“Aku bermimpi jadi diva yang dicintai dan dikenal banyak orang,” ujar Novia Bachmid yang saat itu tengah bersaing dalam panggung Indonesia Idol.
Penyanyi muda asal Sulawesi Utara ini dikenal berani melakukan ekplorasi pada berbagai genre musik mulai rock, jazz, grande, dangdut, up beat dan sebagainya.
Membuat para juri terpukau, berdiri untuk melakukan standing ovation lagu Judi yang dinyanyikan oleh Novia ternyata menjadi lagu terakhirnya dalam babak Spektakuler Show Top 8 Indonesia Idol X.
Penampilan Novia mendapat komentar positif dari sang pencipta lagunya yakni Raja Dangdut Rhoma Irama. Karena penampilannya, kelak Novia berduet dengan Rhoma Irama saat tampil sebagai bintang tamu dalam Spekta Show Indonesia Idol.
Judi adalah lagu yang dirilis oleh Rhoma Irama dalam album Nada-Nada Rindu pada tahun 1987. Menurut Rhoma, lagu Judi menjadi lagu terlama proses penciptaannya. Lagu itu terinspirasi oleh Porkas {Pekan Olahraga dan Ketangkasan}, sebuah undian berhadiah dan praktek perjudian legal di bidang olahraga yang sangat populer di jamannya.
Untuk menuliskan liriknya, Rhoma mesti melakukan observasi yang lama tentang baik buruknya Porkas dan melihat dengan dalam apa yang dialami masyarakat saat itu.
Judi memang kontroversial dan selalu menimbulkan polemik di dalam masyarakat. Namun selama masa orde baru ada beberapa jenis judi yang dilegalkan.
Gubernur Ali Sadikin, yang memimpin DKI Jakarta selama 11 tahun, pernah melegalisasi perjudian lewat pembukaan kasino yang didanai oleh Apyang dan Yo Putshong.
Sedangkan untuk masyarakat umum dijual kupon bernama Toto dan Nalo {Lotre Nasional}.
Dari hasil perjudian, anggaran pembangunan DKI Jakarta melonjak 1000 persen, Jakarta menjadi semakin kinclong dengan pembangunan yang dibiayai dari hasil judi.
Pemda Surabaya juga pernah menyelenggarakan lotre untuk membiayai PON pada tahun 1974, namanya Lotto atau Lotres Totalisator. Kemudian ada juga Toto Koni.
Departemen Sosial pada tahun 1976 melakukan studi banding ke Inggris untuk menyelenggarakan undian yang sifatnya tebak-tebakan. Undian dianggap tidak terlalu berekses judi.
Tujuh tahun kemudian diluncurkan Kupon Berhadiah Porkas Olahraga Bola pada tahun 1985. Dua tahun kemudian kupon berhadiah ini berubah nama menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah. Undian ini kemudian dihentikan pada tahun 1989.
Pada saat yang sama juga beredar kupon undian bernama Sumbangan Dermawan Sosial Berhadian. Pengusaha yang dikenang sebagai pengelola kupon undian ini adalah Robby Sumampow atau lebih dikenal dengan nama Robby Kethek.
Robby adalah pengusaha kawakan asal Solo yang dikenal dekat dengan keluarga Cendana.
Karena tekanan dari kelompok masyarakat religius, pada tahun 1993, ijin penyelenggaraan kupon undian SDSB dicabut.
Namun tebak-tebakan, spekulasi atau judi yang merupakan kegemaran manusia sejak berabad-abad tak bisa hilang begitu saja. Meski dinyatakan sebagai tindakan illegal dan melanggar hukum, di dalam masyarakat perjudian dalam bentuk tebak-tebakan angka masih saja marak.
Beroperasi diam-diam, kegiatan judi kemudian menjadi semakin marak dan seolah-olah legal ketika internet semakin luas penetrasinya dalam masyarakat.
BACA JUGA : Ganti Untung Kaya Sejenak Miskin Kemudian
Lima tahun terakhir ketika masyarakat Indonesia bertumbuh menjadi masyarakat internet istilah trading kemudian menjadi amat populer.
Nampak ada pergeseran paradigma ekonomi baru dalam masyarakat. Yang disebut berdagang tidak hanya di pasar, warung, lapak dan kios. Masyarakat lebih mengenal perdagangan saham, valuta asing, perdagangan berjangka dan lain-lain.
Di media sosial dengan mudah ditemukan sosok-sosok yang dikenal atau mengaku diri sebagai trader. Pun juga muncul banyak channel, kelas, workshop yang mengajarkan tentang trading dan seminar tentangnya juga ramai diikuti oleh banyak orang.
Beroperasi di ruang online lewat berbagai macam aplikasi kemudian menimbulkan anggapan bahwa trading adalah sebuah aktivitas yang gampang.
Ada semacam kerancuan yang kemudian tidak disadari oleh banyak orang antara trading, spekulasi dan investasi.
Rendahnya literasi dan kebiasaan untuk tidak membaca term and condition yang disertakan dalam setiap aplikasi membuat banyak orang merasa sudah melakukan trading serta investasi namun sesungguhnya tengah berjudi.
Kabut kewaspadaan menjadi semakin tebal karena ada banyak orang kemudian memamerkan ‘sukses’ sebagai trader. Mulai dari pamer liburan mewah, kendaraan dan rumah mewah hingga yang paling sederhana berhasil mentraktir teman-temannya di restoran mahal.
Iming-iming sukses, kaya dengan cepat selalu berhasil memikat bahkan mereka yang pernah terperosok sebelumnya.
