Sebelum meninggalkan Jakarta menuju Bandung, saya kembali menyambangi M Bloc untuk bersantap siang. Resto yang menjadi pilihan untuk bersantap adalah Mbok Ndoro. Restorant ini menyediakan makanan dengan pilihan nasi putih atau nasi merah, dan aneka sayur serta lauk ala masakan rumahan yang bisa dipilih sendiri.

Jakarta yang hujan terasa sejuk, jeruk panas yang disajikan usai melahap isi piring membuat suasana menjadi hangat. Terlebih ketika di dinding terbaca tulisan “Ngumpul Ora Ngumpul Sing Penting Wareg” atau kumpul tidak kumpul yang penting kenyang {makan}.

Mbok Ndoro hanyalah salah satu dari banyak tenant yang turut meramaikan M Bloc. Berdiri sejak 26 Desember 2019, kehadiran M Bloc di kawasan Blok M memang segera menarik perhatian kamum muda urban yang dinamis dan kreatif.

M Bloc kini berkembang menjadi tempat nongkrong, lokasi ngeceng yang populer di Jakarta.

Berlokasi di Kompleks Peruri, Kabayoran Baru, Jakarta Selatan, M Bloc Space ditata dan dikelola untuk menjadi ruang kreatif bagi komunitas muda lokal.  Dikembangkan dari komplek bangunan yang usianya lebih dari 70 tahun dan sudah lama terbengkalai, M Bloc Space yang didesain dengan gaya retro mampu menjadi oase baru, wadah anak-anak muda kreatif bertemu dan berkolaborasi.

Kerjasama antara Perum Peruri dan PT Ruang Riang  Millenial, sebelum pandemi melanda, M Bloc Space setiap bulannya bisa dikunjungi oleh kurang lebih limapuluh ribu orang.

M dalam M Bloc  bermakna  :  Musik, Meetings, Makers, Millenials, Message, Mission, Mutual, Movement, Movies, Melawai hingga Money.

Tautan dari kesemua itu pada akhirnya akan membuat M Bloc menjadi creative hub, ruang dan hubungan kreatif bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan kreasinya secara kolaboratif dan berkelanjutan.

Bekas gudang yang disulap jadi ruang pertunjukan musik yang bisa menampung 200 sampai 350 penonton.

BACA JUGA : Meretas Sejarah Blok M Dari JJS, Little Tokyo hingga Creative hub generasi kekinian

M Bloc memiliki berapa ruang outdoor dan indoor. Di luar ada ruang titik kumpul, berada di bagian tengah.  Tembok-tembok yang mengitari dijadikan ruang pamer karya mural.

Pada sisi lain ada kawasan pedestrian dan amphiteater. Sementara ruang indoor biasa digunakan untuk pertunjukan musik.

Di M Bloc juga ada M Bloc Market, supermarket yang khusus menjual produk lokal hasil kreatifitas pelaku ekonomi kreatif. Ada berbagai macam produk kesehatan, kecantikan, teh, kopi, jamu dan lain-lain.

Salah satu ciri yang membuat M Bloc bukan hanya unik melainkan juga kontroversial adalah tiadanya ruang parkir.  Konon selain untuk mengefektifkan penggunaan ruang, pengelola M Bloc berharap para pengunjungnya datang dengan menggunakan transportasi publik.

Lalu apa keunikan lain yang kemudian membuat M Bloc kembali membuat kawasan Blok M kembali ramai menjadi tempat tongkrongan anak muda?.

Food and beverage yang bervariasi. Tenant makanan dan minuman di M Bloc menyajikan aneka olahan makanan rumahan yang berbeda-beda. Kedai atau resto yang menyajikan makanan antara lain Kedai Tjikini, Mbak Ndoro, Tokyo Skipjack, Katong dan Padang To Go. Sementara kafe yang menyajikan minuman diantaranya adalah Titik Temu Coffee, Suwe Ora Jamu dan Oeang.

Gelaran live music rutin. Almarhum Glenn Fredly sebagai salah satu founder PT Ruang Riang Millenial memanfaatkan outdoor venue di belakang kompleks peruri untuk manggung di hadapan pengunjung. Glenn bekerja sama dengan Tompie, selain mereka berdua tampil juga band-band dan penyanyi lain dari berbagai genre.

Matalokal. Merupakan ruang untuk memamerkan dan menjual produk brand artisan Indonesia. Mengusung semangat kolaborasi, Matalokal mengajak kreator dan maker menghasilkan produk yang tak hanya otentik melainkan juga memiliki desain dan kualitas yang bagus serba berbahan lokal.

Sudut musik dan buku. Bagi pengemar buku nama Post Santa, toko buku indie di Pasar Santa bukanlah sesuatu yang asing. Di sudut music dan buku M Bloc, Post Santa rutin menggelar diskusi seputar penulisan buku. Ada pula Demajors, perpustakaan untuk menikmati musik sepuasnya atau membeli CD-nya.

Toko-toko yang unik. Ada M Bloc Market yang didesain dengan konsep toko kelontong yang berbeda dan unik. Ada juga Connectoon, pop culture hub yang mempertemukan kreator dan pengemarnya. Selain merchandise dan komik, ada fasilitas connection academic,coworking space dan creative gallery. Ada juga Unionwell, brand dari Bandung milik David Bayu Danangjaya atau David Naif. Selain menjual vintage goods, juga merupakan ruang pamer untuk budaya vintage, benda seni, motor dan vespa.

Non Tunai. Tak usah membawa uang tebal di dompet. Semua tenant tempat nongkrong di M Bloc dikenakan peraturan untuk menggunakan e-money atau kartu kredit/kartu debit sebagai metode pembayaran.

Toko Kelontong di M Market 70% jualannya adalah produk UMKM yang terkurasi, 30 % sisanya adalah produksi brand-brand yang sebelumnya telah terkenal.

BACA JUGA : Membincang Aktivisme Berbasis Senirupa di Cultuur Volk.

note : artikel ini merupakan catatan perjalananyang diikuti oleh kesah.id dalam kegiatan orientasi lapangan Komite Ekonomi Kreatif Provinsi Kalimantan Timur yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dari tanggal 19 s/d 22 Desember 2021.