KESAH.IDBeberapa tahun terakhir ini kawasan persawahan di Belimau selalu tergenang air setiap kali hujan deras di hulu Sungai Karangmumus. Genangannya seperti danau sehingga sawah yang mengapit jalan itu ramai dikunjungi oleh warga menjadi destinasi wisata air. Café, kedai dan kios berderet sepanjang tepi sawah di kedua sisi jalan. Di balik ramainya persawahan Belimau pada akhir pekan, ada nestapa di mata Ibu Pariyem yang tanaman padinya terancam gagal panen di musim tanam kali ini.

Sebulan lagi seharusnya panen tiba, saat kegembiraan terbesar petani akan datang. Tapi bulir padi yang mulai menguning di hamparan kehijauan itu kini rata terendam. Air menggenang tanpa tanda-tanda surut, dan ancaman kerugian besar sudah nampak di pelupuk mata.

Sudah beberapa tahun terakhir ini kejadiannya selalu berulang, membuat petani serasa putus asa. Hanya saja ditengah ketidakpastian dalam bersawah, masih banyak tangan-tangan yang tetap memilih menanam walau kegagalan sudah menghampiri berkali-kali.

Di tepi sawah yang digenangi air, seorang ibu duduk termenung, matanya mengawasi burung-burung pipit yang tak henti-hentinya mencicipi butiran padi yang masih terlihat menyembul di permukaan. Saat ditanya mengapa ia tetap bertahan, ia hanya tersenyum lelah dan berkata, “Kalau saya tidak menanam, saya kerja apa? Ini pekerjaan saya.”

Sebagian warga memang hanya tahu bertani, umur tak mungkin lagi untuk belajar ketrampilan baru, berganti profesi. Warga Lempake, mulai dari Kebon Agung, Gunung Kapur, Giri Rejo, Sido Mulyo, dan seterusnya adalah warga transmigran dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka datang bergelombang antara tahun 1972 -1974.

Kepada mereka diberikan lahan kurang lebih 2 hektar, sepertiga hektar untuk pekarangan, dua pertiga hektar untuk ladang dan satu hektar untuk sawah. Daerah Lempake yang dialiri oleh anak sungai Karangmumus memang mempunyai wilayah rawa-rawa, lahan basah yang kemudian dialihfungsikan menjadi sawah.

Di tahun kedatangan mereka, tentu saja Lempake masih berupa hutan. Butuh perjuangan selama bertahun-tahun untuk membuat pekarangan, ladang dan sawah siap ditanami.

Ibu Pariyem, 58 tahun, hanya bisa mengenang masa itu samar-samar. Dia masih kanak-kanak ketika mengikuti orang tuanya berpindah dari Jawa Tengah, mengikuti program transmigrasi di era Pelita Pertama pemerintahan Presiden Suharto.

Lempake kini tumbuh menjadi salah satu wilayah pemekaran perkotaan Kota Samarinda. Lahan yang dimiliki berada di sepanjang Jalan Betapus. Pariyem berniat untuk terus mempertahankannya menjadi lahan pertanian. Tak tergoda untuk menjualnya walau banyak tetangganya telah melakukannya.

“Kalau untuk makan, kami sudah cukup hanya dengan bertani, tanpa harus menjual lahan,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Pariyem terus bertani, sedangkan banyak saudara-saudaranya bahkan anaknya memilih untuk berjualan di pinggir jalan.

“Tak banyak yang mau bertani lagi,” ujar Pariyem.

Pahlawan pangan Indonesia ini memang tak dihargai. Jarang ada anak-anak yang dengan bangga menyebutkan cita-citanya ingin jadi petani.

Kehadiran warga transmigran di Kalimantan Timur memperkenalkan cara dan model pertanian baru. Masyarakat tradisional Kalimantan Timur bertani dengan cara perladangan berpindah {tebas, bakar, tanam} dan memanfaatkan lahan pasang surut. Tanah tidak diolah, sehingga hanya bisa ditanami satu atau dua musim.

Sementara transmigran membawa budaya tanam di daerah asalnya, pertanian budidaya dan menetap.

Di Lempake, warga transmigran selain bertanam padi di sawah, juga bercocok tanaman musiman seperti jagung, ketela, ubi dan sayuran, selain itu pekarangan dan ladang juga ditanami tanaman jangka panjang seperti kelapa, buah-buahan, kopi, coklat dan lain-lain.

Tumbuh menjadi salah satu daerah lumbung pangan Kota Samarinda, petani di Lempake bisa melakukan intensifikasi karena pemerintah kemudian membangun Bendung Lempake atau lebih dikenal dengan nama Waduk Benanga.

Bu Pariyem {58} tahun, salah satu petani di Kelurahan Lempake yang sawahnya terendam banjir selama berhari-hari.

BACA JUGA : Kutukan Keramat Gunung Steleng

Bendung Lempake, dibangun pada tahun 1977 dan diresmikan pada tahun 1981. Bendungan ini difungsikan sebagai sumber air baku dan irigasi untuk pertanian. Luas daerah pertanian yang bisa dialiri oleh bendungan ini selua 714,56 hektar.

Dengan pasokan air melalui irigasi, petani di Girirejo, Muang Ilir, Belimau bisa bertanam padi sepanjang musim.

Bendung Lempake yang menimbulkan genangan seluas 194,5 km persegi ini menangkap air dari aliran Sungai Karangmumus Atas, Sungai Pampang Kanan, Sungai Pampang Kiri, Sungai Lubang Putang dan Sungai Tanah Merah. Di bawah spillway Bendung Lempake ada anak sungai Muang Dalam yang masuk ke aliran Sungai Karangmumus.

