Cinta biasanya dikaitkan dengan hal, kondisi, situasi yang menyenangkan dan membahagiakan. Dalam cinta ada hubungan yang indah, kenangan manis yang membuat seseorang menyukai dan mengapresiasi hidup, mensyukuri kehidupan dan lain sebagainya.
Dialami sebagai energi dan pengalaman yang positif, cinta kemudian menjadi berkah dan karunia yang indah. Hanya saja cinta tak selamanya indah dan ajaib, ada pengalaman cinta yang tak tersampaikan, cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta yang diabaikan sehingga membuat sakit, bahkan tak jarang berakhir dengan maut.
Kamis 2 Desember pukul 15.30, seorang juru kunci tempat pemakaman umum di dusun Sugihan, Mojokerto ketika meninjau kompleks makam terkejut melihat sebuah tubuh terkapar di dekat makam.
Tubuh yang tergeletak itu ternyata adalah jasat Novia Widyasari Rahayu, mahasiswi Universitas Brawijaya Malang. Novia diduga bunuh diri dengan menenggak minuman kesukaannya yang telah dibubuhi racun. Makam ayahnya dipilih sebagai tempat untuk mengakhiri hidupnya, tempat dia mengadu tanpa merasa dihakimi.
Novia sebelumnya pernah melakukan percobaan bunuh diri namun gagal karena dipergoki oleh ibu dan saudaranya.
Niatnya untuk mengakhiri hidup muncul akibat depresi yang disebabkan oleh kehamilan di luar nikah. Diketahui Novia tengah hamil akibat hubungan dengan pacarnya yang adalah seorang polisi.
Dalam sebuah akun twitter diceritakan kisah tentang Novia. Beberapa bulan lalu dia diajak pacarnya ke sebuah penginapan. Oleh pacarnya dipaksa minum obat dan kemudian tertidur. Dan dalam keadaan itu pacarnya menyetubuhinya. Setelah peristiwa itu, beberapa bulan kemudian Novia merasakan kehamilan.
Novia menyampaikan hal itu kepada pacarnya, yang ternyata tidak gembira dengan kabar itu, enggan bertanggungjawab dan malah meminta untuk menggugurkan kandungannya. Novia kemudian melaporkan hal itu pada orang tua pacarnya, yang pada akhirnya juga enggan untuk turut bertanggungjawab.
Keluarga pacarnya belum merestui Novia dan pacarnya meneruskan hubungan ke jenjang pernikahan dengan alasan ada kakak pacarnya yang belum menikah dan pacarnya belum lama menjadi polisi.
Kepada keluarga dekatnya Novia juga menceritakan keadaan dirinya. Namun dukungan yang cukup juga tidak muncul. Pamannya bahkan kerap memaki dirinya karena dianggap membuat aib. Konon pamannya bahkan sempat mengancam akan membunuh Novia karena mencemarkan nama keluarga.
Novia kemudian mengalami kesedihan yang mendalam, merasa sendiri, tidak mendapat dukungan yang cukup dari lingkungan terdekat untuk turut menanggung bebannya. Beban yang berat dipundak untuk dipikul sendiri membuatnya putus asa.
Membuat pengaduan terakhir di pusara ayahnya, Novia kemudian mengakhiri hidupnya, menutup tugas kehidupannya yang mestinya purna saat nanti dia melahirkan bayi yang dikandungnya.
BACA JUGA : Homo Sapiens Mahkluk Yang Serba Terbatas
Tugas, tujuan dan tanggungjawab dari mahkluk hidup secara singkat adalah meneruskan kehidupan atau berketurunan. Modusnya secara seksual dan aseksual. Mahkluk hidup dari kerajaan tertentu bisa berbiak tanpa hubungan seksual dengan cara membelah diri dan pembiakan vegetatif.
Namun spesies yang masuk dalam kingdom of animalia adalah mahkluk seksual. Proses meneruskan keturunan dilakukan dengan cara perkawinan antara yang berjenis laki-laki dan perempuan. Cara perkawinannya bermacam-macam. Namun umumnya terjadi melalui coitus, senggama atau persetubuhan lewat penetrasi alat kelamin laki-laki ke dalam kelamin perempuan.
