Ini perjalanan saya yang kedua dalam bulan ini ke Jakarta. Minggu lalu saya ke Jakarta namun hanya lewat karena terus ke Bekasi dan Depok. Tak ada waktu dan kesempatan untuk jalan-jalan di ibukota yang konon tak lama lagi akan berpindah ke bagian timur Borneo.
Maka dalam perjalanan kedua ini, sebelum ke Depok dan kemudian ke Bandung, saya meniatkan untuk jalan-jalan di Jakarta. Tempat yang hendak saya tuju adalah M Bloc.
“Jalan sore, kita berjalan-jalan sore-sore,” penggalan lagu yang dilantunkan oleh Denny Malik ini amat populer pada masa remaja saya dulu.
Lirik lagunya mengambarkan betapa ikonik kawasan Blok M yang terletak di Jakarta Selatan sebagai tempat ‘ngeceng’ anak-anak gaul metropolitan waktu itu.
Pada era tahun 1980-an Blok M memang terkenal karena disana ada pusat perbelanjaan modern atau mall yang saling berdekatan. Ada Pasaraya. Pasar Melawai. Blok M Mall dan Pasar Mayestik.
Di kawasan ini anak-anak muda yang kebanyakan masih duduk di bangku SMA nongkrong sejak sore hingga malam hari. Anak-anak ABG ini mangkal dengan berbagai tujuan, mulai dari cuci mata, cari hiburan, belanja bahkan ada juga yang menjajakan cinta.
Dalam lagu yang dinyanyikannya, Denny Malik menyebut kawasan tempat berkumpul anak-anak gaul itu sebagai ‘tempat perngecengan’. Selain lagu, fenomena JJS atau Jalan Jalan Sore juga diabadikan dalam bentuk video klip dan film.
Seingat saya, meski tak secara khusus menyorot kawasan ini, budaya pop anak-anak gaul metropolitan juga diabadikan dalam bentuk tulisan fiksi. Hilman Hariwijaya yang terkenal lewat novel Lupus dan Olga serta Catatan Si Boy. Hilman beberapa kali menyebut Blok M dalam karyanya.
Nama Blok M sendiri berasal dari penamaan pada penataan kawasan yang dilakukan oleh Belanda. Saat itu pemerintah Belanda ingin membuat kawasan pemukiman yang berkonsep taman. Maka dibuatlah blok-blok, mulai dari Blok A hingga S pada tahun 1947.
Kini yang tersisa adalah Blok A, Blok M dan Blok S, sementara blok-blok lainnya telah berganti nama. Popularitas Blok M dengan Jalan Melawai yang melegenda dimulai sejak penyelenggaraan Asian Games pertama di tahun 1962. Blok M merupakan perpanjangan jalan dari kawasan Senayan yang ramai.
BACA JUGA : Membincang Aktivisme Berbasis Senirupa di Cultuur Volk

Dari berbagai sumber bacaan di internet, saya mendapat cerita bahwa selain lekat dengan kehidupan anak muda, pada era 80-an hingga 90-an juga merupakan momen kedatangan orang-orang Jepang di Blok M. Kawasan sekitar Jalan Melawai dan Kebayoran Baru menjadi semacam mess atau penginapan orang-orang Jepang.
Hadirnya orang-orang Jepang ini diikuti dengan menjamurnya kedai-kedai makanan jepang di kawasan itu.
Atmosfer Jepang sempat menurun ketika kawasan Aldiron Plaza berubah menjadi Blok M Square. Orang Jepang yang menghuni kawasan Blok M kemudian pindah ke tempat lain. Untuk menarik perhatian ekspatriat Jepang agar kembali berkunjung ke Blok M, para pengusaha hiburan kemudian mendirikan restoran, klub malam, super market, karaoke dan panti-panti pijat bernuansa negeri sakura.
Di kawasan ini juga sering diadakan festival seni dan kuliner Jepang bertajuk “Little Tokyo”. Festival ini diramaikan dengan gerai gerai makanan dan pernak-pernik khas negeri matahari terbit. Festival tahunan itu dinamakan Festival Ennichisai, atau festival seni budaya dan kuliner Jepang
Nuansa Jepang yang amat menonjol kemudian membuat Melawai sering disebut sebagai Little Tokyo di Jakarta.
Jadi buat siapapun yang sedang berada di Jakarta dan ingin menikmati sajian makanan Jepang seperti ramen atau sushi, Melawai adalah jawabannya.
Area yang letaknya dekat Terminal Blok M itu terdiri dari deretan restoran ala Jepang dengan sajian unggulannya masing-masing.
Beberapa nama restoran yang ternama antara lain Daitokyo Sakaba, Ramen 38 Sanpachi, Tamba, Kashiwa, Kira Kira Ginzha, Marufuku dan Kaihomaru.
Litle Tokyo ini tidak hanya didatangi para pecinta kuliner dan hiburan malam ala Jepang, melainkan juga para pecinta fotografi. Kesan unik, otentik dan desai tipografi Jepang yang menghiasi bangunan disana merupakan obyek yang menarik untuk tangkapan lensa kamera.
Yang doyan mengupload foto diri di Instagram juga kerap menjadikan kawasan ini sebagai tujuan karena ada banyak spot foto yang instagrammable dan unik terutama di malam hari.
Paduan antara pendar lampion dan dekorasi di malam hari seolah membawa yang ada di sana merasa sedang berada di daerah perkotaan Jepang.
BACA JUGA : Goplay ‘Netflix’ Ala Gojek Yang Bermetamorfosis Jadi Ruang Kreator

Hari Senin menjelang magrib, saya menyaksikan keramaian di M Bloc, seolah roh Blok M sebagai tempat JJS dan ngeceng anak-anak muda hidup kembali. Terletak di Jalan Panglima Polim Raya, M Bloc menjadi tempat yang ramai tak lama setelah didirikan pada akhir tahun 2019.
M Bloc menyulap bangunan tua, rumah bergaya vintage dengan arsitektur khas tropis tahun 1950-an untuk menghadirkan wajah dan fungsi baru.
Deretan rumah-rumah ini dulunya merupakan rumah dinas dari Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia {Perum Peruri}. Rumah-rumah ini sempat berada di puncak jaya dan begitu hidup pasca kemerdekaan. Pernah mengalami masa jaya pada jaman paska kemerdekaan, rumah-rumah ini kemudian terbengkalai dan nampak usang.
Lahan mati ini kemudian bergeliat kembali dengan hadirnya sebuah creative hub baru yang mewadahi kebutuhan kaum muda urban yang dinamis dan kreatif.
Kawasan yang terletak di pinggir jalan, jauh dari rumah-rumah warga itu didesain retro memang mudah dijangkau dan bergaya anak muda banget. Keramaiannya juga tak menganggu warga sekitar.
Metamorfosis lahan terbengkalai ini dimungkinkan atas kerja sama Perum Peruri dengan PT Ruang Milenial.
M Bloc memang didesain sebagai ruang temu dengan konsep outdoor dan indoor. Ada ruangan tempat titik kumpul untuk melakukan diskusi publik. Dinding di sejumlah tempat dihiasi mural.
Di M Bloc juga ada panggung musik, tempat dimana para musisi populer pernah manggung disana. Tiga bulan sebelum tutup usia, Didi Kempot pernah ikut meramaikannya.
Kehadiran M Bloc menambah variasi dan keramaian di Blok M yang dikenal juga sebagai pisat kuliner. Selain kuliner berbau Jepang, di Blok M juga ada Food Fighter, sebuah food court yang menjual beragam makanan menarik.
Filosofi Kopi, kedai yang namanya diambil dari judul novel dan film juga ada disana.
Di basement Blok M Suare juga ada bursa buku yang dulunya menjajakan dagangan di kawasan Kwitang. Selain buku ada juga bursa piringan hitam baik yang baru maupun vintage.
Di sisi samping depan Blok M Square berderet para pelukis wajah menjajakan jasanya. Meski mentari mulai surup mereka masih menatap potret dengan kaca pembesar dan memindahkan lewat sapuan kuas di kanvas. Mereka mematok harga antara 400 hingga 600 ribu per wajah.
Pingin rasanya berlama-lama disini namun karena pandemi masih belum purna, semua keramaian itu mesti berakhir pada jam 21.00 malam.
note : artikel ini merupakan catatan perjalananyang diikuti oleh kesah.id dalam kegiatan orientasi lapangan Komite Ekonomi Kreatif Provinsi Kalimantan Timur yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dari tanggal 19 s/d 22 Desember 2021.








