KESAH.IDDulu, jali hanyalah rumput liar yang nasibnya mentok jadi tasbih mainan atau kalung-kalungan anak kecil di pinggir jalan. Tak ada yang menganggapnya serius, apalagi sampai masuk daftar belanjaan bulanan. Tapi zaman memang sudah gila. Begitu dunia mengenal istilah superfood dan healthy lifestyle, jali tiba-tiba naik kasta, ganti nama panggung jadi barley tropis, dan harganya di marketplace mendadak tak masuk akal.

“Ini dia si jali-jali….” Begitulah syair pembuka lagu Betawi yang riang itu. Lagu yang isinya jalinan pantun ini judulnya diambil dari nama buah: jali. Meski jadi judul lagu populer, liriknya sama sekali tidak menceritakan bijian dari rumput sejenis padi yang tumbuh liar di sembarang tempat itu. Seolah-olah, jali memang ditakdirkan hanya untuk numpang lewat di telinga, tanpa benar-benar dipahami akarnya.

Di Jawa, sebutan umumnya memang jali. Tapi ada juga yang akrab menyebutnya jepen, jenitri, hingga hanjeli. Di Kalimantan Timur, tepatnya di Kutai Barat, punya nama tersendiri yang lebih eksotis: jelai.

Bagi anak-anak tahun 70-an, jali adalah barang mewah untuk urusan hobi yang murah meriah. Buahnya yang tua berwarna putih kelabu, kulitnya keras, dan mengkilap natural tanpa perlu bantuan skincare. Kami dulu kerap meroncenya jadi gelang, kalung, bahkan tasbih-tasbihan. Jali tumbuh layaknya rumput, rimbun di pekarangan mana saja. Tak peduli itu punya siapa, kami sikat saja bijinya, dan yang punya pun tak akan marah. Wong cuma rumput—begitu pikir kami semua waktu itu.

Hanya sebatas itu ingatan saya tentang jali. Setidaknya sampai saya terdampar di Linggang Melapeh, Kutai Barat, untuk sebuah obrolan budaya dan ekowisata. Di sana, saya dijamu bubur jelai. Karena sudah bertahun-tahun tidak mencicipinya lagi, lidah saya lupa rasanya. Waktu itu saya benar-benar tak tahu kalau jelai yang saya kunyah adalah si jali yang dulu sering saya bikin jadi tasbih mainan.

Fakta bahwa jali adalah jelai baru saya sadari belum lama ini, saat berkunjung ke rumah Sunil dan Herli, pasangan petani muda yang getol mengembangkan pertanian sirkular. Obrolannya tidak langsung ke jelai, melainkan bertukar kisah tentang kebun aren di Mook Manaar Bulatn. Sebuah wilayah di seberang Melak yang sampai sekarang masih “terasing” gara-gara Jembatan Tulur Aji Jejangkat pembangunannya mangkrak tak keruan. Sepertinya jembatan itu sedang ikut kursus menjadi candi masa depan.

Sunil prihatin, wilayah yang terhimpit oleh HTI dan tambang itu membuat lembo (kebun buah warga) dan kebun aren mulai terancam. Masyarakat yang menguasai lahan untuk penghidupan memang harus dibela, dicarikan jalan keluar agar mereka tetap bisa budidaya tanaman yang ramah alam. Terlebih jika lahan itu adalah ruang merawat pengetahuan lokal lewat tata guna lahan tradisional.

Kebudayaan Kalimantan memang sejatinya berdenyut di hutan. Jika akses warga atas hutan hilang, ya kebudayaannya otomatis ikutan wasalam. Perhatian Sunil tertuju pada aren, yang menurutnya bisa jadi komoditas unggulan saat batubara tak lagi boleh ditambang gara-gara transisi energi. “Aren kita belum dibudidayakan secara serius, masih ditanam seperti tumbuhan liar,” keluh Sunil. Pemanfaatannya pun baru sebatas nira dan gula merah, padahal potensinya jauh lebih besar dari sekadar pemanis teh sore hari.

BACA JUGA : Anti Bengong

Panas mentari makin terik, tapi obrolan di teras rumah Sunil malah makin asyik. Dari aren, topik bergeser ke padi ladang setelah Pak De Minto—atau biasa dipanggil Profesor Minto—pamit mengambil bibit magot. Beliau tidak bisa lama-lama, mungkin magot-magotnya lebih butuh perhatian daripada obrolan kami.

