KESAH.ID – Istilah Firaun telah lama bergeser dari sekadar gelar raja Mesir Kuno menjadi label politik yang penuh muatan stigma. Di Indonesia, ia dipanggil pulang dari lipatan sejarah bukan untuk dikagumi piramidanya, melainkan untuk menguji kadar kekuasaan: apakah ia membebaskan seperti nabi, atau justru menindas layaknya tiran. Dari narasi kitab suci hingga sindiran di media sosial, mari kita bedah bagaimana bayang-bayang “sang penuhan diri” ini masih terus menghantui komunikasi publik kita hari ini
Firaun sebenarnya merupakan sebutan generik atau gelar untuk Raja Mesir sebelum era Yunani, Romawi, dan seterusnya. Maka Firaun tidak merujuk ke nama orang, dan sepanjang kerajaan Mesir eksis, sejarah mencatat adanya ratusan Firaun. Secara etimologis, Firaun atau Pharaoh berasal dari kata per-aa yang berarti “Rumah Besar” atau istana. Jadi, ia merujuk pada gedung, bukan orangnya.
Penguasa Mesir mulai disebut Firaun oleh rakyatnya sejak Dinasti ke-18, atau sekitar 1500 tahun Sebelum Masehi. Beberapa Firaun yang terkenal antara lain Khufu yang membangun Piramida Agung Giza; Thutmose III yang dikenal sebagai “Napoleon dari Mesir” karena ekspansi militernya; serta Akhenaten yang dikenal karena mengubah kepercayaan dari politeis ke monoteis dengan menyembah Aten. Sedangkan Tutankhamun dikenal karena makamnya ditemukan masih dalam kondisi utuh. Lalu ada Ramses II yang dianggap sebagai Firaun terkuat dan terbesar secara politik. Terakhir Cleopatra VII, pemimpin Mesir terakhir sebelum menjadi provinsi Romawi.
Sebagai tanah kelahiran nabi-nabi, Mesir dan para Firaunnya kerap disebut dalam kitab suci agama-agama Samawi atau agama Abrahamik. Penggambaran pada umumnya buruk, sehingga bagi kebanyakan pengikut agama Samawi sampai hari ini, citra atau sebutan Firaun adalah negatif. Bisa dipahami karena para Firaun ini digambarkan sebagai sosok yang menuhankan dirinya. Meminta diakui sebagai tuhan, dan yang tidak mengakui akan disiksa atau dibunuh. Dalam ajaran agama Samawi, dosa terbesar adalah menganggap dirinya tuhan, menyebut dirinya tuhan, menuhankan diri, atau menuhankan selain Tuhan.
Masih ada daftar panjang kejahatan atau kekejaman para Firaun yang dicatat dalam berbagai kitab suci agama Samawi. Meski begitu, tetap ada pengecualian; mungkin ada satu atau dua penguasa Mesir yang disebut sebagai Firaun itu bertindak baik. Dalam Alkitab, ada kisah Firaun baik yang hidup di era Nabi Yusuf. Suatu hari, dalam tidurnya, sang Firaun bermimpi melihat tujuh ekor lembu yang kurus memakan tujuh lembu gemuk. Di mimpi yang lain, dia juga melihat tujuh bulir gandum kurus dan layu menelan tujuh bulir gandum yang bernas dan berisi.
Seorang pemuda Ibrani bernama Yusuf menafsirkan mimpi sang raja bahwa akan datang tujuh tahun kelimpahan dan tujuh tahun pula kelaparan. Yusuf menyarankan agar selama tujuh tahun masa kelimpahan, Firaun menimbun gandum sebagai persediaan pangan untuk waktu tujuh tahun kelaparan yang bakal melanda negeri itu.
Kisah ini dikutip dalam tajuk Media Indonesia oleh Elman Saragih pada 23 Maret 1990. Firaun yang kemudian menimbun gandum dianalogikan sebagai antisipasi dan kemudian dilabelkan pada Presiden Soeharto yang dianggap melakukan hal yang sama untuk menghadapi potensi kemarau panjang pada tahun itu. Soeharto, antara lain, menginstruksikan Bulog dan kalangan perbankan agar melakukan persiapan, terutama untuk kelancaran kredit pengadaan pangan.
