KESAH.IDDari era keemasan ruang redaksi yang sakral hingga lahirnya fenomena homeless media yang nomaden, lanskap informasi kita telah mengalami pergeseran struktural yang radikal. Internet dan algoritma media sosial tidak hanya meruntuhkan kedigdayaan institusi media raksasa, tetapi juga mengubah total budaya masyarakat dari berburu berita menjadi pasrah dikejar konten. Sekat-sekat jurnalistik konvensional mati di hadapan kuasa viralitas digital.

Dulu, jika anak-anak ditanya kalau besar ingin menjadi apa, tidak sedikit yang dengan gagah berani mengatakan ingin menjadi Presiden. Namun, kebanyakan dari mereka akan menjawab ingin menjadi tentara atau polisi, baru kemudian profesi lain seperti dokter, guru, dan sebagainya.

Jarang sekali ada anak yang menyebutkan ingin menjadi wartawan.

Kenapa? Profesi wartawan pada waktu itu kurang terlihat oleh anak-anak. Sebagai sebuah pekerjaan yang tugasnya mencari informasi, mendalami, dan kemudian memberitakan suatu peristiwa, wartawan memang jarang tampil di depan layar. Wajar saja jika kemudian anak-anak tidak begitu mengetahuinya.

Namun, ketika mereka mulai tumbuh menjadi remaja, profesi wartawan pasti terlihat menarik sekaligus menantang di mata anak-anak muda. Banyak yang berminat, tetapi tidak banyak yang memiliki keberanian; tugas wartawan terkesan sangat berat dan proses seleksinya pun terkenal ketat.

Kecuali untuk ceruk wartawan perang atau wartawan investigasi, profesi jurnalis kemudian sempat menjadi impian para ibu yang memiliki anak gadis.

Menjadi wartawan itu terasa keren, ke mana-mana menenteng kamera. Setelah sempat dijuluki “Mat Kodak”, mereka yang gemar memotret dan membawa kamera ke mana-mana pada masa itu langsung dijuluki sebagai Wartawan.

Pekerjaan wartawan dulu memang sangat jelas; mereka bekerja di sebuah lembaga penerbitan, publikasi, atau perusahaan pemberitaan. Sama seperti perusahaan lain, perusahaan media zaman dulu banyak yang berskala besar. Kantor mereka berdiri di gedung-gedung yang megah, besar, dan tinggi, hingga kompleksnya kerap disebut sebagai gedung, building, atau tower.

Rumah tempat bernaung para wartawan memang konkret, yakni media cetak serta media elektronik berupa televisi atau radio.

Masyarakat sebagai konsumen media pun bisa membedakan tipikal masing-masing media dengan jelas dan tegas. Jika membutuhkan informasi berita yang mendalam, mereka akan membeli koran. Kalau ingin tahu tentang visual peristiwa, kejadian terkini, dan perkembangan politik, mereka akan menonton televisi. Sementara itu, jika ingin mendengar musik atau info kilat terbaru, mereka akan mendengarkan radio.

Mengonsumsi media telah menjadi bagian dari budaya populer. Koran akan dibaca pada pagi hari sebelum beraktivitas, biasanya di teras rumah atau lobi kantor sambil ditemani segelas teh, kopi, dan kudapan. Televisi umumnya akan ditonton pada malam hari sambil beristirahat atau bercengkerama dengan anggota keluarga lainnya. Sementara itu, radio sering disetel sepanjang waktu untuk menjadi teman setia dalam beraktivitas.

Media menjadi sangat khas dan memiliki ciri khas masing-masing karena diatur dan dikelola dengan sangat ketat. Di sebuah kantor media selalu ada ruang redaktur yang diisi oleh para “dewa”. Wartawan selalu merasa segan dan keder menghadapi redaktur, sosok yang ucapannya akan selalu dianggap benar dan perintahnya wajib dilaksanakan.

Di tangan redaktur inilah nyawa dan marwah media terus dijaga; apa pun yang akan muncul di lembar media amat tergantung pada izin dari redakturnya. Tugas redaktur adalah memimpin rapat proyeksi berita, melakukan kontrol kualitas (quality control) pada naskah berita, serta melakukan koreksi atau perbaikan sebelum informasi tersebut dipublikasikan.

Redaktur akan menjaga substansi serta mengawal visi dan misi penerbitan. Tidak heran jika kemudian redaktur kerap bersitegang atau bahkan berkonflik dengan bagian komersial perusahaan penerbitan, karena orang-orang komersial biasanya lebih mengutamakan ruang media untuk meraup pendapatan iklan.

BACA JUGA : Agen Sosro

Namun zaman berubah, muncul masa senjakala media seiring dengan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau internet. Akan tetapi, sebelum media berbasis internet marak, dunia media arus utama (mainstream) di Indonesia sebenarnya sudah terguncang lebih dahulu oleh faktor lain.

Setelah media dikekang dan direpresi oleh Soeharto di masa Orde Baru, momentum ketika Soeharto lengser dan digantikan oleh B.J. Habibie menjadi masa keemasan baru. Dalam masa kepemimpinan yang relatif pendek, Presiden Habibie meninggalkan warisan manis bagi bangsa ini, yakni kebebasan pers.

Habibie mencabut kewajiban bagi lembaga publikasi atau penyiaran dalam hal kepemilikan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Dengan adanya SIUPP di zaman dulu, media bisa dibredel atau dilarang terbit sewaktu-waktu seperti pada masa Soeharto. Dengan ditiadakannya SIUPP dan ketentuan ketat lain tentang sensor, maka praktik pembredelan otomatis dihapuskan.

Keterbukaan dan kebebasan ini membuat usaha pers menjamur dan jumlahnya meledak drastis. Pada tahun-tahun awal reformasi, usaha penerbitan pers yang tadinya hanya berjumlah sekitar 289 penerbitan langsung tumbuh subur menjadi 1.687 penerbitan.

Namun, ledakan usaha penerbitan pers ini ternyata juga memicu masalah baru. Ada banyak media atau insan pers yang bertindak semena-mena. Pada tahun 2004, menurut catatan AJI (Aliansi Jurnalis Independen), terdapat 32 gugatan hukum yang diarahkan terhadap media dan jurnalis.

Anak-anak yang dulu ketika ditanya kalau sudah besar mau jadi apa dan menjawab ingin jadi presiden, dokter, guru, tentara, atau polisi, pada akhirnya banyak yang berbelok menjadi wartawan. Tiba-tiba saja, semua orang seperti bisa menjadi wartawan atau mengaku-ngaku sebagai wartawan.

Media, utamanya media cetak, jumlahnya meledak luar biasa. Hanya saja, ledakan kuantitas media tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan mutu produk berita. Menjadi wartawan serasa teramat gampang, karena modalnya seolah-olah hanya bersenjatakan kemauan.

Dalam banyak manajemen media penerbitan baru, para wartawannya tidak dipersiapkan dengan baik. Tidak ada pelatihan atau pembekalan matang seperti pada masa-masa sebelumnya, yang kerap dimulai dengan proses pemagangan yang panjang dan melelahkan.

Media-media mainstream yang sudah mapan dan besar pun ikut kebingungan, terutama dalam menghadapi arus deras perkembangan TIK. Internet membuat perilaku masyarakat dalam mencari informasi berubah total. Dalam perkembangan selanjutnya, internet bahkan mulai menggerogoti aspek komersial media mainstream. Lapak iklan mulai bermigrasi dari media mainstream menuju platform internet.

Media-media mainstream kemudian mengambil langkah taktis untuk meng-online-kan isi media mereka. Mereka memindahkan mentah-mentah versi cetak dan elektronik ke dalam bentuk situs web (website). Mereka masih menerbitkan koran atau majalah dan menyiarkan program di saluran radio atau televisi, namun kini mereka juga memiliki versi internet.

Masalahnya, media-media mainstream ini pada awalnya tidak tahu bagaimana cara menghasilkan uang lewat internet. Sebab, apa pun yang tersaji di internet pada waktu itu masih dianggap sebagai hal yang serba gratis.

Akibatnya, media-media mainstream ini kemudian kalah bersaing dengan media-media daring (online) baru, yang sejak awal kelahirannya memang didesain untuk beroperasi dalam ekosistem digital.

Media mainstream kemudian kesulitan bergerak karena struktur organisasi mereka yang terlanjur gemuk, serta harus menanggung biaya operasional yang besar untuk aset fisik berupa gedung, mesin percetakan, studio siaran, dan lain-lain. Media yang tidak mampu bertahan akhirnya mati, sedangkan media besar pelan-pelan mengurangi awak medianya dan mulai menutup beberapa versi cetak mereka.

Sebaliknya, media yang terlahir murni sebagai media online memang jauh lebih ramping, dan struktur penerbitannya sudah dilengkapi dengan sumber daya manusia yang memahami cara kerja internet secara mendalam. Detik, misalnya, selain merupakan media publikasi, perusahaannya juga menyediakan layanan untuk pembuatan website. Bahkan, layanan digital inilah yang menjadi penopang utama untuk membesarkan namanya di awal kemunculannya.

BACA JUGA : Kontras Di Muara Badak, Tanjung Limau Tumbang Ditinggal Tambang

Namun lagi-lagi, perubahan datang jauh lebih cepat justru karena perkembangan internet itu sendiri. Kini muncul platform media sosial, yang membuat keberadaan situs web (website) mandiri masih tetap diperlukan tetapi perannya mulai bergeser menjadi minor.

Pertumbuhan media sosial yang tidak hanya merambah ke model pencarian informasi melainkan juga sudah merasuk ke model konsumsi lainnya—seperti belanja lewat social commerce—telah membuat perilaku masyarakat berubah total. Media sosial mengubah kebiasaan penjelajahan digital masyarakat, dari yang dulu gemar melakukan browsing kini berubah menjadi aktivitas scrolling.

Jangankan institusi media, mesin pencari seperti Google saja lama-kelamaan sudah mulai kehilangan posisinya sebagai rujukan utama. TikTok dan platform media sosial lainnya kini telah bertransformasi menjadi rujukan utama pencarian informasi bagi generasi muda. Media sosial memang memiliki kelebihan; dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), mereka melakukan profiling terhadap pemakainya dan kemudian merekomendasikan informasi secara sangat personal. Pemakai media sosial pun dimanjakan dengan informasi kesukaannya tanpa perlu repot-repot mencari.

Perilaku bermedia akhirnya berubah secara struktural: dari media mainstream bergeser ke media online, dan kini bergerak menuju fenomena homeless media alias media gelandangan.

Arus baru dalam mengonsumsi informasi kini diwadahi oleh media yang tidak lagi memiliki rumah fisik atau platform mandiri, tidak seperti halnya koran, majalah, stasiun televisi, radio, atau bahkan portal berita resmi. Konten media ini berpindah-pindah layaknya kaum nomaden yang murni mengikuti pergerakan algoritma, bermigrasi di antara YouTube, TikTok, Instagram, X, Podcast, Threads, hingga kanal-kanal pribadi atau grup WhatsApp (WAG).

Audien atau konsumen medianya juga setali tiga uang; mereka gemar berpindah-pindah dan bukan lagi tipe pembaca yang mengunjungi satu kanal lalu berdiam cukup lama di sana untuk menikmati atau mencari informasi. Watak konsumen informasi dan karakteristik media seperti inilah yang sangat sulit untuk diikuti oleh media mainstream, bahkan oleh portal berita daring sekalipun.

Fenomena ini terjadi bukan karena media mainstream sudah tidak lagi dipercaya, atau karena kemampuan mereka untuk menyediakan informasi terbaru telah hilang. Namun, ekosistem TIK saat ini memang berkarakter demikian; ia melahirkan sebuah dunia baru yang sama sekali tanpa sekat.

Dalam ekosistem yang cair seperti ini, kekuatan sebuah media tidak lagi ditentukan oleh wibawa ruang redaktur atau besarnya ruang berita (newsroom), melainkan oleh sejauh mana kemampuan mereka untuk menyusup ke dalam lingkaran algoritma, menciptakan viralitas, serta membangun relasi yang intim dengan komunitas digital.

Kini, aspek distribusi informasi jauh lebih penting daripada nama besar sebuah institusi media. Konsumen media hari ini tidak lagi peduli dengan kebesaran Kompas Gramedia, kedalaman jurnalisme Tempo, atau konglomerasi media raksasa semacam grup RCTI, SCTV, Trans Media, dan lainnya. Panggung utama tidak lagi berada di studio stasiun TV, radio, atau institusi penerbitan, melainkan berpindah sepenuhnya ke platform media sosial.

Di era ini, yang bertubuh besar tidak lagi berarti selalu keluar sebagai unggulan. Sebuah media tidak perlu lagi menjadi yang paling raksasa untuk bisa berkuasa; hal yang terpenting justru adalah siapa yang bisa memberikan asupan informasi (feed) yang paling cocok dengan kebutuhan personal audiens. Maka dari itu, satu akun kecil pun bisa saja dengan mudah mengalahkan capaian newsroom milik media-media raksasa.

Konten kini beredar bebas seperti halnya planet di tata surya, sering kali tanpa identitas nama penciptanya. Para pembuat potongan video (clipper) bisa dengan mudah mengambil video orang lain, mengunggah ulang (post), mendistribusikan kembali (repost), menangkap layar (screenshot), dan kemudian membuatnya viral ke mana-mana. Mereka yang mengonsumsi dan memperbincangkannya bahkan banyak yang tidak paham atau tidak tahu dari mana sumber asli video tersebut berasal.

Siapa sosok yang memproduksi konten tersebut kini sudah tidak lagi dianggap penting; hal utama yang dipedulikan pembaca justru adalah apakah konten itu menarik untuk saya atau tidak.

Informasi saat ini bukan hanya melimpah ruah, melainkan juga menjadi sangat murah. Siapa pun kini bisa menjelma menjadi media dan memproduksi konten yang memiliki potensi viral yang sama besarnya. Konten-konten ini membanjiri linimasa, menenggelamkan berita-berita penting (breaking news) milik media arus utama. Berita penting yang berbobot sering kali hanya mampu bertahan beberapa menit saja di ingatan publik, sebelum akhirnya tertimbun oleh tayangan meme, video lucu, atau drama-drama media sosial lainnya.

Jika dulu konsumen yang aktif mengejar konten, kini keadaan berbalik: kontenlah yang aktif mengejar dan mencari audiens. Media arus utama, bahkan termasuk portal berita daring, mendadak menjadi gagu dan gagap dalam menghadapi kecenderungan baru ini. Kondisi ini tentu berbeda dengan homeless media yang sejak lahir memang dibekali kemampuan bawaan yang lebih paham cara membaca stimulus dan rayuan viralitas berdasarkan mekanisme algoritma.

note : sumber gambar – JATIMNOW