KESAH.ID – Retorika dan seni berpidato selalu menjadi instrumen utama para pemimpin bangsa untuk mengarahkan narasi publik. Dari gaya meledak-ledak Bung Karno hingga pendekatan persuasif para presiden penerusnya, panggung pidato senantiasa menampilkan dinamika unik. Esai tiga babak ini membedah fenomena lapsus linguae atau selip lidah dalam pidato politik—khususnya pada gaya orasi Prabowo Subianto—dari kacamata neuropsikologi, dinamika media sosial, hingga maknanya bagi kesehatan demokrasi kita.
Hampir semua presiden suka berpidato dan memanfaatkannya untuk ‘mengendalikan’ rakyatnya. Presiden Soekarno dikenal karena pidatonya yang sangat bertenaga dan sungguh menggerakkan. Kemungkinan pidatonya disusun sendiri. Soekarno sangat suka memakai pidato untuk mengungkapkan pikiran-pikirannya yang sering diringkas dalam bentuk singkatan sehingga dengan mudah menempel di telinga pendengarnya.
Soeharto lain lagi, lebih kalem dan berhati-hati dalam berbicara. Nadanya terukur seolah menunjukkan keramahan dan kerendahan hati. Pidato Soeharto sepertinya disusun rapi oleh para pembantunya. Kalaupun ada improvisasi, biasanya akan disertai dengan senyuman.
Habibie ekspresif, walau bukan seorang orator. Namun menyaksikan Habibie berbicara sungguh menyenangkan karena kita seperti tertular semangat dan antusiasmenya. Mungkin Habibie bisa dikategorikan sebagai seseorang dengan vibes positif.
Gus Dur atau Abdurrahman Wahid lebih seru lagi. Bicaranya tak meledak-ledak, datar namun penuh celetukan. Gus Dur cenderung menjadi seorang pencerita yang penuh humor, meski sentilannya terkadang bisa membuat pihak tertentu murka. Salah satu yang paling terkenal adalah sebutan “anak TK” untuk anggota DPR.
Megawati tampil sebagai sosok ibu. Kadang-kadang seru, tetapi kadang-kadang juga emosional.
Lalu SBY, Susilo Bambang Yudhoyono, tampil dengan gaya yang presisi. Pidatonya sungguh diatur—mulai dari intonasi hingga gestur. Bisa jadi SBY adalah presiden dengan gaya pidato paling rapi dan tertib.
Dan Joko Widodo, Jokowi tentu bukan seorang orator. Beberapa penampilannya memikat karena campur tangan konsultan komunikasi yang handal. Namun dalam pidato-pidato dadakan, Jokowi cenderung datar dan kurang bisa memainkan ritme. Maksudnya, karena termasuk sosok presiden yang ‘didamba’ dan ‘dipuja’, maka pidatonya dinilai seolah sempurna oleh para pendukungnya.
Sementara Prabowo tampil sebagai sosok yang mungkin paling berkeinginan menjadi presiden Indonesia hingga kemudian tercapai. Dia sepertinya terpengaruh gaya orasi Soekarno, namun ingin detail dan akrab seperti Soeharto.
Dalam pidatonya, Prabowo seolah ingin menggerakkan emosi publik. Mulanya kalimat ditata dan intonasi diatur agar memancarkan aura wibawa serta keyakinannya. Namun, di bawah sorotan kamera dan dalam tekanan panggung politik Indonesia, pidato publik Prabowo Subianto sering kali bertransformasi secara tak terduga menjadi panggung komedi organik yang tidak disengaja. Kata-kata yang seharusnya meluncur mulus bagaikan orkestrasi yang matang, tiba-tiba tersandung, melompat dari rel sintaksis, atau bahkan berubah bentuk menjadi kosakata asing yang tak ada dalam kamus. Seketika itu pula, ketegangan panggung politik mencair, dan publik pun terbahak—bukan karena lelucon yang direncanakan, melainkan karena munculnya fenomena “selip lidah” yang hadir secara tiba-tiba di tengah kalimat yang semula sangat serius.
