KESAH.ID –
Selain “Jangan Buang Sampah Sembarangan”, nasihat lain yang sulit dipatuhi oleh masyarakat Indonesia adalah “Jangan Berbohong”. Nasihat ini sudah setua umur bangsa Indonesia, mulai dari era penjajahan Portugis, Inggris, dan Belanda—mungkin Prancis juga—sampai hampir mencapai tahun emas, seratus tahun kemerdekaan.
Soal “Jangan Buang Sampah Sembarangan”, mungkin ada banyak alasannya. Namun, alasan yang paling utama adalah masyarakat Indonesia kurang menghargai sampah, sehingga dibuang sembarangan. Sementara itu, soal menaati nasihat “Jangan Berbohong”, ini jelas jauh lebih sulit karena seolah melawan kodrat.
Jangan dulu marah-marah; yang dikodratkan suka berbohong itu bukan hanya orang Indonesia, tapi manusia di seluruh dunia memang doyan berbohong. Bahkan menurut para evolusionis, kebohongan merupakan salah satu faktor kunci sehingga umat manusia tidak punah dan mampu membangun peradaban.
Bohong dalam pengertian para evolusionis artinya tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Para evolusionis ini bahkan lebih ekstrem lagi dengan mengatakan bahwa keterampilan pertama yang dipelajari oleh manusia adalah berbohong. Kok bisa-bisanya mereka punya kesimpulan seperti itu?
Menurut ceritanya, 70.000 tahun yang lalu, nenek moyang manusia saat ini atau Homo sapiens mengalami revolusi kognitif karena kemampuan berbahasa. Kemampuan ini diperoleh manusia setelah mampu menjinakkan atau menguasai api. Dengan api, kelompok manusia tidak lagi menjadi makhluk medioker dalam rantai makanan. Melalui api, manusia kemudian ditakuti oleh hewan-hewan besar lainnya.
Karena api, metabolisme manusia menjadi lebih baik; mencerna makanan tidak lagi menguras energi secara berlebihan. Makanan yang dimasak selain lebih mudah dicerna juga makin enak. Hasilnya, manusia mempunyai banyak energi tersisa. Dan dengan api, malam menjadi lebih panjang; mereka bisa duduk melingkar di sekeliling api. Di situlah bahasa berkembang. Yang tua menceritakan pengalamannya dan yang muda bertanya-tanya.
Sistem pengetahuan waktu itu belum terbentuk; pengetahuan ada dalam diri masing-masing. Keberadaan buku untuk merangkum pengetahuan masih sangat jauh, sekolah belum terpikirkan, apalagi laboratorium. Sistem pengetahuan pertama dari nenek moyang Homo sapiens adalah cerita atau fiksi.
Kemampuan membuat cerita inilah yang membuat kelompok manusia melepaskan diri dari dunia ‘kebinatangan’. Manusia, yang termasuk dalam kingdom Animalia, kemudian berbeda dengan binatang pada umumnya yang masih berkomunikasi hanya dengan sinyal atau tanda.
Sinyal komunikasi binatang sangat sederhana, meliputi visual seperti warna, gerak tubuh, dan ekspresi. Ada juga sinyal kimia melalui bau feromon, atau sinyal suara seperti kicauan dan raungan. Isyarat juga ditunjukkan lewat sentuhan seperti jilatan dan endusan. Bahkan, ada sinyal berupa listrik atau seismik seperti pada ikan dan serangga tertentu.
BACA JUGA : Putih Mematikan
Karena berkomunikasi dengan isyarat terbatas, binatang mengalami banyak hambatan. Komunikasi mereka menjadi tidak fleksibel dan kurang kreatif. Kelemahan lain dari isyarat adalah butuh konteks situasi tertentu agar dipahami; binatang menjadi kurang imajinatif dan tidak punya daya abstraksi.
Sinyal binatang juga rentan terhadap gangguan atau “sinyal palsu”. Mereka mudah terdistraksi atau malah memancing bahaya. Binatang yang mengirim sinyal bahaya dengan warna mencolok, misalnya, justru akan mudah terlihat oleh predator. Suara bisa ditelan bising lingkungan, dan bau urine sebagai penanda wilayah bisa hilang karena hujan.
Kelemahan lain adalah komunikasi binatang bersifat reaktif, bukan informatif secara utuh. Tidak ada pikiran kompleks yang disampaikan, sehingga binatang tidak mengembangkan cara berpikir dalam komunikasinya. Secara evolutif, beberapa jenis binatang mungkin mempunyai “kata”, namun belum cukup untuk menyusun kalimat. Kosakata mereka terbatas pada perintah dasar seperti “Awas musuh!” atau “Ayo lari!”.
