KESAH.ID – Pelarangan prosesi Minggu Palma di Yerusalem tahun ini menjadi potret getir ketika ritual suci berabad-abad harus bertekuk lutut di bawah barikade keamanan dan eskalasi politik global. Di tengah ambisi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, hak spiritual keturunan Abraham dikorbankan, mengubah Pekan Suci menjadi fragmen paling perih dalam sejarah. Saat pintu Gereja Makam Kudus terhalang moncong senjata, dunia dipaksa menyaksikan bahwa perdamaian di Tanah Suci kini hanyalah barang mewah yang kalah oleh kontrol teritorial dan syahwat kekuasaan.
“Yerusalem, Yerusalem, Lihatlah Rajamu!”, kidung ini tak lagi berkumandang di Yerusalem pada perayaan Minggu Palma tahun ini karena otoritas Israel melarang Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, memasuki situs suci Gereja Makam Kudus untuk merayakan Misa Minggu Palma.
Pelarangan ini membuat simfoni lambaian daun palem dan gema pujian untuk menyambut Yesus sebagai Raja urung terlaksana. Padahal, melodi damai ini telah berkumandang selama berabad-abad lamanya di kota yang secara teologis disebut sebagai Kota Damai.
Dari perayaan Idul Fitri hingga Pekan Suci, Yerusalem justru menjadi saksi bagaimana barikade dan pos pemeriksaan semakin diperkuat. Kehadiran pasukan Israel di hari suci untuk umat Muslim dan Kristen ini membungkam tradisi suci yang telah berakar sejak berabad-abad lalu.
Sejarah Kekristenan mencatat prosesi Minggu Palma dari Bukit Zaitun menuju Gereja Makam Kudus adalah salah satu ekspresi iman paling tua dan konsisten di dunia. Bagi umat Kristiani setempat, atau mereka yang sengaja datang dari penjuru dunia lain, ini bukan sekadar upacara, melainkan identitas yang menghubungkan mereka dengan tanah suci, tanah terjanji.
Tapi, serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran membuat perayaan-perayaan suci ini berantakan dan ternoda. Pembatasan yang ketat membuat gereja paling suci dalam tradisi Kristen itu terasa terisolasi. Alasan “keamanan nasional” dan “pengaturan massa” sering kali dikemukakan sebagai pembenaran yang masuk akal di atas kertas, namun di lapangan, hal ini dirasakan sebagai pemutusan paksa rantai spiritualitas yang telah tersambung selama ribuan tahun.
Kota Damai ini berkali-kali memang berada dalam titik didih ketegangan, terutama ketika kaum Zionis memaksa untuk menguasainya sendiri. Padahal, kota ini penting untuk agama-agama Abrahamik. Yerusalem secara konsensual telah dibagi berdasarkan tradisi religius, namun Israel ingin menguasai seluruhnya secara administratif. Kemauan ini yang justru kerap kali menimbulkan gesekan antarkelompok atau munculnya serangan di tengah konflik yang memanas.
Dengan alasan tidak ada tempat untuk berlindung, otoritas Israel bisa melarang dan mengorbankan hak dasar kaum keturunan Abraham untuk beribadah di hari yang suci. Padahal, kota suci ini mestinya menjadi tempat aman, tempat berlindung bagi semua jiwa yang merindukan kedamaian.
Dalam berbagai serangan yang dilakukan oleh Iran, beberapa kali memang ada serpihan atau puing-puing senjata yang ditangkis di udara berceceran di sekitar lokasi tempat ibadah yang suci. Tapi serangan dari Iran pasti tidak terjadi ketika cucu-cucu Abraham merayakan hari-hari sucinya. Meski dibombardir dengan serangan yang hampir tak beralasan, Iran sepertinya tidak akan seputus asa itu sehingga mengarahkan serangan balasannya ke Tanah Suci Yerusalem.
BACA JUGA : Menang Perang
Perang antara Amerika Serikat dan Israel yang mengeroyok Iran ini memang simpang siur. Bahkan ketika banyak negara dibuat ikut sengsara, pun juga rakyat Amerika Serikat sendiri, tujuan perang ini tidak jelas benar. Perang dengan Iran ini akan dibawa ke mana, nampaknya sulit untuk mendapat jawaban.
Omongan Donald Trump tidak bisa dipegang. Juga para pembantunya, terutama Menteri Pertahanan yang kemudian malah dijuluki oleh Trump sebagai “Menteri Perang”. Donald Trump nampaknya tak salah memilih Menteri Pertahanan yang wataknya memang mau perang. Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, andai hidup di zaman Orde Baru pada masa Operasi Petrus, mungkin akan menjadi salah satu korban penembakan karena tatonya sulit disembunyikan.
