KESAH.ID – “Otak emosional” sering kali membajak logika kita, hingga membuat kita jatuh ke lubang yang sama berulang kali. Dengan membandingkan etika sosial masyarakat Jepang yang sangat menjaga jarak dengan orang asing, kita akan melihat bahwa sedikit rasa skeptis dan kesadaran kritis bukanlah bentuk ketidaksopanan, melainkan benteng terakhir untuk menjaga diri kita di era digital yang semakin penuh tipu daya.
“Mikir” itu ucapan khas Cak Lontong, komedian yang sering melucu dengan memakai logika-logika unik. Kebanyakan orang berpikir bahwa jika ada yang mengatakan “Mikir” atau “Pakai otakmu,” itu berarti ajakan berpikir rasional. Seolah berpikir identik dengan rasio, padahal kenyataannya tidak demikian. Otak mempunyai dua moda berpikir, yakni emosional dan rasional.
Alih-alih menggunakan otak rasional, umumnya manusia lebih suka menggunakan otak emosional. Berpikir dengan otak emosional tidak menguras energi dan ‘kebenaran’ lebih mudah didapat karena benar atau salah hanya didasarkan pada keyakinan atau kepercayaan. Karena lebih sering menggunakan otak emosional, kebanyakan orang menjadi lebih mudah ditipu. Seorang penipu hanya butuh dipercaya oleh orang lain untuk melancarkan jurusnya.
Seseorang yang sudah percaya otomatis akan kurang waspada. Ia akan beranggapan orang lain selalu jujur. Kewaspadaan seseorang juga akan lumpuh ketika berada dalam kondisi tergesa-gesa, terancam, atau terdesak. Dalam kondisi seperti ini, seseorang amat mudah ditipu karena ketika berada dalam situasi tidak nyaman, manusia selalu ingin segera keluar. Tawaran ‘kebaikan’ pun akan disambut tanpa kewaspadaan.
“Jangan jatuh dalam lubang yang sama dua kali” merupakan nasehat populer. Namun, banyak orang jatuh berkali-kali di lubang yang sama. Seseorang yang percaya dukun lalu pergi ke dukun yang ternyata tidak mujarab, bukannya berhenti percaya dukun, ia malah mencari dukun lain yang dianggap lebih sakti. Atau seseorang yang tertipu investasi, ternyata masih kembali tergiur investasi bodong. Pengalaman tertipu bukannya menjadi pelajaran, tetapi malah dimaklumi. Saat ada tawaran lagi, bukannya ditolak, ia malah menyambar dengan keyakinan: “Jangan-jangan yang ini benar, sayang kalau dilewatkan.”
Sebelum Pemilu 2004, beredar kabar tentang ‘Harta Karun Nasional’, kekayaan kerajaan dalam bentuk emas yang disimpan di Swiss. Harta itu katanya akan dicairkan dan dibagi ke masyarakat. Sebuah yayasan membentuk posko pendaftaran; yang ingin mendapat bagian harus menyetorkan KTP. Dana akan diberikan melalui rekening bank. Masyarakat berbondong-bondong mendaftar, menyerahkan fotokopi KTP, dan membuka rekening.
Saya sempat berdebat dengan seorang tokoh masyarakat yang meng-endorse kegiatan ini. Saya sampaikan bahwa hal itu tidak benar. Sejauh yang saya tahu, tidak ada kekayaan masa lampau yang disimpan di luar negeri, dan kabar semacam itu sudah sering ada namun tak pernah terbukti. Salah satunya dana revolusi. Saya justru curiga KTP yang dikumpulkan itulah yang akan ‘dimonetisasi’ untuk keperluan politik.
Namun, sang tokoh tetap ngotot. Janji uang memang lebih menyenangkan dan gampang dipercaya. Kami terus beradu argumen, hingga dipungkasi oleh pernyataan akhir yang tak ada gunanya dibantah. Dia mengatakan, “Nggak ada ruginya juga kalau uangnya nggak ada. Tapi kalau benar ada, kan untung.” Begitulah kalau otak rasional sudah dibajak oleh otak emosional.
BACA JUGA : Suka Kepalsuan
Waspada pada kebaikan orang lain mungkin merupakan nilai yang tidak terlalu diajarkan di Indonesia. Kebaikan di sini dalam arti seluas-luasnya. Hal ini berbeda dengan masyarakat Jepang yang diajarkan tentang ‘Giri’ atau kewajiban sosial yang membuat mereka sungkan menerima tawaran kebaikan begitu saja. Di Jepang berlaku prinsip Okaeshi atau balas budi. Kebaikan orang lain adalah utang yang harus dibayar kembali untuk menjaga keseimbangan sosial. Sebenarnya prinsip ini secara terbatas juga berlaku di beberapa budaya kita, seperti Mapalus di Minahasa.
Dengan prinsip ini, mereka menjadi mudah menolak tawaran menggiurkan, terutama dari orang asing. Secara mental mereka akan merasa berutang namun tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Konsep lainnya adalah Meiwaku atau merepotkan orang lain. Masyarakat Jepang diajarkan untuk tidak menjadi beban bagi orang lain; menerima bantuan artinya gagal membangun kemandirian. Prinsip ini juga membuat mereka menjaga jarak dengan orang asing agar tidak terjadi interaksi yang terlalu erat.
