Masih ingatkah dengan Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan, bos First Travel yang sukses memperdaya ribuan calon jamaah umroh dengan kerugian mendekati 1 trilyun rupiah?.

Tak sukses melakoni berbagai bisnis untuk menopang hidup, pasangan Andika dan Anniesa mencoba peruntungan pada bidang yang sama sekali tak dikuasai oleh mereka. Betapa tidak, mereka belum pernah melakukan perjalanan umroh namun berani menawarkan paket itu kepada masyarakat. Mereka bahkan berani memandu sendiri perjalanan jamaah ke Tanah Suci.

“Dimana ada niat, disitu ada jalan,” begitu nasehat para motivator yang getol membuat orang lain sukses.

Nyatanya memang demikian walau yang disebut jalan tidak selalu merupakan cara yang benar.

Sukses First Travel pun diperoleh dengan cara demikian. Mereka berhasil mengalahkan puluhan perusahaan lain yang lebih dahulu menekuni paket perjalanan umroh. Caranya dengan menawarkan biaya perjalanan yang murah, membentuk jaringan pemasaran di seluruh Indonesia dan menjual paket franchise berharga 1 milyar rupiah.

Biaya perjalanan umroh tentu saja mudah dihitung, setidaknya ongkos obyektifnya yang meliputi biaya transportasi dan akomodasi selama perjalanan. Tapi kenapa banyak orang kemudian tergiur dengan harga yang tidak masuk akal?.

Nah disinilah kuncinya, yang disebut dengan jalan menuju sukses adalah cara jitu membutakan nalar banyak orang sehingga tertipu tanpa sadar.

Menampilkan diri sebagai orang kaya, pasangan Andika dan Anniesa rajin memposting harta dan kegiatan mereka yang premium melalui akun media sosialnya.

Tampil sebagai orang sukses, punya relasi dengan selebritas dan lain-lain membuat orang abai pada resiko bahwa sukses dan kekayaan bukanlah jaminan. Sebab apa yang kelihatan tidak selalu merupakan kenyataan.

Kekayaan dan kesuksesan yang dipamerkan adalah bohong-bohongan dan semua ditujukan agar orang percaya, bahwa seseorang itu sunguh bonafide.

Memulai dari tahun 2012, usaha First Travel akhirnya dihentikan pada tahun 2017 akibat janji manis untuk memberangkatkan jamaah tidak terbukti. Ada ribuan jamaah gagal diberangkatkan, konon jumlahnya kurang lebih 63.000 orang.

Pasangan suami istri pemilik First Travel ini kemudian dibawa ke meja hukum. Hakim memutuskan hukuman 20 tahun penjara untuk Andika dan 18 tahun penjara untuk Anniesa.

BACA JUGA : Drama Di Internet : Nggak Tahu Marah Kenapa, Yang Penting Marah

Kisah tentang Andika dan Anniesa hanyalah salah satu dari kisah yang sudah sejak lama terjadi dan masih terus manjur hingga saat ini.

Cerita terutama tentang kekayaan dan kesuksesan selalu berhasil membuat banyak orang terbujuk serta ingin meniru.

Kini untuk menunjukkan bukti betapa seseorang kaya dan sukses amatlah mudah, cukup dengan memborbadir media sosial dengan foto dan video yang berisi koleksi mobil, tas, busana, rumah yang mewah dan perjalanan piknik ke berbagai destinasi wisata terkenal di dalam serta di luar negeri.

Dengan cara seperti itu sebuah aplikasi binary option bernama Binomo menjadi viral pada tahun 2019 lalu. Lewat sebuah video iklan dikisahkan keberhasilan seseorang bernama Budi Setyawan. Budi digambarkan sebagai seorang crazy rich yang sukses karena menjadi trader di Binomo.

Sebagai seorang yang sukses dan kaya raya, Budi tidak pelit berbagi ilmu, tip-tips dan kiat menjadi sukses. Dan pada ujungnya, Budi mengajak penonton untuk ikut serta menjadi trader di Binomo.

“Jutaan orang bahkan tak menyadari bahwa mereka bisa menghasilkan 1.000 USD tanpa meninggalkan rumah. Dan anda adalah salah satu dari antara mereka,” ucap Budi dalam videonya.

‘Too good to be true’ iklan Budi Setyawan sesungguhnya terlalu indah untuk menjadi sebuah kenyataan. Namun tak banyak orang menyadari hal itu. Sehingga tak sedikit yang kemudian terpengaruh untuk kemudian memakai aplikasi binary option.

Masyarakat dipengaruhi dengan tampilnya sosol afiliator, seseorang yang tampil untuk mengajak orang lain memakai aplikasi tersebut. Jika sukses menggaet pemakai maka afiliator akan mendapat fee setiap kali orang yang direkrut melakukan transaksi melalui aplikasi tersebut.

