KESAH.IDMedia sosial kita belakangan ini tak ubahnya panggung penghakiman massal, di mana batas antara kebanggaan pribadi dan blunder publik menjadi sangat tipis. Dari riuhnya penunjukan Sabrang “Noe” Letto sebagai Tenaga Ahli Ketahanan Nasional hingga viralnya “Warga Negara Inggris” ala Mbak Saset, netizen Indonesia seolah selalu punya energi cadangan untuk menguliti setiap jengkal privilege dan pilihan hidup orang lain.

Saat Sabrang Mowo Damar Panuluh—atau yang lebih dikenal sebagai Noe, vokalis Letto—diangkat menjadi Tenaga Ahli Dewan Ketahanan Nasional, dunia maya seketika gempar. Sabrang pun menjadi sasaran nyinyiran netizen.

Kritik tersebut dikaitkan dengan pernyataan ayahnya, Cak Nun, yang sempat menyebut Jokowi sebagai Firaun. “Dulu bapaknya kritis pada pemerintah, sekarang anaknya menjadi bagian dari pemerintah yang sama,” begitu nada umumnya. Namun, ada juga yang meragukan kompetensi Sabrang dalam dunia pertahanan. “Pemusik kok jadi penasihat pertahanan nasional?” banyak netizen bertanya dalam benaknya.

Soal ini, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Sabrang menempuh pendidikan tinggi di Kanada dan mengambil jurusan double degree: Matematika dan Fisika. Nyinyiran berikutnya bersifat menyayangkan; mengapa Sabrang mau menerima jabatan itu. Hanya Sabrang yang tahu jawabannya; kalaupun dia menerangkan, mereka yang tidak suka tetap tidak mau tahu. Pertanyaan balik untuk para penyinyir adalah: “Memang kenapa kalau Sabrang jadi Tenaga Ahli Dewan Ketahanan Nasional?”

Namun, begitulah netizen di Indonesia, segala hal dikomentari. Kebiasaan itu membuat algoritma media sosial di Indonesia cenderung menjadi biner: A atau B. Kecenderungan ini kerap dimanfaatkan oleh mereka yang ingin terkenal; orang sengaja mengunggah konten, status, atau apa pun di media sosial yang punya potensi menimbulkan kehebohan, demi viral, trending, atau masuk FYP.

Tak heran jika setiap hari selalu ada status atau unggahan yang menjadi sasaran perundungan netizen habis-habisan. Padahal niatnya mungkin untuk membanggakan diri, namun netizen justru menganggap kebanggaan tersebut salah sasaran. Bersikap kenes di media sosial memang kerap kali berujung blunder. Seperti Ibu Bhayangkari yang punya kebanggaan berlebihan pada kartu anggotanya, seolah kartu tersebut adalah kartu sakti. Dicegat polisi, Sang Ibu Bhayangkari menunjukkan kartunya, lalu dipersilakan lewat. Padahal setelah ditelusuri, memang tidak perlu ditilang karena kelengkapan kendaraannya lengkap. Jadi, tanpa KTA Bhayangkari pun ia akan tetap dipersilakan meneruskan perjalanan.

Netizen merundung habis-habisan. Sang ibu terpaksa memberikan klarifikasi, dan suaminya yang berprofesi polisi pun akhirnya ikut terseret. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, perilaku itu tergolong lumrah. Seseorang jika dicegat polisi bukannya segera mengeluarkan SIM atau STNK, tetapi malah mengatakan, “Saya wartawan,” atau “Bapak saya polisi.” Yang lebih keren: “Bapak tidak kenal saya, kah?” Dan setelah itu dia ngoceh menceritakan kedekatannya dengan sosok ini dan itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang cenderung mencari privilege. Dan saat mendapatkannya, kita cenderung memamerkannya pada orang lain. Kata anak-anak zaman sekarang, itu namanya validasi.

BACA JUGA : Sepatu Lokal

Dwi Sasetyaningtias tidak salah berbangga hati karena anaknya mendapat paspor WNI—Warga Negara Inggris. Namun, Dwi, yang kemudian disebut Saset dalam unggahan warganet, agak tergelincir ketika kebanggaannya pada WNI tersebut mengusik WNI lainnya. Ya, kebanggaannya soal Warga Negara Inggris menyinggung nasionalisme buta Warga Negara Indonesia.

