KESAH.ID – Delta Mahakam adalah kawasan yang terbentuk dari sedimentasi Sungai Mahakam di muaranya. Membentuk pulau-pulau dengan anak sungai terpecah-pecah, membelah pulau-pulau itu hingga dari atas terlihat sebagai kipas. Kawasan yang di masa Kerajaan Kutai Kartanegara tak terlalu diatur ini tumbuh menjadi wilayah abu-abu, ada banyak kepentingan bertempur disana tanpa kelihatan oleh masyarakat luar. Wilayah itu sesungguhnya berbau dollar karena sumberdaya migas dan lautnya.
Delta Mahakam hampir tak pernah menjadi bahan percakapan saya ketika mulai tinggal di Samarinda. Saya lebih tertarik untuk membincang dan mengulik kehidupan masyarakat tradisionalnya terutama masyarakat Dayak, serta geliat ekonomi ektraksi dan dampaknya.
Meski dalam bayangan saya semula tentang Kalimantan Timur adalah hutan. Ketika saya sampai dan mulai tinggal di Kota Samarinda, industri kehutanan tengah surut dengan drastis. Perjalanan pertama saya dari Balikpapan ke Samarinda, menunjukkan sisa-sisa kejayaan industri kayu di sepanjang jalan yang dilewati.
Samar-samar saya hanya mendengar cerita tentang banjir kap, pabrik kayu lapis dan berita-berita PHK serta demonstrasi para pekerja atau eks buruh yang belum mendapat haknya. Sisa-sisa persoalan itu masih ada hingga saat ini.
Sebuah kopian digital disertasi dari P. Setia Lenggono menjadi awal pengenalan saya pada Delta Mahakam. Saya membaca sekilas, mengingat saya bukanlah pembaca yang sangat tekun hingga bisa hafal kalimat atau paragraf ini dan itu ada di halaman atau bab berapa.
Bagian menariknya adalah sebuah penggalan anekdot karikatif yang dituliskan dalam pembuka Bab V yang berjudul Beradu Kuasa Disela Padang Nipah : Dimana Batis Bepijak Disitu Tanah Ditajak.
Dalam anekdot itu dikisahkan tentang lomba lari yang diikuti oleh pelari yang mewakili suku-suku, baik asli maupun pendatang. Panitia dan penonton menunggu kedatangan pelari di garis finis. Dan munculah satu per satu pelari yang mengikuti lomba.
Pemenang pertama dan kedua berasal dari suku asli. Penonton mahfum, karena mereka mengenali medan, biasa lari mengejar binatang buruan. Lama setelah itu tak ada yang muncul. Tiba-tiba dari kejauhan kelihatan seseorang berjalan pelan. Melewati garis finis sebagai pemenang ketiga. Penonton maklum, karena pelari yang melewati garis finis ketiga tak kenal medan, jadi larinya pelan-pelan saja. Alon-alon waton kelakon.
Masih ada dua pelari, dan tidak muncul-muncul. Panitia dan penonton sepakat untuk menyusuri jalur. Dan beberapa kilometer dari garis finis, mereka menemukan pelari keempat, tidak berlari. Di dekat sebuah perempatan pelari keempat justru membangun pondok, saat ditanya untuk apa, jawabannya “Mau buka warung makan,”.
Tinggal satu pelari yang belum kelihatan. Panitia dan penonton pergi lebih jauh lagi dari garis finis. Beberapa kilo dari pelari keempat, terlihat pelari kelima yang tengah menebas lahan. Kembali ditanya kenapa tidak menyelesaikan finis?. Dia menjawab “Lebih baik mengolah lahan dari pada menang lomba lari,”
Kisah diatas menjadi gambaran karikatural bagaimana suku-suku baik asli maupun pendatang di Kalimantan Timur bertindak berdasarkan etika atau moralitas sukunya masing-masing.
Dalam konteks pemanfaatan lahan di kawasan Delta Mahakam, masyarakat keturunan Bugis yang jeli melihat peluang untuk menghasilkan uang dan membangun ekonomi setempat.
Delta Mahakam sendiri adalah kawasan muara Sungai Mahakam yang kemudian membentuk endapan atau tanah timbul yang kemudian ditumbuhi berbagai jenis tanaman hingga membentuk hutan mangrove.
Dari atas terlihat seperti kipas, dengan ujung luar berbentuk setengah lingkaran.