Dengan kosakata yang terbatas, binatang belum mampu menciptakan peradaban. Apakah ini berarti binatang tidak cerdas? Tidak juga. Banyak binatang mempunyai kecerdasan untuk mencegah kepunahan spesiesnya. Dalam konteks ini, kecoak adalah salah satu spesies tercerdas.
Lalu bagaimana dengan binatang yang bisa berperilaku seperti manusia? Itu bukan peradaban, melainkan kemampuan merasakan dan meniru (sensing). Hal ini terutama berlaku untuk binatang yang sudah terdomestikasi. Walau begitu, sering terjadi anomali pada binatang liar yang tampak “jinak” pada orang tertentu. Hati-hati, meski jinak pada satu orang, binatang tersebut tetaplah liar bagi orang lain. Jadi, jangan sok akrab.
Film fiksi sering menampilkan binatang yang punya peradaban layaknya manusia. Sebagai tontonan itu menarik, tapi jangan khawatir kita akan disaingi oleh primata besar seperti gorila atau simpanse. Kita baru boleh khawatir jika para primata ini mulai bisa membuat api unggun, duduk melingkar, dan mulai menciptakan legenda atau mitologi mereka sendiri. Selama api belum mereka kuasai, kelakuan mereka belumlah mencapai level “kemanusiaan”.
BACA JUGA : Perang Dagang
Sejarah panjang evolusi jika diringkas menghasilkan kesimpulan: binatang bertahan hidup dengan cara mengelabui, sementara manusia berkembang secara revolusioner karena pandai menciptakan fiksi. Kemampuan menciptakan fiksi ini terekam jelas dalam kesukaan manusia pada metode storytelling.
Umumnya, manusia tidak tahan mendengarkan fakta murni dalam waktu panjang; itu membosankan dan melelahkan otak. Sementara itu, seorang pencerita yang membumbui kisahnya bisa didengarkan berjam-jam. Produksi kisah fiksi ini masih berlanjut hingga sekarang, meski sains makin banyak mengungkap fakta. Penjelasan berdasarkan mitos, propaganda, advertorial, hingga testimoni pribadi justru lebih sering dipercaya daripada data ilmiah.
Kegemaran menciptakan fiksi ini tertanam dalam DNA manusia dan dilembagakan dalam bentuk basa-basi, sopan santun, atau adab. Sehari-hari kita melakukan itu, terutama pada masyarakat Timur yang menjunjung tinggi etiket. Namun, etiket dan tata krama sejatinya adalah perilaku yang “tidak sebenarnya”. Seorang anak yang jengkel pada orang tuanya tidak boleh meluapkan emosinya karena dianggap tidak hormat.
Singkatnya, hal yang tidak sebenarnya ini merujuk pada epistemologi tentang apa yang seharusnya, bukan apa adanya. Aturan, nilai, moralitas, dan etika adalah konsep tentang bagaimana seharusnya kita bertindak. Otak kita pun menjadi kompatibel dengan hal itu. Otak emosional bekerja lebih kuat karena tidak menguras energi dan memungkinkan otomatisasi reaksi.
Maka, menjadi tidak penting apakah sesuatu itu fakta atau bukan. Selama hal itu menguntungkan, manusia akan mempercayainya. Kepercayaan pada hal-hal abstrak inilah yang membuat manusia merasa senasib, mampu bekerja sama, dan mengikat persaudaraan. Fakta atau fiksi menjadi tidak relevan sejauh ia memberikan manfaat bagi keberlangsungan hidup.
Atas dasar inilah nasihat “jangan bohong” sangat sulit ditaati; ia seperti melawan kodrat. Sederhananya, laki-laki dan perempuan tidak akan menjadi suami istri jika tidak ada bumbu fiksi. Seorang laki-laki yang sedang mendekati calon pasangannya pasti akan mempercantik narasi agar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
“Mas, aku cantik tidak?”
Si laki-laki tidak akan menjawab, “Tidak, kamu jelek,” melainkan akan mengatakan, “Kamu sangat menarik.”
Rangkaian “fiksi” kecil inilah yang memuluskan jalan menuju pelaminan. Jika setelah menikah suami dan istri terus-menerus mengatakan hal yang terlalu jujur tanpa saringan, bisa dipastikan pernikahan itu tidak akan bertahan lama. Jadi, berhentilah menuntut orang untuk tidak berbohong secara mutlak, karena itu sia-sia. Teruslah “berfiksi” selama itu tidak merugikan orang lain. Sebab, kebohongan yang merugikan adalah penipuan, dan penipuan bisa berujung pada hukum pidana.
note : sumber gambar – HALLOSEHAT