Bukankah kebanggaan pada hal-hal yang berbau luar negeri, terutama Eropa, Amerika, Australia, bahkan Korea atau Jepang sudah mendarah daging? Mulai dari sepatu; memakai merek Asics, Vans, Nike, Adidas, NB, On Cloud, dan lainnya, membuat gaya langkahnya berbeda dengan ketika memakai sepatu Aerostreet, Kanky, Ortuseight, Ardiles, Patrobas, atau Kodachi. Memakai sepatu brand luar negeri membuat langkah lebih percaya diri. Belum lagi urusan tas, hoodie, kaus, baju, dan celana.

Gawai pun demikian, sampai-sampai ada anak yang dimarahi orang tua karena hasil foto dokumentasi ibu dan teman arisannya kurang estetik. Sang anak segera menjawab, “Lah, HP-nya bukan IP.” Jangankan anaknya jadi Warga Negara Inggris, tinggal di sana saja rasanya sudah ingin dikabarkan kepada orang di seluruh dunia.

Mbak Saset sebenarnya masih cinta Indonesia; buktinya hanya anaknya yang menjadi Warga Negara Inggris. Dia dan suaminya tetap WNI, Warga Negara Indonesia. Normal saja jika anak yang lahir di Inggris punya hak untuk menjadi warga negara di sana; begitu memang aturan di banyak negara. Bahkan ada yang mengizinkan kewarganegaraan ganda. Barangkali kalau Indonesia punya kebijakan itu, anak Mbak Saset mungkin akan punya dua paspor. Namun, Indonesia tidak mengakui kewarganegaraan ganda; harus pilih salah satu, tidak seperti beberapa negara Asia lainnya.

Masalah Mbak Saset sebenarnya bukan soal bangga pada anaknya yang punya paspor Inggris, tapi soal lain: beasiswa LPDP. Unggahannya membuka luka lama; kasus banyaknya penerima beasiswa LPDP yang ingkar janji dan tidak kembali ke Indonesia. Itu yang menjadi bensin bagi warganet untuk merundung Mbak Saset hingga dianggap sebagai kacang yang lupa kulitnya.

Lebih-lebih, Mbak Saset menggambarkan masa hidupnya di Indonesia sebagai orang susah. Dia tidak ingin anaknya ikut susah, dan Inggris adalah harapan. Dalam salah satu unggahan yang lain, dia mengkritik MBG (Makan Bergizi Gratis). Padahal di Inggris, pelajar digratiskan segalanya; sampai penghapus dan penggaris saja diberikan oleh sekolah.

Warganet Indonesia itu punya bakat intelijen sehebat agen Mossad. Kata kunci yang disampaikan seseorang akan dikulik habis-habisan. Terbukti, Mbak Saset bukan anak orang susah. Kalaupun tidak kaya raya, yang pasti hidupnya tidak berkekurangan. Mbak Saset termasuk golongan anak yang punya privilege sejak bocah.

Hal ini jelas menghina kaum miskin papa di Indonesia. Banyak orang Indonesia yang satu-satunya asetnya adalah kemiskinan; dan kemiskinan itulah yang dijadikan motivasi untuk mengubah hidup. Satu-satunya aset itu sering kali diklaim oleh orang-orang yang ‘sukses’ dengan mengaku-aku miskin sejak kecil lalu bekerja keras hingga kaya raya. Banyak orang ingin disebut perintis, padahal pewaris.

Mbak Saset pun terjepit karena ramai perbincangan tentangnya sampai ke telinga Menteri Keuangan. Sang Menteri, yang juga sedang terjepit karena berbagai pernyataan kontroversial, memiliki jeda. Dia punya kesempatan mengalihkan serangan ke Mbak Saset. Langkah untuk meminta suami Mbak Saset mengembalikan dana LPDP bisa diterima, tetapi dengan bunganya mungkin perlu dilihat lagi. Benarkah aturannya demikian?

Walau dikenal ucapannya sering lebay, ancaman Menteri Keuangan untuk mem-blacklist Mbak Saset jelas berlebihan. Sesalah apa pun, tugas negara adalah melindungi warganya. Kalau di-blacklist total, Mbak Saset bisa stateless; dia orang Indonesia, masa dilarang pulang kembali ke Indonesia?