Padi ladang adalah jenis tanaman paling krusial dalam branding kebudayaan Kalimantan Timur. Seluruh ritus musim, mulai dari menentukan hari baik (Alaq Tau) sampai upacara padi baru (Uman Undrat), semua patokannya adalah padi ladang. Namun, bertanam padi ladang dengan sistem tebas bakar kini jadi hobi yang berbahaya. Semenjak tahun 2015, banyak peladang dikriminalisasi. Mereka dianggap pembakar hutan, padahal mereka hanya menjalankan tradisi turun-temurun. Walhasil, peladang sekarang lebih was-was daripada orang yang mau ujian SIM; mereka takut dicap serakah lahan atau dianggap perusak alam.

Di lahan bekas tambang, Pak De Minto dan kelompok tani Tegalrejo bereksperimen menanam padi ladang tanpa tebas bakar. Inovasi ini penting, agar masyarakat tradisional bisa tetap menanam padi tanpa ketakutan diciduk aparat. Sunil pun setuju, padi ladang bisa ditanam dalam model agroforestry. Tujuan menanam padi ladang toh bukan cuma soal produktivitas ton-tonan, melainkan soal merawat kebudayaan. Kalau padi ladang punah, hilang pulalah satu identitas penting dari pengetahuan lokal kita.

“Iya, banyak jenis pangan lokal sejenis serealia tropis yang sudah kita lupakan,” ujar Sunil getir. Ia kemudian masuk ke rumah dan membawa bungkusan plastik kecil berisi bijian.

“Lho, ini kan jali!” seru saya kaget.

“Ya ini yang disebut dengan jelai,” timpal Sunil. Akhirnya, teka-teki identitas itu terjawab lunas.

BACA JUGA : Festival Kuliner

Herli yang sedang asyik berbincang dengan rekan sesama aktivis Yayasan Mata Hati Care rupanya menguping obrolan kami. Ia langsung menimpali, “Tanaman hama itu!”

Mungkin yang dimaksud Herli adalah gulma. Rupanya ada cerita ironis di balik ucapan itu. Beberapa bulan lalu, Sunil pernah menebar biji jelai di salah satu pesantren. Ketika ia kembali berkunjung, dari beberapa biji itu sudah tumbuh menjadi hamparan luas. Saat ditanya kenapa tak dipanen, pengurus pesantren malah bingung. “Memangnya bisa dimakan? Ini malah jadi hama,” jawab mereka.

Bayangkan, tanaman yang punya sejarah panjang dalam kebudayaan kita sekarang turun kasta jadi pengganggu gara-gara kita kehilangan pengetahuan cara mengolahnya. Pengetahuan tentang jelai sebagai bahan pangan memang sudah di ambang kepunahan.

“Itu kan bijinya keras, gimana masaknya?” tanya Herli lagi.

Saya yang pernah makan bubur jelai pun mendadak buntu. Pernah makan bukan berarti jago bikin. “Direndam dulu yang lama kali ya,” jawab saya sekenanya, sambil membayangkan susahnya memasak kacang merah yang kerasnya minta ampun.

Perbincangan pun beralih ke sorgum yang tangkainya mulai terlihat menjulur di pekarangan belakang rumah Sunil. Sama seperti jali, sorgum itu tangguh luar biasa. Dilempar ke tanah begitu saja langsung tumbuh menyemak. Dan lagi-lagi, bagi mereka yang tak tahu, sorgum akan dianggap gulma.

“Kita sudah terlalu terpaku pada beras dan gandum,” Sunil prihatin. Akibatnya fatal: jelai, sorgum, dan jewawut tak lagi populer. Kita bahkan tak tahu itu bisa dimakan seandainya tumbuh di depan hidung kita sendiri. Celakanya, karena banyak orang “buta” pangan lokal, di marketplace biji jali atau barley ini sekarang dijual dengan narasi “aduhai”. Dibungkus slogan superfood, harganya dibandrol selangit. Mereka yang FOMO pun terperdaya membeli dengan harga mahal demi gaya hidup sehat.

Ketidaktahuan memang mahal harganya. Tapi tidak menghargai sumber daya lokal sendiri harganya jauh lebih mahal lagi. Kasusnya sama seperti sukun dan daun kelor yang mendadak jadi pangan masa depan hanya setelah dilabeli merek internasional, padahal selama ini kelor cuma dianggap tanaman pengusir setan.

“Jalilah jali dari Cikini sayang, jali-jali dari Cikini… jalilah jali sampai di sini.”

Ya sudah, sampai di sini saja. Obrolannya buntu di urusan dapur. Saya mau lanjut mencari tahu bagaimana cara mengolah biji jali yang kerasnya nggak masuk akal itu tanpa harus merusak gigi.

note : sumber gambar – SOROTNESIA