari yang selama ini menjadi kekuatan sekaligus menjadi titik rapuh ketika pola cuaca tak lagi menentu.
Ketika ditanya tentang transisi energi, Suri dan Ros tertawa kecil. “Apa itu? Kami tahunya energi matahari buat jemur kerupuk,” ujar mereka. Bagi mereka, energi bukanlah wacana kebijakan atau proyek besar, melainkan panas yang menentukan apakah kerupuk bisa dijual atau tidak.
Sesungguhnya, masyarakat Delta Mahakam telah lama menjadi praktisi energi bersih. Mereka memanfaatkan matahari tanpa mesin, tanpa bahan bakar tambahan, dan tanpa emisi. Produksi pangan rumah tangga berjalan dengan energi terbarukan yang paling sederhana. Namun, kemandirian itu rapuh. Perubahan iklim menghadirkan cuaca yang semakin sulit ditebak. Hujan turun di luar musim, panas datang tak menentu. Ketika alam berubah, tak ada teknologi penyangga yang memadai.
Di sisi lain, mereka mengaku tidak pernah diajak berbicara tentang kebijakan energi atau program transisi energi. Tidak ada sosialisasi, tidak ada diskusi tentang bagaimana perubahan besar di sektor energi bisa menyentuh kebutuhan produksi mereka. “Kami cuma berharap cuaca bagus. Soalnya hidup kami tergantung itu,” ujar Suri.
Di Muara Pantuan, energi surya bukanlah teknologi mahal dalam bentuk panel kaca kebiruan, melainkan panas alami yang diserap oleh para-para dan lantai-lantai jemur. Di balik praktik pemanfaatan energi bersih secara langsung, masyarakat pesisir di Muara Pantuan serta desa dan kelurahan lainnya kerap tercecer dalam diskusi besar tentang transisi energi nasional.
“Orang bicara energi bersih itu sepertinya mahal dan jauh di sana. Padahal, kami sudah pakai energi bersih sejak kakek-nenek kami ada di sini,” kata Subandrio sambil menunjuk ke arah gunungan udang papai yang sudah mengering. Praktik dan pengetahuan lokal memang sering dianggap “primitif” dan tidak masuk dalam hitungan kemajuan ekonomi.
Pemanfaatan matahari di Muara Pantuan adalah bukti bahwa kedaulatan energi bisa dimulai dari tingkat rumah tangga dengan pengetahuan setempat. Udang papai Subandrio, ikan asin Astia, serta kerupuk Hatifah, Suri, dan Ros adalah produk dari “subsistensi energi” yang sudah berjalan berabad-abad—sebuah praktik tanpa emisi karbon.
Namun, keberlanjutan hidup mereka menuntut lebih dari sekadar pengakuan atas pengetahuan lokal. Transisi energi yang berkeadilan harus mampu memperkuat apa yang sudah dimiliki warga, bukan menggantinya dengan teknologi yang justru menciptakan ketergantungan baru.
Saat matahari mulai condong ke ufuk barat di Delta Mahakam, Subandrio mulai mengemasi udang papainya. Ia berharap di masa depan, suara dari muara tidak lagi tenggelam dalam riuh kebijakan energi yang elitis. “Kami tidak butuh istilah-istilah sulit,” tutup Subandrio. “Kami hanya ingin matahari kami tetap bersinar agar hidup kami tidak ikut layu saat mendung tiba.”
Di Muara Pantuan, transisi energi bukan tentang mengganti lampu minyak menjadi bohlam LED atau pengadaan listrik tenaga surya, tetapi tentang bagaimana memastikan panas matahari tetap bisa menghidupi dapur-dapur warga secara adil dan bermartabat.
Penulis : Jamiah
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Gambar : Jamiah








