Di ruang seminar yang kerap bergaung pekikan pembakar semangat, seperti : pagi pagi pagi atau yes yes yes, peserta tersihir hingga sepakat dengan pembicara bahwa sukses mesti dibangun dengan mengikuti passion.
“Cari, temukan dan ikuti passionmu maka kamu akan sukses,” begitu isi pesan yang terus diulang.
Passion kemudian diartikan sebagai yang menggairahkan, yang disenangi, yang menyenangkan semacam hobi. Tak ayal jika kemudian ada yang mengatakan “Menjadikan hobi sebagai rejeki,”.
Jauh sebelum berbagai seminar motivasional datang silih berganti, melambungkan berbagai sosok motivator yang juga silih berganti, nasehat lama untuk menjadi bahagia, senang dan sukses sebenarnya sudah lama diajarkan serta didengar.
Semenjak Sekolah Dasar pepatah “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” menjadi salah satu yang mesti dihafalkan.
Arti atau makna pepatah ini sebenarnya mengambarkan apa yang dimaksudkan dengan passion.
Passion berasal dari kata Latin pati yang berarti penderitaan. Dalam bahasa Inggris kemudian dikenal kata patient yang berarti orang sakit juga kesabaran.
Kata pati kemudian berubah menjadi passio yang mempunyai makna “penderitaan Yesus diatas kayu salib’. Di Gereja Katolik pada perayaan Pekan Suci biasanya akan dinyanyikan passio, atau kisah sengsara Yesus.
Bahasa Inggris kemudian mengambil kata passion dari Perancis, kata yang awalnya bermakna sebagai kemampuan untuk menahan penderitaan kemudian diartikan sebagai “gairah seksual dan kemarahan”.
Dengan melihat perjalanan kata passion jika dihubungkan dengan sukses maka pencapaian tujuan atau keberhasilan maknanya adalah kesediaan atau kerelaan untuk melalui penderitaan dengan semangat agar apa yang menjadi tujuan tercapai.
Pada setiap akhir tahun merupakan hal yang biasa bagi kita untuk membuat sebuah resolusi. Berjanji untuk melakukan perubahan pada tahun berikutnya, menyambut hari pertama tahun baru dengan semangat baru.
Namun semangat akan mengendur ketika minggu demi minggu tahun baru berlalu hingga di akhir Januari kita kembali kepada kebiasaan lama. Dan perjalanan mengarungi tahun yang telah berganti masih seperti tahun-tahun yang sudah. Kelak ketika tahun baru kembali datang, resolusi kembali dibuat ulang.
Dunia dan seisinya selalu berubah, bersifat dinamis. Namun perubahan itu berjalan pelan, evolutif. Cara berpikir dan kemampuan berpikir manusia meski berkembang namun tidak terlalu jauh dibandingkan dengan generasi yang hidup 100 tahun lalu.
Berubah dengan cepat dan disengaja itulah cara manusia meretas evolusi, membuat perubahan yang revolutif atau resolusi. Hanya saja selalu tidak mudah untuk melakukan perubahan sebab perubahan selalu mempunyai konsekwensi.
Salah satu konsekwensinya adalah pengorbanan, rela mengorbankan waktu, rela mengorbankan kesenangan, rela mengorbankan tenaga dan seterusnya. Perubahan adalah setia pada jalan penderitaan.
BACA JUGA : Hidup Itu Bergerak
Selasa dinihari, 30/12/2021 diumumkan bahwa Lionel Messi kembali meraih Ballon D’or. Penghargaan supremasi tertinggi sebagai pesepakbola terbaik di dunia. Messi telah meraihnya sebanyak 7 kali.
Entah kapan dan siapa yang akan memecahkan rekor itu. Satu-satunya sosok yang paling mendekati capaian Messi adalah Christiano Ronaldo. Pemain berusia 36 tahun itu telah meraih penghargaan Ballon D’or sebanyak 5 kali.
Rasanya sulit bagi Ronaldo untuk menambah deretan piala berbentuk bola, meski masih menunjukkan prestasi namun deret pemain muda yang konsisten berprestasi juga banyak. Pun demikian dengan Messi, apakah mampu menambah koleksinya menjadi delapan, masih menjadi tanda tanya besar.
Walau bola itu bundar sehingga selalu ada kemungkinan namun mengalahkan Lewandoski, Salah dan Mbappe pada tahun depan bukanlah pekerjaan yang mudah.
Messi dan Christiano Ronaldo masih punya kesempatan untuk menambah capaian dengan syarat mampu membawa negaranya menjuarai Piala Dunia 2022.
Membicarakan Messi dan Ronaldo saat ini adalah membicarakan keberhasilan serta prestasi yang gemilang. Namun di balik itu ada perjalanan panjang, derita yang tak semua orang mampu menanggungnya untuk mencapai apa yang mereka rengkuh saat ini.
Messi sedari kanak-kanak menyingkirkan segala hal demi sepakbola.
Lahir di Rosario, Argentina dalam keluarga yang tidak berkecukupan, memiliki hormone deficiency dan butuh biaya besar untuk suntikan penambah hormon pertumbuhan. Horacio Gaggioli menjadi agen mewakili keluarga Messi, yang kemudian menghubungi Joseph Maria Miguela yang dianggap punya akses kepada Barcelona.
Ketika Miguela melihat video Messi yang dikirim oleh Horacio, dia terbelalak dan segera ingat pada Maradona. Dan dalam usia sangat muda Messi tiba di Barcelona.
Tidak ada jaminan untuk Messi di Barcelona. Charly Rexach, penasehat presiden Barcelona saat itu yang memberi jaminan pribadi. Sebuah kontrak diatas kertas tissue makan.
Hidup jauh dari negeri asalnya, tidak disertai ibu tentu sulit untuk Messi. Dan ketika mulai masuk ke akademi La Masia juga bukan lingkungan yang mudah. Teman-teman seangkatannya menganggap Messi anak kecil yang lebih pantas jadi adik ketimbang teman bermain bola.
Dengan tubuh yang munggil, Messi kerap menjadi korban permainan kasar dari lawan mainnya. Pique dan Fabregas lah yang kemudian menjadi pelindung Messi di La Masia.
Dan kelak ketika masuk ke tim senior Barcelona, Messi juga dianggap terlalu munggil sehingga muncul isu dirinya bersama dengan Iniesta akan dipinjam ke klub lain untuk mencari pengalaman terlebih dahulu.
Joan Laporta, Presiden Barcelona saat ini termasuk salah satu yang mati-matian mempertahankan agar Messi tidak dipinjamkan ke klub lainnya. Waktu itu yang sudah menunggu adalah Glasgow Ranger.
Ternyata mempertahankan Messi di Barcelona adalah benar, Messi adalah Barcelona, dengan mencetak berbagai macam rekor yang susah untuk dipecahkan oleh pemain-pemain berikutnya.
Hidupnya sekarang memang gemerlap, namun kegemerlapan itu tidak diperoleh dalam waktu sekejap. Banyak hal dikorbankan oleh Messi, hidupnya hanya untuk sepakbola, berlatih dan terus berlatih.
Menjadi pemain dengan gelar the great of all the time tidak membuatnya jumawa, dengan mangkir latihan atau hidup suka-suka menikmati hartanya.
Ronaldo juga melakukan hal yang sama bahkan mungkin lebih keras. Selalu berlatih fisik dan mengatur makanan. Dikenal sebagai yang paling cepat datang ke tempat latihan dan paling lambat pulang dari lapangan. Jangankan minuman beralkohol, air soda saja Ronaldo tak mau meminumnya.
Disiplin dalam latihan dan menjaga gaya hidup kemudian membuat Messi serta Ronaldo kemudian menjadi dua bintang sepakbola yang bersaing untuk selalu menjadi terbaik dalam waktu yang lama.
BACA JUGA : Cemumur; Cepat, Mudah dan Murah
Messi dan Ronaldo bukanlah orang kebanyakan, keduanya istimewa dibandingkan dengan banyak pesepakbola lainnya.
Namun apakah orang lain atau kebanyakan orang yang hanya rata-rata saja tidak bisa berprestasi dan kemudian menjadi istimewa?.
Tentu saja bisa sebagaimana yang sering diungkapkan oleh para motivator handal. Mereka kerap memompakan semangat bahwa semua orang istimewa. Kalaupun belum menjadi istimewa karena belum menggunakan semua kemampuan, belum memaksimalkan kerja otak.
Hingga kemudian memunculkan mitologi sukses follow your passion. Yang sering disalahartikan sebagai mengikuti yang disenangi, apa yang menjadi kesenangan.
Padahal kalau kita mengikuti yang disenangi sebenarnya malah akan hancur jika hanya karena ingin bersenang-senang.
Passion bukan soal mengikuti melainkan kesediaan. Seorang pengusaha yang berhasil adalah seorang pengusaha yang telah jatuh bangun, berkali-kali bangkrut atau gagal dan terus mencoba berbagai macam usaha hingga kemudian berhasil.
Orang Belanda kerap mengatakan celaka 12, artinya kalau belum 12 kali belum disebut celaka.
Sekali lagi passion pada dasarnya adalah mengikuti kesusahan yang mau kita tanggung untuk menuju apa yang kita inginkan.
Kenapa kesusahan?.
Manusia dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak menggunakan otak emosional. Lebih memilih yang menyenangkan atau yang mudah. Padahal untuk berhasil harus berlatih, terus belajar dan mencoba.
Dan berlatih terus menerus pasti bukan sesuatu yang menyenangkan. Sehingga orang cenderung menjadi tidak disiplin. Padahal agar sebuah pengetahuan atau ketrampilan menjadi bagian dari diri perlu dibiasakan.
Pemain bola menghabiskan waktu delapan jam di lapangan untuk berlatih bukan agar paham dan fasih menceritakan kembali teknik-teknik dalam permainan bola. Berlatih bersama pemain di lapangan pada dasarnya adalah merekam dan menangkap pola permainan sehingga menjadi pengetahuan intrinsik, masuk dalam memori otak emosionalnya.
Sehingga nanti ketika bermain dengan cepat bisa memberi respon pada kondisi tertentu yang selama ini ditemukan dalam latihan-latihannya.
Seorang pemain yang mempunyai memori instrinsik yang baik, ketika di lapangan dan bermain kelihatan seperti tidak berpikir, semua mengalir begitu saja. Itu terjadi karena dia dengan cepat bisa memanggil ingatannya dalam waktu sepersekian detik untuk merespon situasi yang ada di hadapannya.
Ada seorang ahli yang mengeluarkan teori 10.000 jam. Menurut seseorang yang melakukan suatu hal paling tidak selama 10,000 jam maka akan menjadi seorang ahli. Seorang yang kemungkinan besar akan berhasil atau sukses dalam bidang yang digelutinya.
Tentu ada syaratnya yaitu melakukan segala sesuatu hal dengan tujuan, bukan sekedar untuk senang-senang atau menghabiskan waktu belaka.








