KESAH.ID – Sepatu bukan lagi soal alas kaki, tapi soal posisi. Saat merek dunia menjadi tiket kepercayaan diri, produk lokal sering kali hanya jadi pengisi sunyi. Di antara derit sol karet, kita sebenarnya sedang bertaruh harga diri: apakah langkah kita ditentukan oleh kualitas, atau sekadar label yang dipuja demi validasi?
Cibaduyut—nama daerah ini identik dengan sepatu, sebagaimana Pathuk yang lekat dengan bakpia. Semua bermula pada tahun 1920-an, ketika sebagian warga Cibaduyut bekerja di pabrik sepatu milik Belanda di Bandung. Ketekunan membuat mereka menguasai keterampilan membuat sepatu. Setelah merasa cukup berdaya, mereka kembali ke Cibaduyut dan mulai memproduksi sepatu sendiri di rumah masing-masing.
Usaha rumahan ini berkembang pesat; keterampilannya ditularkan kepada sanak saudara dan tetangga yang turut direkrut. Desa di Bandung Selatan ini kemudian tumbuh menjadi sentra industri sepatu nasional. Di era 1980-an, Cibaduyut mengalami masa keemasan dengan dukungan penuh Presiden Soeharto. Wilayah ini diresmikan sebagai sentra industri yang ditandai dengan Patung Sepatu ikonik. Dikenal karena ketahanan kulitnya, nama Cibaduyut pun menginternasional. Banyak merek global memesan sepatu dari sana untuk dilabeli merek mereka sendiri, atau yang dikenal dengan sistem maklon.
Namun, seiring perkembangan pasar bebas, produk Cibaduyut yang dikerjakan manual (handmade) mulai keteteran. Harganya menjadi lebih mahal dan waktu produksinya jauh lebih panjang. Serbuan sepatu sejenis dari sistem fabrikasi membuat kuantitas produksi Cibaduyut kalah telak. Pamornya kian menurun karena kelemahan dalam aspek branding dan pemasaran. Karena semula dibangun sebagai kerajinan komunal yang hanya melayani pesanan, ketika orientasi pembeli beralih pada kekuatan merek, sepatu Cibaduyut yang berkualitas pun menjadi kurang dikenal.
Masalah regenerasi turut memperparah keadaan. Anak-anak muda Cibaduyut kini lebih memilih pekerjaan kantoran yang dianggap lebih mapan. Pekerjaan membuat sepatu di mata generasi muda dianggap kurang bergengsi dengan penghasilan yang tak menentu. Kini, meski Cibaduyut masih dipenuhi gerai sepatu, produk yang dijual sudah campuran. Banyak barang yang dipajang sebenarnya adalah produk impor dari Tiongkok, Thailand, atau Vietnam. Identitasnya sebagai sentra pengrajin perlahan luntur.
Ironisnya, saat nama Cibaduyut memudar, Indonesia—khususnya Bandung—tetap dikenal sebagai produsen sepatu besar di mata dunia. Namun, sepatu-sepatu berkualitas tinggi itu dibuat untuk merek global seperti Nike, Adidas, Puma, Lotto, hingga Onitsuka. Di sisi lain, brand lokal yang muncul saat itu umumnya menyasar segmen ekonomi bawah, mengedepankan harga murah dengan mutu yang tidak stabil. Modelnya pun monoton dan tak jarang meniru mentah-mentah produk ternama.
Sepatu lokal sempat tidak menjadi bahan perbincangan. Orang membelinya karena terpaksa lantaran dana tak cukup untuk membeli merek orisinal. Kualitasnya pun meragukan; cepat rusak dan tidak nyaman dipakai. Industri lokal saat itu memang terkendala dalam hal quality control serta riset dan pengembangan (product development). Sementara itu, merek luar negeri terus berinovasi dengan teknologi pada bagian sole, midsole, hingga outsole. Kesan mahal, nyaman, dan bergaya membuat produk luar menjadi primadona.
Kondisi ini memicu produsen lokal untuk meniru, hingga lahirlah fenomena sepatu KW. Mereka yang ingin bergaya dengan dompet tipis kemudian memilih sepatu yang diiklankan sebagai “tidak lolos QC pabrik”—produk dengan cacat minor yang mungkin tak kasat mata bagi orang awam. Kegilaan terhadap merek luar negeri kian melonjak saat era thrifting tiba. Sepatu bekas merek ternama yang diimpor dari luar negeri membanjiri pasar dari Sabang sampai Merauke.
BACA JUGA : 8,5 Milyard
Posisi sepatu Indonesia pun sempat berada di titik memprihatinkan. Di toko-toko, mereka sering diletakkan di rak paling belakang atau paling bawah tanpa sorotan lampu. Sepatu Indonesia dianggap sepatu murahan, paling banter hanya dianggap cocok sebagai sepatu sekolah atau seragam kantor. Padahal, sekali lagi, Indonesia adalah “Dapur Sepatu Global” yang memproduksi jutaan pasang alas kaki berkualitas internasional untuk pasar dunia.