Potensi untuk meneruskan keturunan akan tumbuh seiring dengan pertumbuhan tubuh atau umur. Ditandai dengan mulai muncul ketertarikan pada lawan jenis. Pada saat tertentu ketertarikan itu begitu kuat, lawan jenis akan dicari, dirayu agar mau melakukan perkawinan. Ditinggal atau dijauhi oleh lawan jenis akan menimbulkan perasaan merana, tersingkir atau tersisihkan.
Ketika manusia memasuki fase atau peradaban menetap, beralih dari jaman pemburu pengumpul menjadi petani atau pembudidaya pangan dan ternak, kemajuan berbahasa menjadi sangat pesat. Ketertarikan kepada lawan jenis kemudian dinarasikan sebagai cinta.
Meski bukan merupakan satu-satunya ‘binatang’ berkesadaran namun karena kemampuan berbahasanya, perkawinan kemudian berbungkus narasi yang sangat khas dalam dunia manusia. Karena para pujangga, lahirlah romansa tentang perkawinan. Ketertarikan pada lawan jenis dinamai sebagai jatuh cinta yang melahirkan berjuta rasa. Konon di saat jatuh cinta, tahu kucingpun serasa coklat.
Mencari dan membujuk untuk menerima ketertarikan disebut sebagai rayuan. Lahirlah kata-kata dan kalimat indah yang bisa membuat lawan jenis melayang hingga kemudian tahkluk dalam pelukan.
Dan jika pada kebanyakan binatang perkawinan secara eklusif bertujuan untuk meneruskan keturunan, hanya terjadi pada masa subur maka dikenal musim kawin. Pada manusia ternyata tidak dikenal musim kawin. Manusia bisa kawin setiap saat yang dimaui olehnya.
Pada manusia kemudian perkawinan juga betujuan untuk memperoleh kesenangan bahkan juga rasa berkuasa. Tujuan perkawinan bukan lagi untuk meneruskan keinginan, kini bahkan banyak yang kawin tanpa niat untuk beroleh keturunan atau bahkan jangan sampai menghasilkan keturunan. Perkawinan kemudian menjadi rekreasional, buktinya industri ‘perkawinan’ kemudian menjadi salah satu industri terbesar dan tertua.
Dalam urusan kawin mawin untuk kesenangan atau tujuan lain non reproduksi, manusia hanya dikalahkan oleh Bonobo, sejenis Simpanse namun bertubuh lebih kecil. Dalam kehidupan Bonobo, kawin adalah segalanya, apapun masalahnya selalu diselesaikan dengan kawin.
Menyadari urusan perkawinan bisa menimbulkan masalah dalam kehidupan bersama, masyarakat manusia pada masa setelah bermukim secara menetap kemudian mulai mengatur hal itu. Disusunlah norma, nilai, moral dan aturan terkait dengan perkawinan. Hubungan kelamin kemudian diinstitusionalisasikan dalam bentuk pernikahan.
Dalam pernikahan, perkawinan kemudian dianggap sah dan halal. Diluar itu perkawinan melupakan pelanggaran nlai, norma, moral dan bahkan hukum.
Perkawinan menjadi sah dan halal apabila dilakukan setelah mendapat pengesahan secara adat {masyarakat}, agama dan negara. Dalam lingkup ketiga wilayah ini maka perkawinan dianggap bisa mendatangkan kebaikan, diluar itu perkawinan bernilai keburukan.
Urusan meneruskan keturunan dan bersenang-senang melalui hubungan kelamin kemudian menjadi rumit. Muncul berbagai istilah yang khas manusia seperti perkosaan, kekerasan seksual, kehamilan yang tidak dikehendaki, pengguguran kandungan, perselingkuhan, perebut laki orang, perebut bini orang, poligami, monogami, poliandri dan lain sebagainya.
Sayangnya mereka yang melakukan institusionalisasi perkawinan lupa atau abai terhadap kenyataan bahwa manusia punya potensi sejak muda, mereka yang punya daya dan keinginan untuk melakukan hubungan seksual jauh sebelum memutuskan untuk siap dan mau menikah. Kepada mereka ini institusi moral, adat, agama dan negara hanya memberi nasehat untuk menahan keinginan atau berpuasa seksual.
