KESAH.IDKisah urban legend di Kota Samarinda sering berhubungan dengan bukit-bukitnya. Bukit di Samarinda sering disebut gunung, walau sebenarnya tak memenuhi syarat disebut gunung. Salah satu gunung yang erat dengan cerita mistik adalah Gunung Steleng. Kisah keangkeran bahkan kembali terdengar ketika dibangun terowongan yang menembus sisi barat hingga timur untuk mengurai kemacetan di Gunung Manggah.

Samarinda adalah kota yang unik. Berada di Timur Borneo dengan lanskap berbukit yang menjadikannya benteng alami terhadap angin dari dua penjuru—dingin dari timur, panas dari barat. Perpaduan dua arus angin itu membuat langit kota ini sering bertingkah. Warga sudah hapal betul: ketika angin timur mendominasi, hujan turun deras. Jika angin barat berkuasa, kota berubah menjadi tungku raksasa yang memanggang segala di bawahnya.

“Siang panas, sore hujan. Malam terik, pagi mendung.” Begitulah keluhan yang terdengar di warung-warung kopi di Samarinda. Kota ini tak pernah tunduk pada kalender musim. Ia punya langitnya sendiri.

Tapi bukan hanya cuaca yang membuat Samarinda istimewa. Sejarahnya pun bertabur kisah misterius. Kerajaan Kutai dahulu memilih tidak berdiam di sini, terlalu banyak bukit dan rawa. Orang-orang Sulawesi yang datang juga sempat enggan menetap—bukitnya curam, tanahnya berat. Bahkan Belanda pun hanya menempatkan kantor perusahaan di Samarinda, lebih suka berdiam di Loa Kulu dan Sanga-Sanga.

Hanya saja mandat dari Kerajaan Kutai membuat orang Bugis akhirnya menetap di Samarinda. Dan menamai wilayah itu dengan sebutan Salili. Dan kelak mereka memilih berpindah ke bagian seberang yang sekarang dikenal sebagai Kampung Bugis.

Dulu ketika tinggal di sekitar Muara Sungai Karangmumus, sebagian tinggal di rumah-rumah terapung. Di Kampung Apung ini tumbuh mitos yang mengakar. Mereka percaya  bahwa bukit-bukit di sini bukan sekadar tumpukan tanah. Mereka dijaga oleh makhluk gaib. Main-main dengan bukit, berarti mencari celaka.

Kisah para penjaga bukit menjadi urban legend bagi masyarakat Samarinda. Gunung RCTI misalnya dipercaya dihuni oleh sepasang macan. Kisah kuda putih juga dinarasikan di sekitar Bukit Jabung Kemakmuran. Sementara Bukit Suryanata dihantui oleh wanita yang menyeramkan.

Gunung Steleng adalah legenda tersendiri. Dengan panjang hampir 4 kilometer dan menjulang setinggi 117 meter, ia menjadi titik tertinggi di Samarinda. Bentuknya lebih mirip bukit, tapi warga tetap menyebutnya “gunung”—sebuah pengakuan terhadap kekuatan mistis yang mengitarinya.

Konon, ada penghuni tak kasatmata yang menjaga Steleng. Dari makhluk besar penunggu bukit hingga makam keramat di puncaknya. Sejarah mencatat, pada masa kolonial, Belanda pun kewalahan menaklukkan Steleng. Kontur tanahnya curam, hutannya lebat. Satu perwira Belanda bahkan pernah berujar, “Bukit ini lebih licik daripada musuh yang terlihat.”

Waktu berlalu, dan tantangan baru datang. Tahun 1980-an, proyek Gunung Manggah diluncurkan—ambisi besar pemerintah untuk membelah Steleng menjadi dua demi kelancaran akses industri kayu dan baja. Bukit ditebas, ekosistem terputus. Rumah warga digusur demi pembangunan.

Gunung Manggah pun akhirnya terkenal bukan hanya karena proyek besar itu, tetapi juga karena tragedinya. Tabrakan beruntun kerap terjadi di jalan yang membelah gunung, longsor besar pernah memicu kemacetan parah. Bahkan cerita tentang keluarga serigala yang bisa berubah wujud beredar di masyarakat.

Gunung Selili memang mempunyai banyak kisah. Karena beberapa titiknya terkesan angker dan sering longsor. Anak-anak sering hilang, mungkin tersesat tapi masyarakat menganggap dibawa oleh mahkluk halus.

Beberapa proyek gagal dilaksanakan di bukit ini. Ada jejak jalan aspal yang tidak selesai, lalu yang cukup terkenal adalah pemasangan menara pemancara yang urung. Ada banyak masalah yang menimpa proyek yang sudah diperhitungkan secara teknis. Alat berat susah bergerak,  pekerja tiba-tiba sakit, proyek ini kemudian dihentikan, apalagi sempat membuat longsor besar yang mengancam permukiman. Proyek kemudian dipindahkan ke Bukit Lonceng, Mangkupalas.

Pintu terowongan Samarinda sebelah timur di bibir atasnya adalah gang di sebuah permukiman atas bukit.

Tahun 2024, sebuah rencana baru digulirkan: melubangi Gunung Steleng untuk membangun terowongan. Wali Kota yakin proyek ini akan menyelesaikan masalah di Gunung Manggah. Ia menjamin ekosistem akan tetap terjaga.

Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Bekantan dan owa-owa, primata khas Kalimantan, mulai hilang dari puncak Steleng. Hutan yang selama ini menjadi rumah mereka terus menyusut. Masyarakat mulai resah—apakah bukit ini sedang murka?

Dari mulut ke mulut beredar banyak cerita, tentang kisah-kisah mistis yang menghantui pekerjanya. Mereka sering mendengar suara aneh, mesin yang ngadat dan lain-lain. Tapi hal itu tak dihiraukan, dianggap sebagai bumbu mitos belaka. Proyek tetap dikebut demi mengejar catatan, Samarinda menjadi pertama yang punya terowongan.

12 Mei 2025, Samarinda dihantam hujan deras setelah berminggu-minggu diguyur panas 35 derajat Celsius. Sisi kanan portal terowongan longsor, mengguncang warga. Sebuah pertanyaan besar muncul: apakah terowongan ini benar-benar aman?

Pemerintah menepis ketakutan itu. “Struktur beton yang kopong akibat endapan lama,” kata Kepala Dinas PUPR, Desy Damayanti. “Tekanan air membuatnya jebol. Sudah kami benahi.”

Namun, warga tetap cemas. Samarinda, yang sejak dahulu menjunjung bukit sebagai bagian dari alam yang bertuah, kini dihadapkan pada modernisasi yang tak mengenal kompromi. Bukit Steleng telah bertahan ratusan tahun sebagai penjaga kota. Lantas, ketika manusia mengusiknya terlalu jauh, akankah ia benar-benar diam?

BACA JUGA : Bau Dollar

BACA JUGA : Sanggar Udang

Penulis : Wahyu Musyifa

Editor : Yustinus Sapto Hardjanto

Sumber Foto : Susur Gang Samarinda