KESAH.IDJawa adalah sebuah paradoks yang nyata. Di atas tanahnya, modernitas dan mistisisme berdesakan dalam satu ruang sempit yang sama. Kita bisa menemukan gedung pencakar langit yang berdiri megah, tepat di samping pohon beringin yang dikalungi kain poleng karena dianggap ‘berpenghuni’. Namun, pernahkah kita bertanya, kenapa di pulau yang tingkat pendidikannya paling maju ini, populasi hantunya justru terasa paling padat dan birokrasinya paling rumit?

Jawa adalah anomali yang luar biasa. Secara ukuran, dia cuma peringkat kelima di Indonesia—kalah jauh dari luasnya daratan Papua atau Kalimantan. Tapi soal isi, jangan ditanya. Hampir 57 persen manusia Indonesia tumplek blek di pulau yang luasnya cuma 7 persen dari total daratan negeri ini. Namun, yang padat di Jawa ternyata bukan cuma orang yang antre bansos atau kejebak macet di jalur Pantura. Jawa juga “sesak” oleh populasi hantu, setan, memedi, dhemit, hingga lelembut.

Saking padatnya, urusan hantu di Jawa itu sudah masuk level ekosistem yang kompleks. Semua hal bisa jadi hantu di sini. Sosiolog sekelas Clifford Geertz saja sampai harus turun tangan membedah birokrasi gaib ini secara ilmiah. Dia menemukan kalau hantu Jawa itu punya kasta dan “job desk” yang jelas. Ada kelompok Memedi yang levelnya cuma iseng ngerjain manusia, kayak Genderuwo yang hobi nongkrong di pohon randu, Wewe Gombel yang jadi “satpam” anak kecil saat Maghrib, atau Banaspati si api terbang.

Lalu ada kategori Lelembut yang lebih metaforis karena nggak kelihatan tapi dampaknya nyata, termasuk Tuyul si spesialis pencuri uang. Dan tentu saja ada “penguasa birokrasi” seperti Nyi Roro Kidul di selatan atau para ndoro penunggu gunung-gunung wingit. Menariknya, orang Jawa itu cukup sopan. Nggak semua hantu dianggap musuh. Ada yang namanya sing mbahu rekso, alias penjaga. Mereka ini dianggap “tetangga tak kasat mata” yang kalau kita nggak rese, mereka pun nggak bakal ganggu. Semakin padat ruang di Jawa, semakin kreatif imajinasi masyarakatnya untuk mengisi sela-sela kosong dengan cerita hantu. Ini adalah cermin bagaimana kita memaknai ruang: bahwa dunia ini bukan milik kita sendirian.

BACA JUGA : Aroma Krisis

Mungkin kamu bakal tanya: “Kok orang Jawa percaya ginian? Apa karena kurang sekolah?” Jawabannya: Jelas tidak. Jawa itu pusat pendidikan, universitas terbaik kumpul di sini. Tapi gelar akademik dan urusan mistik itu punya jalur yang berbeda di otak kita. Mau titelnya Doktor atau Profesor, kalau urusan mau naik pangkat atau menang Pilkada, banyak yang tetap lari ke dukun buat mandi kembang tujuh rupa. Bahkan dalam kasus penipuan penggandaan uang, seorang intelektual pun bisa manut-manut saja disuruh ritual kalau sudah diiming-imingi cuan gaib.

Kenapa mistisisme ini begitu awet? Jawabannya karena hantu di Jawa terus “direproduksi”. Dulu, cerita hantu diwariskan lewat dongeng sebelum tidur dari kakek ke cucunya. Sekarang? Tugas itu diambil alih oleh industri budaya pop. Film horor hampir selalu jadi box office. Media online kalau nggak bikin berita soal “penampakan” di bekas pabrik gula, rasanya kurang engagement. Media sosial pun penuh dengan konten kreator yang hobi “uji nyali” di gedung tua demi algoritma.

Hantu di Jawa itu adaptif. Mereka nggak cuma main di desa atau kuburan tua. Sekarang ada urban legend hantu perkotaan yang lahir dari trauma infrastruktur: Suster Ngesot di rumah sakit, Hantu Jeruk Purut di pemakaman kota, sampai Ambulans yang jalan sendiri. Berkat teknologi, hantu-hantu Jawa ini sekarang “ekspor” ke seluruh Nusantara. Anak-anak di Papua atau Manado sekarang lebih takut sama Suster Ngesot gara-gara film, padahal mungkin hantu lokal mereka jauh lebih sangar. Kolektivisme kita yang tinggi membuat kita cenderung percaya apa yang dipercayai lingkaran kita demi menjaga harmoni sosial. “Ah, kata grup WhatsApp komplek di situ angker, ya sudah saya ikut takut saja.”

BACA JUGA : Realita Buram

Mistik memang bagian dari urat nadi kebudayaan kita, sebuah cara untuk menjaga keseimbangan alam. Tapi, kita harus jujur bahwa mistisisme yang berlebihan adalah pedang bermata dua yang sering kali melukai diri sendiri. Ketika garis batas antara penghormatan tradisi dan ketergantungan irasional memudar, mistik berubah menjadi hambatan sistemik yang mampu melumpuhkan logika, ekonomi, hingga nyawa.

Masalah paling nyata adalah degradasi standar kesehatan. Dalam pola pikir yang terlalu mistis, kanker atau skizofrenia sering kali tidak dipandang sebagai gangguan medis, melainkan sebagai “kiriman” atau santet. Pasien akhirnya habis waktu di rumah “orang pintar” dan baru sampai ke dokter saat kondisi sudah terminal. Belum lagi urusan ekonomi “jalan pintas”. Alih-alih mengandalkan etos kerja dan riset pasar, banyak yang terjebak harapan palsu lewat pesugihan yang ujung-ujungnya cuma memperkaya dukun gadungan. Secara sosiologis, mistik juga sering jadi alat fitnah—mengkambinghitamkan tetangga yang sukses sebagai pemilik babi ngepet hanya karena kita enggan melihat kerja kerasnya.

Ujung-ujungnya, jika setiap kegagalan teknis, kecelakaan lalu lintas, atau bencana alam cuma dianggap sebagai “kemarahan penunggu”, kita jadi malas melakukan evaluasi sistem. Rasionalitas kita tertutup kabut kemenyan, padahal dunia luar sudah bicara soal AI dan kolonisasi Mars. Mistik adalah warisan leluhur yang kaya nilai simbolis, tapi ia harus diletakkan pada tempatnya—sebagai khazanah budaya, bukan landasan ambil keputusan medis atau finansial. Tantangan manusia modern di Jawa dan Indonesia adalah bagaimana tetap menghargai akar budaya tanpa harus kehilangan daya nalar. Menghargai hantu itu bagian dari budaya, tapi menjadi budak ketakutan pada hantu adalah bentuk ketertinggalan.

note : sumber gambar – GEMINI