Nyatanya hal itu sulit untuk dilakukan karena nasehat memang tak akan menghentikan dorongan seksual. Penolakan terhadap kenyataan ini kemudian melahirkan masyarakat munafik {hipokrit} dalam urusan perkawinan.
BACA JUGA : Covid 19 Bukan Malaikat Pencabut Nyawa Garuda
Salah satu bentuk hipokrisi dalam urusan perkawinan terlihat nyata pada standard ganda yang berbasis kelamin. Terhadap laki-laki kelakuan ‘mengumbar’ atau menuruti dorongan seksual begitu saja lebih diterima.
Laki-laki yang gemar kawin sana sini, berganti-ganti pasangan sering disebut sebagai Bang Jago. Sementara jika perempuan melakukan hal yang sama akan disebut sebagai comberan, piala begilir dan ban bekas. Nilai nakal untuk laki-laki dan perempuan menjadi berbeda. Kebinalan laki-laki lebih bisa diterima ketimbang kebinalan perempuan.
Kepada laki-laki seolah diberi hak untuk menikmati kesenangan dalam hubungan seksual, sementara perempuan kemudian lebih dijadikan obyek kesenangan. Cara pandang yang tidak seimbang ini kemudian menimbulkan persoalan. Perempuan kemudian lebih sering menjadi korban ekploitasi dan kekerasan untuk memenuhi keinginan seksual laki-laki.
Dalam ruang relasi yang tidak seimbang, ruang-ruang kekuasaan, seksualisasi kemudian sering terjadi. Atasan menyetubuhi bawahannya, dosen menyetubuhi mahasiswanya, guru menyetubuhi muridnya, tokoh agama menyetubuhi jemaahnya dan lain sebagainya. Dan andai korban melaporkan kerap kali malah dilaporkan balik dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Persoalan seksualitas manusia kemudian menjadi lebih rumit. Selain karena aktifitas seksual manusia tidak default hanya untuk meneruskan keturunan, ternyata ketertarikan secara seksual juga tidak hanya terjadi antara laki-laki dan perempuan secara eklusif.
Adalah sebuah kenyataan bahwa laki-laki bisa tertarik secara seksual kepada laki-laki, juga laki-laki dan perempuan sekaligus. Pun demikian juga dengan perempuan. Dan seks sebagai sebuah identitas ternyata juga plural. Ada laki-laki yang kemudian ingin menjadi perempuan dan sebaliknya, yang tentu saja akan berpengaruh pada preferensi dan perilaku seksualnya.
Lebih dari itu manusia ternyata juga bisa tertarik secara seksual bukan hanya kepada manusia melainkan juga kepada mahkluk hidup lainnya, bahkan tak sedikit yang kemudian tertarik secara seksual kepada benda-benda.
Atas semua hal ini secara kolektif kemudian kita lebih suka menyebutnya sebagai penyimpangan. Menganggap sebagai dosa yang harus dihindari namun tak memberi jalan bagaimana mengatasi atau menerimanya.
Seks, seksualitas dan dinamikanya lebih sering dihadapi dengan nasehat, ancaman dan hukuman ketimbang pemahaman. Pendidikan tentang seks tak lebih dari nasehat-nasehat yang jauh dari semangat untuk membangun ketrampilan dan latihan-latihan agar bisa mengungkapkan seksualitasnya secara sehat dan bertanggungjawab.
Kita lebih suka melarang anak-anak muda pacaran ketimbang mengajari bagaimana bisa pacaran dengan asyik, sehat dan bertanggungjawab.
Melarang-larang perkawinan sebelum pernikahan jelaslah mustahil. Namun agar perkawinan sebelum pernikahan tidak menimbulkan persoalan baik pribadi, antar pribadi dan sosial diperlukan pemahaman serta pengetahuan yang baik tentang seks dan seksualitas manusia.
Berikanlah pendidikan ‘cinta’ yang berdasar pada biologi dan neurosains, agar cinta tak hanya bertabur narasi-narasi surgawi yang abai pada kenyataan bahwa kita tengah hidup di bumi.








