Aktivisme secara umum dipahami sebagai berbagai upaya yang dimaksudkan untuk mengemukakan persoalan guna mendorongkan perubahan terkait dengan masyarakat, kuasa atau kebijakan pemerintah, tatanan epoleksosbud masyarakat dan juga lingkungan hidup.
Bentuk yang paling populer adalah demonstrasi dan gerakan politik dengan cara memobilisasi masyarakat untuk turun ke jalan disertai dengan penyampaian orasi pada mimbar bebas di titik tertentu.
Pandemi Covid 19 membuat aktivitas semacam itu menjadi sulit untuk dilakukan.Demonstrasi atau gerakan politik turun ke jalan terhalang oleh kebijakan pembatasan sosial.
Mobilisasi massa besar-besaran di jalanan kerap kali juga mendapat respon yang buruk dari masyarakat luas. Melalui media sosial masyarakat sering kali menyuarakan keluhan karena mobilitasnya terganggu oleh aktivitas demonstrasi yang kerap menutup jalanan.
Namun aktivisme tidak bisa dihentikan dan mesti ditemukan jalan untuk melakukannya. Salah satu yang paling umum dilakukan adalah memindah gerakan dari lapangan {offline} ke gerakan secara daring {online}.
Atau kemudian melakukan aksi langsung secara cepat dengan memanfaatkan medium seni untuk kemudian dijadikan bahan melakukan kampanye secara digital. Cara lain adalah unjuk rasa melalui mural, mengambar dan menyampaikan pesan di dinding-dinding yang berapa di ruang publik.
Mural sebagai bentuk keresahan sosial atas kebijakan pemerintah dalam penanggulangan Covid 19 menjamur pada bulan Agustus 2021 yang lalu. Di berbagai kota muncul mural-mural yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap pemerintah. Beberapa diantaranya kemudian viral di media sosial. Meski dengan cepat dihapus oleh petugas,foto atau video mural-mural itu beredar luas dan cepat sebagaimana Covid 19.
Model lainnya dilakukan oleh Kolektif Mawar Bebas, sekumpulan perupa muda dari berbagai daerah yang berkumpul di tengah Kota Yogyakarta. Sebagai pembelajar seni, Kolektif Mawar Bebas memilih melakukan turba atau turun ke bawah. Berada di tengah masyarakat, mengenal dan kemudian merefleksikan permasalahan untuk kemudian diterjemahkan dalam bentuk lukisan pada kanvas.
Karya-karya itu kemudian akan dipamerkan di ruang publik untuk kemudian didialogkan dengan pemirsanya.
Menjelang akhir tahun 2021, Kolektif Mawar Bebas melakukan pengembaraan ke Kalimantan. Daerah yang dituju adalah Kalimantan Selatan, tepatnya Kota Banjarmasin. Namun pengkaryaan mereka di Kota Banjarmasin tidak berlangsung dengan baik, mereka tidak diijinkan untuk memamerkan karyanya pada publik di Banjarmasin.
Namun perjalanan ke Kalimantan Selatan yang mengecewakan itu tidaklah gagal, sebab karya dari Kolektif Mawar Bebas akhirnya bisa dipamerkan di Kota Banjar Baru.
Awal Desember 2021, Kolektif Mawar Bebas tiba di Kota Samarinda dan mulai melakukan pengkaryaan. Tanggal 7 Desember 2021, pameran karya mereka dibuka dengan sebuah diskusi yang menghadirkan pembicara antara lain Irene Sartika {Dosen FIB Unmul}, Pradarma Rupang {Dinamisator Jatam Kaltim}, Herdiansyah Hamzah {Dosen FH Unmul} dan Munir {Kolektif Mawar Bebas}. Diskusi dipandu oleh Wahyu dari Kolektif Mawar Bebas.
BACA JUGA : Goplay ‘Netflix” Ala Gojek Yang Bermetamorfosis Jadi Ruang Kreator

Dulunya bernama Blackbird Coffee Bar namun kini berganti nama menjadi Cultuur Volk Coffee and Space. Di tempat yang diimpikan oleh pendirinya menjadi creative hub, pusat pemikiran, pusat gerakan, pusat diskusi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan perubahan di Kota Samarinda ini karya-karya dari Kolektif Mawar Bebas dipamerkan dari tanggal 7 hingga 19 Desember 2021.
Membincang pameran bertajuk ”Merawat Ingat, Menghantam Sekat”, Irene yang merasa tidak nyeni namun menyukai dan mencintai seni bernostalgia pada masa-masa kuliah di Yogyakarta.
Di Kota Pendidikan dan Budaya itu, Irene sering menyaksikan dan kadang juga terlibat dalam perhelatan seni, termasuk seni di ruang publik.
Menyaksikan karya yang dipamerkan, tumbuh pertanyaan dalam diri Irene soal makna atau maksud yang terkandung dalam berbagai gambar. Dan hal itu mendorong untuk bertanya pada pengkaryanya.
Maka baginya seni di ruang publik adalah bentuk komunikasi dua arah. Menumbuhkan relasi antara pencipta dan penikmatnya, perbincangan yang diskursif dan dialektik.
Sementara itu Rupang mencoba memberi konteks pergulatan masyarakat Kalimantan Timur, utamanya penahklukan yang dilakukan bersama oleh pemerintah dan investor dengan bantuan para teknokrat dari perguruan tinggi terhadap masyarakat.