BACA JUGA : Jurnalis Warga 3
Selip lidah dalam retorika politik ini ibarat sebuah mobil mewah yang sedang melaju kencang di jalan tol mulus, lalu tiba-tiba bannya masuk ke dalam lubang kecil yang tak terduga. Benturan itu tidak merusak kendaraan secara keseluruhan, tidak pula menghentikan perjalanannya, namun sangat cukup untuk membuat seluruh penumpang di dalamnya terhentak dari ketenangan mereka. Bedanya, jika dalam berkendara hentakan itu menimbulkan kecemasan, di panggung pidato publik Prabowo, para penonton dan pendengar sering kali terhentak lalu menyambutnya dengan tawa lepas. Terjadi dekonstruksi spontan dari figur pemimpin yang terkesan tegas, militeristik, dan formal menjadi sosok manusia biasa yang bisa tergelincir oleh bahasa yang digunakannya sendiri.
Fenomena ini menciptakan dinamika komunikasi publik yang unik. Di satu sisi, retorika politik menuntut perfeksionisme dan ketepatan diksi. Namun di sisi lain, ketidaksempurnaan artikulasi justru menghadirkan dimensi kemanusiaan yang segar. Ketika sebuah kekeliruan kata terjadi, barikade formalitas politik runtuh seketika. Momen kekhilafan verbal ini menciptakan celah kecil dalam narasi kekuasaan yang kaku, membiarkan kepolosan spontan merembes keluar dan menciptakan koneksi langsung dengan audiens yang merindukan kesederhanaan di tengah retorika politik yang kerap kali dipenuhi kepalsuan.
Secara ilmiah dalam bidang neuropsikologi dan linguistik, fenomena selip lidah ini dikenal dengan istilah Latin lapsus linguae atau dalam bahasa Inggris dinamakan slip of the tongue. Psikolinguistik menjelaskan bahwa proses pemrosesan bahasa di otak manusia terjadi dengan kecepatan luar biasa dan melibatkan arsitektur kognitif yang sangat rumit. Dalam hitungan milidetik sebelum sebuah kata diucapkan, otak harus mengakses kamus mental (mental lexicon), memilih konsep semantik yang tepat, menyusun struktur sintaksis kalimat, merencanakan pemetaan fonologis (bunyi kata), dan akhirnya mengirimkan sinyal motorik yang presisi ke artikulator—seperti lidah, bibir, pita suara, dan langit-langit mulut.
Karena kerumitan transmisi neuromotorik ini, proses berbicara spontan sangat rentan terhadap gangguan atau tergelincir. Secara ilmiah, terdapat beberapa mekanisme dan pemicu utama terjadinya selip lidah:
- Interferensi Semantik dan Fonologis: Otak mengaktifkan beberapa kata yang memiliki kemiripan bunyi (phonological neighbors) atau kemiripan makna secara bersamaan. Ketika proses seleksi terganggu, kata yang tidak dimaksudkan justru melompati ambang aktivasi kognitif dan terucap oleh artikulator. Contohnya adalah fenomena Spoonerism (pertukaran konsonan/vokal antar kata) serta Malapropism (penggunaan kata yang keliru namun berbunyi mirip).
- Beban Kognitif Tinggi (Cognitive Overload): Berpidato tanpa teks penuh menuntut pemrosesan paralel yang berat. Otak harus secara bersamaan mengingat poin argumen, membaca gestur audiens, mengontrol intonasi, dan memprediksi reaksi publik. Beban kerja kognitif yang berat ini memicu interferensi pada memori kerja (working memory), sehingga koordinasi bahasa terganggu.
- Kondisi Fisiologis dan Emosional: Tingkat kecemasan (arousal), kelelahan fisik (fatigue), kelelahan saraf, atau antusiasme yang berlebihan memicu lonjakan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Kondisi ini dapat mengganggu transmisi sinapsis pada korteks motorik dan area Broca yang bertanggung jawab atas produksi bahasa.
- Aktivasi Antisipatori dan Perseverasi: Terjadi ketika bunyi dari kata yang akan diucapkan di masa depan muncul terlalu cepat (antisipasi), atau bunyi dari kata yang baru saja diucapkan justru terbawa dan berulang pada kata berikutnya (perseverasi).
Dalam sejarah psikoanalisis, Sigmund Freud mengemukakan teori terkenal dalam karyanya The Psychopathology of Everyday Life (1901), di mana ia menyatakan bahwa selip lidah—yang kemudian dikenal sebagai Freudian slip—bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan representasi dari keinginan, kecemasan, atau pikiran bawah sadar (unconscious mind) yang secara tidak sengaja lolos dari sensor kesadaran.
Namun, dalam konteks neurosains modern dan pidato politik praktis, mayoritas ahli linguistik seperti Victoria Fromkin dan Gary Dell menyimpulkan bahwa sebagian besar selip lidah hanyalah kegagalan eksekusi kognitif sementara (short circuit) dalam jaras saraf pemrosesan bahasa, bukan penyingkapan rahasia atau pengakuan tersembunyi dari pikiran bawah sadar sang pembicara.
BACA JUGA : Ketika Warga Menulis – Menapak Jejak Jurnalisme Warga Dari Surosowan
Di era digital saat ini, setiap selip lidah yang dilakukan oleh figur publik seperti Prabowo dengan cepat diisolasi, dipotong menjadi klip pendek, dan disebarkan ke media sosial. Momen kesalahan ucap tersebut diolah menjadi bahan olok-olok yang jenaka, meme visual, hingga video parodi di platform seperti TikTok dan X (Twitter). Publik seolah-olah secara kolektif menantikan momen-momen ketidaksempurnaan tersebut, mirip seperti penonton film yang dengan sabar menunggu tayangan adegan gagal (blooper reel) di akhir kredit film untuk mendapatkan tawa yang jujur dan melepaskan ketegangan.
Namun, jika kita menelaah lebih dalam di balik tawa dan keriuhan media sosial tersebut, fenomena selip lidah menyimpan sebuah refleksi psikologis dan sosiologis yang mendasar. Kejadian ini mengingatkan kita bahwa bahasa sejatinya adalah produk dari organ biologis dan pemrosesan otak yang amat rumit serta tidak pernah lepas dari potensi kegagalan.
Bahkan seorang presiden, dengan segala kemegahan jabatan, pengawalan ketat, dan kewenangan besar yang dimilikinya, tetaplah tunduk pada hukum-hukum biologi kognitif yang sama dengan rakyat biasa. Perbedaannya hanya terletak pada panggungnya: jika rakyat biasa salah ucap saat berbicara, kekhilafan itu mungkin hanya ditertawakan oleh teman sebangku atau rekan sekantor; tetapi jika seorang presiden tergelincir lidahnya, seluruh strata masyarakat dari Sabang sampai Merauke ikut menyaksikan dan menganalisisnya.
Dalam perspektif budaya politik, humor yang timbul dari selip lidah ini dapat berfungsi sebagai “vitamin” dan penyegar bagi kesehatan demokrasi. Di tengah atmosfer politik yang sering kali kaku, polaritatif, dan dipenuhi oleh retorika doktrinal yang berat, selip lidah menghadirkan ruang publik yang cair di mana masyarakat dapat menertawakan pemimpin mereka tanpa rasa takut atau tendensi permusuhan. Tawa tersebut meruntuhkan benteng sakralitas kekuasaan secara damai. Pada akhirnya, secara ilmiah dan filosofis, selip lidah adalah bukti paling autentik bahwa seorang pemimpin—sehebat dan sekuat apa pun ia digambarkan—tetaplah manusia biasa yang dapat khilaf dan tergelincir oleh lidahnya sendiri.
Semoga lidahnya hanya belibet, bukan tapuntal tapulilit.