Menjadi menteri dari presiden yang agresif, Pete Hegseth sepertinya senang; hobinya yang doyan perang tersalurkan. Di Pekan Suci, saat Yerusalem mestinya damai, Menteri Pertahanan Amerika Serikat ini justru mengatakan serangan terhadap Iran hendak ditingkatkan. Sepertinya Hegseth percaya Iran sudah melemah; serangan balasan Iran intensitasnya berkurang.
Fakta ini kemudian dibaca oleh Hegseth sebagai kesempatan untuk menekan Iran sampai selemah-lemahnya, membuat kemampuan serangan Iran lumpuh. Menteri Pertahanan Amerika Serikat ini percaya persembunyian terdalam tentara Iran beserta persenjataannya sudah ditemukan. Lorong atau terowongan tersembunyi dibom di ujung-ujungnya. Yang di dalam terjebak, bukan hanya tanpa pasokan makanan, melainkan juga tanpa pasokan oksigen. Terowongan persembunyian akan dijadikan kuburan.
Di tangan Pete Hegseth ada tato salib besar. Jangan-jangan Hegseth ini merasa sedang memimpin perang suci, Perang Salib. Masyarakat Amerika Serikat yang sebagian juga sedang memasuki hari-hari di Pekan Suci pun waswas. Bisa jadi dalam rangkaian Pekan Suci ini serangan akan mengendur, namun setelah Minggu Paskah mungkin serangan akan digedor.
Dan dengan kepercayaan diri yang berlebihan, Amerika Serikat mulai akan mengirimkan pasukan untuk menduduki pulau-pulau milik Iran yang menjadi pusat industri minyak dan gas. Bisa jadi Amerika Serikat akhirnya akan merebut minyak dan gas milik Iran. Untuk itu, Amerika Serikat akan melakukan serangan darat, merebut pulau milik Iran. Warga Amerika Serikat keberatan jika sanak saudara atau handai taulan yang menjadi tentara harus pergi ke sana. Mereka bisa saja pergi sebagai tumbal.
Rakyat dan mungkin tentara Amerika Serikat tahu kalau Iran bukanlah Venezuela. Dengan serangan terus-menerus, mungkin Iran melemah tapi tak akan kalah. Lagi pula, tujuan perang ini memang bukan untuk mengalahkan Iran; tak mungkin Amerika merebut Iran. Donald Trump hanya ingin Iran dipimpin oleh pemimpin yang tunduk padanya, taat pada kepentingan Amerika Serikat. Dan jelas hal ini tak mungkin bisa dicapai hanya dalam hitungan minggu. Serangan membabi buta bisa jadi malah membuat citra Amerika Serikat di mata masyarakat Iran makin buruk rupa.
Bisa jadi rakyat Iran sepakat atau setuju atas pergantian kekuasaan, namun tak sudi untuk menghamba pada Amerika Serikat, apalagi Donald Trump.
BACA JUGA : Suka Kepalsuan
Hari ini, dalam kisah masa lalu, Yesus disalibkan di Bukit Golgota untuk menanggung dosa anak cucu Adam dan Hawa. Dan tiga hari kemudian, Yesus yang dikubur di dalam kubur batu akan bangkit membawa keselamatan. Namun tahun ini, kisah pengorbanan dan penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, yang diperingati sebagai Hari Paskah, akan menjadi Paskah terburuk dalam sejarah; Paskah yang paling tidak damai.
Bisa jadi di momen peringatan Jumat Agung ini tidak ada prosesi Jalan Salib di Via Dolorosa. Otoritas keamanan Israel bisa jadi melarang dengan alasan yang sama dengan sebelumnya. Yerusalem akan semakin merintih; ketika keriuhan menyambut Yesus dengan lambaian daun palma tak bisa dilakukan, perjalanan penderitaan Yesus bisa jadi juga tak akan terjadi.
Paskah di Yerusalem akan menjadi Paskah yang perih, sekaligus peringatan yang pahit karena di tanah yang suci untuk para pengikut Abraham ini ternyata perdamaian masih menjadi barang mewah yang dikalahkan oleh kepentingan politik dan kontrol keamanan teritorial.
Entahlah seberapa banyak yang menabung rindu bertahun-tahun untuk pergi ke Yerusalem guna merayakan Pekan Suci, namun kemudian tak bisa melakukannya dengan sempurna karena pintu gereja suci dan jalan suci terhalang oleh barikade dan kontrol ketat memasuki Yerusalem. Jelas ini akan menimbulkan luka, karena haknya untuk bersimpuh di rumah Tuhan yang dijaga selama berabad-abad ternyata direnggut oleh nyala dan dentuman senjata.
note : sumber gambar – BOLA








