KESAH.IDDi tengah hiruk-pikuk grup alumni dan derasnya arus informasi di media sosial, kabar pengunduran diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur memicu kegaduhan yang tak biasa. Bagi umat Katolik, sosok Uskup kerap dipandang sebagai simbol kesalehan yang nyaris mistis, namun peristiwa ini seolah menyingkap tabir bahwa di balik jubah suci, Gereja tetaplah dihuni oleh manusia yang tak luput dari prahara.

Walaupun hanya aktif sebagai pembaca, saya masih tergabung dalam sebuah Grup WhatsApp (WAG) alumni yang anggotanya memiliki beragam latar belakang profesi. Ada yang menjadi dosen, guru, pengusaha, pekerja swasta, aktivis, pengacara, petani, dan seterusnya. Sebagian di antara anggota WAG tersebut juga merupakan imam atau pastor, baik dari kalangan biarawan maupun klerus sekular.

Isi perbincangannya tidak spesifik, namun karena berlatar belakang pendidikan dan iman Katolik, sebagian besar obrolan memang berkaitan dengan dinamika dalam Gereja Katolik. Menjelang akhir pekan, biasanya akan banyak unggahan berupa renungan.

Menjelang akhir Januari ini, perbincangan menjadi ramai perihal mundurnya Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, dari kedudukannya sebagai Uskup Bogor. Per 19 Januari 2026, statusnya resmi menjadi Uskup Emeritus. Sebenarnya, pengunduran diri seorang uskup adalah hal yang lumrah; banyak keuskupan memiliki Uskup Emeritus yang pensiun karena alasan usia, kesehatan, maupun faktor lainnya.

Namun, pengunduran diri Mgr. Paskalis kali ini menimbulkan kegaduhan. Di media sosial, beredar berbagai pembicaraan, termasuk curahan hati dari berbagai pihak terkait keputusan tersebut. Yang ikut bersuara bukan hanya umat, melainkan juga para pastor atau imam di internal Gereja Katolik.

Mungkin mundurnya Mgr. Paskalis menjadi peristiwa pensiunnya seorang uskup yang paling hingar-bingar. Di balik keputusan tersebut, beredar banyak gosip dan desas-desus, mulai dari urusan asmara hingga isu mismanajemen serta gaya kepemimpinan yang dianggap tidak gerejawi. Pendek kata, muncul dugaan adanya skandal gelap di balik perjalanan menuju status Uskup Emeritus tersebut.

Banyak umat Katolik pasti merasa kecewa dengan kabar yang beredar di media sosial maupun WAG. Bagi sebagian besar umat, Uskup adalah sosok istimewa; orang terpilih dengan tingkat kesalehan dan kebijakan yang tinggi. Uskup dianggap sebagai pribadi yang memiliki kedalaman ilmu dan spiritualitas.

Lihat saja ketika seorang Uskup memimpin misa di sebuah gereja. Saat penerimaan komuni, jika tidak diatur, banyak umat yang berebut ingin menerima hosti langsung dari tangan Uskup. Citra Uskup dianggap lebih “mistis-religius” dibandingkan imam biasa, apalagi diakon. Pasangan suami istri dan keluarga besar juga merasa lebih bergengsi jika pernikahan mereka diberkati oleh Uskup. Apalagi jika yang hadir dalam misa pernikahan adalah beberapa uskup sekaligus, seperti pada pernikahan anak Setya Novanto dulu; suasananya menjadi “sangat Katolik”.

Setelah misa usai, banyak orang akan berebut untuk sekadar mencium tangan Uskup. Bandingkan dengan pastor; paling-paling yang memburu mereka hanyalah anak-anak kecil yang suka berlarian di gereja sewaktu ekaristi. Maka, jangan heran jika akibat kabar hitam di balik pengunduran diri Mgr. Paskalis ini, ada umat yang memilih pindah gereja atau bahkan pindah agama karena kecewa. Orang-orang seolah mendapatkan alasan kuat untuk meninggalkan Gereja Katolik.

Padahal, jika dipikir-pikir, sejak dulu Gereja memang penuh dengan skandal. Sebab bagaimanapun juga, para imam, biarawan, dan petugas gereja tetaplah manusia dengan segala keinginan yang masih kental dalam dirinya.

BACA JUGA : Senjakala Tuyul

Sebagai orang yang hampir separuh umurnya dekat dengan lingkungan Gereja Katolik, saya tidak terlalu asing dengan model desas-desus yang berkembang di media sosial saat ini. Dulu suasananya tidak terlalu ribut karena memang belum tersedia medium untuk menyebarkan kecurigaan atau fitnah, selain dari mulut ke mulut.

Urusan asmara yang menyentuh para klerus memang sangat sensitif. Masyarakat Katolik menghargai imam, pastor, biarawan, dan kaum selibater lainnya karena pengorbanan diri mereka untuk berjanji tidak menikah. Selibat bukan hanya soal tidak membangun rumah tangga, melainkan juga “puasa seks”. Karena komitmen suci inilah mereka dianggap sebagai sosok yang kudus.

Jadi, begitu ada desas-desus soal pelanggaran janji ini, kabar tersebut akan segera menjadi bola salju dengan kecepatan “getok tular” yang sangat tinggi. Seingat saya, dulu di pasturan atau rumah biara dikenal istilah klausura. Istilah ini merujuk pada sekat, pembatasan, atau penutupan. Ada area-area tertentu di dalam biara yang tidak boleh dimasuki oleh orang luar atau lawan jenis.

Orang luar atau lawan jenis hanya diizinkan sampai di ruang tamu, tidak boleh masuk lebih dalam lagi. Ada banyak prosedur pencegahan yang dilakukan agar tidak timbul fitnah, seperti keharusan membuka pintu saat menerima tamu. Imam dan umat pun hanya boleh berduaan di bilik pengakuan yang dibatasi oleh sekat kayu.

Walaupun begitu, tetap saja ada yang “lolos”. Ya, bukan hanya sekadar imam yang berpacaran, bahkan ada yang sampai memiliki anak. Namun, hal-hal seperti ini biasanya disembunyikan rapat-rapat, dan Gereja pun cenderung menutupinya. Lain halnya dengan cerita di Filipina; konon di sana ada panti asuhan yang isinya adalah anak-anak dari para pastor.

Namun, skandal seorang imam bukan hanya soal seks, pacaran, atau memiliki gundik. Pastor, terutama dari golongan biarawan, memiliki janji lain selain selibat, yakni hidup miskin dan ketaatan pada hierarki. Mereka dituntut hidup sederhana dan tidak mengejar harta duniawi.

Saya ingat betul ketika mengikuti pendidikan rohani, Magister atau guru spiritual saya selalu mengingatkan agar jangan menjadi “kere munggah bale”. Menjadi seorang imam berarti “naik kelas” dari kaum awam menjadi kaum religius. Fenomena panjat sosial ini berpotensi mengubah perilaku; seseorang bisa kehilangan otentisitasnya. “Kere munggah bale” adalah transisi besar dari kondisi kekurangan lalu tiba-tiba tidur di “peraduan raja”. Orang seperti ini rentan lupa daratan.

Yang ingin diingatkan oleh Magister saya adalah soal kerendahan hati. Seorang imam adalah pelayan dan pendengar yang baik, meskipun sebagian besar aktivitasnya adalah berkhotbah. Memang agak kontradiktif, karena dalam kesehariannya seorang imam juga dianggap sebagai pemimpin. Namun, kepemimpinannya harus bersifat rohani. Kalaupun ada yang bersifat profan, semua itu mesti didasari oleh nilai-nilai spiritual. Maka, kepemimpinan seorang imam atau uskup adalah soal keteladanan yang nyata.

BACA JUGA : Aroma Krisis

Kembali kepada obrolan di WAG, sebagian anggota beranggapan bahwa mundurnya Mgr. Paskalis menunjukkan adanya krisis dalam Gereja Katolik di Indonesia. Suara seperti ini juga diamini oleh seorang pastor yang aktif di Facebook. Sang Pastor menulis semacam surat terbuka yang kemudian viral—tentu saja viral di kalangan umat Katolik.

Suratnya sendiri kemudian menjadi perdebatan. Ada yang menganggap tidak pantas bagi seorang pastor mengungkapkan kritik secara terbuka di media sosial, karena mereka terikat aturan untuk menghormati hierarki dan taat pada pimpinan. Namun, ada juga yang merasa lega, merasa akhirnya ada sosok yang berani bicara jujur.

Hanya saja, tidak sedikit pula yang kecewa karena sang pastor menulis dengan bahasa yang “di awang-awang”. Ia tidak menunjuk masalah dengan jelas dan terang; tidak ada hidung yang ditunjuk, tidak ada data atau angka yang disebut secara eksplisit. Dalam kolom komentar Facebook, ada yang menulis: “Ini mau ngomong apa? Meliak-liuk sana-sini.”

Seorang kawan yang ahli komunikasi mengatakan bahwa sang pastor menulis dalam model high-context culture—gaya komunikasi yang menyampaikan maksud secara tersirat. Ini adalah ciri khas budaya Timur yang sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh dan kesantunan. Mirip dengan apa yang sering dikatakan para pemimpin: “Kalau mengkritik, sampaikanlah dengan santun.”

Dengan model begini, seseorang tidak akan mengungkap detail skandal atau kesalahan secara vulgar. Ia akan menyampaikannya secara normatif, metaforis, dan memakai diksi yang tidak menyinggung pihak lain. Namun bagi mereka yang menyukai gaya low-context culture—orang yang suka bicara blak-blakan—gaya semacam ini dianggap justru membuat masalah menjadi berkabut. Hal ini memicu gerundelan atau desas-desus yang lama-lama berkembang menjadi liar dan konspiratif.

Pada akhirnya, apa yang menjadi pembicaraan hangat ini tidak pernah benar-benar benderang; tetap menyisakan kabut gelap. Namun, benarkah Gereja Katolik sedang berada dalam ujian yang sangat berat? Rasanya tidak, sebab Gereja memang terus-menerus diuji sejak dulu.

Jika sekarang umat lebih berani bicara dan pastor mulai curhat, itu semua terjadi hanya karena sarananya tersedia. Masalah yang ramai dibicarakan saat ini pasti sudah ada sejak dahulu, namun dulu media sosial belum ada, sehingga informasi terbatas dan skandal lebih mudah ditutupi. Kini, banyak hal mulai tersingkap.

Banyak pula pastor atau biarawan yang memiliki kekasih, bahkan mungkin pasangan ilegal dan anak. Hal ini sebenarnya serupa dengan mereka yang menikah dan mengucapkan janji suci sehidup semati, rela bersama dalam suka dan duka hingga maut memisahkan, tetapi tetap berselingkuh diam-diam.

Jadi, tidak perlu terkejut jika ada imam, pastor, atau uskup yang jatuh cinta. Tidak perlu marah-marah, apalagi sampai berpikir pindah agama. Di agama mana pun, selama pelakunya adalah manusia, skandal akan tetap ada.

note : sumber gambar – GEMINI