Dan benar, kemudian terkuak kalau Budi Setyawan sebenarnya bernama Yosua Putra. Dia bukan seorang trader profesional melainkan musisi yang tinggal di Bali.

Pria berponi itu ditawari untuk membintangi iklan yang membuatnya bernama Budi Setyawan saat berada di Rusia untuk bertemu pacarnya. Tampil sebagai orang kaya, Yosua sesungguhnya waktu itu tak punya uang. Bayaran dari iklan itu yang kemudian dipakai oleh Yosua untuk membiayai perjalanan pulang dari Rusia ke Indonesia.

Binary option sendiri adalah bentuk instrument trading dimana para trader memprediksi harga sebuah aset naik atau turun dalam jangka tertentu. Cara kerjanya sangat mudah karena seperti main tebak-tebakan saja. Jika tebakannya tepat akan dapat untung, namun jika salah maka uangnya akan hangus.

Yang disebut sebagai trader hanya diminta untuk menaruh uang sebagai deposit, uang itu yang kemudian dipertaruhkan. Deposit itu bisa ditransaksikan dengan durasi tertentu mulai dari detik, menit, jam maupun hari.

Melihat cara kerjanya, binary option mirip dengan judi. Dan berdasarkan UU Perdagangan Berjangka Komoditi, sistem ini dilarang. Sehingga aplikasi binary option online bersifat illegal karena tidak mendapatkan ijin operasi dari Badan Pengawas Pedagangan Berjangka Komoditi.

Meski illegal, aplikasi semacam ini kemudian menjamur. Pertama karena kemudahan yang ditawarkan.  Dan kedua karena tergiur oleh bujuk rayu para afiliator yang pamer hidup mewah karena memperoleh kekayaan mudah dari trading.

Cara kerja afiliator seperti seorang influencer yang mempengaruhi orang untuk memakai produk tertentu. Bedanya seorang influencer dibayar karena sebelumnya telah terkenal dan mempunyai banyak pengikut, sementara afiliator dibayar jika berhasil merekrut trader-trader baru yang kemudian bertransaksi melalui aplikasi. Afiliator mendapat fee dari setiap transaksi dari trader yang direkrutnya.

BACA JUGA : Dikagumi Kakek Karena Tinggal Di Kalimantan

Poverty screams, but wealth whispers, orang kaya sejatinya tidak suka pamer, tidak suka berisik atau bahkan malu membicarakan kekayaannya. Maka bisa diartikan mereka yang suka pamer kekayaan sebenarnya bukan orang kaya sungguhan.

Di dunia internet pamer kekayaan ini disebut dengan flexing. Orang memamerkan kekayaan melalui postingan di sosial media. Misalnya dengan menunjukkan saldo rekening yang tentu saja bisa diedit jumlahnya. Atau foto-foto di destinasi wisata yang mewah, piknik ke luar negeri, berada dalam kumpulan para sosialita, memakai pakaian dan aksesories yang mahal-mahal.

Terlihat kaya atau makmur di media sosial mungkin memang menyenangkan. Foto-fotonya akan memperoleh banyak like dan komentar. Lagi pula untuk terlihat kaya memang tak harus kaya beneran, sebab sekarang banyak penyedia jasa yang memungkinkan seseorang terlihat kaya dengan budget yang pas-pasan.

Menjadi kaya itu sederhana, cukup berfoto di depan mobil mewah dengan menyewa baju, sepatu, tas dan aksesories yang terlihat mahal lainnya.

Jadi pamer untuk bersenang-senang atau lucu-lucuan tentu saja tidak masalah. Persoalannya jika pamer kekayaan itu dipakai sebagai modus atau cara untuk menipu. Menipu lawan jenis agar kepincut atau menipu orang lain agar mau turut dalam investasi atau bisnis bodong.

Dan terbukti penampilan yang menawan serta menyakinkan mampu membutakan banyak orang sehingga menjadi tak waspada pada resiko kehilangan uang dan hal-hal berharga lainnya. Foto dan video sudah cukup untuk menyakinkan orang lain sehingga mau turut berinvestasi, menitipkan uang dan lainnya.

Padahal yang diinvestasikan bukanlah uang sisa atau uang berlebih melainkan tabungan yang dijebol atau bahkan sertifikat dan harta kekayaan lain yang dijual atau digadaikan.

Kita memang selalu diajarkan untuk berprasangka baik, namun berhadapan dengan mereka yang suka pamer kekayaan dan kemudian mengajak kita untuk bergabung dalam bisnis yang menggiurkan tidaklah dosa apabila prasangka buruk yang dikedepankan lebih dahulu.

Apa yang indah di mata dan merdu di telinga pada akhirnya kerap kali berakhir menjadi duka serta nestapa di dada.