Namun, sepuluh tahun terakhir, sepatu Indonesia bangkit. Momentum ini bukan dipelopori oleh para industriawan tua, melainkan oleh anak-anak muda yang memadukan kualitas teknik dengan manajemen merek modern serta narasi digital yang kuat. Perlahan, sepatu lokal mulai menarik perhatian; kategori sepatu harian dan olahraga lokal mulai dikenal luas. Anak muda mulai menjatuhkan pilihan pada produk lokal bukan karena keterbatasan dana, melainkan karena rasa suka.
Compass, melalui proses rebranding, sukses memicu histeria massal. Pembelinya rela antre panjang dan banyak yang kecewa karena kehabisan stok. Harga sepatunya di pasar sekunder pun digoreng sedemikian rupa, menyerupai fenomena merek global. Geliat Compass diikuti produsen lain seperti Ventella. Di kelas olahraga, Ortuseight dengan teknologi Quick-Fit-nya naik daun, sementara Mills berani tampil sebagai sponsor tim nasional. Saat pandemi, Aero Street yang semula dikenal sebagai produsen sepatu sekolah mengubah haluan dengan memproduksi sepatu massal berkualitas namun tetap terjangkau.
Produsen lama seperti Ardiles dan Specs tak mau ketinggalan. Mereka mengikuti tren dan mengubah stigma lama agar lebih relevan dengan perkembangan zaman. Sepatu lokal mulai berani mengeluarkan edisi khusus hasil kolaborasi yang kini diburu untuk koleksi. Merek baru seperti Kanky mencuri perhatian lewat desain dan pemasaran yang segar. Iklan dibuat serius dengan menggandeng figur publik untuk memperkuat positioning. Hadir dengan fitur teknis kompetitif—seperti bantalan empuk, outsole dengan daya cengkeram stabil, serta badan sepatu yang breathable—sepatu lokal kini menjadi pilihan yang sangat relevan.
Orientasi pada merek mulai bergeser; pembeli kini lebih mementingkan kenyamanan dan desain. Model pemasaran modern melalui pasar digital dan tribal marketing turut menjadi bahan bakar pertumbuhan. Beberapa merek lokal pun tumbuh menjadi ikon budaya populer yang menciptakan kedekatan emosional. Memakai sepatu lokal di pusat keramaian kini justru menambah rasa percaya diri. Local Pride bukan lagi sekadar slogan, melainkan pernyataan identitas dan kebanggaan atas karya bangsa sendiri.
Munculnya kanal-kanal ulasan (review) sepatu lokal yang jujur turut menjadi pendidik bagi konsumen. Suara para reviewer ini didengarkan baik oleh pembeli maupun produsen. Hubungan antara pengulas, produsen, dan desainer kini nampak sangat mesra, mirip dengan dinamika di dunia otomotif dan gawai.
BACA JUGA : Firaun Firaun
Kini sepatu lokal berada di atas angin. Brand lama seperti Patrobas dan Kodachi pun turut bangkit. Tokoh publik semakin sering terlihat memakai sepatu lokal, membuat slogan “Just Do It” milik Nike perlahan memudar dari benak konsumen. Kualitas sepatu lokal, mulai dari kategori lari, sneakers harian, hingga sepatu trail, tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Beberapa merek bahkan sudah berekspansi menjadi merek gaya hidup dengan mengeluarkan lini pakaian (apparel).
Walau begitu, masih ada “kerikil tajam” yang harus dilalui, terutama bagi produsen yang bukan berlatar belakang industri mapan. Tantangan utama tetap pada konsistensi kualitas melalui quality control yang ketat. Sebagian besar produsen lokal juga belum memiliki laboratorium riset pengembangan yang mandiri; desain dan materialnya terkadang masih mengekor model global yang sedang populer.
Tantangan besar lainnya datang dari Tiongkok. Industri sepatu di sana berkembang bak badai dan mulai menyasar produk gaya hidup. Sepatu Tiongkok kini tak bisa diremehkan; berbeda dengan 20 tahun lalu, kini mereka memadukan harga murah dengan kualitas dan teknologi yang mumpuni. Dengan tradisi fabrikasi yang sangat mapan, mereka siap membanjiri dunia. Dibandingkan produk Amerika atau Eropa, sepatu Tiongkok menawarkan nilai lebih dengan harga yang jauh lebih masuk akal.
Dengan basis penduduk terbesar, produk Tiongkok telah teruji di pasar domestik mereka sendiri. Model yang diterima di sana kemungkinan besar akan populer saat diekspor. Oleh karena itu, sepatu lokal Indonesia tidak boleh hanya puas meningkatkan mutu. Kita harus mulai memperluas orientasi. Jangan hanya ingin merebut hati masyarakat dalam negeri, tetapi mulailah melirik pasar regional, minimal di Asia Tenggara yang memiliki kemiripan selera anatomi kaki.
Apa yang disukai di Indonesia, kemungkinan besar akan diterima di Malaysia, Filipina, Timor Leste, Kamboja, Vietnam, Brunei, hingga Singapura. Dengan orientasi ekspor ini, sepatu lokal Indonesia secara perlahan belajar untuk benar-benar menjadi brand global.
note : sumber gambar – KANKY