Dalam dunia sosial, kosmologi masyarakat Jepang membagi dunianya menjadi dua: Uchi (orang dalam) dan Soto (orang luar). Kebaikan dari Soto selalu diwaspadai karena motifnya belum jelas. Terakhir adalah Enryo atau menahan diri. Orang Jepang cenderung menolak jika ditawari sesuatu walau sebenarnya menginginkan. Tawaran kebaikan yang sangat agresif malah dianggap melanggar ruang privasi.
Dengan konsep di atas, kehidupan masyarakat Jepang mungkin terasa aneh bagi orang Indonesia. Senyam-senyum atau ramah pada siapa saja seperti di Indonesia, bisa dilaporkan polisi jika dipraktikkan di sana. Sementara di Indonesia, keramahan dianggap sebagai keharusan. Padahal keramahan ini yang sering menjadi awal petaka.
Keramahan ini menjadi senjata, seperti yang dulu sering dipraktikkan di terminal. Ada banyak orang ramah kepada pendatang yang kebingungan. Mereka menawarkan kebaikan, membantu mengangkat koper, mencarikan tiket, atau kendaraan sewaan. Namun, yang dilakukan orang-orang ini bukan menolong, melainkan menipu. Tulung mentung, kata orang Jawa. Korban mulanya tak merasa karena menganggap dirinya ditolong. Namun setelah perjalanan baru terasa; tiket eksekutif ternyata diganti bus reguler yang banyak mengetem di jalan. Atau mobil sewaan yang ditawarkan ternyata bukan milik sendiri, sehingga kesepakatan awal berbeda dengan permintaan sopir di tengah jalan.
BACA JUGA : Jum’at Agung
Kini penipuan beralih dari dunia fisik ke dunia maya. Modusnya berkembang sangat cepat. Dengan bantuan Kecerdasan Buatan (AI), penipuan menjadi semakin meyakinkan melalui teknologi Deepfake. Penipu bisa memalsukan wajah dan suara tokoh publik. Jenis yang marak adalah Love Scam. Pelaku membangun hubungan emosional melalui media sosial dengan profil menarik.
Mereka mengaku sebagai orang mapan berpenghasilan tinggi. Setelah korban percaya dan merasa dicintai, pelaku mulai meminta ini-itu. Karena jatuh cinta, korban tak merasa diperas, dan baru tersadar ketika pelaku selalu menghindar saat diajak bertemu. Modus lain adalah Phishing dan Smishing; pesan palsu dari bank atau instansi resmi untuk memancing korban mengeklik tautan dan memberikan kode OTP guna menguras rekening.
Yang paling menjebak adalah investasi bodong atau kripto palsu. Penipuan ini menawarkan untung besar tanpa risiko. Awalnya korban diberi keuntungan cepat untuk menciptakan kepercayaan buta. Namun setelah saldo membesar, uang tak bisa ditarik dan pelaku menghilang. Ada pula tawaran uang mudah melalui aplikasi penghasil uang dan Job Scam. Mereka menawarkan pekerjaan ringan dengan pendapatan besar, namun korban diminta membayar biaya pendaftaran atau top-up terlebih dahulu.
Ketamakan, keserakahan, kekhawatiran, hingga kurang kasih sayang memang sering dieksploitasi untuk menipu. Tampilan penipu pun terlihat meyakinkan; wajah bersih, bahasa bagus, dan pengetahuan mumpuni bagi kaum awam. Karena masyarakat kita kurang skeptis dan cenderung reaksioner—entah karena terlalu berharap atau cepat panik—proses verifikasi dan validasi sering terabaikan.
Padahal kalau mau sejenak berpikir, janji keuntungan atau pekerjaan yang ditawarkan terlalu indah untuk jadi nyata. Prinsipnya: tawaran untung tanpa risiko harus dianggap sebagai jebakan. Jika menerima pesan yang memicu kepanikan atau antusiasme berlebih, tarik napas dulu, “ngopi” dulu, jangan langsung bereaksi. Carilah kebenaran lewat saluran resmi, bukan dari si pembawa pesan.
Di masa sekarang, melihat dengan mata atau mendengar dengan telinga sendiri tidak lagi cukup. Verifikasi harus berlapis karena suara dan wajah bisa dipalsukan. Apapun keputusan finansial harus diambil setelah verifikasi jalur resmi dan dikomunikasikan dengan orang lain, keluarga, atau teman yang dikenal skeptis. Keamanan digital yang holistik sesungguhnya adalah kesadaran kritis. Ini bukan soal kecanggihan teknologi, melainkan kemampuan mengambil keputusan rasional dan mencegah otak emosional membajak logika kita. Sebelum mengeklik sesuatu, bertanyalah: “Siapa yang diuntungkan jika saya mengeklik atau mentransfer uang ini?”
note : sumber gambar – GETRADIUS








