- KESAH.ID – Ada banyak daerah kaya raya atau berlimpah dengan sumberdaya alamnya. Udang yang merupakan sajian mewah dan mahal di banyak tempat, berlimpah di wilayah Delta Mahakam. Saking berlimpahnya, udang kerap dijadikan camilan. Sanggar udang, atau udang yang digoreng dengan lapisan tepung seperti halnya pisang goreng merupakan sajian yang biasa saja, tidak istimewa untuk masyarakat Delta Mahakam. Tapi kelimpahan udang itu sedang dalam ancaman karena perubahan bentang alam di sepanjang Sungai Mahakam mulai dari hulu hingga hilir.
“Tunggu dulu, ibu-ibu sedang di belakang. Lagi membuat sanggar udang,” ujar seorang ibu memberitahu, kalau sebenarnya sudah banyak ibu-ibu yang datang berkumpul. Namun mereka sedang didapur untuk membuat camilan yang akan disajikan menemani perbincangan.
Dan satu loyang besar kemudian dibawa dari dalam rumah. Didalamnya ada camilan dengan bentuk bulat-bulat berwarna kecoklatan. Itulah Sanggar Udang.
Sanggar, begitulah orang Samarinda menyebut pisang yang digoreng dengan tepung. Namun ada juga Sanggar Cempedak, yang digoreng adalah cempedak masak dibalut tepung.
Dua puluh tahun lebih tinggal di Samarinda, baru kali ini saya mendengar Sanggar Udang.
Dan rasanya istilah yang membuat saya exicted itu adalah sebutan biasa di Delta Mahakam, sekurangnya daerah Muara Pantuan, Sepatin dan Tanjung Berukang.
Saking banyaknya udang, maka udangpun jadi camilan. Padahal di Samarinda, udang adalah sajian yang istimewa. Apa-apa yang ada udangnya di dalam harganya akan melayang.
Bersyukurlah jika pergi ke Delta Mahakam dan sebagian teman perjalanan ketakutan memakan udang, takut alergi. Dijamin dalam satu dua hari saja sudah bakalan bosan memakan udang.
Ada lagi yang lebih kriuk, kerupuk udang.
Ketika mendengar komposisi bahan pembuatan kerupuk udang, saya hampir mengumpat.
Menurut saya masyarakat di wilayah ini agak keterlaluan. Masak campuran untuk kerupuk udang, 1 banding 1. Satu kilo udang dan satu kilo tepung, dicampur. Setelah dijemur hasilnya tak sampai sekilo kerupuk.
Padahal biasanya kerupuk udang atau kerupuk ikan, campurannya adalah satu banyak. Mirip campuran semen dan pasir di proyek-proyek yang tak terlalu diawasi oleh konsultan pengawas yang mumpuni.
Kerupuk udang di Delta Mahakam mengingatkan saya untuk tak menyepelekan kerupuk. Dulu saya menganggap kerupuk adalah oleh-oleh yang ringan, ringan timbangannya dan ringan harganya.
Tapi kerupuk campuran 1 banding 1, ini sungguh tak ringan. Setengah kilo di tangan pembuatnya dihargai 70 ribuan. Jika di beli di outlet karena sudah dikemas dan diberi label harganya bisa 80 hingga 90 ribu rupiah. Dan akan lebih mahal lagi jika dibeli di Anggana, bahkan di Samarinda.
Dan masih ada lagi yang berhubungan dengan udang. Petis Udang.
Terus terang saya tak terlalu suka petis, dan tak tahu bagaimana cara membuatnya.
Yang jelas olahan berbentuk cairan kental ini banyak yang menyukai. Tahu Petis, menjadi salah satu gorengan yang populer. Gado Gado, Tahu Tek Tek, juga memakai Petis.
Jadi tak adil kalau saya tak mencoba Petis buatan Ibu Ibu di Delta Mahakam. Ada Petis Pedas yang langsung bisa dipakai sebagai cocolan.
Hanya saja saya tak punya referensi soal noted Petis mana yang enak, seimbang atau pas campurannya. Tapi menurut saya, Petis Delta Mahakam ini rasa udangnya kuat sekali. Kalau kopi, maka bakal disebut strong atau bold. Kopi kentel kata bapak-bapak pengemar kopi tubruk.
Soal udang, Delta Mahakam rasanya memang keterlaluan.

BACA JUGA : Banjir Lagi

Delta Mahakam mempunyai perjalanan sejarah geologi dan pedogenesis yang unik. Terbentuk dari endapan sungai dan laut, sedimentasinya membentuk pulau-pulau yang ditumbuhi hutan mangrove. Disebut hutan mangrove karena terbentuk dari berbagai jenis, seperti nipah nipah, api api, bakau, tancang, bakau merah, pidada dan lain-lain.
Keragaman mangrove disini cukup tinggi, di Delta Mahakam ditemukan kurang lebih 23 spesies mangrove.
Hutan mangrove yang lebat menjadi habitat bagi Bekantan dan aneka jenis burung, seperti bangau, raja udang dan jenis burung air lainnya. Sementara ekosistem airnya akan kaya dengan berbagai jenis udang, kerang atau siput, kepiting dan ikan gelodok atau tempakul. Banyak jenis ikan menjadikan akar bakau sebagai tempat berlindung.
Dilihat dari atas muara Sungai Mahakam yang membentuk delta bentuknya seperti kipas. Kawasannya berpulau-pulau yang dipisahkan oleh percabangan anak sungai yang sangat banyak. Ujung dari daratan yang menyentuh laut berbentuk setengah lingkaran.
“Dari rimba untuk samudra”, frasa ini mungkin bisa memberi gambaran bagaimana hubungan antara asam di gunung dan garam di laut, sehingga membuat kawasan Delta Mahakam kaya dengan hasil tangkapan dan budidaya laut.
Material organik yang terdekomposisi dari rimba di Daerah Aliran Sungai Mahakam yang tertransportasi lewat air hujan dan kemudian aliran anak sungai dan Sungai Mahakam membuat kawasan perairan Delta Mahakam kaya dengan nutrisi. Ketika air pasang, air yang mengenangi daratannya juga menyebarkan kesuburan keatas tanahnya.
Seorang teman yang suka mengulik asal usul pembentukan tanah menyebutkan Delta Mahakam dipersiapkan oleh alam untuk menjadi lahan tanaman pangan.
Saya tak bisa membayangkan hal itu, pengenalan saya terhadap kawasan Delta Mahakam begitu kecil.
Namun berdasarkan cerita mereka yang kini berumur 50 tahunan lebih, saat mereka kanak-kanak dan tinggal disana, orang tuanya bertani dan berkebun. Lahan ditanami kelapa dan tanaman pangan, seperti jagung dan ketela pohon.
Tapi alam berubah, bukan karena evolusi melainkan karena campur tangan manusia yang berlebihan di Daerah Aliran Sungai Mahakam.
DAS Mahakam kaya dengan hutan, dari hulu ke hilir. Hutan Tropis, termasuk hutan yang selalu basah di dataran rendahnya.
Hutan ini terjaga ketika di masa lalu pemanfaatannya berkelanjutan. Dari hutan diperoleh banyak komoditas Hasil Hutan Non Kayu, seperti getah, madu, bulu burung, rotan, serat kayu, serat dedaunan, bahan obat-obatan dan lainnya.
Namun hutan kemudian dinilai berharga hanya karena kayunya. Hutan ditebang, kayu-kayu yang tidak ditanam dan tidak dipelihara selama ratusan tahun ditebang. Yang menebang seperti mendapat durian runtuh, memperoleh uang yang sangat besar.
Antara tahun 60 – 70 an, orang-orang kaya baru adalah mereka yang menebang hutan, menjual kayu gelondongan langsung ke luar negeri. Jaman kejayaan kayu di Kalimantan Timur dikenal dengan istilah ‘banjir kap’.
Orang Samarinda pasti tahu, dua hotel mewah legendaris yang ada di Kota Samarinda dibangun oleh dua raja kayu.

BACA JUGA : Bau Dollar

Giliran berikutnya yang menjadi kaya raya adalah industriawan kayu. Era penebangan rakyat berakhir dan beralih ke industri kehutanan, kayu olahan. Akses masyarakat ke hutan dibatasi karena hutan dijadikan konsesi, diserahkan pengelolaannya kepada investor.
Di tanahnya sendiri, masyarakat akan dikriminalisasi jika menebang pohon di hutan.
Salah satu raja kayu yang kemudian sangat terkenal di masa orde baru adalah Bob Hasan.
Kejayaan kayu olahan surut menjelang tahun 2000-an. Namun Samarinda masih mengawetkan jejaknya di sebuah kawasan permukiman yang dikenal dengan nama GP. GP merupakan singkatan dari Georgia Pasific, nama sebuah perusahaan pengolahan kayu yang berasal dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat yang berinvestasi di Sungai Kerbau.
GP kemudian dinasionalisasi oleh Kayu Manis, dan kini lebih dikenal sebagai singkatan dari Gudang Playwood.
Ekstraksi hutan menyebabkan perubahan bentang alam di DAS Mahakam. Badan air Mahakam, termasuk danau-danau kaskadenya mengalami pendangkalan. Permukaan air kemudian menjadi meninggi. Dan sedimentasi yang dibawa bukan lagi sedimen yang penuh dengan nutrisi melainkan pasir dan tanah liat karena yang tertransportasi adalah permukaan tanah yang sudah terbuka.
Kebun-kebun di Delta Mahakam mulai terendam sehingga tak lagi efektif untuk perkebunan dan pertanian. Masyarakat kemudian beralih dengan membuka lahan untuk pertambakan. Hutan mangrove dibabat, dibuat empang yang maha besar. Untuk ukuran orang Delta Mahakam, empang seluas 4-6 hektar termasuk kecil.
Sisa-sisa kesuburan rimba Kalimantan, membuat udang yang dipelihara di empang subur makmur. Tanpa tambahan makanan buatan, udang mendapat asupan nutrisi setiap kali air pasang dimasukkan ke dalam empang.
Namun lama kelamaan asupan makanan lewat air memburuk. Hasil budidaya udang semakin hari semakin menurun jika tak diberi makanan tambahan.
Permukiman di Delta Mahakam juga mulai mendapat ancaman abrasi dan peningkatan elevasi air. Banyak rumah lantainya mulai terendam jika air pasang.
Dalam sebuah kesempatan bincang-bincang dengan kelompok ibu-ibu ada sebuah aspirasi masa depan yang cukup mengagetkan. Saat ditanya apa cita-citanya ke depan, seorang ibu mengatakan “Saya ingin membuat rumah di kota,”
Yang dimaksudkannya dengan kota, tentu bukan Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Malang atau bahkan bukan juga Samarinda dan Balikpapan. Kota yang dimaksudkan oleh ibu itu adalah wilayah Kecamatan Anggana Daratan, seperti Sungai Mariam.
Saat ditanya kenapa, dia khawatir kampungnya akan tenggelam dan hilang di masa depan.
Akankah secepat itu?. Mungkin tidak, namun jelas terlihat di raut wajah ibu itu ada kekhawatiran dan perasaan mulai tak nyaman tinggal di kampungnya sendiri.
Saya mulai membayangkan, kelak kita akan kehilangan sanggar udang, karena kita hanya rajin dan rakus dalam mengekstraksi sumberdaya alam. Pemulihan yang kerap dibangga-banggakan tak semanis dan senyata klaim-klaim dalam laporan dan pemberitaan.
note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALIST








