KESAH.IDMarc Marquez berhasil menjadi penunggang motor Ducati yang menyapu bersih balapan sprint race dan balapan utama lima kali berturut-turut. Tak harus menjadi pole sitter, Marc berhasil membuktikan start dari posisi mana saja cukup baginya untuk mengejar yang didepan. Pola balapan Marc bahkan sudah cukup jelas, tidak lagi ngotot di awal melainkan mulai menekan setelah balapan berlangsung setengah putaran. Dengan begitu, balapan tak terlalu membosankan karena dominasi Marc Marquez yang kelewatan.

Lawan terdekat Marc Marquez – yang tak disangka sangka – yakni Alex, adiknya sendiri. Tapi Alex  sudah menyerah dengan mengatakan “Tak mungkin mengalahkan Marc Marquez dengan GP2024”.

Pernyataan Alex Marquez ini memvalidasi ucapan-ucapan banyak pengamat Moto GP terkemuka yang seolah sudah satu nada menyampaikan tahta gelar juara dunia 2025  terkunci di tangan Marc Marquez.

Buat para pengamat jelas ini bukan kesimpulan yang prematur walau Moto GP baru akan memasuki paruh musim setelah balapan di Brno, Ceko. Hanya kejadian luar biasa sial atau konyol yang bakal membuat Marc Marquez batal menyamai rekor Valentino Rossi, sembilan kali juara dunia di Moto GP pada semua kelas.

Yang digadang-gadang menjadi lawan terberat Marc Marquez yakni Francesco Bagnaia jelas sudah keok. Bagnaia yang dianggap bakal moncer di Qatar, ternyata redup. Bahkan di sirkuit Eropa Pecco malah makin kedodoran, padahal dia dianggap kuat disini.

Dominasi Marc Marquez dengan Ducati memang membuat pengamat Moto GP kehilangan narasi. Tak banyak lagi yang bisa dibahas dari Moto GP selain Marc, Marc dan Marc. Bahkan mereka mungkin sudah bosan memuji, prediksi sebelum balapan juga tidak ditunggu-tunggu lagi.

Marc seperti berada di level tersendiri.

Pembalap lainnya juga kena mental. Bukan hanya Francesco Bagnaia rekan satu tim-nya.

Pedro Acosta yang dulu dikenal tak mau ‘menvalidasi’ Marc Marquez mau tak mau melunak setelah melihat aksi Marc dengan Ducati. Pun Fabio Digianntonio yang punya nyali melawan Marc karena dibekali motor yang sama. Digia akhirnya musti mengakui, dengan motor yang sama hanya berusaha untuk sedekat mungkin dengan Marc Marquez.

Marc Marquez memang keterlaluan. Pembalap yang dikenal ngotot dan agresif saat menunggangi Honda ini terlihat santai membawa motor Ducati. Kemenangan bersama Ducati diperoleh dengan mulus, tidak srudak-sruduk seperti ketika masih bersama Honda.

Hampir semua balapan disapu bersih, bukan hanya saat race, melainkan sejak dari latihan dan kualifikasi.

Kegagalan Marc Marquez meraih beberapa kemenangan bukan karena disalip pembalap lainnya, melainkan karena kesalahan sendiri, entah kesalahan mengendalikan motor atau strategi ban dan ganti motor.

Setiap balapan ada keyakinan Marc pasti menang. Jadi pengamat hanya akan menebak-nebak siapa pemenang kedua dan ketiga. Pun juga para pembalap, setiap kali balapan yang ada dalam benak mereka hanya merebut posisi dua hingga sepuluh. Persaingan antar pembalap hanya terjadi di rentang itu, karena yang terdepan sudah jadi jatah Marc Marquez.

Berkali-kali Marc membiarkan pembalap lain di depan, memimpin hampir sebagian besar lap yang harus ditempuh. Namun begitu melewati separuh balapan, Marc tak tertahankan lagi. Jarak 2 – 3 detik tidak sulit untuk dilibas oleh Marc Marquez hingga kemudian finis yang terdepan.

Menjelang balapan di Brno, Ceko, Francesco Bagnaia bergurau kepada Marc Marquez, mengingatkan kalau sirkuit ini belokannya ke kanan semua.

Sebuah guruan yang getir sekaligus sebuah keraguan.

Sebagai rekan satu tim, Francesco Bagnaia punya akses kepada semua data Marc Marquez. Bisa jadi Pecco sudah melihat kalau Marc kini sama kuatnya di tikungan kanan maupun tikungan kiri.

Data terakhir di sirkuit Sachsenring menunjukkan kalau margin jarak antara Marc dan pembalap yang membuntuti di peroleh justru di tikungan kanan setelah jalur lurus. Disitu Marc berhasil meningkatkan jarak, membuat lawan jauh tertinggal. Bahkan bukan hanya tertinggal melainkan juga jatuh, seperti yang terjadi pada Fabio Digianntonio dan Marco Bezzecchi.

BACA JUGA : Harimau Lapar

Sirkuit Brno, Republic Ceko sendiri sudah 4 tahun tak dipakai, Marc sendiri sudah 5 tahun tak membalap disana, pertama karena cidera dan berikutnya karena Brno tidak ada dalam jadwal Moto GP.

Diantara pembalap yang masih aktif, Marc Marquez tercatat sebagai pemenang terbanyak disini. Jadi sirkuit ini tak asing untuk Marc. Namun ada tantangan baru yakni sirkuit yang baru diaspal.

Mengawali sessi Free Practice I, Marc Marquez terkena masalah, motornya kehilangan power sehingga Marc mesti mendorong untuk kembali ke paddock. Marc cukup lama menunggu hingga motornya siap.

Sementara itu Fracesco Bagnaia dan Alex Marquez menunjukkan potensi untuk cepat disini. Sessi latihan bebas pertama ini menantang karena sirkuitnya setengah kering dan setengah basah.

Begitu turun ke lintasan, Marc Marquez langsung menyodok. Kombinasi bannya tepat sehingga Marc berhasil memacu motornya segera dan kemudian memimpin sebagai yang terdepan di sesi ini. Pecco dan Alex juga termasuk pembalap di depan.

Sessi Practice untuk menentukan pembalap yang masuk Q1 dan Q2 ditunda beberapa menit karena hujan. Ketika bendera dikibarkan, Marc tak segera masuk ke lintasan.

Jorge Martin yang baru come back setelah cidera panjang mulai menunjukkan tajinya. Yamaha, Honda dan Aprilia, berebut posisi sebagai yang tercepat. Begitu masuk lintasan, Marc segera mencatat waktu cepat. Masih silih berganti yang tercepat, namun Ducati nampak kesulitan kecuali Marc Marquez.

Dan setelah beberapa putaran kecepatan Marc tak terkejar.

Alex Marquez berusaha lolos ke Q2 hingga terjatuh. Beruntung dalam waktu tersisa Alex berhasil memacu motornya kembali agar masuk sepuluh besar dan berhasil. Sementara Bagnaia terlempar dan harus memulai dari Q1.

Untuk pertama kalinya Ducati bukan menjadi penghuni mayoritas pembalap yang langsung masuk ke Q2.

Sepertinya penderitaan Bagnaia sebagai tandem Marc Marquez masih bakal panjang. Pecco belum juga mampu menemukan solusi untuk kepercayaan dirinya terhadap motor yang ditungganginya. Segala hal sudah dicoba namun belum menjawab permasalahannya.

Ini menyedihkan karena di Brno, Francesco Bagnaia tidak berhasil langsung masuk ke Q2. Padahal Jorge Martin yang berbulan-bulan tak membalap karena cidera, dan baru turun satu kali setelah sekian lama absen berhasil masuk Q2.

Juga Enea Bastianini yang habis keracunan makanan, demikian juga dengan Marco Bezzecchi yang jatuh di sesi free practice dan practice masih bisa lolos, temasuk Alex Marquez yang jatuh 6 menit menjelang akhir sessi sehingga harus lari-lari ganti motor.

Nasib Francesco Bagnaia ini sungguh membingungkan. Pecco bingung dan para enginer Ducati juga tak kalah bingung.

Marc Marquez memang kelewatan, sepertinya kehadiran Marc di Ducati membuat pola pengembangan motor berubah. Penunggang GP2025 lainnya pun kesusahan, persis sama seperti ketika di Honda, hanya Marc yang mampu menahklukkan motornya.

BACA JUGA : Marc Rossi

Francesco Bagnaia akhirnya menjadi pole sitter setelah sebelumnya berjuang lewat kualifikasi pertama. Pole position ini berbau keberuntungan karena saat flying lap dan diestimasi akan menjadi yang pertama, Marc Marquez crash.

Pecco dan Marc berurutan, dan keduanya melakukan start dengan bagus di sprint race. Tak perlu waktu lama, dalam 3 tikungan Marc berhasil mengambil alih pimpinan balapan.

Menjelang pertengahan balapan, Bagnaia menenggok ke belakang dan membiarkan Acosta melewati, bahkan juga Enea Bastianini. Motornya seperti mengalami masalah. Pecco terus merosot kebelakang.

Ketika balapan menyisakan 5 lap, Marc juga menenggok ke belakang dan membiarkan Acosta lewat lalu membuntuti tepat di belakangnya.

Ternyata Francesco Bagnaia dan Marc Marquez mempunyai masalah yang sama, tekanan ban yang bisa berakibat pinalti dengan menambahkan waktu 8 detik.

Akhirnya balapan tak seru karena masalah tekanan ban. Pedro Acosta memimpin balapan di depan dan ditempel ketat oleh Marc Marquez yang berharap mendapat panas sehingga tekanan ban naik kembali.

Dua lap menjelang balapan berakhir, Marc dengan gampang mengambil alih pimpinan balapan dan kemudian melaju ke garis finish. Acosta tak mampu mengejar. Marc kembali memenangii balapan sprint race namun dalam bayang-bayang penyelidikan tekanan ban bersama dua pembalap lainnya.

Race director akhirnya mengumumkan bahwa tak ada pelanggaran tekanan ban. Marc Marquez tetap menjadi pemenang, disusul Pedro Acosta dan Enea Bastianini.

Dua kali Marc menunjukkan kecermatannya sebagai pembalap, sebelumnya Marc melakukan hal yang sama di Buriram, dengan membiarkan Alex Marquez melewatinya. Ini membuktikan dominasi Marc Marquez sungguh besar karena bisa mengendalikan balapan.

Lima kali berturut-turut Marc Marquez menyapu bersih balapan sprint race dan balapan utama, setelah start yang bagus dan bersaing dengan Francesco Bagnaia di putaran awal. Ditengah perebutan posisi terdepan justru Bezzecchi yang menyodok. Bezz memimpin balapan dan dikuntit oleh Marc Marquez selama beberapa putaran awal.

Menjelang pertengahan balapan, Marc mengambil alih pimpinan dan kemudian langsung membuat jarak sedikit demi sedikit. Pecco disusul oleh Pedro Acosta. Tiga pabrikan berbeda berada didepan, Ducati, Aprilia dan KTM.

Tidak nampak keseruan karena Pedro yang berusaha mengejar Bezzecchi sepertinya sulit mendapat tambahan kecepatan, Francesco Bagnaia yang justru punya peluang untuk merebut podium Pedro Acosta, namun hingga akhir balapan Pecco tak cukup bisa mendekat.

Nahas untuk Alex Marquez yang mengalami low side dan kemudian menyenggol Johan Mir. Mir menjadi pembalap tersial karena 3 kali berturut-turut tergeret oleh pembalap lain yang terjatuh.

Dengan jatuhnya Alex Marquez dan Pecco Bagnaia yang finish ke empat, jarak antara Marc Marquez dan pesaing terdekatnya makin menjauh. Marc sudah menabung ratusan poin lebih banyak. Dengan demikian Marc akan beristirahat dengan tenang saat Moto GP libur pertengahan musim.

Seri pertama setelah istirahat paruh musim pantas untuk ditunggu karena Marc Marquez belum pernah menang di Sirkuit Red Bull. Marc nyaris menang namun selalu diganjal oleh motor Ducati yang ditunggangi oleh Jorge Lorenzo dan Andrea Dovisioso.

Artinya dengan menunggangi Ducati, Marc tak bakal punya saingan di Sirkuit Red Bull nanti. Marc memang kelewatan.

note : sumber gambar – RADAR SOLO