Ada banyak anak sungai yang membelah daratan yang berupa rawa-rawa itu, sehingga ada banyak pulau-pulau. Ditumbuhi oleh Nipah, Bakau, Api Api dan lainnya, kawasan ini menjadi kawasan yang sangat potensial untuk pertumbuhan alami udang, jutaan benur dihasilkan dari kawasan ini setiap musimnya secara alami.
Potensi lainnya dari kawasan ini adalah minyak dan gas. Potensi ini dikenali sejak tahun 1897 ketika JH. Menten memulai percobaan pengeboran disana. Tahun 1902 Shell dan Royal Ducth mulai menghasilkan migas dari ladang-ladangnya di Delta Mahakam.

BACA JUGA : Pasar Subuh dan Persatuan Tionghoa Samarinda

Potensi migas menempatkan wilayah Delta Mahakam menjadi wilayah strategis dalam perekonomian Kalimantan Timur, bahkan Indonesia. Ada banyak kepentingan berkaitan dengan hal itu disana. Terlebih jalur ini menjadi semakin penting dengan ektraksi sumberdaya alam lainnya seperti kayu, batubara dan kelapa sawit. Delta Mahakam menjadi jalur pelayaran untuk mengangkut hasil ekstraksi SDA Kalimantan Timur keluar, baik yang bersifat domestik maupun internasional.
Meski dicatat sudah ada perkampungan disana sejak jaman Kerajaan Kutai Kartanegara, tetapi hingga sekarang jumlah penduduknya tak banyak. Wilayahnya begitu menantang, karena hanya bisa dilewati oleh transportasi air. Hidup di daerah ini cukup sulit karena ketiadaan sumber air tawar, serangan nyamuknya juga ganas dan ekosistem nipah merupakan habitat buaya.
Di masa Kerajaan Kutai Kartanegara, wilayah ini cenderung tidak diurusi bahkan ditinggalkan. Kerajaan Kutai Kartanegara yang tumbuh dari Delta Mahakam atau hilir Sungai Mahakam kemudian malah berpindah masuk ke arah hulu. Hingga kemudian Kerajaan Kutai Kartanegara mencapai kejayaannya ketika berada di wilayah mendekati Mahakam bagian tengah.
Banyaknya pulau-pulau dan anak sungai yang bercabang-cabang membuat Delta Mahakam menjadi tempat yang ideal untuk persembunyian dan persingahan para perompak, bajak laut yang berasal dari Jolo dan Sulu, dan mungkin juga wilayah lainnya.
Konon masyarakat pribumi yang berdiam diantara Delta Mahakam dan Samarinda kemudian juga ikut-ikutan, kerap merampas dan merampok kapal kapal dagang yang lewat. Maka perahu-perahu dagang yang melewati Delta Mahakam menuju Samarinda akan selamat kalau dilengkapi dengan alat perang. Jika tidak maka akan menjadi mangsa perampasan dari masyarakat yang tinggal di wilayah itu.
Situasi menjadi lebih terkendali ketika armada Jolo dan Sulu mulai ditarik keluar dari sana. Orang-orang Bugis kemudian mengendalikan keadaan di wilayah ini dalam batas-batas tertentu. Orang Bugis bahkan mendapatkan kepercayaan dari Kerajaan Kutai Kartanegara untuk menjadi Syahbandar di Samarinda.
Dalam sejarah lisan Delta Mahakam, disebut nama Kampung Pemangkaran sebagai kampung tua yang dibangun oleh masyarakat Bugis. Kampung itu kini menjadi bagian dari Desa Sepatin. Disebutkan, Muara Pantuan merupakan wilayah dimana mereka berkebun, menanam kelapa. Peta bumi buatan Hindia Belanda pada tahun 1934 mencantumkan nama Pemangkaran dan Muara Pantuan sebagai area permukiman di Delta Mahakam.
Permukiman kemudian berkembang setelah kemerdekaan, mulai ada nelayan yang menjual hasil tangkapan atau olahan ikan asin ke Samarinda dengan berperahu.
Kekacauan politik antara tahun 1961 – 1965, membuat gelombang baru migrasi orang Bugis ke Delta Mahakam. Sebagian lain yang meninggalkan Sulawesi pergi menuju Sumatera. Kedatangan kaum migran ke daerah ini tidak dianggap ancaman, bahkan dianggap sebagai berkah. Jumlah penduduk bertambah, ekonomi bisa berkembang. Migrasi orang Bugis ke Kalimantan Timur tidak hanya ke Delta Mahakam, melainkan juga ke Samarinda, Kutai Kartanegara dan Bontang.
Di wilayah Delta Mahakam, aktivitas utamanya adalah berkebun. Mengubah area mangrove menajdi kebun kelapa dan tanaman pertanian lainnya. Jika ada yang menjadi nelayan, mereka menjadi nelayan tangkap.
Sampai dengan waktu itu kawasan hutan mangrove belum dianggap sebagai aset yang berharga. Penguasaannya ada di tangan Petinggi atau penguasa kampung yang punya hak otoritas untuk mendistribusikan dan membagikan pemanfaatannya.

BACA JUGA : Banjir Lagi

Gelombang migrasi baru kembali terjadi di tahun 70-an. Delta Mahakam berkembang karena ekploitasi migas dan investasi internasional di industri perikanan yang melayani ekspor udang beku.
Kaum migran Bugis yang menguasai teknik pertambakan kemudian juga mulai mengembangkan tambak udang. Konon kebun-kebun kelapa mulai terendam air, merubah menjadi tambak atau empang dirasa lebih menguntungkan.
Bersamaan dengan itu, pertumbuhan kebutuhan konsumsi pangan laut memicu penangkapan menggunakan trawl. Model penangkapan yang destruktif ini kemudian dilarang dan sebagai kompensasinya dikeluarkan kebijakan pertanahan yang memberi kompensasi dengan membuka lahan mangrove untuk tambak.
Mulai muncul ponggawa, juragan yang punya pengikut. Mereka kemudian bekerja sama dengan perusahaan ekportir udang untuk memasarkan hasil budidayanya.
Tahun 1980-1990 menjadi tahun perkembangan paling pesat usaha pertambakan. Tanah yang didistribusikan oleh Petinggi kepada punggawa kemudian didistribusikan pada para pengikutnya. Ponggawa mulai memegang peran penting di Delta Mahakam. Kuasa ekonomi lokal bahkan regulasi pertambakan ada di tangan mereka.
Ekploitasi pertambakan semakin tak terkendali. Ekosistem Delta Mahakam makin terdegradasi, usaha perkebunan dan pertanian semakin tak memungkinkan. Diversifikasi usaha lebih berpusat pada empang atau tambak, hal-hal yang berhubungan dengan usaha udang.
Sebenarnya lahan atau tanah di Delta Mahakam adalah Kawasan Budidaya Kehutanan atau KBK. Namun sebagian besar kini menjadi tambak, tambak yang petaknya sangat luas agar mudah diawasi dan memberikan hasil yang maksimal.
Delta Mahakam kerap digambarkan sebagai sabuk hijau pesisir Kalimantan Timur, pelindung daratan Kalimantan dari bencana atau peristiwa alam yang datang dari lautan. Tapi kini hijauan di tepi pulau-pulaunya hanya kamuflase, yang hijau hanya pinggirannya namun dibalik hijau itu adalah bentang empang yang lapang.
Produkstifitas tambak semakin menurun, banyak tambak yang terlantar. Abrasi dan sedimentasi semakin meluas, banyak rumah di permukiman mulai terendam air saat pasang. Rumah mesti mundur ke dalam karena abrasi.
Tapi bagaimanapun juga aroma udara Delta Mahakam masih berbau dollar, dari sumberdaya migas dan sumberdaya laut serta empang.
Udang dan kepiting dari Delta Mahakam masih yang terbaik, meski kualitasnya menurun karena over ekploitasi. Dipadukan dengan degradasi hutan mulai dari hulu hingga hilir aliran Sungai Mahakam, pasokan nutrisi alami yang membuat Delta Mahakam menjadi gundukan sendimentasi yang subur tak lagi berlanjut.
Para punggawa mungkin sudah mulai melakukan reinvestasi, mencari sumber-sumber pendapatan baru dan tidak menjadi empang sebagai sumber pendapatan tunggal. Dan lahan-lahan empagn laus yang terlantar atau tak lagi dipakai untuk budidaya tetap dipertahankan.
Seorang rekan memberi istilah yang menarik yakni jebakan lahan. Lahan itu dipakai sebagai jerat, siapa tahu Pertamina menemukan sumur di sekitarnya sehingga lahan-lahan akan diganti rugi. Atau siapa tahu ada proyek penanaman bakau, yang perlu lahan. Dan lahan akan mendapat kompensasi, syukur-syukur kembali difungsikan sebagai tambak lagi dengan label Tambak Ramah Lingkungan.
note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALIST








