KESAH.ID – Dahulu, budaya kita mengenal ruang-ruang “bengong” yang menyehatkan—mulai dari Bale Bengong di Bali hingga Lincak dan teras rumah di Jawa—serta interaksi egaliter di warung kopi tradisional yang menyegarkan pikiran. Namun, tren nongkrong masa kini justru sering kali terjebak dalam kesendirian digital di tengah keramaian.
Banyak orang sekarang merasa otaknya lemot, padahal nggak ngapa-ngapain. Benarkah?
Mari kita bandingkan kebiasaan orang dulu—sebelum zaman internet—dengan orang sekarang yang semuanya sudah pegang smartphone yang selalu terkoneksi dengan jagat maya.
Rasanya di zaman ini sulit melihat orang bengong, duduk diam hanya menatap kanan-kiri. Di mana-mana, bahkan ketika orang seharusnya tidak ngapa-ngapain karena sedang menunggu, semua sibuk berselancar.
Tak heran kalau di berbagai tempat yang memberitahukan seseorang pakai nomor antrean atau nama, berkali-kali disebut tapi yang dipanggil tidak muncul. Apakah orang itu pergi? Tidak, yang dipanggil dan tidak muncul itu masih ada dalam ruangan namun tak mendengar. Dia sedang asyik men-scroll layar HP-nya, berkonsentrasi pada konten yang dicari atau dinikmati.
Di ruang tunggu, hampir semua orang tak ingin kelihatan menunggu giliran. Mereka ingin tetap terlihat sibuk, walau kesibukannya men-swipe layar HP. Layar HP-lah yang membuat otak orang jadi lelah, karena bekerja keras berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya. Terlalu banyak stimulus yang diberikan ke otak oleh kelimpahan informasi lewat smartphone.
Dengan memegang smartphone, tidak ada kesempatan bagi otak untuk beristirahat, lepas dari berbagai stimulus yang entah menyenangkan, mengkhawatirkan, atau bahkan menakutkan. Padahal otak mesti beristirahat dari stimulus yang terlalu banyak atau dipaksakan. Tapi bukan berarti otak berhenti bekerja atau tidak dipakai, sebab otak akan terus bekerja lewat mode otomatis agar kesadaran tetap ada.
Lalu bagaimana agar otak tidak lemot atau kecapaian? Tentu saja istirahatkan. Caranya? Jangan takut bengong alias nggak mikirin apa-apa.
Orang Bali mengenal Bale Bengong, sebuah bangunan tradisional dalam arsitektur Bali dengan bentuk berupa gazebo atau bangunan santai terbuka dengan empat tiang kayu. Bale bengong ini difungsikan sebagai tempat bersantai, beristirahat, atau melamun untuk menikmati suasana sekitar. Bale bengong biasanya dibangun terpisah dari rumah, berada di taman atau halaman, bisa juga di area terbuka lainnya sehingga lebih menonjolkan kebersamaan dalam suasana informal.
Di Jawa, pada rumah-rumah yang mempunyai halaman luas dengan pepohonan besar biasanya akan menaruh lincak atau kursi yang terbuat dari bambu di bawahnya. Di bawah pohon rindang itu seseorang akan duduk-duduk atau bercengkerama dengan yang lainnya. Jika halamannya tak luas, maka rumah yang dibangun akan disertai dengan teras. Di teras rumah itu akan diletakkan kursi dan meja kecil untuk duduk-duduk bersantai. Salah satu yang sering diletakkan di teras adalah kursi malas.
Kursi malas adalah kursi yang bagian sandaran punggungnya bisa dimiringkan ke belakang sehingga memungkinkan penggunanya duduk seperti berbaring. Bagian yang diduduki juga panjang sehingga memberikan kenyamanan tambahan untuk kaki. Duduk di kursi ini seseorang “sah” untuk bermalas-malasan.
Bale bengong, lincak, teras, dan kursi malas sekarang ini masih ada, namun yang duduk-duduk santai tanpa ngapa-ngapain di dalam bale bengong, lincak, teras, atau kursi malas sudah jarang. Semua sibuk, sibuk dengan layar smartphone masing-masing.
BACA JUGA : Pers Kita
Kenapa muncul kafe, kedai/warung/rumah kopi, warung wedangan, warung HIK, angkringan, dan gerai-gerai sejenisnya? Disadari atau tidak, munculnya tempat kongkow dan melepas penat sambil ngobrol-ngobrol ini ternyata ada hubungannya dengan cara untuk menjaga agar otak tidak lemot.
Salah satu cara agar otak tidak cepat lemot adalah sosialisasi; bertemu, berbincang, serta berinteraksi dengan orang lain. Kafe, warung kopi, angkringan, dan lain-lain adalah tempat yang ideal untuk berinteraksi. Bahkan ketika kita tidak janjian sekalipun, pergi ke tempat kongkow seperti itu bisa mendapatkan teman baru.
Kenapa pergi ke tempat nongkrong bisa menyegarkan otak? Karena kita pergi ke sana tanpa tujuan yang muluk-muluk, perbincangan juga tidak kita atur dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK), tak ada target yang kita kejar.
Di tempat nongkrong tradisional, semua terasa egaliter. Yang datang mempunyai kedudukan yang sama. Warung-warung wedangan tradisional bahkan mempunyai pakem hampir serupa; yang datang atau pergi menyapa hampir semua pengunjung yang masih ada. Bahkan tak jarang menyalami semuanya. Sapaan dan jabat tangan ini sudah memberi energi untuk kesegaran otak.
Perbincangannya juga random, ngalor-ngidul sesuka hati. Setiap orang bisa mengungkapkan pendapatnya karena umumnya yang dibahas bukan soal teknis yang membuat pening kepala. Di warung kopi atau angkringan jarang ada perdebatan yang keras. Mungkin ada yang ngotot mempertahankan pendapat, tapi selalu ada yang menengahi atau menenangkan suasana. Pertentangan akan selalu disudahi karena yang datang memang bukan bertujuan cari musuh.
Fakta ini bisa ditemukan dalam catatan ketika Indonesia dilanda konflik internal. Warung atau rumah kopi tradisional ternyata berjasa besar mempertemukan mereka yang berseteru untuk duduk bersama menikmati kopi dan berbincang dalam rasa persaudaraan. Gabut bukan sesuatu yang menakutkan atau mengelisahkan karena dengan mudah akan diluruhkan dengan pergi ke kafe, kedai, atau angkringan. Di sana ada jaminan kegabutan akan hilang.
Tapi itu kisah dulu-dulu.
Sekarang, di saat tempat tongkrongan tumbuh subur dan selalu ramai dengan kehadiran pengunjung, ternyata yang merasa otaknya lelah dan lemot justru semakin banyak. Karakter tongkrongan dulu dan sekarang memang beda. Kini banyak orang pergi ke tempat nongkrong justru dengan persiapan untuk asyik dengan dirinya sendiri. Nggak ngapa-ngapain habis nongkrong malah lelah otak.
Tempat tongkrongan sekarang menyediakan banyak colokan dan wifi, ruang interaksinya kemudian dipersempit; duduk bersama tapi asyik dengan HP masing-masing. Saling sapa hanya terjadi ketika datang atau hendak pamit pulang. Tongkrongan bukan lagi tempat refreshing. Dan tempat nongkrong makin lama makin tidak inklusif. Karena persaingan, masing-masing tempat menata seeksklusif mungkin. Ada banyak tempat tak ramah untuk sembarang pengunjung.
BACA JUGA : Padi Ladang
Bagaimana dengan mereka yang introvert dan tak suka bersosialisasi untuk mencegah otak lelah serta lemot? Tak ada tuntutan bagi kita untuk punya banyak teman, menjadi sosialita, atau seleb. Sosialisasi tidak tergantung pada banyaknya teman, tetapi adanya satu atau dua orang sahabat sudah cukup.
Namun masih ada cara lain yang tak kalah efektif untuk menyegarkan kembali otak yang lemot: olahraga.
Apakah yang dimaksud adalah olahraga otak, senam otak, atau membiasakan berpikir dengan otak kanan serta otak kiri? Tak usah repot, tak ada senam otak, apalagi latihan memakai otak kanan dan otak kiri.
Otak memang terdiri dari otak kanan dan kiri, namun secara sains, keduanya bekerja secara terintegrasi dalam hampir semua aktivitas. Tidak sepenuhnya benar bahwa otak kiri hanya untuk logika dan otak kanan hanya untuk kreativitas; keduanya saling mendukung. Jadi, daripada pusing memikirkan sisi mana yang dominan, lebih baik menggerakkan tubuh.
Olahraganya sederhana saja, misalnya jalan kaki. Tak perlu juga sehari jalan kaki 10.000 langkah sehingga harus beli smartwatch untuk mengukurnya. Jalan secukupnya, sesenang diri kita. Akan lebih menyenangkan lagi jika jalan-jalan disertai teman, baik teman baik maupun teman yang baru dikenal. Jalan-jalannya menyusuri gang di lingkungan sekitar kita atau lingkungan orang lain.
Jalan-jalan dengan diri yang senang dan melihat hal-hal biasa namun jarang kita lihat akan membuat otak tenang. Kejutan-kejutan kecil akan menjadi olahraga tersendiri untuk otak kita hingga makin dinamis. Dan setelah jalan-jalan, luangkan sedikit waktu untuk berbincang. Akan lebih baik lagi kalau diteruskan dengan nongkrong-nongkrong membincang hal-hal atau pengalaman baru yang ditemukan saat jalan-jalan.
Jadi, yang merasa otaknya mulai lemot tapi takut bengong karena khawatir “disambet” setan dan tak cukup percaya diri untuk bersosialisasi di ruang publik, segarkan otakmu kembali dengan ikut jalan-jalan bersama Komunitas Susur Gang Samarinda.
Caranya gampang, cukup follow saja IG-nya. Di sana setiap hari Selasa dan Jumat akan diposting pemberitahuan titik kumpul beserta rutenya. Datang saja, siapapun akan diterima untuk turut jalan bersama menyusuri gang-gang di Kota Samarinda.
note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA








