KESAH.ID – Negeri Preman, julukan itu mungkin pantas disematkan untuk Indonesia dengan banyaknya organisasi yang berbasis masyarakat yang suka berseragam ala-ala militer dan mengandalkan otot untuk menyelesaikan persoalan. Keberadaan preman ini dimungkinkan krena negara terkadang meminjam tangan mereka untuk menyelesaikan persoalan. Dalam banyak kasus kaum preman ini merasa boleh main hakim sendiri untuk menyelesaikan persoalan. Dekat dengan penguasa, kelakuan mereka terkadang lebih-lebih dari aparat.
Kesel nggak sih kalau tiba-tiba ada yang nongol lalu minta uang parkir? Walau cuma dua ribu perak, tetap saja rasanya kayak dompet kena pajak tambahan. Terutama di tempat-tempat absurd kayak ATM, di mana orang datang bukan buat nongkrong tapi untuk ngambil atau ngirim duit.
Udah gitu, yang minta uang parkir kadang ada aja kelakuannya. Contohnya kejadian di ATM dekat Hotel Senyiur, Samarinda. Datanglah seorang yang berpenampilan agak sangar, mendekati dua orang yang lagi duduk di atas motor, nunggu temannya keluar dari ATM. Dengan gaya bos besar, dia nanya, “Dua motor, kan?”
Yang ditanya nggak njawab, hanya memandang dengan tatapan agak sebel. Mungkin dalam hatinya bilang “Hitung aja sendiri, masak cuma ngitung sampai dua pakai nanya,”. Dan tak ada cara lain kalau ditagih tukang parkir selain meraba kantong, cari recehan.
Tapi yang menarik bukan cuma gaya nariknya, tapi juga basa-basinya. Ketika si preman melihat saya melangkah untuk masuk ATM, dia tiba-tiba nanya, “Bang, sampo-nya apa?”.
Anjrit, ini preman atau sales produk rambut?
Saya cuma bisa tertawa, batal kesel. Diplomasi lewat obrolan absurd kayak gini tuh jarang gagal.
Ketika selesai dari ATM, dia nggak langsung lihat saya balik ke motor. Tapi begitu mesin motor bunyi, dia otomatis mendekat. Uang dua ribu kuulurkan dengan waspada, siapa tahu ada biaya administrasi tambahan. Tapi ternyata dia nerima dengan sopan. Bahkan sambil bilang, “Matur nuwun.”
Eh, dia berbahasa Jawa? Dalam hati saya cuma bisa bilang, “Asem, Jawa semprul!”
Lalu sebelum pergi, dia tiba-tiba ngajak salaman erat. Saya agak ragu, yang tiba-tiba ramah itu agak mencurigakan. Tapi ya sudahlah. Setelah itu dia ngelantur dalam logat Banjar, bilang kalau dia suka bersilaturahmi dengan siapa aja.
Jadi ini preman Jawa atau Banjar? Atau intel yang nyamar dengan gaya nggak konsisten?
Pas saya mulai tarik gas, dia ngasih wejangan pamungkas, “Hati-hati, Bang. Sehat dan banyak rezeki selalu.”
Gila. Sampai bingung ini preman atau motivator nasional?
BACA JUGA : Tipu Tipu Solusi Palsu
Kalau dipikir-pikir, memang ada preman yang lucu, lucu-lucu dungu, mirip karakter di Preman Pensiun. Ada juga yang sok bijaksana, tapi tetap bersembunyi di balik senyum manis dan lengan ber-tatto.
Setiap kota pasti punya geng preman khasnya. Di Manado, misalnya, preman selalu bawa koran—bukan buat baca berita, tapi buat nyembunyiin pisau. Istilah “koran” bahkan dipakai buat nyebut tatto yang nyaris nutup sekujur tubuh mereka.
Tapi yang menarik, bukan cuma preman-preman jalanan, tapi juga preman berdasi. Preman jenis ini punya brand image lebih rapi. Punya reputasi kekerasan, tapi tangan selalu bersih karena yang kotor-kotor cukup dilakukan anak buah. Preman ini kadang ada dalam organisasi nasionalis, keagamaan, atau kesukuan—dengan bendera yang kelihatan lebih sopan di permukaan.
Kalau di sejarah Indonesia, preman berseragam dan berjubah kayak tukeran shift, tergantung siapa yang berkuasa. Ada masanya kelompok preman berjubah bebas melakukan sweeping di mana-mana. Siapa pun yang nggak sesuai norma versi mereka, langsung divonis bersalah.
Salah satu nama besar di dunia premanisme Jakarta adalah Herkules. Dulu, dia bagian dari operasi militer di Timor Timur, tapi akhirnya bawa kerajaan premannya ke Tanah Abang. Dengan bisnis macam pemerasan dan entertainment, Herkules sempat berjaya. Sampai akhirnya dia terdongkel. Tapi kayak layangan putus yang nggak mau jatuh ke sawah, dia tetap bangkit—terjun ke usaha debt collector, membeli lahan, bertani, dan bahkan muncul sebagai sosok dermawan bagi komunitas Indonesia Timur.
BACA JUGA : Duka Petani Lempake Menjelang Panen Padi Terendam Banjir
Ketika Prabowo bangun partai, Herkules ikut mendirikan organisasi yang memobilisasi preman dan gangster untuk dukungan akar rumput. Dan sekarang, setelah Prabowo jadi presiden, Herkules makin sering muncul dengan komentar dan ancaman kepada siapa saja yang berani mengkritik Jokowi.
Tapi nggak semua preman pensiun suka dengan gaya main hakim sendiri ala Herkules. Dari Manado, seorang preman pensiun bernama Papar, yang wajahnya udah tertutup tatto, ngasih peringatan keras lewat video di media sosial.
Menurut Papar, walaupun preman, tetap harus punya etika. Jangan main kasar ke orang tua. Apalagi sampai ngelontarin ucapan nggak pantas buat purnawirawan TNI.
Dan ya, buat sebagian preman pensiun, mereka memang punya aturan jangan tindas yang lemah dan jangan kurang ajar sama orang tua.
Jadi, kalau ada yang bilang semua preman sama, sebenarnya nggak juga. Ada yang jadi motivator dadakan, ada yang jadi influencer politik, ada juga yang tahu aturan hormat ke yang lebih tua—meskipun tetep pake tatto model koran di seluruh badan.
note : sumber gambar – DETIK