Bu Pariyem mengkonfirmasi bahwa irigasi dari Bendung Lempake bisa meningkatkan produksi padi di sawahnya. Namun Bu Pariyem juga ingat peristiwa jebolnya tanggul penahan bendungan yang membuat banjir besar, bukan hanya Lempake yang terendam berminggu-minggu melainkan juga wilayah Kota Samarinda.

Tahun 1997, Samarinda dilanda derita didera musim kering berkepanjangan mulai pertengahan tahun. Selama kurang lebih 10 bulan Samarinda kekurangan air. Hujan baru mulai turun di bulan Maret 1998.

Warga di bumi khatulistiwa ini mengalami penderitaan multi dimensi, Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi dan politik, warga Samarinda mendapat bonus krisis air.

Juni dan Juli 1998 langit Samarinda mengamuk, hujan turun tumpah ruah. Dan tanggal 28 Juli 1998, Bendung Lempake atau lebih dikenal dengan nama Waduk Benanga jebol. Samarinda diterjang banjir selama sepekan lebih dengan genangan tertinggi 2 meter.

Bendungan yang dibangun pada tahun 1978 ini memang tidak dimaksudkan untuk mengendalikan banjir. Bendung Lempake dimaksudkan untuk meninggikan aliran Sungai Karangmumus agar bisa mengaliri ratusan hektar sawah di sekitar alirannya. Bendung Lempake adalah sarana untuk mengumpulkan air untuk irigasi sederhana.

Overtoping atau air melimpas melewati tanggul ini menjadi kisah traumatis bagi warga Samarinda.

Setiap kali Samarinda banjir, warga sering mengatakan “Pintu bendungan dibuka,”

Tapi banjir setelah di wilayah Lempake saat ini berbeda dengan banjir di masa reformasi meledak waktu itu.

Bendung Lempake setelah banjir tahun 1998 lebih disebut sebagai pengendali banjir. Namun karena sejak semula tidak dimaksudkan sebagai bendung pengendali, kemampuan Bendung Lempake tidak maksimal.

Paska otonomi daerah, Bendung Lempake mengalami pendangkalan yang ekstrim. Dengan kewenangan yang diberikan pada pemerintah daerah setingkat Kabupaten/Kota untuk memberikan ijin tambang berupa KP atau Kuasa Pertambangan, wilayah Kecamatan Samarinda Utara menjadi salah satu daerah yang menjadi area konsesi puluhan perusahaan tambang. Ada yang mendapat ijin dari Pemerintah Nasional yakni PKP2B atau Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara. Salah satu pemegang P2KP adalah Lana Harita.

Lingkungan tempat tinggal Bu Pariyem di Belimau, Lempake memang tidak ditambang, tapi lingkungannya menerima dampak dari pertambangan di wilayah bagian tengah dan hulu Sungai Karangmumus.

Sawah Bu Pariyem dan petani-petani lainnya di Betapus bisa terendam air berhari-hari.

Bu Pariyem menatap hamparan padi yang tak seberapa luas itu masih terendam sisa banjir dan berharap bulir pada yang akan segera dipanen tak rusak.

BACA JUGA : Tipu Tipu Solusi Palsu

Pada usia yang makin senja, Bu Pariyem tak lagi sekuat dulu. Dia kini hanya mampu menanam di sepetak kecil yang hasilnya tak seberapa. Air yang merendam sawah berhari-hari, tak kunjung surut membuat hatinya gundah gulana. Besar kemungkinan dia akan kehilangan panenannya.

Buat petani banjir meninggalkan derita. Namun untuk sebagian lainnya justru menjadi ladang rejeki. Betapus yang berada di jalan penghubung antara Lempake dan Sempaja, karena sawah yang digenangi banjir berkembang menjadi destinasi wisata. Café, warung dan kios berjajar diantara jalan dan persawhan, setiap akhir pekan selalu ramai dengan pengunjung. Dibalik keramaian dan keriaan para pengunjung ada tangis sunyi petani yang makin kehilangan harapan.

Ratusan hektar lahan persawahan menjadi tak produkstif lagi, bukan karena petani malas atau gengsi berprofesi sebagai petani. Tapi petani itu sudah bertahun-tahun tak lagi mendapat imbal hasil yang layak. Luapan air Karangmumus di kala hujan bukan lagi rejeki, sebab airnya membawa kandungan lumpur tersuspensi yang tinggi. Endapan lumpur yang mengenangi sawah dan merendam padi akan menghambat pertumbuhannya.

Banjir lumpur datang setelah tambang-tambang beroperasi, erosi membuat Sungai Karangmumus mendangkal, juga Bendung Lempake sehingga air permukaan yang berlimpah di waktu hujan akan meluap dan kemudian mengenangi lahan pertanian dalam jumlah yang berlebihan.

Bagi sebagian petani akan lebih menguntungkan untuk bekerja sebagai buruh tani harian. Sebagai buruh mereka akan mendapat upah dan tidak menanggung resiko kehilangan hasil panenan. Tapi untuk Bu Pariyem, bertani, bersawah adalah satu-satunya ketrampilan yang dikuasainya. Menjadi petani adalah jalan hidupnya.

Mungkin Bu Pariyem tak mendengar hiruk pikuk transisi energi, pengakhiran energi buruk ke energi bersih. Kalaupun mendengar Bu Pariyem juga tak akan langsung gembira. Umur telah mengajarkan bahwa ada banyak rencana yang tinggal menjadi rencana yang wujud nyatanya masih lama.

Penulis Berita : Herliana

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

Sumber Foto : Herliana