Salah satu keinginan terpendam sedari kecil adalah naik pesawat. Keinginan itu muncul ketika mendengar kisah tetangga yang mudik dari Jakarta dengan naik pesawat. Dalam hitungan jam saja perjalanan dari Jakarta hingga Purworejo bisa sampai, sungguh terdengar keren.
Puluhan tahun kemudian keinginan itu bisa terwujud. Dalam usia 26 tahun akhirnya saya merasakan naik pesawat untuk pertama kalinya. Saat itu saya mendapat tiket perjalanan Manado – Surabaya pulang pergi untuk mengikuti intership, belajar melakukan penjangkauan pada kelompok resiko tinggi HIV/AIDS pada sebuah yayasan di Surabaya.
Pesawat pertama yang saya tumpangi adalah Merpati Nusantara Airlines. Perusahaan penerbangan milik negara yang melayani penerbangan dalam negeri terutama pada jalur perintis.
Setelah itu kesempatan naik pesawat terus datang berulang. Pesawat dari berbagai maskapai penerbangan berkali-kali saya tumpangi. Selain Merpati, ada Sempati, Bouraq, Mandala dan Kartika Air.
Lion Air saya tumpangi ketika masih melayani rute Jakarta – Pontianak.
Waktu pertama terbang dari Manado ke Balikpapan, saya menumpang Bali Air dengan rute Manado, Gorontalo, Palu lalu Balikpapan. Kelak kemudian saya bolak-balik Manado – Balikpapan dengan menumpang Batavia Air.
Meski telah menaiki berbagai maskapai penerbangan, rasanya tetap ada yang kurang bila belum menumpangi pesawat dari Garuda Indonesia Airways. Pesawat yang berlabel national flag.
GIA adalah perusahaan dengan layanan premium, makan minum diatas pesawat disajikan dengan wadah yang berbeda dengan maskapai lainnya. Salah satu yang kerap disimpan dan dijadikan benda untuk dipamerkan sebagai bukti telah menaiki garuda adalah refreshing tissue-nya.
Kenapa tidak pernah naik pesawat garuda?. Tentu saja karena harga tiketnya selalu paling mahal. Dan kursinya juga tidak selalu tersedia sebab garuda pada masa itu adalah tunggangan dari para pejabat daerah yang rajin bepergian ke Ibukota.
Baru nanti ketika ada undangan untuk menghadiri acara yang diselenggarakan oleh lembaga donor di Jakarta, saya berhasil naik pesawat garuda karena ada perjanjian antar pemerintah yang mengisyarakat kewajiban untuk menggunakan national flag untuk perjalanan udara.
Rasanya memang berbeda menaiki pesawat garuda, ada kebanggaan tersendiri. Kelasnya seperti kelas bangsawan dibanding dengan maskapai penerbangan lainnya.
Kini meski jarang bepergian dengan menaiki pesawat dan lebih jarang lagi menumpang garuda. Namun ketika mendengar masa depan garuda yang gelap mau tak mau muncul juga rasa prihatin di dada.
Indonesia nampaknya mesti bersiap-siap kehilangan maskapai kebanggaannya seperti banyak negara lain yang tak lagi punya national flag-nya lagi.
BACA JUGA : Penderitaan Yang Disengaja
Dua tahun terakhir ini industri penerbangan berada dalam masa kegelapan. Menjelang akhir tahun 2021 mulai muncul cahaya di ujung lorong gelapnya. Ada nafas segar karena relaksasi sehingga pergerakan penumpang dari satu kota ke kota lain, satu negara ke negara lain mulai bertumbuh.
Namun lain cerita untuk Garuda Indonesia, maskapai kebanggaan Indonesia ini justru makin terpuruk.
Agustus lalu dua komisarisnya mundur, Pieter F Gontha dan Yenny Wahid. Mundurnya dua komisaris ini jadi preseden buruk untuk maskapai yang telah mengudara sejak 73 tahun yang lalu.
Hengkangnya dua komisaris yang mestinya tetap bertahan untuk bekerja sama memulihkan kondisi Garuda Indonesia menjadi pertanda bahwa jalan menuju pailit terbuka lebar.
Data dari Airports Council International menunjukkan bahwa pandemi Covid 19 telah menyebabkan penurunan lalu lintas global sebanyak 64.6 % di tahun 2020. Wilayah Asia-Pasifik kehilangan penumpang sebanyak 2,5 milyard orang.
Volume penumpang turun drastis baik pada penerbangan regional, nasional maupun internasional dibandingkan dengan 2019. Bahkan pada paruh kedua 2020, penumpang internasional hampir tidak ada karena kebijakan lock down di berbagai negara.
Maskapai international terancam kolaps. Mereka terpaksa bertahan dengan bantuan pemerintah secara langsung maupun tidak langsung. Seperti melalui suntikan modal, pengurangan pajak dan lain sebagainya.
Beberapa kemudian melakukan penambahan hutang kepada kreditor yang mampu memberikan pinjaman dengan bunga rendah. Ada juga yang meraup dana dari pasar saham sepanjang nilai perusahaan masih dipercaya oleh publik.
Secara internal maskapai juga melakukan efisiensi, merumahkan karyawan, mengurangi jumlah karyawan, menawarkan pensiun dini termasuk juga pemutusan hubungan kerja. Hampir semua maskapai melakukan hal itu.
Beberapa maskapai kemudian juga melakukan inovasi, melakukan perubahan model bisnis, merubah fokus layanan dan mengefektifkan penggunaan teknologi serta digitasi pada hampir semua aspek.
Air Asia bahkan memperluas bisnisnya menjadi bukan sekedar penerbangan. Dengan meluncurkan super app Air Asia melayani diliveri makanan, kebutuhan rumah tangga, perdagangan online. Air Asia juga meluncurkan ride hailing dengan nama Air Asia Ride sebuah aplikasi from flight to ride.
Citilink anak perusahaan Garuda Indonesia kemudian juga berfokus pada angkutan kargo. Dan terbukti pendapatan dari angkutan kargo kemudian menjadi pendapatan terbesar selama Citilink beroperasi sejak tahun 2012.
Seiring dengan kurva pandemi yang mulai melandai, jumlah penumpang penerbangan mulai meningkat. Aktivitas bandara mulai terlihat ramai kembali. Badan Pusat Statistik mencatat selama bulan September 2021 jumlah penumpang angkutan udara mencapai 2 juta orang.
Titik terang dunia penerbangan mulai terlihat. Semua maskapai yang menderita karena pandemi mulai bisa bernafas lega, ada harapan untuk pulih di depan.
Namun sayang itu tak berlaku untuk Garuda Indonesia, awan gelap masih menyelimutinya. Bahkan ketika pandemi mulai berlalu, Garuda Indonesia justru makin terperosok ke dalam lubang yang gelap, boroknya justru makin tersingkap.
Garuda bukan rubuh karena hantaman pandemi, sebab ringkihnya tubuh Garuda Indonesia sudah dikenali sejak bertahun-tahun lalu. Garuda telah menanggung beban hutan yang besar, ratusan trilyun rupiah dan terus bertambah trilyunan rupiah setiap bulannya.
Nilai equitas Garuda Indonesia minus 40 trilyun, jadi secara teknis Garuda sebenarnya sudah lama bangkrut.
BACA JUGA : Hidup Itu Bergerak
Seingat saya meski ternama sebagai maskapai penerbangan yang bergengsi, Garuda Indonesia waktu itu juga dikenal sebagai tukang molor. Jam terbangnya tidak tepat waktu. Konon jam terbang sering ditunda karena harus menunggu seseorang yang ‘berkuasa’.
Kisah tata kelola maskapai penerbangan plat merah yang ‘ugal-ugalan’ adalah cerita lama. Ibarat sapi betina yang gemuk, sudah lama Garuda Indonesia menjadi sapi perahan para pemburu rente. Isu korupsi di tubuh Garuda Indonesia sudah bertiup sejak tahun 2005.
Direktur utama dan direktur teknik serta pemeliharaan didakwa serta kemudian ditahan atas tuduhan korupsi dan pencucian uang.
Tapi Garuda Indonesia tetap tak berbenah. Tahun 2019 Direktur Utamanya membuat ulah dengan menyelundupkan motor dan sepeda mewah. Penyelundupan itu dilakukan melalui pesawat baru yang didatangkan oleh Garuda Indonesia dari Perancis.
Garuda memang rajin mendatangkan berjenis pesawat-pesawat baru, baik dari Airbus maupun dari Boeing. Disini muncul inefisiensi dalam pemeliharaan dan perbaikan pesawat.
Selain itu Garuda Indonesia juga mempunyai rute-rute penerbangan ke luar negeri yang miskin penumpang namun tetap dipertahankan, entah demi gengsi atau apa.
Dan yang terparah, konon Garuda Indonesia membayar sewa pesawat dengan harga termahal dibanding perusahaan-perusahaan penerbangan lainnya. Mungkin Garuda Indonesia baik hati untuk berbagi rejeki atau karena ada yang titip fee dalam uang sewa tersebut.
DIlihat nada-nadanya Menteri BUMN sebagai wakil negara ingin menghentikan terbangnya Garuda Indonesia di angkasa. Namun nampaknya Direksi Garuda Indonesia tak ingin menyerah dan yakin masih ada jalan untuk menyelamatkan masa depan Garuda Indonesia yang keberatan menanggung beban hutang.
Direksi membuat skenario penyelamatan Garuda Indonesia melalui beberapa langkah yaitu Pemotongan biaya operasional, restrukturisasi hutang dan mengubah model bisnis Garuda Indonesia.
Sebuah rencana yang nampaknya biasa-biasa saja, bahkan terkesan ada yang aneh ketika dalam pengembangan bisnis modelnya, Garuda Indonesia kemudian memasuki bisnis fesyen, bekerja sama dengan The Good Dept menjual jaket bomber berlogo garuda juga tumbler di berbagai market place.
Bagaimana mungkin bisnis yang banyak saingannya itu akan membantu Garuda Indonesia keluar dari jeratan hutang ratusan trilyun rupiah.
Masa depan dunia penerbangan sesungguhnya masih suram beberapa tahun ke depan. Ada perubahan preferensi penumpang terhadap layanan penerbangan. Penerbangan bisnis kemungkinan besar akan berkurang karena kini orang bisa berbisnis darimana saja, berhubungan secara real time tanpa bertatap muka.
Hal yang nampak akan meningkat adalah penumpang dengan tujuan wisata. Tujuan dengan rute-rute pendek dan terus berubah karena pembatasan terbatas mungkin masih akan terjadi disana-sini meski tak serempak.
Entah seperti apa nasib Garuda Indonesia kedepan dalam situasi yang serba tidak pasti ini. Ada pepatah yang mengatakan kita akan menuai apa yang kita tanam. Dan Garuda Indonesia nampaknya tengah menuai apa yang mereka tanam sejak bertahun-tahun yang lalu, panenan yang busuk, bukan karena pandemi Covid 19 belaka.
Pandemi Covid 19 hanyalah pemicu yang membuat Garuda Indonesia memanen lebih cepat buah busuknya.








