KESAH.IDAda sejarah kelam di balik narasi kesehatan dunia yang selama puluhan tahun mengambinghitamkan lemak sebagai pemicu utama penyakit jantung. Melalui kisah tragis John Yudkin, kita akan melihat bagaimana manipulasi industri gula mampu menyetir kebijakan medis, membungkam ilmuwan jujur, dan menciptakan epidemi kesehatan yang kita rasakan hingga hari ini. Sebuah pengingat bahwa di balik label “rendah lemak,” terkadang tersimpan rahasia yang jauh lebih mematikan.

Saya nggak biasa sarapan dan sejauh ini baik-baik saja. Kalau dipaksa sarapan, terkadang malah bikin badan jadi lemas dan ngantuk beberapa jam kemudian. Bagi kebanyakan orang yang saya kenal, kebiasaan saya ini dianggap tidak baik. Kadang saya menanggapi dengan bergurau, “Bagaimana saya mau sarapan, kalau bangun saja sudah jam 9?”

Harus saya akui, setelah bangun pagi saya memang punya kebiasaan yang kurang baik. Bukannya sarapan, saya malah minum kopi, lalu merokok sambil nongkrong di WC. Setelah itu hidup rasanya plong dan siap beraktivitas. Jadi kalau ditanya sarapan saya apa, ya itu tadi: kopi. Kopi yang saya minum pertama bahkan bukan kopi panas, melainkan kopi basi—kopi yang disisakan dari semalam.

Tapi ada satu masa saya rutin sarapan, yaitu ketika tinggal di asrama yang sangat ketat mengatur ritme hidup per jamnya. Asrama yang sangat disiplin, termasuk disiplin makan. Dan jujur saja, selama tinggal di asrama itu, salah satu kegiatan yang paling tidak menyenangkan adalah makan. Karena, penghuni asrama makan bukan saat ingin makan, melainkan karena sudah jamnya makan. Di asrama, makanan terburuk adalah makan pagi.

Saya juga sering sarapan kalau tinggal di hotel. Makin tinggi kelas hotelnya, makin sayang saya melepaskan kesempatan sarapannya. Sekali lagi, itu bukan karena saya memandang sarapan adalah hal penting. Motivasi saya sarapan pagi di hotel adalah agar bisa menikmati rokok di pagi hari dengan santai, karena di dalam kamar hotel saya tak bisa merokok dengan leluasa.

Intinya, buat saya sarapan itu tak terlalu penting. Saya juga tak percaya terhadap anggapan bahwa makan terpenting itu adalah sarapan. Dan ternyata memang benar, keyakinan bahwa sarapan adalah makan yang paling penting memang bukan sepenuhnya pendapat ilmiah. Keyakinan ini merupakan hasil propaganda yang tak bebas dari kepentingan industri makanan sarapan.

Menurut sejarahnya, kebiasaan atau keyakinan terhadap pentingnya sarapan belumlah lama. Kebiasaan ini muncul setelah era Revolusi Industri. Di zaman sebelumnya, kebanyakan masyarakat belum mengenal sarapan, atau bahkan belum punya jadwal makan yang ketat. Masyarakat hanya makan kalau makanan sudah siap, atau kalau bahan makanan sudah tersedia. Rata-rata masyarakat hanya makan sekali atau dua kali sehari; yang paling umum adalah makan siang dan malam.

Ketika terjadi Revolusi Industri, muncul para pekerja yang bekerja berdasarkan shift. Para pekerja ini butuh energi, sehingga sebelum bekerja di pagi hari, mereka lebih dahulu akan makan agar bertenaga. Waktu itu belum ada menu sarapan yang khas. Orang akan memakan roti, kentang, buah zaitun, telur, dan kemudian meminum kopi, teh, atau susu.

Dari Inggris, kebiasaan ini menyebar ke seluruh dunia bersamaan dengan kolonialisme. Di Timur, negara-negara Asia, kebiasaan sarapan ini muncul di daerah industri, misalnya industri pertambangan. Salah satu jejak layanan sarapan yang masih tersisa saat ini adalah Kopitiam. Ini adalah warung kopi yang diusahakan oleh masyarakat Tionghoa perantauan di Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Selain menjual minuman hangat seperti teh, kopi, dan susu, Kopitiam juga menyediakan makanan sarapan seperti roti bakar, roti telur, telur setengah masak, dan lain-lain.

Di beberapa kota besar, warung sarapan yang diusahakan oleh keturunan Tionghoa ini masih ada, bahkan terus berkembang hingga sekarang.

BACA JUGA : Festival Kuliner

Keyakinan terhadap pentingnya sarapan sebenarnya merupakan propaganda industri sereal di Amerika Serikat. Sereal adalah produk yang berkembang pesat setelah ditemukannya kepingan jagung (cornflakes) yang aslinya berasa hambar.

Sereal merupakan produk campuran antara gandum, jagung, oat, barley, beras, dan lain-lain; sering pula ditambah biji-bijian agar terlihat lebih berwarna-warni. Sereal dimakan dengan campuran susu. Dengan demikian, kandungan terbesar dari sereal adalah karbohidrat sehingga dengan cepat mengenyangkan. Sereal kemudian menjadi populer karena diberi tambahan gula, garam, dan juga perasa lainnya seperti cokelat. Makanan sarapan ini sangat praktis: tinggal dituang ke dalam mangkuk, ditambah susu, lalu disantap.

Industri makanan sarapan ini berkembang menjadi industri raksasa yang terutama menyasar anak-anak. Dengan kemasan bergambar memikat, mereka yang menyukai sereal pasti akan memakan lebih banyak dari takaran yang dianjurkan di dalam kemasannya. Bersamaan dengan makin populernya sarapan, berkembang pula penyakit yang berhubungan dengan gangguan metabolisme tubuh. Kebiasaan sarapan adalah salah satu cara yang membuat masyarakat menjadi kelebihan makan (overeating).

Obesitas adalah salah satu gangguan kesehatan yang mulai muncul secara masif setelah sarapan menjadi kebiasaan populer, bahkan dianggap sebagai saat makan yang paling penting dalam siklus hidup sehari. Padahal, di zaman sebelum Revolusi Industri, saat sarapan dianggap sebagai tanda kerakusan, masalah penyakit metabolisme jarang ditemukan. Pada waktu itu, penyakit yang umum adalah infeksi atau penyakit lain karena sanitasi buruk, selain seringnya terjadi pandemi atau wabah yang mematikan.

Propaganda sarapan kian berkembang setelah dilirik oleh industri daging. Sarapan yang umumnya hanya ditemani telur, tak lama kemudian lazim disertai daging, utamanya bacon. Selain karbohidrat, sarapan juga makin bertabur lemak agar semakin lezat di mulut. Setelah Revolusi Industri, ekonomi dunia melesat. Walau diselingi perang, kehidupan berjalan semakin baik dari hari ke hari. Hal ini berdampak pada pola konsumsi; makin banyak orang makan enak dengan hidangan yang bertabur lemak.

Untuk mempopulerkan obat kolesterol, dilakukanlah propaganda melalui penelitian. Dalam berbagai kesempatan, ditampilkan data yang konsisten untuk menunjukkan bahwa negara dengan tingkat konsumsi lemak yang tinggi ternyata sejalan dengan tingkat serangan jantung yang tinggi. Datanya terlihat meyakinkan karena data yang dipakai sudah dipilih secara sengaja. Peneliti itu melakukan cherry picking—hanya memilih data yang mendukung hipotesisnya.

Faktanya, ada negara dengan tingkat konsumsi lemak tinggi tapi tingkat serangan jantungnya rendah, contohnya adalah Prancis. Sebaliknya, ada pula data yang menunjukkan tingkat konsumsi lemak rendah namun serangan jantungnya justru tinggi. Namun, data yang ditunjukkan oleh peneliti dari Amerika Serikat itu memang meyakinkan. Dia menunjukkan adanya relasi antara konsumsi lemak dan serangan jantung. Dalam pendekatan ilmiah, ada hal yang dilupakan yakni kausalitas. Lemak mungkin punya relasi dengan serangan jantung, namun bukanlah penyebab tunggalnya.

Tapi begitulah propaganda bekerja: ia hanya menunjukkan kebenaran yang dipilih karena ada sebagian kebenaran lain yang disembunyikan. Namun, karena bukti yang ditunjukkan sangat meyakinkan, kebenaran tersebut diterima, diyakini, lalu diikuti. Dan akhirnya, obat kolesterol pun menjadi obat yang paling laku di dunia.

BACA JUGA : Jali Jali

Dua hal bisa terjadi bersamaan, namun bukan berarti salah satu merupakan penyebabnya. Bisa jadi itu hanya sebuah kebetulan, sehingga tidak bisa dipakai sebagai alas kesimpulan ilmiah.

Relasi antara mengonsumsi lemak dan serangan jantung kemudian dibedah oleh peneliti dari Inggris bernama John Yudkin. Ia tidak melakukan penelitian observasional dengan sekadar memungut data angka dari sana-sini. Yudkin melakukan kajian di laboratorium, menggunakan sampling binatang percobaan maupun relawan manusia. Ia membandingkan korelasi antara konsumsi lemak dengan serangan jantung, serta konsumsi gula dengan serangan jantung.