BACA JUGA : Kedaulatan Di Bawah Terik Delta Mahakam – Saat Matahari Menghidupi Dapur Muara Pantuan

Mengapa Tiongkok dengan cepat maju ketika terjadi reformasi, mengubah orientasi dari pertanian ke industri massal yang berorientasi ekspor? Tiongkok punya jejaring di seluruh dunia; jejaring yang tidak dibangun oleh kelompok industri, melainkan warga keturunan Tiongkok yang bermigrasi sejak zaman sebelum Perang Dunia.

Di hampir seluruh penjuru dunia ada Chinatown; bukan hanya permukiman, melainkan kota yang isinya keturunan Tiongkok. Di Indonesia sebutannya Pecinan. Mereka sudah menjadi warga negara lain, bahkan sudah sampai beberapa turunan, tetapi tetap punya ikatan ke Tiongkok. Merekalah yang menjadi agen dan rantai pasok untuk barang-barang dari Tiongkok yang masuk ke negara tersebut.

Orang Indonesia kini sudah mulai menyebar ke berbagai negara; sebagian tidak ingin pulang lagi. Sebagian lagi, karena kelahiran, punya hak untuk menjadi warga negara di sana. Biarkan saja, karena di masa depan mereka bisa menjadi titik-titik yang mudah dihubungkan untuk membangun jejaring Indonesia. Sebagai warga negara lain, mereka tetap bisa berkontribusi untuk Indonesia. Apalagi jika salah satu atau salah dua di antara mereka bisa menjadi pemimpin di negara-negara itu; hubungan dengan Indonesia akan lebih mudah direkatkan karena ikatan keturunan.

Indonesia tidak akan merasa kehilangan kalau ada warganya yang berganti kewarganegaraan. Yang kehilangan adalah orang tuanya. Jadi, Mbak Saset sebenarnya berkorban, merelakan anaknya menjadi Warga Negara Inggris, sementara dirinya tetap menjadi WNI. Apalagi yang berganti kewarganegaraan adalah anak-anak yang lahir di sana; Indonesia sama sekali tidak mengenali mereka, jadi tidak ada ruginya.

Lagipula kita bisa dapat ganti, misalnya dengan menaturalisasi warga negeri lain seperti WNB (Warga Negeri Belanda) untuk menjadi pemain sepak bola nasional. Naturalisasi bisa saja diperluas dengan menawarkan kewarganegaraan untuk ilmuwan dan orang berprestasi lainnya yang jarang di Indonesia.

Kini banyak orang Indonesia yang tinggal di Jepang, di desa dan kecamatan. Siapa tahu mereka beranak-pinak di sana, hingga kemudian sebagian besar warga Jepang adalah keturunan Indonesia. Kita tidak perlu menjajah Jepang, tetapi berhasil mendudukinya. Di Tiongkok juga banyak warganya yang “berbau” Indonesia; masih bisa berbahasa Indonesia dan doyan makanan Indonesia. Mereka ini bisa menjadi bagian dari diplomasi kebudayaan Indonesia; diplomasi yang terbukti punya kontribusi ekonomi besar, seperti yang dilakukan oleh Korea dengan K-Popnya atau Jepang dengan Harajuku, Manga, J-Pop, dan lainnya.

Jadi, urusan Mbak Saset ini tidak perlu dipanjang-panjangkan. Soal kepleset lidah, atau ingin menunjukkan kebanggaan namun caranya kurang tepat, itu adalah hal biasa yang kita temui sehari-hari. Hanya saja, pasti banyak orang terbantu dengan kehebohan Mbak Saset, karena keriuhan soal WNI vs WNI ini membuat beberapa hal yang seharusnya menghebohkan menjadi tidak muncul di permukaan. Heboh selalu diperlukan, karena bisa menutupi kehebohan lainnya.

Karena kehebohan Mbak Saset, heboh perjanjian dagang dengan Amerika Serikat kemudian tidak dikulik habis hingga detail-detailnya yang sebenarnya sangat menghina bangsa dan negara Indonesia. Kalau dibaca sungguh-sungguh, negeri ini sudah “digadaikan” ke Donald Trump.

note : sumber gambar – SAPOS