Kebanyakan anak laki-laki akan menganggap ibunya cerewet. Pasalnya ketika di rumah sering kali diomeli oleh ibunya.
Sebenarnya pantas saja seorang ibu sering mengingatkan, memberi nasehat pada anaknya yang teledor, menaruh segala sesuatu tidak pada tempatnya, tidak disiplin soal waktu tidur, makan dan lain sebagainya. Terlebih lagi jika ibu tersebut berprofesi sebagai ibu rumah tangga, menghabiskan waktu untuk mengurusi rumah dengan segala urusannya.
Meski banyak orang beranggapan yang cerewet adalah perempuan, kenyataannya tidaklah demikian. Cerewet bukanlah perilaku khas perempuan, sebab semua orang yang bisa kecewa, marah, punya harapan pada orang lain, ingin keadaa lebih baik dan percaya pada nilai-nilai tertentu pasti bisa cerewet jika ada sistem nilai atau kepercayaannya yang terganggu.
Dulu yang disebut cerewet terjadi dalam ruang domestik maupun ruang privat, namun kini karena keberadaan media sosial yang disebut cerewet kemudian marak di ruang publik. Istilah yang kerap dipakai adalah julid atau nyinyir.
Tingkat ke-nyinyir-an di media sosial saat ini sudah mendekati level dewa, semua tingkat kepedasan pada gerai-gerai ayam dan mie sudah terlewati.
Bahkan ada kecenderungan nyinyir permanen akibat perseteruan politik. Seperti yang terjadi antara kelompok cebong dan kampret, yang hingga hari ini terus saja saling nyinyir di internet.
Sebagai sebuah fenomena yang disebut nyinyir bukanlah cerita lama. Saat televisi masih jaya-jayanya, mata acara yang paling digemari adalah infotainment, acara yang ngomongin para artis dan segala kelakuannya.
Di Manado orang yang suka nyinyir karena omongannya kesana-kemari akan dijuluki sebagai batata marayap atau ubi jalar. Julukan ini kemudian dipersonifikasi pada salah satu peran yang ada dalam telenovela Maria Cinta Yang Hilang.
Tokoh tersebut adalah Carlota, sebuah sosok yang gila urusan, segala sesuatu mau dicampuri, menjengkelkan pada satu sisi namun sebagai tontonan menjadi menarik.
Jadi siapapun yang kemudian sering nyinyir atau nyindir-nyindir orang lain kemudian kerap dikomentari “Mulut Carlota”.
Nyinyir memang dekat urusannya dengan mulut. Tak heran jika kemudian di media sosial ada akun gosip yang suka membongkar aib dan kelakukan buruk para artis, akun tersebut adalah lambe turah.
Meski dikenal sebagai bangsa yang gemar nyinyir, kelakuan nyinyir juga bukan khas orang Indonesia. Di Amerika sana bahkan sejak lama saling nyinyir terjadi diantara para juragan perusahaan teknologi. Antara petinggi google dengan yahoo, petinggi microsoft dengan apple, antara petinggi intel dan amd.
Dan yang paling populer dan masih terus terjadi adalah antara Elon Musk yang punya seabrek perusahaan teknologi ternama dengan Mark Zuckenberg, pendiri facebook yang kini merubah perusahaan induknya menjadi meta.
Elon Musk dan Mark Zuckenberg berseteru dan saling nyinyir karena perbedaan pandangan tentang masa depan teknologi informasi, kecerdasan buatan dan hal-hal ikutan lainnya dalam hubungannya dengan masa depan dunia.
Elon memang cenderung melihat perkembangan teknologi akan mengancam manusia dan planet bumi jika tidak dikendalikan. Sementara Mark beranggapan bahwa teknologi harus terus dikembangkan sampai batas tertinggi untuk membuat hidup manusia dan masa depannya lebih cerah.
BACA JUGA : Flexing, Sultan Abal Abal Terlihat Kaya Padahal Tak Sukses Beneran
Kisah saling nyinyir di media sosial antara Elon dan Mark dimulai dari peristiwa saat Mark menitipkan satelit Amos 6 untuk diluncurkan dengan menggunakan roket Falcon 9 milik Space X, perusahaan antariksa yang didirikan oleh Elon Musk.
Karena ada masalah di landasan, roket kemudian lepas landas tidak sempurna sehingga meledak. Tentu saja Amos 6 milik Facebook ikut hancur.
Mark Zuckenberg waktu itu berada di Afrika, mendengar kabar satelitnya hancur tentu saja menjadi bermuram durja. Lewat media sosialnya Mark kemudian curhat dengan mengatakan bahwa ledakan itu amat mengerikan, padahal yang sedang mau diorbitkan adalah satelit yang akan dipakai untuk membina peradaban.
Satelit itu direncanakan untuk mengratiskan internet di Afrika dan bagian benua lainnya, namun kemudian hancur karena nebeng pada Space X.
Mark seolah menyalahkan Elon atas kehancuran satelitnya. Dan apa yang hendak diabdikan oleh Facebook menjadi hancur berkeping-keping, akses internet yang lebih merata menjadi urung terwujud.
Elon Musk tidak langsung menanggapi ungkapan perasaan dan kekecewaan dari Mark Zuckenberg. Dua tahun kemudian ketika Facebook dipermasalahkan dalam hal privacy, baru Elon memberikan tanggapannya.
Lewat media sosialnya. “Iya saya waktu itu seperti orang idiot, memberi tumpangan pada mereka secara gratis. Namun ketika satelit mereka hancur tentu saja mereka mendapat asuransi,”.
Elon menganggap Mark lebay, sebab tidak ada kerugian dari meledaknya satelit yang hendak diorbitkan itu. Dan Elon setelah itu menutup akun Facebooknya, bukan hanya akun pribadi melainkan juga akun-akun perusahaannya.
Fecebook saat itu memang dilanda kebocoran data, mereka yang log in datanya bisa diambil oleh pihak lain untuk digunakan secara tidak benar.
Perseteruan antara Elon dan Mark sebenarnya bukan soal satelit, apa yang membuat mereka seperti saling bermusuhan dilandasi oleh persoalan fundamental diantara keduanya dalam memandang kecerdasan buatan.
Paska tahun 2000-an, perkembangan kecerdasan buatan memang sangat cepat. Kini ada bentuk kecerdasan lain yang kemudian melampaui kecerdasan manusia. Yang disebut dengan kecerdasan buatan kini juga sudah bisa belajar karena disertakan mesin belajar dalam dunia yang disebut big data.
Bagi Elon Musk hal ini merupakan persoalan yang serius. Elon mengambarkan bahwa bahaya kecerdasan buatan lebih besar dari bahaya nuklir.
Dari sejarah dunia, Elon beranggapan bahwa ‘mahkluk’ yang lebih cerdas selalu menindas yang kurang cerdas, mengekploitasi bahkan kemudian memunahkannya.
Pada suatu titik menurut Elon, manusia akan mengalami perlakuan sama dengan sapi, ayam, kambing, babi dan lain-lain yang selama berabad-abad dimanipulasi, direkayasa, ditundukkan, didomestifikasi untuk kepentingan manusia.
Mark berpandangan lain, dalam kacamatanya kekhawatiran Elon sungguh berlebihan. Barangkali Mark berpikir bahwa Elon yang kerap dianggap sebagai Iron Man terpengaruh oleh dunia fiksi. Dalam film memang digambarkan kecerdasan buatan yang dibuat oleh Iron Man ternyata memberontak. Ultron kemudian tak lagi mau diperintah, berpikir dan bertindak sendiri sehingga lebih berbahaya dari Thanos.
Atas apa yang diusulkan oleh Elon untuk membatasi perkembangan kecerdasan buatan, Mark menyebutkan upaya itu sama artinya dengan menghambat perkembangan peradaban dunia dan manusia.
Membatasi perkembangan kecerdasan buatan sama artinya dengan menutup kemungkinan manusia untuk membuat peradaban yang lebih baik. Mark menekankan perkembangan manusia yang lebih baik dari jaman lalu pada masa kini dicapai karena kecerdasan buatan.
Mark menyindir Elon sebagai orang yang tak bertanggungjawab, sebab semua inisiatif dalam perusahaan teknologi Elon berbasis pada kecerdasan buatan, tapi dalam ucapan malah mengutuknya.
BACA JUGA : Drama Di Intenet : Nggak Tahu Marah Kenapa, Yang Penting Marah
Tak seperti saling nyinyir antar netizen di Indonesia yang kemudian berakhir dengan persekusi dan saling lapor ke polisi. Perseteruan antar para bos atau juragan teknologi ini menjadi menarik serta produktif.
Dengan pandangan masing-masing mereka yang berseteru kemudian juga membuktikan lewat inisiatif atau upaya membuktikan kebenaran omongannya.
Karena percaya bumi kelak akan musnah akibat ulah manusia, Elon kemudian mengembangkan wahana luar angkasa. Dia mengalokasikan banyak uang untuk melakukan riset guna menjelajahi kemungkinan adanya planet lain di tata surya yang mungkin untuk ditinggali oleh manusia.
Sedangkan Mark tidak sepesimis Elon dan tokoh lainnya soal dunia. Bahkan tak perlu meninggalkan dunia, teknologi akan memungkinkan manusia untuk membuat dunia lain yang tak terbatas. Dunia yang tercipta dan dirasakan tanpa harus berpindah ke planet lain.
Dan kemudian Mark Zuckenberg akan mewujudkan hal itu melalui metaverse. Mark kemudian menganti nama Facebook dengan Meta untuk menunjukkan keseriusannya. Langkah itu didukung juga dengan gelontoran uang ratusan trilyun untuk mewujudkan metaverse-nya.
Langkah Mark mendeklarasikan metaverse segera disambut oleh para juragan teknologi lainnya. Hanya google yang nampak ayem tentrem, namun microsoft, nvidia dan lain-lain mulai menabuhkan genderang perang.
Dimulai secara ekplisit oleh Meta, kemungkinan besar metaverse pertama justru akan diluncurkan oleh microsoft atau pengembang lainnya.
Di negeri kita netizen terus bertempur saling nyinyir untuk menunjukkan kebodohan dirinya dan orang lain, sementara di belahan bumi lain para juragan perusahaan teknologi saling sindir sambil menyembunyikan kerja keras mereka untuk meningkatkan kecerdasan buatan sehingga bisa menghadirkan kejutan lewat berbagai aplikasi dan layanan yang diam-diam bertujuan mengeruk cuan para netizen yang kepandaian hanya nyinyir tanpa batas.