Akhir-akhir ini dan beberapa waktu ke depan kita akan mendengar serta terus menyaksikan banyak orang speak up, merasa tertipu, rugi besar-besar bahkan kehilangan semangat hidup karena trading.
Apakah benar mereka tertipu?.
Sebagian bisa jadi memang tertipu karena bujuk rayu para influencer atau affiator yang brutal. Tapi sebagian besar terjadi karena memang kekurangan literasi soal keuangan, tidak paham fundamental dan resiko dari trading serta investasi.
Sehingga dengan mudah percaya bahwa akan selalu untung, keuntungan bisa didapat dengan cepat, cuan akan datang terus dengan bersandar pada robot dan lain sebagainya.
Jaman internet sering disebut dengan jaman semua orang jadi ahli. Bahwa benar ada ledakan non degree, orang-orang yang ahli dalam bidang tertentu namun tidak berlatar pendidikan formal dalam bidang itu. Namun keahliannya diperoleh dengan cara belajar sendiri lewat berbagai platform berbagi pengetahuan yang ada di internet.
Masalahnya tidak semua yang mengaku ahli di internet benar-benar ahli, baru mengikuti satu atau dua kali seminar, lalu untung sekali dua kali dalam trading kemudian sudah mengaku ahli. mereka-mereka inilah yang kemudian mengiklankan trading dan investasi secara lebay, terlalu berbunga-bunga sehingga menyesatkan bagi mereka yang ingin atau baru memulai.
Mendapat informasi yang tidak benar dan kemudian memakaianya untuk menjawab harapan agar beroleh cuan tentu saja akan berakhir dengan kekecewaan. Atau bahkan penderitaan andai yang dipertaruhkan adalah seluruh harta kekayaannya.
BACA JUGA : Saling Nyinyir Antar Juragan Teknologi
Trading secara sederhana berarti pertukaran, ada sesuatu yang diperjualbelikan. Seseorang akan menyerahkan uang untuk memperoleh sesuatu hal yang bernilai. Dalam perdagangan barang atau jasa, seseorang yang kehilangan uang kemudian akan mendapatkan beras, gula, mobil, motor, rumah, layanan pijat, perawatan tubuh, pengobatan penyakit dan lain-lain.
Orang tidak keberatan kehilangan uang karena akan mendapat pertukaran yang nilainya dianggap setara. Dihadapkan dengan kemampuan keuangan, andai sebuah barang atau jasa bisa menghabiskan banyak uang maka disebut mahal, jika hanya mengurangi sedikit uang maka dianggap murah.
Hanya saja soal barang atau jasa, nilai tidak selalu obyektif. Nilai barang juga dipengaruhi oleh ketersediaan, siapa pembuatnya, siapa penjualnya, kegunaan dan lain-lain.
Diluar perdangangan barang dan jasa, ada yang disebut perdagangan uang, saham dan lain-lain. Pasar dari perdagangan ini merupakan pasar khusus yang disebut bursa efek.
Dalam pasar ini beroperasi para broker atau pialang untuk melakukan pembelian dan penjualan.
Yang dibeli adalah instrument investasi, baik untuk keperluan investasi jangka pendek maupun jangka panjang.
Kini model perdagangan ini sebagaimana komoditas lain kemudian masuk dalam ruang digital. Barang konsumsi dan lain-lain ada dalam ruang yang disebut marketplace, sementara pasar uang atau pasar saham kemudian ada dalam aplikasi trading. Aplikasi ini biasa dikembangkan oleh pialang atau broker.
Lewat aplikasi ini masyarakat umum bisa turut berinvestasi. Baik dengan cara menitip uang atau memainkan uang secara mandiri, maupun memainkan uang dengan bantuan robot {software trading}.
Dengan memakai robot, investor bisa melakukan aktivitas selama 24 jam sehari, 5 hari dalam satu minggu secara otomatis.
Pedagangan semacam ini bisa diibaratkan judi karena hanya ada dua pilihan yaitu menang dan kalah. Soal resiko akan tergantung kepada jumlah uang yang diinvestasikan, semakin besar uangnya maka semakin besar kemenangan dan kekalahannya. Pendapatan yang besar sebanding dengan peluang kehilangan yang besar pula.
Yang menjadi soal model perdagangan semacam ini kemudian dipromosikan sebagai sesuatu yang mudah dilakukan, tinggal klik dan untung. Digaransi selalu untung, bahkan untung harian. Beberapa lagi memberi ‘jaminan’ keuntungan yang fix.
Sebuah janji yang sebenarnya terlalu indah untuk terwujud. Namun janji keuntungan selalu menarik untuk banyak orang, karena tak ada orang yang tak ingin kaya secara mudah dan cepat.
Sialnya manusia selalu luluh dan tergiur dengan janji mendapat kekayaan secara mudah dan cepat. Nasehat agar berhati-hati dan jangan mudah terbujuk rayu merupakan nasehat yang paling sulit untuk diikuti.
Meski sesal kemudian tiada guna, jalan itu selalu yang kemudian dipilih sebagai cara belajar. Hanya saja sering kali manusia juga tidak selalu belajar, sehingga bisa tertipu berkali-kali. Baik penipu maupun yang tertipu acap kali adalah orang yang sama, hanya cara menipu dan modus yang membuatnya tertipu yang berbeda-beda.
Hanya keledai yang akan jatuh pada lubang yang sama. Peribahasa yang ternama sejak jaman Persia ini selalu mengandaikan keledai sebagai binatang yang bodoh, padahal terbukti manusia tidak lebih pintar dari keledai karena sering kali jatuh dalam lubang {kebodohan} yang sama.