Hasilnya mengejutkan: korelasi antara konsumsi gula dengan serangan jantung menunjukkan angka yang jauh lebih meyakinkan daripada korelasi lemak. Dari percobaan diet tinggi gula yang dilakukan secara konsisten, ditemukan bahwa konsumsi gula memicu produksi trigliserida dan meningkatkan kadar insulin. Akibatnya, kekentalan darah meningkat dan merusak dinding pembuluh darah—faktor yang berhubungan langsung dengan serangan jantung.

Yudkin kemudian menuangkan temuannya dalam buku berjudul Pure, White and Deadly (Murni, Putih, dan Mematikan). Seharusnya, buku ini menjadi pendorong bagi para ilmuwan untuk lebih meneliti pengaruh gula pada kesehatan ketimbang lemak. Namun, hal itu tidak terjadi. Selain diserang oleh rekan sesama ilmuwan, ada kekuatan gelap lain yang mengendalikan kerja ilmiah: industri. Lembaga penelitian gula internasional yang dibiayai industri gula menyerang Yudkin habis-habisan dan menyebut bukunya sebagai fiksi ilmiah (science fiction).

John Yudkin diserang dari berbagai arah. Ia kehilangan akses ke laboratorium, tidak lagi diundang dalam konferensi ilmiah, dan jurnal-jurnal menolak memuat karyanya. Rekan-rekannya yang sepaham pun menarik diri karena takut bernasib sama. Yudkin meninggal pada tahun 1995 sebagai orang yang dilupakan, dikucilkan, dengan reputasi yang dihancurkan.

Baru beberapa tahun setelah kematiannya, dunia menyadari bahwa Yudkin selama ini benar. Namun, kebenaran itu telah lama ditutupi dan dimanipulasi oleh industri yang memiliki kuasa dan uang. Mereka menggunakan berbagai argumen ilmiah yang sengaja dipilih untuk melanggengkan produksi serta konsumsi gula.

Pada tahun 2016, di basement perpustakaan Harvard, seorang peneliti bernama Kristin Kearns menemukan dokumen berdebu yang mengungkap skandal besar. Dokumen ratusan halaman dari Sugar Research Foundation (SRF), organisasi lobi industri gula Amerika, mengungkap operasi rahasia yang berjalan sejak tahun 60-an. Operasi itu bermula dari kekhawatiran industri bahwa tren kesehatan saat itu bisa mengancam konsumsi gula.

Mereka kemudian meluncurkan Project 226, sebuah misi untuk membayar ilmuwan terkemuka agar membuat tinjauan ilmiah tentang penyebab penyakit jantung. Namun, tujuannya sudah ditetapkan sejak awal: singkirkan gula sebagai tersangka dan pastikan lemak menjadi kambing hitam utamanya. Hasil penelitian “pesanan” tersebut menyimpulkan secara tegas bahwa cara mencegah penyakit jantung adalah mengganti lemak jenuh dengan lemak nabati demi mengurangi kolesterol.

Publikasi ini menjadi pedoman resmi bagi banyak pemerintahan di seluruh dunia untuk menyusun kebijakan kesehatan. Pesannya seragam: kurangi lemak dan perbanyak karbohidrat. Industri makanan merespons cepat dengan menghilangkan lemak dari produk mereka. Namun, karena hilangnya lemak membuat makanan menjadi hambar, mereka menambahkan gula sebagai penggantinya. Muncullah era iklan makanan “rendah lemak” atau “bebas lemak” yang diklaim menyehatkan.

Ironisnya, di era low-fat ini, angka obesitas justru meroket, penderita diabetes meningkat tajam, dan angka penyakit jantung tetap tinggi. Korupsi dalam dunia kesehatan serta kolaborasi buruk antara oknum ilmuwan dan industriawan terbukti telah menjadi mesin pembunuh massal dan pemicu epidemi terburuk dalam sejarah modern.

Tragedi John Yudkin dan terbongkarnya Project 226 menjadi potret buram kolaborasi jahat antara sains dan modal. Selama 40 tahun, dunia dipaksa percaya pada kebohongan yang sistematis: bahwa lemak adalah musuh utama, sementara gula adalah kawan yang manis. Namun, angka kematian akibat penyakit jantung dan diabetes yang terus melonjak tidak bisa berbohong. Pada akhirnya, kita belajar sebuah pelajaran mahal bahwa kebenaran ilmiah yang dimanipulasi adalah mesin pembunuh yang paling efektif.

note : sumber gambar – NGOPIBARENG