Demi melancarkan ekploitasi sumber daya alam, para investor terutama industri tambang kerap kali menyingkirkan ruang hidup dan ruang kebudayaan masyarakat. Kelompok masyarakat dipindah dalam permukiman yang didesain oleh pemerintah, investor dan konsultan-konsultannya yang kerap abai pada kebutuhan ruang budaya masyarakat.
Berbicara tentang penghancuran, Herdiansyah menyebutkan bahwa korupsi merupakan salah satu mesin penghancur seni dan kebudayaan dalam arti seluas-luasnya. Pemerintah yang koruptif pasti tidak akan mampu menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakatnya.
Pemerintah yang koruptif akan abai pada kebutuhan masyarakat dalam hubungannya dengan lingkungan hidup, lingkungan tempat tumbuhnya seni dan budaya masyarakat.
Memberi tanggapan atas apa yang disampaikan oleh pembicara lainnya, Munir menyampaikan bahwa apa yang dilakukan olehnya adalah bentuk perlawanan kepada kelaziman dalam industri seni rupa.
Pertumbuhan seni rupa arus utama tidak terlepas dari dukungan korporasi, kelompok investor yang telah memeras habis sumber daya alam. Mereka kerap menjadi kolektor dan sponsor perhelatan-perhelatan seni.
Di tangan merekalah stempel pengakuan atas kesenimanan seorang pengkarya ditabalkan. Pengkarya memperoleh pengakuan jika karyanya dipajang di geleri-galeri seni dan dipamerkan di ruang-ruang yang berbayar mahal.
Munir menegaskan karyanya bukanlah karya realis, bukan lukisan manis dengan aneka polesan ala salon. Apa yang digoreskan adalah letupan-letupan dalam diri berhadapan dengan realitas di tempat yang didatangi. Corak lukisannya adalah transformasi bentuk, sehingga tak begitu saja ditangkap maknanya tanpa memahami atau mengerti konteks ruang dimana karya itu dihasilkan.
Oleh karena karyanya tidak bermaksud menarik penikmatnya untuk membeli atau mengkoleksi. Karya dimaksudkan untuk memantik dialog, memahami dan menyelami realitas keterpinggiran, penindasan, ketidakadilan dan lain sebagainya.
Munir tidak berpretensi menjadi heroik, melainkan ingin dikenal sebagai penyampai melalui medium yang dikuasainya. Karyanya diharapkan akan menjadi pemantik bagi kelompok atau individu pro demokrasi untuk meneruskan gerakan politiknya.
BACA JUGA : Cinta Yang Membunuh

Aktivisme berbasis karya seni memiliki kemampuan untuk membantu menyuarakan dan menyalurkan penderitaan, amarah, kekecewaan dan perasaan lain menjadi pesan-pesan yang menggugah.
Atas sebuah cara yang khas, aktivisme seni ini bisa mendorong keterlibatan dan partisipasi aktif masyarakat untuk meudian terlibat dalam aktivisme soal hak asasi manusia, ketimpangan ekonomi dan sosial, diskriminasi, anti korupsi dan lain-lain.
Masyarakat bisa terlibat aktif dengan menyaksikan karya yang dipamerkan, mendiskusikan dan kemudian mendokumentasikan untuk kemudian disebarluaskan melalui media sosialdengan atribusi dan narasi. Kampanye atau publikasi secara personal bisa diikat secara kolektif melalui tagar tertentu.
Untuk memperluas jangkauan pesan, para kreator lain bisa berkolaborasi dengan Kolektif Mawar Bebas, membuat rekaman video untuk dirangkai menjadi video esai atau percakapan yang direkam dalam bentuk talkshow baik secara live atau diedit kemudian diupload.
Sebab pameran selalu mempunyai keterbatasan waktu. Maka agar pameran bisa terus digaungkan maka mesti didokumentasikan secara digital sebagai materi kampanye di dunia virtual.
Meski dunia virtual kerap dikritik sebagai tidak mampu membawa ‘aura seni yang autentik’, suatu pengalaman sensoris yang muncul karena berhadapan dengan karya yang benar ditunjukkan di depan mata, dalam ruang dan waktu yang secara nyata dirasakan; namun penampakan karya secara digital tetap memenuhi kaidah dasar seni yakni tampak secara visual, adaptif dan membawa gagasan yang bisa ditangkap dan disebar pemirsa.
Bahkan apa yang didokumentasikan secara digital akan mempunyai kelebihan karena bisa disaksikan dan dinikmati berulang-ulang. Sesuatu yang memungkinkan untuk dipelajari secara mendalam oleh siapapun tanpa batas kesempatan.
Buat Aksi Kamisan Kaltim, Kelompok Belajar Anak Muda, XR Bunga Terung dan kelompok atau individu pro demokrasi lainnya di Samarinda, aktivisme berbasis seni atau artivisme bukanlah sesuatu yang asing.
Dan lewat jalinan kerjasama dengan Kolektif Mawar Bebas akan semakin memperkaya pengalaman dalam memakai seni terutama seni rupa untuk menyuarakan persoalan kemasyarakatan.
Dimotori oleh anak-anak muda, jalinan kolektif maupun individual diharapkan akan semakin memampukan untuk menyerap dan mengekpresikan pengalaman perjumpaan dengan berbagai keadaan dalam keseharian sebagai seorang aktivis.
Hingga kemudian lewat aktivisme berbasis seni akan lahir stategi aksi sekaligus praktek kreatif untuk menyalurkan dan menyuarakan gagasan-gagasan kritis yang bermakna untuk membawa perubahan.