Meski tajuk itu bernada pujian buat Soeharto, namun tulisan Elman Saragih itu menggegerkan Indonesia. Masalahnya, dalam benak kebanyakan orang Indonesia, Firaun itu tokoh jahat. Pada masa itu media diawasi oleh Departemen Penerangan dan harus mendapat SIUPP. Peringatan keras diberikan kepada Media Indonesia; Elman Saragih diberi sanksi lalu dimutasi ke Medan.
Pengibaratan Soeharto sebagai Firaun dalam konotasi negatif muncul ketika Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengumumkan pemerintah akan memberi gelar Pahlawan pada Presiden Soeharto dan Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2015. Roy Murtadho, seorang penulis dan aktivis Islam lingkungan, menentang rencana tersebut. Keberatannya disampaikan melalui sebuah artikel berjudul “Mempahlawankan Soeharto, Mempahlawankan Firaun” yang dimuat di Indoprogress.
BACA JUGA : Jangan Bohong
Predikat Firaun dalam konotasi yang negatif juga dialamatkan kepada Presiden Joko Widodo. Amien Rais, seorang tokoh reformasi yang kemudian menjadi Ketua MPR, pernah menganalogikan pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan kisah Firaun. Demikian juga Abdullah Hehamahua, aktivis dan politikus Islam yang pernah menjadi penasihat KPK. Ia mengibaratkan pertemuan tim yang dipimpinnya, yakni Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan Laskar, dengan Presiden Joko Widodo di istana seperti peristiwa Nabi Musa mendatangi Firaun.
Yang paling menghebohkan adalah ketika Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menjadi sorotan publik karena secara lugas menyebut Jokowi sebagai Firaun. Ucapannya menjadi trending topic di media sosial. Karena disorot oleh publik, Cak Nun kemudian mengklarifikasi dengan mengatakan ucapan itu tidak direncanakan olehnya; dia menyebut dirinya “kesambet”.
Ucapan Cak Nun ini kembali diungkit-ungkit ketika Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang dikenal sebagai Noe Letto, resmi dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional (Wannas) oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada 15 Januari 2026. Netizen yang cakap menuliskan ucapan mulut tanpa filter segera menghambur komentar. Salah satu yang menohok: “Bapaknya menyebut presiden sebagai Firaun, anaknya menjadi bagian dari pemerintahan anak Firaun.”
Netizen Indonesia memang pandai merangkai status dengan model othak-athik gathuk. Hal yang tak berhubungan dihubung-hubungkan dengan manis sehingga ditanggapi oleh yang lain dengan jempol atau ucapan “Masyookkkk Pak Eko!”
Entahlah ada yang berani menyamakan Presiden Prabowo dengan Firaun atau tidak. Kita tunggu saja, karena sudah ada yang berani mengatakan pemerintahan Prabowo dan Gibran sebagai pemerintahan yang bodoh seperti yang dituliskan oleh Ketua BEM UGM.
Memang agak sulit untuk memberi penilaian objektif pada pemimpin sepanjang sejarah kepemimpinan yang terlembagakan ini. Pemimpin egaliter kemungkinan besar hanya ditemui di zaman keturunan Homo sapiens masih berupa gerombolan. Yang menjadi pemimpin waktu itu kemungkinan besar yang terkuat, terpintar, dan “ter-ter” lainnya, karena individu-individu dalam gerombolan mempunyai kemampuan yang rata-rata sama.
Lain halnya setelah zaman revolusi pertanian. Pemimpin sering digambarkan sebagai yang terpintar memanipulasi; kekuatannya didukung oleh gerombolan pengawal yang kelak akan disebut prajurit, tentara, polisi, dan kekuatan laskar lainnya. Tapi menilai kepemimpinan yang sudah beribu tahun lalu lampau dengan standar kepemimpinan zaman ini tentu tidak adil; norma, nilai, moralitas, dan etikanya sudah jauh berbeda.
Yang dianggap kekejaman atau kezaliman di masa sekarang, mungkin memang diperlukan di masa lalu. Bisa jadi dahulu ada raja yang dikenal kejam karena selalu membunuh rakyatnya yang cacat atau tubuhnya tak sempurna. Mungkin waktu itu kecacatan dianggap sebagai kutukan. Atau di masa itu sering terjadi peperangan; mereka yang cacat atau lemah tidak akan bisa bergerak cepat dan akan menjadi beban. Maka lebih baik mereka dibunuh daripada membuat banyak orang lain terbunuh.
Di zaman ini mungkin tidak ada lagi pemimpin yang dianggap kejam karena membunuhi rakyatnya, tapi tetap saja banyak pemimpin yang dianggap lebih kejam daripada pembunuh, karena kebijakan pemimpin sering bisa membunuh rakyatnya pelan-pelan. Seperti kata Ketua BEM UGM yang menyebut MBG sebagai Maling Berkedok Gizi.
BACA JUGA : 8,5 Milyard
Ada binatang yang cara majunya mundur namanya undur-undur. Binatang ini sering dijadikan sebagai sebuah inspirasi: mundur untuk maju, refleksi, retreat, atau monitoring evaluasi. Tapi mundur terlalu jauh untuk menilai kondisi terkini tentu tidak dianjurkan. Zaman para Firaun sudah begitu jauh; melewati angka 100 tahun saja bedanya sudah bumi dan langit.
Sekejam-kejamnya para Firaun dalam bayangan atau persepsi kita para pengikut Abraham, toh harus diakui kalau Mesir adalah Tanah Para Nabi. Alkitab mencatat Mesir sebagai tempat tinggal dan dakwah para nabi besar. Mesir juga mempunyai tempat-tempat suci, seperti Bukit Sinai tempat Musa berdialog langsung dengan Tuhan Allah, peristiwa yang diabadikan dalam semua kitab Samawi sebagai momen paling sakral.
Mesir juga dipilih oleh Keluarga Kudus—Yesus, Maria, Yusuf—sebagai tempat pelarian dari pengejaran Herodes; jejak perjalanan keluarga kudus ini kini menjadi rute ziarah penting di Mesir. Mesir dalam kitab suci agama Samawi menjadi laboratorium di mana konsep Keesaan Tuhan berbenturan dengan konsep penuhanan diri pada pemimpinnya. Mesir menjadi penanda penting perkembangan Tuhan dari yang banyak menjadi Esa.
Yang jarang disebut soal Mesir justru “Revolusi Mesir”, saat raja terakhir yakni Raja Farouk digulingkan karena rakyat marah. Rakyat Mesir marah kepada raja karena diam saja melihat negara Israel berdiri di tanah Palestina. Bukan hanya itu, tanah Mesir juga ikut diduduki; Semenanjung Sinai direbut oleh Israel. Raja Farouk konon memang tidak memikirkan apa-apa; yang ada dalam otaknya hanya wanita, minuman, dan makan enak. Sang Raja hanya doyan makanan Prancis. Namun ketika digulingkan, Sang Raja lari ke Italia; di sana kegemarannya tak berubah, tetap saja doyan mengoleksi wanita, termasuk salah satunya Miss Italia.
Gamal Abdul Nasser yang waktu itu masih berpangkat Letnan Kolonel berhasil mengusir Raja Farouk. Gamal kemudian menjadi presiden. Gamal berhasil mengubah Sungai Nil menjadi seperti gambaran di Kitab Suci; bantaran Sungai Nil tidak lagi banjir karena luapannya ditahan oleh Bendungan Aswan. Uang untuk pembangunannya diambil dari Terusan Suez. Terusan yang dibangun dan dikuasai oleh Prancis dinasionalisasi.
Wilayah yang dulunya merupakan tanah bencana abadi berhasil disulap menjadi lahan pertanian. Mesir menjadi pengekspor kurma, jeruk, dan sayur. Gamal Abdul Nasser kemudian menjadi “Firaun” terbaik Mesir. Ketika kalah dalam Perang 6 Hari, Gamal berniat mundur sebagai Presiden Mesir, namun rakyat menolak.
Gamal meninggalkan jejak ekonomi dalam bentuk bendungan dan terusan, sementara Firaun-Firaun lainnya meninggalkan jejak objek pariwisata dan cerita yang terus mendatangkan cuan untuk Mesir. Sedangkan “Firaun Indonesia” meninggalkan keriuhan terus-menerus di media sosial.
note : sumber gambar – GEMINI








