KESAH.ID – Minggu (18/5/2025), Windasari, admin Susur Gang Samarinda sekaligus Jurnalis Warga untuk Transisi Energi Berkeadilan berkesempatan menghadiri Pra-Launching Taman Para’an. Taman Para’an adalah ruang publik berketahanan iklim yang dibangun bukan hanya untuk mempercantik kota melainkan juga menjadi wadah edukasi energi terbarukan. Lima tahun ke depan, taman ini akan bersinergi dengan warga, komunitas, akademisi, serta pemerintah dalam pengelolaannya.
Setiap Selasa dan Jumat, sekelompok warga yang menamai diri mereka Susur Gang Samarinda rutin berjalan kaki menjelajahi lorong dan gang tersembunyi Kota Samarinda. Bukan sekadar membakar kalori, tetapi juga menggali kisah dan keunikan lingkungan kehidupan yang terpendam dalam setiap sudut-sudutnya.
Di antara mereka—yang disebut Kawan Susur—setiap perjalanan selalu menghadirkan daya tarik tersendiri. Ada yang terpikat oleh arsitektur rumah tempo dulu, ada yang mengagumi bunga-bunga mekar semerbak di tepi gang, bahkan ada yang penasaran dengan harga mobil yang terparkir di garasi atau halaman rumah yang dilewati. Namun, bagi sebagian, perjalanan ini bukan hanya tentang estetika kota, tapi juga geliat transformasi energi yang menarik untuk dikulik.
Kawan Susur berkali-kali melewati jalur yang mengharuskan menyeberangi Sungai Karangmumus lewat Jembatan Nibung. Jembatan yang kini telah bergeser dari Jalan Sutomo ke sisi barat selatan Pasar Segiri.
Beberapa bulan lalu ada yang menarik dari ujung jembatan ini, ujungnya disambung agar terhubung dengan sebuah taman. Keberadaan taman ini makin menarik karena kemudian muncul kincir angin yang bentuknya tidak biasa. Rupanya selain kincir angin di salah satu atap bangunan berupa dak semen juga terpasang panel surya. Catu daya untuk taman itu sepertinya akan dipenuhi dengan energi terbarukan, berupa energi surya dan energi bayu.
Tanggal 19 Mei 2025, taman ini diresmikan. Saat diresmikan, taman ini dinamai Taman Para’an. Kosa kata para’ dalam percakapan warga Kota Samarinda dipakai untuk menyatakan jarak atau posisi, artinya dekat.
Berasal dari bahasa Banjar, Taman Para’an ditafsir atau dimaknai secara geografis dan emosional untuk mencerminkan kedekatan warga Samarinda dengan taman ini sebagai ruang publik. Taman Para’an diibaratkan sebagai perpanjangan teras rumah warga, sehingga mampu menyatu dengan kehidupan keseharian warga.
Taman Para’an dirancang oleh CeCUR, Center for Climate and Urban Resilience. Dalam pemberitaan berbagai media, Dewienta Pramesuari, community mobilizer CeCUR menyatakan Taman Para’an dibangun secara partisipatif dan inklusif dalam perancangannya. Taman yang mulanya akan dinamakan Taman Karangmumus ini melibatkan kelompok ibu-ibu dan kaum disabilitas dalam perancangan manualnya.
Komunitas muda, NGO, akademisi dan kampus juga dirangkul untuk memastikan taman ini ke depannya akan dirawat, dijaga dan dimanfaatkan bersama. Untuk itu dibentuk Pokja Ruang Publik yang dipimpin oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda. Pokja ini terdiri dari beberapa divisi, diantaranya adalah Divisi Kebersihan, Divisi Keamanan dan Informasi, Divisi Pengelolaan dan Perawatan, dan Divisi Pemberdayaan Masyarakat.
Harapannya model pembangunan dan pengelolaan Taman Para’an ini akan menjadi bagian dari advokasi kebijakan sehingga proses pembangunannya bisa ditiru pada pengembangan ruang publik lainnya.

BACA JUGA : Negeri Preman

Windasari, admin susur gang dan jurnalis warga untuk transisi energi berkeadilan sebelum peresmian Taman Para’an hadir dalam acara Pre Launching untuk mengikuti demo perakitan panel surya yang dilakukan oleh Lentera Bumi yang dihadiri oleh mahasiswa dan dosen berlatar teknik.
Demo ini dimaksudkan untuk membekali peserta pengetahuan dan ketrampilan pengembangan energi terbarukan yang berbasis tenaga surya dan bayu atau angin. Dalam penjelasannya, Nasrul dari Lentera Bumi mengatakan panel surya yang dipasang di Taman Para’an mempunyai kemampuan untuk menghasilkan daya 5500 watt, sementara untuk kincir angin akan tergantung pada kecepatan angin.
Pemilihan energi surya dan bayu didasarkan atas pertimbangan ilmiah karena pemanfaatan energi air walau taman ini berada di sisi Sungai Karangmumus tidak akan menghasilkan energi yang optimal. Walau mungkin pemanfaatan energi angin masih asing untuk warga Samarinda dan bisa saja menimbulkan keraguan, namun kemampuan angin di Kota Samarinda cukup potensial untuk menghasilkan listrik walau tidak seoptimal surya.
Dalam video yang beredar di media sosial, penjelasan Nasrul dari Lentera Bumi yang merupakan mitra CeCur dikonfirmasi akan menjadi energi pengerak Taman Para’an. Pemasangan kincir angin di Taman Para’an bahkan dianggap sebagai sebuah prestasi karena biasanya kincir angin dipasang di daerah perbukitan dengan angin yang kencang. Sedangkan taman ini berada di perkotaan, di wilayah yang dikepung oleh permukiman dan ruang usaha.
Tampakan lain dari Taman Para’an terkait energi adalah pemanfaatan air hujan. Di taman ini dipasang instalasi Panen Air Hujan yang ditangkap oleh atap dan kemudian dialirkan melalui talang. Air hujan akan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan taman karena tidak bisa dipenuhi dengan membangun sumur atau mengambil langsung dari Sungai Karangmumus yang kualitas airnya buruk.
Dengan pemanfaatan sinar matahari, angin dan air hujan untuk memenuhi kebutuhan energi Taman Para’an maka aspek edukasi bagi masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang terbarukan sebagai sumber energi terpenuhi oleh taman ini.
Sebagai ruang publik, Taman Para’an bukan sekadar menjadi ruang hijau melainkan juga laboratorium mini, pustaka in situ tempat warga Kota Samarinda bisa belajar tentang pemanfaatan energi terbarukan, air hujan dan tentang bagaimana kota serta warga bisa beradaptasi pada perubahan iklim.
Untuk memastikan keberlanjutannya CeCUR telah melakukan peningkatan kapasitas terhadap anggota Pokja Ruang Publik untuk melakukan perawatan dan perbaikan baik pada instalasi energi surya dan bayu maupun Panen Air Hujan, guna memastikan kemandirian Taman Para’an dalam memenuhi kebutuhan energi dan air bersih secara mandiri dan berkelanjutan.
Ada banyak harapan digantungkan pada Taman Para’an ini, taman pertama yang akan ditenagai oleh energi terbarukan dan air bersih yang dipanen dari hujan atau rainfall harvesting.
Taman yang dibangun dengan pendanaan dari Adaptation Fund, lembaga pendanaan internasional untuk negara-negara berkembang yang melakukan aksi adaptasi perubahan iklim ini disalurkan melalui Kemitraan/Partnership sebagai National Implementing Entity, NIE.
Dengan tujuan mendukung pemerintah untuk mengurangi dampak perubahan iklim dengan pendekatan lokal atau dari bawah, bottom up, program adaptasi perubahan iklim ini tidak hanya dilaksanakan di Kota Samarinda, melainkan juga di Pekalongan, DAS Saddang Sulawesi Selatan, Kabupten Bulukumba dan Kabupaten Maluku Tengah.

BACA JUGA : Kena Mental

Samarinda merupakan kota yang terluka karena ekstraksi sumberdaya alam yang tak berkelanjutan. Demam kayu membuat Samarinda kehilangan hutan, bahkan hingga sekarang untuk memenuhi kebutuhan ruang terbuka hijau dan hutan kota saja belum berhasil sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang.
Defisit daya dukung lingkungan mengakibatkan warga Kota Samarinda mengalami penderitaan karena bencana keairan, bencana kualitas udara, bencana kebakaran dan lain-lain.
Adalah jamak bagi Kota Samarinda kelebihan air di musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau.
Kehadiran Taman Para’an bisa menjadi angin segar untuk kota yang punya tagline Kota Pusat Peradaban. Ruang publik bisa menjadi peradaban baru Kota Samarinda untuk menyadarkan dan mendidik warga agar mempunyai paradigma baru dalam pemanfaatan energi terbarukan termasuk air hujan.
Sinar surya, hembusan angin dan hujan selama ini disia-siakan oleh warga Kota Samarinda, dibiarkan begitu saja, bahkan air hujan diupayakan untuk dibuang secepat mungkin ke laut agar tak menimbulkan banjir.
Giat membangun kota, sebagian lahan di wilayah Kota Samarinda mengalami perkerasan sehingga air hujan sebagian besar menjadi air liaran atau run off. Tingginya koefisiensi air hujan menjadi run off membuat Kota Samarinda selalu beresiko untuk mengalami banjir, jika banjir diterjemahkan sebagai genangan air pada tempat yang tidak dikehendaki untuk tergenang air.
Dan ekstraksi sumberdaya alam berupa batubara sebagai bahan pembangkit energi semakin membuat Samarinda terluka. Samarinda kehilangan perbukitan, kehilangan tutupan vegetasi pada lahan hijau, kehilangan ruang tangkapan dan resapan air.
Pemanfaatan sumberdaya alam terbarukan untuk sumber energi dan sumber air bersih bisa menjadi titik lenting bukan hanya untuk adaptasi pada perubahan iklim tetapi juga untuk membangun peradaban baru di Kota Samarinda.
Dalam daftar komunitas yang disampaikan oleh CeCUR kepada berbagai media ada sederet komunitas anak-anak muda di Kota Samarinda yang diharapkan menjadi tulang punggung keberlanjutan Taman Para’an.
Mestinya anak-anak muda ini tidak hanya dilibatkan dalam berbagai selebrasi, tetapi juga dididik dan disadarkan bahwa masa depan energi terbarukan adalah sebuah peluang. Ada green oportunity disana, karena pengetahuan, ketrampilan dan inovasi dalam energi terbarukan membuka kesempatan dan peluang green job, kesempatan untuk mengembangkan karir, profesi dan usaha yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Waktu akan menguji apakah skema Pokja Ruang Publik akan membuat eksistensi Taman Para’an bertumbuh seperti visi yang diungkapkan oleh para pengembangnya. Adakah taman yang harus diapresiasi sebagai ‘Taman Kedaulatan Energi’ ini mampu menjadi pelecut bagi dinamika peradaban baru di Kota Samarinda lewat transisi energi yang berkeadilan. Energi yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan menjaga kebelanjutan komunitas serta lingkungan.
Penulis : Windasari
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Sumber Gambar : Windasari








